APKDock Logo
Sampul Novel Cinta Sendal Jepit

Cinta Sendal Jepit

7.8 / 10.0
Kehidupan Amara hancur sejak kepergian ibunya dan kehadiran ibu tiri yang kejam. Ia pun memilih kabur dari rumah hingga tak sengaja bertemu Agung saat melarikan diri dari kejaran polisi. Sialnya, warga desa menuduh mereka berbuat asusila hingga dipaksa menikah hari itu juga. Walau diawali dengan kecanggungan, benih asmara perlahan tumbuh di tengah badai ujian yang menerpa. Lewat perjuangan bersama, Amara dan Agung akhirnya berhasil meraih kebahagiaan sejati.

Cinta Sendal Jepit Bab 1

Tin ... Tin ....

Suara klakson di sana sini menambah ramai kondisi jalan. Entah mengapa jalanan yang biasanya lengang, malam ini nampak begitu ramai dan padat merayap sehingga kemacetan pun tak dapat dihindari. Seseorang berjalan balik memutar arah, lalu di susul sirine mobil polisi dengan suara khasnya yang tak kalah ramai dengan deru kendaraan.

Sial, ada razia rupanya!

Segera kubelokkan sepeda motor ke sebuah jalan sempit, seingatku jalanan sempit berliku seperti ini seringkali disebut dengan jalan tikus, entahlah bagaimana awal ceritanya kenapa sebutan itu ada, yang terpenting aku bisa lolos dulu dari polisi. Kalau saja aku tadi tidak terburu-buru, mungkin stnk tak akan ketinggalan seperti ini. Fikiranku tadi saat hendak berangkat hanyalah satu, segera tiba di tempat reuni teman sekolah. Sebenarnya masuk ke jalan ini juga bukan pilihan yang benar, terlebih aku jarang melewatinya. Syukur-syukur jika aku tidak tersasar.

“Woy, Mbak. Mau ke mana? Di sana hutan nggak ada tembusan.” Seru seseorang, yang tadi juga mengantri karena macet.

Ah … bodo amat! Mau hutan kek, ada hantu kek, yang penting aku nggak berurusan sama polisi, fyuh! Aku tak menghiraukan suara tersebut.

Kutarik gas motor lebih kencang, berharap tak mendengar lagi omongan-omongan yang hanya membuat bising telinga. Roda motor pun melaju semakin kencang hingga aku tak begitu memperhatikan badan jalan yang licin dan gelap.

Ngeng!

Semakin lama melewati jalanan ini cahaya penerangan pun semakin redup pula, hingga lama kelamaan tak ada lagi cahaya lain selain dari sorot lampu motorku. Sedangkan kiri dan kanan di kelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sedetik kemudian aku mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya ….

Byur!!

Aku tercebur ke sebuah sungai kecil, naasnya motorku tidak bisa keluar. Aku pun berusaha untuk merangkak keluar dari sungai dengan kondisi yang gelap pekat. Bahkan sendal yang kupakai juga hilang entah kemana. Aku menangis sejadinya, tak berhenti merutuki diri yang kenapa sedari tadi tak mendengarkan perkataan orang. Nasib …nasib!

Tapi tak lama kemudian aku sadar jika ini adalah hutan, jadi menangis pun kurasa percuma, siapa juga yang akan mendengar, paling-paling hantu dan binatang buas yang datang. Hi … ngeri! Ya kecuali tiba-tiba ada keajaiban ada pangeran tampan yang mau membantu, membawa sebuah lilin lengkap dengan kuda putihnya! Wait … kuda putih? Ih gak jadi deh, gimana kalau tiba-tiba yang datang adalah hantu!Huaaaaa….

Bimbang antara kembali keluar lewat jalan tadi atau terus melanjutkan perjalanan ini. Hingga kuputuskan duduk pada pinggiran jalan tanah yang ditumbuhi rumput. Kulantunkan doa tak henti berharap ada keajaiban datang. Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar terlihat sorot cahaya mengarah padaku, aku memutuskan mendekati cahaya tersebut, semakin dekat cahaya tersebut semakin menyilaukan mata ini.

“Mbak, ngapain malam-malam ada di sini?” selidik pria di depanku.

“Lagi mojok. Lah terus kamu sendiri ngapain malam-malam ke tempat beginian?”

“Mojok itu apa, Mbak? Ini saya mau ngambil air di sungai, Mbak.”

“Memangnya rumahmu nggak ada air?” tanyaku kemudian semakin penasaran.

“Ya ndak ada, Mbak. Wong ini desa terpencil!” Sahutnya seraya berlalu dan berdiri pada pinggiran sungai kemudian mulai menimba air.

Tangannya menyorot pada bagian kiri kolam, terlihat jelas di sana sepeda motorku tengah berendam dengan cantiknya pada bibir sungai.

“Loh, itu sepeda motor Mbak kah? Kok berenang di situ?” Ujarnya seraya menyorot cahaya senternya padaku.

Kurang asem nih, orang. Di kira motorku mau mandi apa?

Aku merengut, coba bukan karena dia manusia satu-satunya di tempat ini sudah kujitak kepalanya dengan kekuatan super. Duh, sabar … sabar …

“Gimana, bisa bantuin aku ngeluarkan itu motor nggak?”

“Ya bisa saja Mbak. Tapi paling besok, karena ndak bisa sendirian.”

“Terus, aku pulangnya gimana?”

***

Pria bernama Agung itu pun mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Awalnya aku menolak dan curiga jangan-jangan dia orang jahat yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bukankah kata bang napi kejahatan itu ada bukan hanya niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!

Setelah mengobrol cukup lama, barulah aku mengerti dan mulai berpikir baik tentangnya. Katanya, ia tinggal bersama ibunya, jadi kupikir dia tak akan macam-macam, dari tampangnya sih dia juga terlihat orang baik-baik.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk mau dan ikut dengannya, daripada berdiam di tempat tak jelas dan seram begini, ya kan! Dalam perjalanan ke rumahnya, aku yang dari tadi berjalan bertelanjang kaki tiba-tiba menginjak sesuatu.

“Aduh sakit!” erangku hingga dia berhenti dan melihat ke arah telapak kakiku.

“Mbak, kok nyeker? Sandalnya di mana, jatuh ke sungai juga ya?”

Hadeh, ni orang nanya sendiri, jawab sendiri!

“Sini kulihat kakinya!” seraya membungkuk kan badan dan meraba telapak kakiku.

Saat ia berusaha menarik sesuatu di telapak kaki, terdengar suara peluit di tiup nyaring, aku mengedarkan pandangan ke arah sumber suara ternyata ada dua orang hansip berlari menghampiri kami.

“Kalian berdua, ngapain malam-malam di sini? Peraturan kampung ini sudah jelas, selepas maghrib dilarang perempuan dan laki-laki bukan muhrim berdua-duaan.”

Agung cuma tertunduk. Sedangkan aku berusaha menjelaskan peristiwa yang terjadi. Namun sialnya para hansip ini tidak peduli, mereka justru mau menggiring kami ke balai desa. Aku hanya berdecak kesal. Mana pria lugu di sampingku ini malah diam saja tanpa berusaha memberi penjelasan.

Sedetik kemudian, Agung akhirnya bersuara “Maaf, Pak Hansip bisa berhenti sebentar kaki dia sakit, izinkan saya meminjamkan sandal saya ini, agar kakinya tidak terkena kotoran dan infeksi.”

Aku tercengang saat dia memasukkan sandal jepit nya ke telapak kakiku, sedangkan dia malah bela-belain jalan tanpa alas kaki. Ketika aku memandangi wajahnya dia malah spontan berkata “ Jangan dilihatin terus, Mbak. Nanti naksir!”

“Busyet, pede amat lu tong!”

Sesampainya di balai desa, sudah banyak warga kampung tengah menunggu. Dengan duduk bersila kami di persilahkan duduk, salah seorang warga di suruh memanggil ibunya Agung. Tidak lama salah seorang tetua adat berbicara, menjelaskan peraturan di kampung ini dan kami sudah melanggar. Jadi harus siap menerima hukuman yaitu di nikahkan malam ini juga di balai desa secara adat dan agama.

Sontak aku berdiri dan berteriak “Apa, peraturan macam apa ini? Saya saja baru tahu nama dia tadi. Lagian gimana mau nikah, wali saya aja nggak ada!”

Para Hansip berdiri hendak menangkapku, kata mereka aku tidak punya pilihan lain. Karena kalau itu tidak dilakukan desa mereka bakal terkena kutukan.

Ya ampun ini tahun berapa sih? Kok kayak zaman penjajahan aja! Nggak pokoknya enggak, aku nggak mau nikah. Aneh-aneh saja mereka, emang mereka pikir nikah itu semudah membalikkan telapak tangan, eh bukan emang mereka pikir nikah itu semudah ngambil singkong di sawah orang, eh apaan sih. Pokoknya itudah! Aku nggak mau pokoknya nggak mau!

Aku melengos ketika mereka memaksaku duduk di tengah bersama Agung, katanya prosesi pernikahan segera dimulai. Aku masih berusaha berontak, akan tetapi Agung membisikiku bahwa ikuti saja prosesnya, biar lebih mudah untuk keluar dari kampung ini. Nanti dia yang akan membantu. Mau tidak mau aku menerima tawarannya. Dengan syarat dia jangan pernah macam-macam apalagi ambil kesempatan.

Saat prosesi hendak dimulai, seorang perempuan tua datang tergopoh-gopoh ke balai sambil berkata “Ya ampun Le, kok kamu malah jadi begini? Pasti perempuan ini yang maksa kamu berduaan ya?”

Eh gimana-gimana buk?Nggak salah dengar ya? Kok jadi nyalahin aku sih? Wah gak beres nih orang-orang, main hakim sendiri saja. Lagian kenapa aku bisa berada di sini sih? Rasanya kayak mimpi, mending kalau ketiban durian runtuh! Wew, enggak ding ketiban durian kan sakit!Fyuh!

Salah seorang warga menarik tangan ibu si Agung agar duduk. Seseorang mengabarkan semua sudah siap, tinggal mas kawin saja yang belum ada. Aku menoleh pada Agung, niat hati mau menuntut banyak. Akan tetapi ini kan cuma pernikahan pura-pura jadi aku harus bisa berakting agar semua berjalan lancar dan besok bisa segera keluar dari sini.

Seseorang bertanya padaku “Sampean mau mas kawin apa? Biar disiapkan. Tapi jangan yang tidak ada di kampung ini.

Aku melirik kakiku yang sakit terkena duri, entah kenapa muncul di otakku, sepasang sandal yang dipinjamkan Agung tadi walaupun sudah buluk tetapi tetap nyaman digunakan, masa besok aku pulang tanpa alas kaki lagi.

Aku segera berdiri dan berkata,“ Aku minta sepasang sandal jepit sebagai mahar!”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Cinta Sendal Jepit

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
8.2
Hidup Anggita runtuh seketika saat Farhan, sang ayah, tega mencoretnya dari daftar ahli waris demi Dahlia. Akibat tuduhan keji asisten tersebut, ia didepak dari rumah dan dicap mandul. Di tengah kehancuran, Anggita justru mendapati dirinya sedang hamil anak Sagara. Demi menyelamatkan sang bayi dari kekejaman keluarganya, ia menyamar lalu kabur ke Bali. Di pulau itu, ia bertekad menata hidup baru dan selamanya menutup lembaran masa lalu.
Sampul Novel Diselingkuhi Saat Mengandung
8.7
Pernikahan Salma dan Rayden berada di ambang kehancuran. Walau sudah dikaruniai seorang putri dan kini Salma sedang mengandung enam bulan, kesetiaan suaminya goyah. Rayden berubah menjadi dingin sejak Clarissa, staf baru di kantornya, mulai mendekat. Di tengah perjuangan fisik masa kehamilan yang berat, Salma harus menelan pil pahit. Kepercayaan yang ia rawat sekian lama runtuh seketika saat perselingkuhan suaminya dengan Clarissa akhirnya terbongkar.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Kehidupan Ratih Apsari hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh. Pasca bercerai, ia tidak sengaja masuk ke mobil Derryl Dariawan dan melewati malam bersama karena suatu kesalahan fatal. Kejutan berlanjut saat Derryl ternyata menjadi CEO baru di tempat kerjanya. Ratih sempat curiga dirinya dijebak, tetapi interaksi mereka justru memicu benih cinta. Kini, ia dilema karena perbedaan status sosial dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Haruskah ia membuka hati atau kembali ke pelukan mantan suami?
Sampul Novel Give Me Your Heart
9.1
Demi memperjuangkan cinta, Andrea Keyne Halim nekat merebut paksa pria impian dari sahabatnya sendiri. Namun setelah berhasil menikah, ia justru harus menelan pil pahit. Sang suami memperlakukannya dengan sangat dingin, mengabaikan kehadirannya, dan enggan menyentuhnya. Di tengah kesedihan yang mendalam, Andrea menyadari bahwa ia menginginkan hati suaminya, bukan sekadar status pernikahan. Sanggupkah Andrea bertahan menghadapi sikap membeku ini, ataukah ia akan memilih menyerah dan pergi?
Sampul Novel My Funiest Husband
8.6
Penulis muda humoris bernama Galih harus menghadapi takdir unik saat dirinya dikutuk menikahi seorang dokter. Takdir tersebut mempertemukannya dengan Galuh, dokter cantik yang berusia enam tahun lebih tua darinya. Di kala Galuh sedang patah hati karena baru putus cinta, kehadiran Galih yang penuh kekocakan mulai mewarnai hari-harinya. Akankah perbedaan usia dan latar belakang menyatukan mereka dalam kebahagiaan? Simak perjalanan asmara mereka yang penuh tawa.
Sampul Novel (NOT) Your Ordinary Lab Girl
8.3
Meha, asisten lab mikrobiologi Universitas Elephas, dituduh menjadi pelaku pembunuhan berantai setelah sesosok jasad ditemukan di tempatnya bekerja. Bersama rekannya yang bernama Remi, ia terjebak dalam pusaran fitnah serta intrik politik kampus yang rumit. Demi menyelamatkan nama baik dan kelanjutan studinya, Meha terpaksa turun tangan menyelidiki kasus ini. Namun, keberhasilannya mengungkap kebenaran justru memicu rentetan kasus baru, seolah dirinya adalah magnet bagi para pembunuh.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan