
Kematian Berujung Perceraian
Bab 3
Wilona berdiri di belakang Rizald, menatapku dengan raut memelas.
"Kak Aliona, hari ini Kak Rizald pulang dinas dan putriku ingin bertemu dengannya. Jadi, aku mengundangnya ke rumah untuk makan bersama. Kamu boleh marah kepadaku, tapi kenapa kamu malah mengutuk anakku sekejam itu?"
Katanya sambil meneteskan air matanya. Tangisannya membuat Rizald tidak tega.
"Wilona, jangan menangis. Dia akan mendapatkan balasannya karena sudah menyumpahi Nabila."
Rizald mencoba menenangkannya.
Wajahku mati rasa dan rasa sakit di hatiku makin menusuk, membuatku tercekat.
Putrinya belum meninggal, bahkan sempat dipangku Rizald dan disuapi makan.
Namun, putriku benar-benar sudah meninggal.
Menikah dengan Rizald barulah pembalasan kejam untukku.
"Aliona, putrimu yang bisu, bukan kamu! Jangan berpura-pura bersikap menyedihkan. Aku muak melihatnya!"
Rizald berteriak ke arahku.
Hatiku kembali tersengat.
Dia bisa memarahiku, tetapi tidak boleh memaki Cherin.
Aku mengangkat tanganku dan menamparnya dengan keras.
"Plak!
Rizald membeku dan memalingkan wajahnya, sorot matanya begitu menakutkan. "Beraninya kamu menamparku!"
"Kamu bisa memukulku, tapi aku nggak boleh memukulmu?"
Aku mencibir.
Rizald terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan bingung.
"Aliona, apa yang ... terjadi padamu hari ini?"
"Kak Aliona! Tadi Kak Rizald bilang kalau emosimu nggak stabil, tapi aku nggak percaya. Ternyata kamu memang benar-benar temperamental. Menakutkan sekali!"
"Kalau mau memukul seseorang, pukul aku saja. Lepaskan semua kemarahanmu kepadaku."
Wilona tiba-tiba menghampiriku sambil menangis, lalu meraih tanganku dan menampar wajahnya.
Aku merasa jijik dan menepis tangannya.
Di sela-sela pergulatan, dia tiba-tiba mengaduh kesakitan dan terjatuh ke lantai sambil menutupi wajahnya.
Sebuah tanda merah panjang dari kuku muncul di wajahnya.
"Aliona! Kamu gila!"
Rizald langsung marah, mendorongku untuk menyingkir.
Tubuhku hampir menabrak meja, membuat semua yang ada di atasnya terjatuh ke lantai.
Terdengar suara berderak yang cukup keras.
Rizald menoleh ke arahku dan mencoba meraihku, tetapi Wilona menahannya.
Dia bertanya pada Wilona, "Sakit nggak?"
Aku jatuh ke atas meja dan tertawa.
Karena harus menjaga Cherin, aku tidak pernah memanjangkan kukukku, bahkan memotongnya sampai sangat pendek, hampir melukai daging tanganku.
Sebaliknya, Wilona memanjangkan kukunya dan ada banyak manik berkilau yang menempel di kukunya.
Sayang sekali Rizald buta mata dan hati.
Perlahan-lahan, aku mulai berdiri dan meringis kesakitan.
"Ah ...."
Setelah melakukan pencarian di pegunungan seharian penuh, aku terjatuh berkali-kali. Kali ini, benturan dengan meja membuat tubuhku makin remuk.
Rizald mendengar suaraku dan menoleh ke arahku, lalu beranjak dan berjalan ke arahku.
"Aliona ...."
Namun detik berikutnya, Wilona menjerit kesakitan.
"Kak Rizald, apa wajahku akan rusak? Aku seorang konselor kecantikan, kalau wajahku rusak, aku nggak akan bisa kerja lagi seumur hidupku."
Dia merintih dan mulai menangis.
Aku masuk ke kamar dan mengambil barang-barang yang sudah aku kemasi sejak tadi, lalu keluar dengan boneka yang baru aku beli.
"Kamu belum minta maaf sama Wilona, sekarang kamu malah bawa barang-barangmu pergi dari rumah? Kamu pikir aku akan percaya dengan tipu muslihatmu?"
Rizald melangkah ke arahku dengan raut tidak senang.
Aku berkata dengan dingin, "Menyingkirlah. Aku akan menemui Cherin, dia sedang menungguku."
Alis Rizald berkerut. "Cherin nggak ada di rumah? Kamu meninggalkannya di suatu tempat, kenapa baru akan menemuinya tengah malam begini?"
Aku menatap Rizald dengan mata merah.
"Kamu tahu di mana dia sekarang?"
Rizald menjawab tidak sabar, "Mana mungkin aku bisa tahu dia ada di mana? Berhenti main-main! Kamu pasti menyuruhnya bersembunyi untuk menakut-nakutiku!"
"Cherin, berhenti bersembunyi, keluarlah. Keluarlah dan lihatlah betapa buruknya sikap ibumu ini!"
Dia meraih lenganku dan membawaku ke kamar Cherin, mencoba membuatku menemukan Cherin.
Saat dia menarik lenganku, sesuatu di dalam sakuku terjatuh ke lantai.
Itu adalah surat kematian Cherin.
Dia memungutnya dan meliriknya, raut wajahnya tiba-tiba berubah.
"Ini ...."
Anda Mungkin Juga Suka





