
Karma Itu Nyata Pengkhianatan
Bab 3
Baru keesokan sore, Kemal akhirnya pulang ke rumah.
Melihatku di rumah, dia menghela napas lega, lalu berkata sambil tertawa.
"Aku lupa mampir ke rumah sakit. Ternyata kamu malah keluar secepat ini, sepertinya nggak terlalu parah, ya."
Aku tidak memberitahunya bahwa sebenarnya kondisiku cukup parah.
Tulang belakangku bergeser, dan jika dibawa ke rumah sakit sedikit lebih lambat, kemungkinan besar akan keguguran.
Namun, aku tidak mengatakan apa pun, hanya menjawab pelan, "Mm."
Sambil melepas dasi, Kemal berbicara tentang kejadian semalam.
"Awalnya aku ingin ke rumah sakit setelah mengantar Yessy pulang, tapi dia sedang tidak stabil. Sebagai bos, aku harus lebih perhatian, 'kan?"
Sambil berbicara, dia mendekat, memeluk pinggangku dari belakang dan bertanya.
"Kamu nggak marah, 'kan?"
Aroma parfum wanita di tubuh Kemal membuatku mual.
Aku menjawabnya sambil menghindar perlahan.
"Tentu saja nggak. Dia 'kan perempuan, wajar kalau kamu lebih memperhatikannya."
Mendengar jawaban itu, Kemal puas dan dengan hati yang senang, dia hendak menciumku.
Saat ini, kerah kemejanya sudah terbuka lebar.
Aku menghentikan tindakannya dan menunjuk bekas di lehernya sambil bertanya.
"Ini apa?"
Kemal langsung berdiri tegak, menjawab dengan ekspresi canggung.
"Mungkin … gigitan nyamuk."
Tentu saja aku bertanya bukan karena tidak tahu, justru sebaliknya, aku sangat memahami semuanya.
Namun, aku menjaga ekspresiku tetap tenang dan mengangguk pelan.
Kemal selalu berusaha menebus setelah berbuat salah.
Kali ini juga begitu.
Dia memberiku gaun, lalu bilang akan mengajakku menghadiri pesta.
Pernikahan kami memang dirahasiakan, dan sejak aku menjadi pincang, dia tidak pernah membawaku ke acara mana pun.
Saat itulah Yessy muncul.
Tubuhnya indah, wajahnya cantik, dan dia lulusan universitas ternama.
Aku pernah mendengar Kemal berbincang dengan temannya.
Dia berkata.
"Membawa wanita seperti Yessy membuatku bangga, nggak seperti Nissa, sudah tua, pincang lagi."
Agar tidak menimbulkan masalah sebelum bercerai, aku tetap setuju untuk ikut.
Di pesta itu, sering kali Yessy dan teman-temannya melirik ke arah kami.
Akhirnya, salah satu dari mereka tidak tahan dan menghampiri Kemal untuk bertanya.
"Dengar-dengar kamu sedang mendekati Yessy, benarkah?"
Mendengar itu, Kemal melirikku, lalu setelah hening sejenak dia menjawab.
"Ya."
Aku menoleh, tiba-tiba perutku terasa agak nyeri.
Mereka menunjuk ke arahku, lalu bertanya dengan bingung.
"Kalau begitu, siapa dia?"
Saat Kemal tidak tahu harus menjawab apa, Yessy mendekat dan membantunya menjawab.
"Dia ini pembantu di rumah Kak Kemal."
"Kak Kemal sangat baik pada pekerjanya, bahkan sampai diajak ke pesta seperti ini untuk menambah pengalaman."
Lalu dia menoleh ke Kemal sambil tersenyum.
"Benar, 'kan?"
Mendengar itu, Kemal seperti merasa lega dan langsung mengiyakan.
"Ya, Yessy benar."
Teman-teman wanitanya merasa telah membantu Yessy menjaga situasi, kemudian pergi dengan puas.
Setelah mereka semua pergi, Yessy segera memegang tanganku sambil menjelaskan.
"Kak Nissa, jangan marah, ya."
"Aku yang minta Kak Kemal berpura-pura, kalau nggak, mereka akan mengenalkanku pada pria lain lagi. Repot sekali!"
Melihatku diam saja, Kemal mulai terlihat tidak senang.
"Nissa! Sudah dibilang ini hanya pura-pura, jangan terlalu kecil hati!"
Dulu, aku pasti akan membuat keributan besar dan membuat semua orang tidak nyaman.
Namun sekarang, aku tidak terlalu peduli.
Aku hanya berkata, "Aku nggak marah."
Rasa tidak nyaman di perutku makin parah. Aku memegang perutku, kesakitan hingga tidak bisa berdiri tegak.
"Kemal, bisa nggak ... kamu antar aku pulang duluan?"
Mendengar itu, Kemal mendecakkan lidah dengan tidak sabar.
"Cukup, Nissa! Ini yang kamu bilang nggak marah?"
"Jangan berpura-pura di depanku! Sampai pesta ini selesai, kamu tetap di sini dan jangan pergi ke mana pun!"
Setelah berkata begitu, dia pergi sambil memeluk pinggang Yessy.
Aku bersembunyi di pojok sendirian, menahan rasa sakit yang luar biasa hingga wajahku pucat.
Dengan susah payah, aku menunggu pesta selesai.
Namun kemudian, Yessy bilang anting zamrudnya jatuh ke kolam.
Begitu mendengarnya, Kemal menatapku sambil berkata.
"Aku dan Yessy ada acara lain setelah ini."
"Nissa, kamu saja yang turun ke kolam untuk mencarinya."
Anda Mungkin Juga Suka





