APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kecelakaan dan Penyesalan

Kecelakaan dan Penyesalan

Pasca-kecelakaan mobil bersama adiknya, sang protagonis mengalami luka fatal berupa robekan pada jantung yang membutuhkan bedah darurat. Ironisnya, sang ibu yang menjabat sebagai direktur rumah sakit justru mengerahkan seluruh tim medis demi memeriksa goresan kecil pada tubuh sang adik. Meski telah memohon pertolongan, ia malah dituduh mencari perhatian di tengah situasi kritis tersebut. Tanpa penanganan medis yang semestinya, ia mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang tragis.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku dan adikku mengalami kecelakaan mobil.

Jantungku robek, dan aku sangat membutuhkan operasi.

Namun ibuku yang merupakan direktur rumah sakit justru memanggil semua dokter ke ruang perawatan adikku, untuk melakukan pemeriksaan seluruh tubuh padanya yang hanya mengalami sedikit lecet.

Aku memohon pada Ibu untuk menyelamatkanku, tetapi dia malah dengan wajah tak sabar dan membentakku, "Kamu bisa nggak sih pilih waktu kalau mau cari perhatian? Kamu tahu nggak, adikmu hampir saja terluka kena tulang!"

Akhirnya, aku mati di sebuah sudut yang tak terlihat seorang pun.

Tiga menit terakhir sebelum mati, jiwaku melayang ke sisi ibuku.

Saat ini, Ibu sedang duduk di samping tempat tidur adikku dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia berdoa, "Vira, jangan takuti Ibu, cepat bangun ya, boleh?"

Ayah tampak sangat marah. “Kalau saja sebagai kakak, Esmerina jaga adiknya baik-baik, mana mungkin Vira jadi begini! Nanti lihat saja, akan kuhajar dia sampai mati!”

Aku berdiri di samping melihat semuanya, hatiku terasa pahit.

'Ayah, kamu tak perlu turun tangan, aku sudah mati.'

'Mati dalam ketidakpedulian kalian.'

Saat ini, para dokter mengelilingi tempat tidur Lusvira.

Setelah memastikan dirinya hanya mengalami cedera tulang dan tidak apa-apa, salah satu dokter yang lebih tua baru berani menyebutku. Dengan hati-hati dia bertanya, "Bu Direktur, benar-benar nggak perlu pedulikan Rina? Sepertinya luka kecelakaannya sangat parah."

Wajah Ibu yang tadi penuh kepedulian segera berubah menjadi muak, dan dia berteriak keras, "Dia main sandiwara apa lagi? Mau pura-pura mati? Dia masih belum sadar kalau dia yang buat adiknya seperti ini?"

Aku terpaku menatap Ibu. Jantungku yang sudah mati seperti kembali merasa nyeri seketika.

Jelas aku juga anaknya, apa Ibu benar-benar sama sekali tidak peduli padaku?

Tiba-tiba, Ibu mengambil ponsel dan meneleponku.

Perawat baru saja menempelkan ponsel itu ke telingaku. Yang kudengar bukanlah kepedulian yang kuharapkan, melainkan hinaan seperti biasanya, "Esmerina, kapan kamu mau cepat datang dan minta maaf pada adikmu?"

Saat itu, hatiku benar-benar dingin, tak ada lagi harapan.

Sejak kecil Ibu selalu memihak adik, selalu menyuruhku mengalah padanya.

Hanya karena pada hari kelahiran adikku, aku tanpa sengaja menumpahkan air panas dan terseduh air itu, lalu saat Ibu buru-buru membawaku ke rumah sakit, dia terpeleset dan melahirkan prematur. Mereka semua menganggap itu salahku.

Adik yang hidup dalam inkubator membuat seluruh keluarga merasa sangat kasihan padanya.

Ayah bahkan menamparku sampai gendang telingaku pecah. "Benar-benar anak pembawa sial, adik baru lahir saja hampir kamu buat kehilangan nyawa."

Ibu yang terbaring di ranjang melirikku dengan lemah, di mata tersirat kekecewaan.

Belasan tahun telah berlalu, dan sikap mereka tetap sama.

'Sekarang aku sudah mati, aku tak akan lagi buat kalian kecewa. Kalian pasti senang, 'kan?'

Tiga puluh menit yang lalu, saat baru dibawa ke rumah sakit, aku memohon Ibu untuk menyelamatkan diriku, tetapi Ibu hanya berkata, "Kalau mau cari perhatian, bisa nggak lihat waktu? Kamu tahu nggak, adikmu hampir terluka kena tulangnya!" Lalu tanpa menoleh, Ibu membawa semua dokter untuk merawat adik.

Bagaimana mungkin dirinya ada waktu untuk mencintaiku?

Perawat yang tidak tega, mengambil ponsel dan berkata, "Bu Direktur, Rina benar-benar sudah kritis."

Namun Ibu yang yakin bahwa aku hanya cari perhatian malah tertawa sinis. "Apa? Anak jahat itu bayar kamu berapa sampai kamu mau ikut bermain sandiwaranya! Tak kusangka dia punya kemampuan seperti ini!"

Baru saja kata-kata itu keluar, Lusvira yang berpura-pura pingsan akhirnya "terbangun". Dengan suara lemah dia berkata, "Ayah, Ibu, bagaimana kondisi Kakak?"

Ibu melihat Lusvira yang tampak patuh dan manis di tempat tidur, wajahnya makin penuh rasa benci. "Esmerina, bisakah kamu sedikit dewasa seperti adikmu? Dia sudah kamu sakiti sampai begini masih memikirkanmu! Kalau dalam 3 menit kamu nggak minta maaf pada adikmu, jangan pernah menemuiku lagi!"

Ibu menutup telepon, dadanya naik-turun karena marah.

Ayah di sampingnya berkata dengan wajah tidak senang, "Untuk apa panggil dia? Apa kalian masih belum puas, setelah dia celakai Jervin sampai begitu parah?"

Lusvira tak bisa menyembunyikan rasa puasnya, lalu menundukkan kepala diam-diam, mengangkat wajahnya yang penuh rasa bersalah dan berkata pada Ayah dan Ibu, "Ayah, Ibu, jangan marah ya, Kakak hanya masih kesal karena aku ambil jatah kuliah luar negerinya. Dia marah padaku, itu wajar."

Aku merasa geli.

Tak kusangka aku sudah mati pun, adikku Lusvira masih berusaha mengadu domba diriku dengan Ayah dan Ibu.

Akan tetapi, Ayah dan Ibu tidak akan pernah menyadarinya.

Di mata mereka, Lusvira selamanya anak yang lebih patuh dan manis dibandingkan dengan diriku.

Mereka juga tak akan pernah terpikir bahwa kecelakaan mobil itu adalah perbuatan Lusvira sendiri, anak gadis kesayangan mereka yang mendorongku ke jalan raya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asmara Mendendam
9.5
Demi pekerjaan, Nezza nekat tinggal di kos angker dan jatuh hati pada Ari, anak pemilik kos yang bersikap dingin. Walau harus bersaing dengan Adelina dan Putri yang agresif mendekati Ari, kekaguman Nezza tak luntur. Situasi mencekam saat teror mistis melanda, namun Ari curiga ada dalang manusia di baliknya. Ketegangan memuncak ketika Rahma menuduh Jessy sebagai pelaku teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri kelam ini terpecahkan?
Sampul Novel Bermula Dari Casing Berminyak
9.4
Sebuah benda biasa membawa petaka dalam novel misteri Bermula Dari Casing Berminyak. Sang protagonis menyadari casing ponselnya selalu terasa berminyak secara aneh. Keluhan tersebut hanya dianggap angin lalu, hingga sang sahabat melontarkan gurauan mengerikan bahwa wadah ponsel itu terbuat dari kulit manusia. Ketakutan itu menjadi nyata saat malam tiba, ketika ia terbangun dan merasakan sensasi mengerikan seolah wajahnya sedang dikuliti secara perlahan disertai bisikan dingin yang menuntut kulitnya sendiri.
Sampul Novel Cermin
8.7
Pasca-kecelakaan, Inestia Rossi bisa melihat hantu dan mendeteksi kematian. Baginya, cermin adalah satu-satunya media yang jujur mengungkap wujud asli mereka. Di tengah trauma cinta, ia bertemu Rangga, pria skeptis yang memberinya keberanian. Meski kerap terancam kasus mengerikan di apartemennya, Ines pantang menyerah. Walau konflik keluarga sempat memisahkan mereka, takdir mempertemukan keduanya kembali untuk berjuang dalam status hubungan yang baru.
Sampul Novel Dark in Antares City
9.3
Dunia kini dicekam teror Eaters, predator mirip manusia yang berubah jadi monster pemangsa daging saat malam tiba. Di tengah situasi mengerikan ini, Rio Rosswel harus menyaksikan ibunya tewas mengenaskan oleh makhluk bercakar tajam tersebut. Sambil bersembunyi di dalam lemari, ia terpaksa menahan tangis serta amarahnya. Kejadian traumatis itu memicu dendam mendalam, hingga Rio bersumpah akan membasmi seluruh Eaters dari muka bumi.
Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Kehidupan Esmeralda berubah drastis setelah suaminya kehilangan pekerjaan, memaksa mereka pindah ke desa asal sang suami. Di tempat baru ini, ia terus diteror oleh penampakan mengerikan sesosok Genderuwo. Di tengah ketakutan itu, penantian mereka akan keturunan akhirnya terwujud saat Esmeralda dinyatakan hamil. Namun, kegembiraan tersebut seketika sirna ketika ia mulai merasakan keanehan yang sangat janggal dan misterius pada bayi yang sedang dikandungnya.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi hampir meregang nyawa akibat syok anafilaksis karena diabaikan oleh suaminya, Bram, yang lebih mementingkan Clara. Penderitaannya kian mendalam saat putra mereka, Leo, tewas tertabrak ketika berusaha mencari pertolongan. Ajaibnya, takdir membawa Nindi kembali ke masa lalu sebelum tragedi itu terjadi. Berbekal memori kelam tentang pengkhianatan suami dan kematian tragis anaknya, ia bertekad melindungi Leo sekaligus membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya.