
Kematian Berujung Perceraian
Bab 2
Di depan polisi, aku menolak panggilannya, bahkan memblokir kontaknya.
Polisi itu menatapku dengan heran. "Ibu yakin, nggak mau ayah dari putri Ibu melihatnya?"
Suaraku serak dan patah-patah.
"Pak polisi, apa Bapak akan membiarkan seorang pembunuh datang dan melihat anak Bapak?"
Ketika aku masuk ke dalam ambulans dengan menggendong Cherin, dokter memberi tahuku kalau Cherin meninggal bukan karena jatuh.
Dia telah meninggal karena pendarahan internal dan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum dia meninggal, mungkin dia mencoba meminta pertolongan. Dia menggali dengan tangan hingga kukunya terkelupas, bahkan sampai ada darah di kesepuluh ujung jarinya.
Namun, tidak ada seorang pun yang datang menolongnya. Dia meninggal perlahan-lahan dalam keputusasaan.
Aku duduk di kamar mayat sepanjang malam hingga matahari terbit. Dokter menyarankanku untuk memakamkan Cherin sesegera mungkin.
Aku tidak ingin Cherin terbaring di kamar mayat yang dingin ini.
Aku menghubungi rumah duka dan membawa jenazahnya, membawa gambar keluarga yang dia gambar sendiri ke rumah, berniat untuk menyertakannya di pemakaman.
Sesampainya di rumah, aku membeku di tempat.
Mainan di lantai yang tidak sempat aku bersihkan, lukisan yang dia gambar di dinding, buku-buku pelajarannya di atas meja ....
Aku seakan bisa melihatnya berlari ke arahku dengan senyuman di wajahnya, memberiku tanda cinta dengan tangannya.
Cherin pernah bilang kalau dia akan menemaniku sampai tua.
Kenapa dia malah pergi duluan?
Saat aku duduk di sofa sambil memeluk mainan, aku menangis kesakitan. Wilona mengirimiku sebuah pesan, diikuti dengan sebuah foto.
"Bahagia sekali. Dia memperlakukan putriku dengan baik. Aku tahu dia akan menjadi ayah yang baik."
Foto itu pasti diambil di rumahnya, dengan sebuah foto artistik di dinding sebagai latar belakang.
Rizald sedang duduk di meja makan menggendong Nabila, putri Wilona, sambil menyuapinya makan.
Itu adalah pemandangan mengharukan yang membuatku sangat tersentuh.
Selama lima tahun sejak aku melahirkan Cherin, Rizald tidak pernah menyuapinya, mengganti popoknya atau menidurkannya bahkan sekali pun.
Kami dulu saling mencintai. Sebelum melahirkan Cherin, Rizald selalu mencium perutku berulang kali. Dia membayangkan masa depan bersamaku, mengatakan bahwa bayi dalam kandunganku adalah harapannya.
Itulah alasan kenapa dia menamainya Cherin.
Namun, ketika aku melahirkan di rumah sakit, Wilona pulang ke rumah dengan membawa bayinya dan menelepon Rizald sambil menangis.
Setelah Rizald pergi, dia tidak pulang ke rumah selama berhari-hari.
Kemudian saat Rizald pulang, dia menyadari ada yang tidak normal pada pita suara Cherin, yang membuatnya tidak bisa bicara.
Saat itu juga dia bicara kepadaku. "Tidak ada masalah saat tes kehamilan dan sekarang ada masalah. Itu pasti karena kamu makan sembarangan ketika hamil. Kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya atas bayi ini."
"Aku nggak mau anak yang cacat. Kirim saja dia ke orang tuamu di kampung dan kita lahirkan satu anak lagi."
Cherin dikandung olehku selama sembilan bulan, bagaimana mungkin aku tega menyerahkannya kepada orang lain?
Aku berlutut di depan Rizald dan memohon dengan sangat keras hingga luka bekas operasi Caesar-ku terus mengeluarkan darah. Darah tersebut menodai ujung sepatunya, barulah dia setuju untuk mempertahankan Cherin walaupun enggan.
"Kak Aliona, maaf. Barusan aku mau kirim ke temanku, tapi malah mengirimkannya kepadamu."
Sebuah pesan dari Wilona menarik kembali pikiranku.
Aku melihat dia menarik kembali pesan yang baru dia kirim.
Kalau ini terjadi di masa lalu, aku pasti akan langsung menelepon Rizald dan dengan rendah hati bertanya mengapa dia bersama Wilona lagi.
Namun, sekarang putriku sudah pergi dan hatiku remuk.
Aku tidak membalas pesan Wilona dan hanya terdiam.
Tidak lama kemudian, Rizald pulang dengan terburu-buru. Begitu masuk ke dalam rumah, dia langsung menampar wajahku.
"Beraninya kamu nggak jawab teleponku dan memblokirku! Berani sekali kamu melakukan itu!"
"Wilona cuma salah kirim foto dan kamu memakinya, bahkan menyumpahi anaknya mati! Kamu juga punya anak perempuan, kenapa kamu setega itu!"
Anda Mungkin Juga Suka





