APKDock Logo
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

9.8 / 10.0
Nindi hampir meregang nyawa akibat syok anafilaksis karena diabaikan oleh suaminya, Bram, yang lebih mementingkan Clara. Penderitaannya kian mendalam saat putra mereka, Leo, tewas tertabrak ketika berusaha mencari pertolongan. Ajaibnya, takdir membawa Nindi kembali ke masa lalu sebelum tragedi itu terjadi. Berbekal memori kelam tentang pengkhianatan suami dan kematian tragis anaknya, ia bertekad melindungi Leo sekaligus membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya.

Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali Bab 1

Anindita Lestari terengah-engah, dadanya sesak seperti dihimpit benda berat.

Putranya yang berusia enam tahun, Leo, menatap dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.

Syok anafilaksis.

Kondisinya memburuk dengan cepat.

Dengan susah payah, dia menyebut nama suaminya, Bramantyo, memohon agar pria itu menelepon 112.

"Bunda nggak bisa napas!" tangis Leo di telepon.

Tapi Bram, yang sedang sibuk "membangun jaringan" dengan selingkuhannya, Clara, menganggapnya enteng sebagai "serangan panik" biasa.

Beberapa menit kemudian, Bram menelepon kembali: ambulans yang seharusnya untuk Nindi dialihkan ke Clara, yang hanya "tersandung" dan pergelangan kakinya terkilir.

Dunia Nindi hancur berkeping-keping.

Leo, pahlawan kecil di hatinya, berlari keluar mencari bantuan, tapi malah tertabrak mobil.

Terdengar bunyi gedebuk yang mengerikan.

Dia hanya bisa menonton, seperti arwah dalam tragedinya sendiri, saat paramedis menutupi tubuh kecilnya yang hancur.

Putranya telah tiada, karena Bram lebih memilih Clara.

Kehancuran.

Kengerian.

Rasa bersalah.

Bayangan Leo menghantuinya, membekas begitu dalam.

Bagaimana bisa seorang ayah, seorang suami, menjadi begitu egois dan mengerikan?

Penyesalan yang pahit dan tak berkesudahan menggerogoti jiwanya.

Clara. Selalu Clara.

Lalu, mata Nindi terbuka lebar.

Dia terbaring di lantai ruang tamunya.

Leo, hidup dan sehat, berlari masuk.

Ini adalah kesempatan kedua yang mustahil dan menakutkan.

Masa depan yang mengerikan itu tidak akan terjadi.

Dia akan merebut kembali hidupnya, melindungi putranya, dan membuat mereka membayar semuanya.

Bab 1

Anindita Lestari megap-megap mencari udara. Dadanya menegang, seperti ada besi yang meremukkan paru-parunya.

Leo, putranya yang berusia enam tahun, menatapnya, wajah mungilnya pucat pasi karena ketakutan. "Bunda?"

Nindi meraba-raba mencari EpiPen-nya, pandangannya mulai kabur. Syok anafilaksis. Cepat sekali.

"Telepon... Bram," ucapnya terbata-bata. "Sembilan... satu... satu."

Leo, dengan hati pemberaninya, meraih ponsel ibunya. Jari-jari mungilnya kesulitan membuka layar.

Dia menekan tombol panggil untuk Bram.

"Ayah! Bunda nggak bisa napas! Kelihatannya parah banget!" tangis Leo di telepon.

Suara Bram terdengar dari seberang, jauh dan terganggu. "Mungkin Bunda cuma kena serangan panik, Leo. Kasih dia EpiPen. Ayah lagi ada acara networking sama Tante Clara. Nanti Ayah pulang."

"Bukan, Ayah! Ini serius! Bunda bilang telepon 112!"

"Oke, oke, Ayah panggilkan ambulans untuknya," kata Bram, tapi nadanya meremehkan.

Beberapa menit kemudian, saat Nindi melayang dalam kabut rasa sakit, Bram menelepon kembali. Leo menempelkan ponsel ke telinga ibunya.

"Nindi? Dengar, Clara tersandung. Pergelangan kakinya terkilir parah. Ambulans yang kupanggil untukmu, aku alihkan ke dia. Dia lebih dekat, dan dia kesakitan sekali. Kamu pakai saja EpiPen-mu, kamu akan baik-baik saja."

Dunia Nindi hancur. Clara. Selalu Clara.

Leo, mendengar ini, berteriak. "Nggak! Bunda butuh bantuan!" Dia menjatuhkan ponsel dan berlari ke pintu, mungkin mencoba memanggil Bu Ratih tetangga sebelah.

Klakson mobil meraung. Terdengar bunyi gedebuk yang mengerikan.

Nindi, di tengah kabut kesadarannya, mendengar jeritan yang berbeda, bukan jeritan Leo.

Lalu, hening.

Napasnya sendiri tercekat, sebuah helaan terakhir yang kasar. Rohnya terasa seperti tercabik, melayang ke atas.

Dia melihat Leo. Terbaring di jalan. Diam.

Tiba-tiba paramedis ada di sana, menanganinya, lalu bergegas ke arah Leo. Terlambat.

Gambaran itu membakar jiwanya: Leo, kecil dan hancur, karena Bram lebih memilih Clara.

Kehancuran. Kata yang terlalu kecil. Kengerian. Duka. Rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya.

Hatinya, atau apa pun yang tersisa darinya, hancur menjadi sejuta keping.

Dia menonton, seperti arwah dalam tragedinya sendiri, saat mereka menutupi tubuh Leo dengan selembar kain.

Bram. Ini salahnya. Kelalaiannya. Keegoisannya yang mengerikan.

Clara. Wanita itu.

Jika dia punya kesempatan lagi. Jika dia bisa kembali.

Dia tidak akan pernah membiarkan Bramantyo Wicaksono masuk ke dalam hidupnya. Dia akan melindungi Leo.

Dia akan membuat mereka membayar.

Rasa sakit itu mutlak. Penyesalan yang pahit dan tak berkesudahan.

"Bram," bisik arwahnya, sebuah sumpah yang dingin dan penuh amarah, "jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak akan pernah mau mengenalmu."

Tiba-tiba, mata Nindi terbuka lebar.

Dia terbaring di lantai ruang tamunya. Dadanya sakit, tapi dia bisa bernapas.

Tangannya gemetar. Dia menyentuh lehernya. Tidak ada bengkak.

Leo.

Dia bergegas bangkit, jantungnya berdebar kencang. "Leo!"

Leo berlari masuk dari kamarnya, matanya terbelalak. "Bunda? Bunda nggak apa-apa? Tadi Bunda mengeluarkan suara aneh."

Nindi meraihnya, memeluknya begitu erat hingga Leo memekik. Hidup. Dia hidup.

Matanya, dia tahu, mungkin merah. Tangannya masih gemetar.

Ingatan tentang jalanan, bunyi gedebuk, kain penutup... itu terlalu nyata.

Dia melihat kalender di dinding. Tanggal hari ini. Hari yang sama.

Itu belum terjadi.

Sebuah keajaiban. Kesempatan kedua yang menakutkan.

Disorientasi berperang dengan tekad yang kuat dan protektif.

Dia tidak akan membiarkan masa depan itu terjadi.

Ponselnya di meja kopi bergetar. Sebuah notifikasi. Instagram.

Clara Wijaya.

Darah Nindi terasa dingin. Dia mengambilnya, jarinya melayang di atas aplikasi.

Dia harus tahu.

Story Clara: makan malam mewah. Bram, tersenyum di sampingnya.

Dan di tangan Clara, sebuah cincin baru yang berkilauan. Sebuah "cincin janji."

Keterangannya: "Membangun masa depan dengan seseorang yang benar-benar melihat potensiku. Sangat bersyukur atas dukungannya dalam meluncurkan merek kesehatanku! #AwalBaru #SupportSystem."

Stempel tanggal di postingan itu: tadi malam.

Rasa sakit yang baru. Kemarahan. Jijik.

Bram sudah "membangun masa depan" dengan Clara saat masih menikah dengannya, saat Leo masih hidup dan sehat.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seorang pria begitu tidak memiliki kesopanan dasar?

Kunci berputar di lubang. Bram masuk, bersiul.

Dia berhenti saat melihat wajah Nindi.

"Hei, ada apa? Kamu kelihatan seperti habis lihat hantu."

Dia berbau samar parfum Clara yang memuakkan. Noda lipstik, bukan warnanya, ada di kerahnya. Dia selalu begitu ceroboh.

"Kamu berlebihan," itu kalimat favoritnya. Kalimat itu menggores sarafnya, menimbulkan penolakan fisik.

"Bram," Nindi memulai, suaranya tegang. "Kita perlu bicara."

"Kalau aku bilang aku hampir mati hari ini, Bram, dan Leo juga hampir mati, karena kamu bersama Clara, apa yang akan kamu katakan?" tanya Nindi, suaranya tenang yang berbahaya.

Bram mengerutkan kening. "Apa yang kamu bicarakan? Itu gila. Kamu baik-baik saja?"

Nindi melihat kekosongan di matanya. Sama sekali tidak ada pemahaman.

Dia tidak akan mengerti. Dia tidak akan pernah mengerti.

Kelelahan itu seperti jubah yang berat. Kepahitan, rasa yang akrab.

Dia telah menyia-nyiakan bertahun-tahun.

"Aku mau cerai, Bram," katanya, kata-kata itu terasa seperti kebebasan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur saat kesuciannya dirampas di depan kekasihnya akibat rencana jahat kakek pria itu. Bukannya melindungi, sang kekasih justru mencampakkannya dan menikahi wanita lain. Di tengah keputusasaan, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama keluarga aslinya, ia menyusun rencana pembalasan dendam untuk menghancurkan mantan kekasih dan keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang ia cari?
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berusia dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan sibuk dengan gawainya meski ia sangat cerdas dan licik. Kebiasaan buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat putranya secara total. Ia pun mengambil langkah ekstrem dengan mengubah fisik Sota. Akankah rencana drastis Artisa berhasil mengubah jati diri sang anak melalui transformasi tubuh ini?
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa terus mendampingi pria yang dahulu hidupnya telah ia hancurkan. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, akankah ketulusan Nada mampu meluluhkan amarah di hati Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf hanya akan berujung sia-sia?
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama tidak punya pilihan selain menjadi istri kedua dari miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalunya. Hidup yatim piatu ini kian pelik saat ia menyadari perannya dalam pernikahan tersebut hanyalah untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses. Tanpa status sosial yang jelas, Kayla harus bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar alat tanpa posisi nyata di mata sang suami.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Suasana khidmat menyelimuti Puncak Lundao di Pulau Sepuluh Ribu Binatang saat puluhan ribu anak belia berkumpul. Para murid baru yang baru mendeteksi akar spiritual ini menyimak dengan saksama petuah tetua berjubah hijau. Sang tetua mengisahkan awal mula sekte yang dirintis oleh Wan Beast Immortal Li. Tokoh legendaris itu awalnya hanya kultivator biasa asal Kerajaan Qin di Alam Qianyang sebelum akhirnya berhasil meraih keabadian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan