
Karma Itu Nyata Pengkhianatan
Bab 2
Dia melirik layar ponselnya dan langsung menjawab panggilan itu.
Dari seberang telepon terdengar suara Yessy yang sedang menangis.
"Kak Kemal, cepat tolong aku! Aku diikuti orang! Aku takut sekali!"
Mendengar itu, Kemal langsung berdiri, berbicara dengan lembut untuk menenangkannya.
"Yessy, jangan takut. Aku akan segera datang mencarimu!"
Yessy terus menangis.
"Aku minta bantuanmu di tengah malam begini, apa Nona Nissa nggak akan marah?"
Kemal melirikku dengan dingin lalu mendengus.
"Kalaupun dia marah, ya biar saja. Keselamatanmu jauh lebih penting, 'kan?"
Setelah menutup telepon, dia bahkan tidak menatapku lagi dan buru-buru menuju pintu.
"Kemal."
Aku panggil namanya.
Dia mendengus kesal, menoleh sedikit sambil berkata.
"Kamu nggak dengar kalau Yessy sedang dalam bahaya? Bisa nggak jangan bikin masalah sekarang?"
Aku memotong perkataannya.
"Ambilkan ponselku, aku mau menelepon ambulans."
Mendengar itu, Kemal tertegun sejenak.
Aku melanjutkan.
"Kamu nggak jadi mengantarku ke rumah sakit, setidaknya aku harus pergi sendiri, 'kan?"
Akhirnya Kemal sadar aku terluka, lalu membantu menelepon ambulans.
Sebelum pergi, dia melirikku beberapa kali, dan berkata dengan wajah sedikit canggung.
"Nanti aku ke rumah sakit menjengukmu."
Semalaman aku dirawat di rumah sakit, dan sampai pagi Kemal tidak juga datang.
Setelah menyelesaikan urusan keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah, aku menemukan akun cadangan Yessy telah diperbarui lagi.
Dia menulis bahwa dalam perjalanan pulang, ada seorang penguntit dan dia ketakutan sampai bersembunyi di dalam minimarket, tidak berani keluar. Untungnya, Pak Bos datang tepat waktu.
Kemal memukul penguntit itu habis-habisan, dan dalam keributan yang terjadi, perutnya terluka akibat pisau kecil yang dipegang oleh penguntit.
Dalam foto, Kemal sedang berbaring di rumah Yessy, bajunya terangkat, menunggu lukanya diobati.
Warganet ramai-ramai berkomentar.
"Astaga, perut itu! Gimana rasanya?"
Yessy membalas:
"Hihi! Nanti setelah makan, aku kasih tahu!"
Algoritma internet dengan cepat membuatku melihat video dari sudut pandang lain.
Seorang pegawai minimarket memposting video lengkap.
Dalam video itu, Kemal menghajar penguntit sampai tersungkur di tanah.
Lalu dia menyeka darah di tangannya, menarik Yessy ke dalam pelukan, dan menenangkan gadis itu dengan lembut.
Matanya dipenuhi kelembutan dan perhatian pada Yessy.
Melihat pemandangan penuh kasih itu, hatiku terasa sakit.
Setahun yang lalu, pada hari ulang tahun pernikahan kami, akhirnya dia mengajakku makan bersama.
Aku berdandan cantik dan menunggu lama di depan restoran, tetapi dia tidak kunjung datang.
Beberapa preman tiba-tiba mengerumuniku, tanpa bicara langsung menarikku masuk ke dalam gang.
Untung saja Kemal akhirnya muncul.
Aku melepaskan diri dengan susah payah, berlari ke arahnya sambil menangis, dan mengatakan kalau ada orang yang mencoba menculikku.
Namun, setelah mendengarku, wajahnya langsung masam.
"Cukup, Nissa!"
"Aku nggak nyangka kamu sampai pakai trik seperti ini cuma buat cari perhatianku! Kamu itu cacat, siapa yang akan tertarik padamu?"
"Aku sudah setuju makan malam untuk merayakan hari pernikahan kita, kamu masih belum puas?"
"Malam ini, aku makan malam dengan Yessy. Kamu pulang saja ke rumah, jangan bikin malu di sini!"
Setelah itu, dia menggandeng Yessy masuk ke restoran.
Saat melewatiku, Yessy menyibakkan rambutnya dengan puas, menunjukkan sepasang anting zamrud.
Aku sangat mengenali anting itu.
Kemal pernah bilang mau membelikannya untukku sebagai hadiah ulang tahun pernikahan.
Belakangan dia bilang anting itu sudah dibeli orang lain, tapi ternyata sekarang dipakai oleh Yessy.
Malam itu, aku pulang ke rumah sambil menatap bekas cakaran di leherku. Aku sangat ketakutan.
Tidak berani aku membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku tidak sempat melarikan diri.
Setelah kejadian itu, Kemal memasak makan malam untukku sebagai permintaan maaf, dan aku pun luluh.
Peristiwa itu sudah berlalu setahun, tapi aku masih sering bermimpi buruk tentang malam itu. Tentang rasa takutku, dan kata-kata kasar Kemal.
Setiap kali terbangun, aku selalu menangis.
Namun sekarang, ketika mengenangnya lagi, yang tersisa hanyalah rasa dingin di hati.
Akhirnya aku mengirim pesan kepada pengacara perceraian yang direkomendasikan temanku.
"Halo, aku ingin konsultasi tentang perceraian."
Anda Mungkin Juga Suka





