APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian

Kematian Berujung Perceraian

Setelah memohon 99 kali, Rizald Pratama akhirnya setuju membawa putri mereka berkemah di gunung saat hari ulang tahunnya. Namun esok harinya, sang ibu justru menemukan putrinya tewas di kaki gunung sambil memeluk foto keluarga. Di tengah kedukaan, Rizald malah mengunggah foto mesra bersama teman masa kecilnya dan seorang anak lain di media sosial. Ironisnya, potret menyakitkan yang memperlihatkan tangan kecil korban tersebut diambil oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku memohon kepada Rizald Pratama sebanyak 99 kali dan akhirnya dia setuju untuk mengajak putri kami berkemah di pegunungan pada hari ulang tahun putri kami.

Pada saat aku menemukan putriku di kaki gunung keesokan harinya, dia sudah meninggal, tangannya memegang erat sebuah foto keluarga.

Aku berdiri di depan tubuh kaku putriku, hatiku tersayat pedih. Tiba-tiba, aku melihat Rizald memperbarui status di media sosialnya.

Dia menuliskan, "Kamu dan anakku adalah harta berharga dalam hidupku."

Dalam foto tersebut, dia dan teman masa kecilnya menggandeng seorang gadis kecil, tengah melihat matahari terbenam di kejauhan.

Di sudut kiri bawah foto, terlihat sebuah tangan kecil yang merupakan tangan putriku.

Foto yang menyakitkan ini diambil oleh putriku.

"Seharusnya meninggalnya karena jatuh dari ketinggian ...."

Polisi berbicara kepadaku secara langsung, tetapi aku tidak bisa mendengar apa pun.

Yang bisa aku lihat hanyalah putriku, putriku yang masih begitu kecil.

Dia baru berusia 5 tahun dan sangat menggemaskan seperti malaikat. Namun, matanya yang selalu terlihat bersinar itu tertutup rapat dan tidak akan pernah terbuka lagi.

Perlahan-lahan, aku berlutut di depannya dan menangkupkan tangannya yang kecil dan penuh luka. Entah ke mana hilangnya jam tangan yang aku berikan kepadanya.

"Cherin, buka matamu dan lihat Ibu. Ibu membelikanmu boneka yang kamu sukai. Bukankah kamu bilang kamu akan selalu tidur dengan boneka itu di pelukanmu?"

"Bagaimana kamu bisa tidur dengan tenang kalau kamu sendirian?"

Namun, tidak peduli seberapa keras aku memanggilnya, dia tidak merespons perkataanku.

Aku membalik telapak tangannya dan melihat foto keluarga kami yang dia gambar sendiri. Aku tidak tahan lagi dan menangis pilu.

Saat itu pukul tiga pagi, satu jam sebelumnya aku menemukan tubuhnya di kaki bukit tempat dia dan ayahnya, Rizald, berkemah.

Dia masih hidup dan sehat ketika kami meninggalkan rumah sore sebelumnya.

Aku sendiri yang menggendongnya ke kursi belakang mobil Rizald saat itu.

"Cherin, apa kamu senang karena kamu bisa tidur di tenda di atas bukit bersama Ayah?"

Dia mengangguk dengan penuh semangat dan menunjukkan gerakan yang terlihat ketakutan.

Dia tidak bisa bicara, memang sudah tidak bisa bicara sejak dilahirkan.

Aku ingat saat itu aku bicara kepadanya, "Cherin jangan takut, ada Ayah, dia akan melindungimu."

Selama lima tahun sejak Cherin lahir, Rizald selalu punya alasan untuk tidak merayakan ulang tahunnya. Kali ini, setelah aku memohon 99 kali, barulah dia bersedia merayakannya.

Dia menatapku dengan tidak sabar saat masuk ke dalam mobil.

"Sudah selesai? Kalau matahari sudah terbenam sudah nggak perlu pergi lagi."

Dia setuju untuk menemani Cherin berkemah untuk melihat matahari terbenam dengan syarat aku tidak boleh ikut.

Cherin ingin menghabiskan hari ulang tahunnya bersama ayahnya. Itulah yang dia harapkan saat ulang tahunnya tahun lalu.

"Sudah, kok." Aku memeriksa kembali jam tangan Cherin sebelum menutup pintu. "Kalau terjadi sesuatu, jangan lupa untuk menelepon Ibu, ya?"

Meskipun Cherin tidak bisa berbicara, kami memiliki kesepakatan bahwa jika dia dalam bahaya, dia akan meneleponku tanpa berbicara.

Aku merasa bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.

Aku tidak tahu bahwa wajah kecil yang terpantul di jendela mobil adalah kali terakhir aku bisa melihat wajah itu dalam keadaan hidup.

Keesokan paginya, Rizald tidak membawa Cherin kembali. Cherin pun tidak terlihat.

Aku berlari ke atas bukit untuk mencarinya. Yang tersisa di tempat itu hanyalah tenda yang rusak dan tumpukan sampah.

Aku menelepon Rizald sambil mencari Cherin di atas bukit.

Hari sudah larut malam dan akhirnya Rizald menjawab panggilanku. Yang keluar dari mulutnya hanyalah makian.

"Aliona apa kamu gila? Apa kamu nggak tahu kalau aku baru sampai hotel karena mau dinas kerja? Kamu menelepon terus, kalau kamu nggak mau istirahat, aku masih butuh istirahat!"

Saat itu aku menghela napas lega, "Maaf karena sudah mengganggu tidurmu. Kamu pergi dinas, apa kamu juga bawa Cherin bersamamu?"

Kerendahan hatiku dibalas dengan cibiran dari Rizald.

"Aku sudah menyuruhnya pulang. Apa keteledoranmu bikin dia hilang, jadi kamu malah menyalahkanku? Ibu macam apa kamu ini?"

"Aku tahu. Aliona, kamu pasti melihat statusku, jadi kamu sengaja berbohong, ya?"

"Aku hanya mengajak Wilona dan putrinya berkemah. Wilona ibu tunggal dan anaknya nggak punya ayah. Apa salahnya aku menjaga mereka? Kamu membuatku muak dengan kebohonganmu!"

Aku membuka status media sosialnya..

Aku melihat foto baru yang dia unggah.

Di foto itu ada dia, Wilona dan anak perempuannya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.

Aku tahu kalau Cherin sendiri yang mengambil foto ini untuk mereka.

Betapa benar-benar kejam dan menakutkan.

Namun sampai saat itu, aku masih bisa berpikir bahwa dia tidak sejahat itu sampai meninggalkan putrinya sendiri.

Sampai aku melihat tubuh dingin putriku di dasar bukit, bahkan beberapa anjing liar telah menggerogoti tangan dan kakinya hingga berdarah.

Wajahnya sudah memucat, bahkan ada aroma busuk yang menguar.

Pada saat itu, aku merasa hatiku seperti dicabik-cabik.

"Suamimu menelepon, apa kamu mau jawab?"

Suara petugas polisi itu menarikku kembali ke dunia nyata.

Aku melihat kata suami yang terpampang di layar ponsel.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istri Bukan Babu Gratisanmu Mas!
9.2
Anisa Rahmawati awalnya sangat mencintai suaminya, seorang duda bernama Arman Hermansyah. Namun, impian indahnya hancur seketika pada hari keempat pernikahan mereka. Anisa memergoki Arman berselingkuh dengan kekasih gelapnya, hubungan yang rupanya telah terjalin lama sebelum mereka resmi menikah. Kini, Anisa harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanya dimanfaatkan. Arman menikahinya bukan karena rasa cinta, melainkan hanya untuk dijadikan pelayan gratis di rumah.
Sampul Novel Cinta Sendal Jepit
7.8
Kehidupan Amara hancur sejak kepergian ibunya dan kehadiran ibu tiri yang kejam. Ia pun memilih kabur dari rumah hingga tak sengaja bertemu Agung saat melarikan diri dari kejaran polisi. Sialnya, warga desa menuduh mereka berbuat asusila hingga dipaksa menikah hari itu juga. Walau diawali dengan kecanggungan, benih asmara perlahan tumbuh di tengah badai ujian yang menerpa. Lewat perjuangan bersama, Amara dan Agung akhirnya berhasil meraih kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Nyonya Tak Bucin Lagi
9.7
Kesempatan kedua hidup dipakai Grace Wijaya untuk segera menceraikan William Sanjaya. Trauma akibat mati tragis di rumah sakit jiwa setelah delapan tahun mencintainya membuat Grace enggan bertahan. Awalnya William bersikap dingin dan mengabaikan keputusan itu. Namun, ia menyesal saat melihat Grace bertransformasi menjadi wanita karier sukses yang dikelilingi banyak pria. Ketika William memohon untuk rujuk, Grace dengan tegas menolak karena telah sembuh dari kebutaan cintanya.
Sampul Novel Pasangan Pengganti
8.5
Alana Nefertari selalu berharap suaminya, Vicky Xavier, berubah demi anak mereka. Namun, Vicky justru tega menjadikannya jaminan utang kepada bosnya, Bryan. Akibat tindakan kejam sang suami, Alana kini terpaksa bekerja menjadi pelayan di kediaman Direktur tersebut. Di tengah pengkhianatan yang begitu menyakitkan, mampukah Alana bertahan menghadapi cobaan ini, ataukah pernikahan beracun mereka akan benar-benar hancur tanpa sisa?
Sampul Novel Penantian
8.1
Dalam keadaan hamil, Winarsih harus menghadapi kenyataan pahit ketika suaminya, Robby, menghilang tanpa kabar setelah pamit bekerja ke luar kota. Kepergian sang suami yang misterius memaksa wanita sebatang kara ini menjalani penantian tanpa kepastian. Setelah semua upaya pencariannya gagal, Winarsih yang telah kehilangan orang tua kini tenggelam dalam keputusasaan. Hilangnya satu-satunya keluarga yang ia miliki menjadi misteri besar yang menguji ketegaran hidupnya.
Sampul Novel PERMAINAN PENGGODA IMAN
8.7
Saat berlibur di sebuah pulau, Arga dan rekan kerjanya menerima tantangan ekstrem dari Dako untuk menguji kesetiaan pasangan masing-masing. Lewat permainan gila ini, mereka bebas merayu dan menggoda kekasih satu sama lain tanpa boleh ada rasa cemburu ataupun amarah. Aturan tersebut berlaku mutlak selama liburan berlangsung dan selesai saat mereka kembali. Dari sinilah dimulainya berbagai godaan dewasa yang mengancam komitmen serta loyalitas hubungan mereka.