APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatah Malam Untuk Mertua

Jatah Malam Untuk Mertua

Leo menghadapi dilema berat ketika calon ibu mertuanya yang janda meminta hubungan intim sebagai syarat nikah. Sementara itu, Dinda terkejut saat ayah kandungnya, Pak Bram, menginginkannya dan mengajukan tuntutan yang sama. Terjebak dalam pusaran nafsu dan tekanan orang tua, akankah Leo dan Dinda mengkhianati komitmen demi memenuhi syarat gila tersebut? Kisah penuh intrik dan pengkhianatan ini akan menguji batas kesetiaan cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Owh, enggak. Aku hanya membayangkan bagaimana acara pernikahan kita nanti, kayaknya bakal seru." Leo berupaya membuat Dinda tidak curiga.

"Iya pasti dong, Mas. Pasti kamu membayangkan malam pertama yah," ledek Dinda, tertawa kecil.

"Hehe, tau aja kamu," balas Leo yang juga tertawa.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang hangat, bercanda tentang masa depan mereka yang penuh kebahagiaan. Meski di balik senyuman itu, Leo masih menyimpan kekhawatiran, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan apa pun demi memastikan pernikahan mereka berjalan lancar dan bahagia. Bagi Leo, cinta mereka adalah segalanya, dan dia tidak akan membiarkan apa pun merusak itu.

Ketika mobil yang dikendarai Leo berhenti di depan sebuah kafe yang nyaman dan terpencil, Dinda tersenyum senang. Tempat ini memang menjadi favorit mereka berdua, sebuah kafe kecil yang terletak di tepi danau dengan pemandangan indah dan suasana yang tenang. Mereka sering datang ke sini untuk berbagi cerita dan merencanakan masa depan.

"Tempat ini selalu bikin aku merasa tenang,as. Di sini adem," ucap Dinda saat mereka berjalan berdua menuju teras kafe.

"Aku juga suka tempat ini, Sayang," jawab Leo sambil menggandeng tangan Dinda lebih erat.

"Rasanya damai, kayak dunia ini cuma milik kita berdua," imbuhnya.

Mereka memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke danau, di mana sinar matahari pagi memantulkan kilau emas di permukaan air. Setelah memesan minuman favorit mereka, Leo dan Dinda kembali larut dalam obrolan yang hangat dan penuh cinta.

"Gak kerasa yah, Mas. Kurang dari seminggu lagi kita menikah." Dinda memulai, matanya berbinar saat dia menatap Leo.

"Akhirnya kita akan melangsungkan pernikahan, Mas. Rasanya aku nggak percaya. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan," tambahnya, matanya berbinar.

Leo menatap Dinda dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Sayang. Aku juga nggak sabar. Setiap kali aku bayangin kita menikah, rasanya aku semakin jatuh cinta sama kamu," ujar Leo dengan tulus.

"Kamu nggak cuma cantik, tapi juga pintar, baik hati, dan... sempurna buatku," imbuhnya, melempar senyuman.

Pujian itu membuat pipi Dinda merona, senyumnya merekah,"Kamu terlalu baik, Mas. Aku juga merasa beruntung bisa ketemu dan akhirnya mau menikah sama kamu. Kita akan jadi pasangan yang hebat"

"Tentu saja," jawab Leo sambil mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Dinda di atas meja.

"Aku akan selalu ada buat kamu, apa pun yang terjadi." Leo menggenggam erat tangan kekasihnya.

Dinda meremas tangan Leo lembut, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka.

"Aku juga akan selalu mendukung kamu, Mas. Nanti kalau kita sudah menikah, kita bisa mewujudkan semua impian kita, termasuk punya anak banyak," dengan nada bercanda dengan nada bercanda namun serius.

Leo tertawa kecil, tapi di balik tawa itu, dia merasakan gelombang keinginan yang semakin kuat untuk segera menjadi suami Dinda. Dia membayangkan masa depan mereka yang penuh dengan kebahagiaan, tawa anak-anak, dan cinta yang terus tumbuh. Ada rasa rindu yang mendalam dalam dirinya, rindu untuk bisa memeluk Dinda dengan penuh gairah sebagai seorang suami, memberikan seluruh cintanya kepada wanita yang telah membuatnya merasa hidup.

"Kamu benar-benar serius soal punya anak banyak ya?" tanya Leo sambil menatap Dinda dengan tatapan yang intens.

Dinda mengangguk sambil tersenyum lembut,"Iya, Mas. Aku pengen rumah kita penuh dengan anak-anak yang sehat dan ceria. Aku pengen kita jadi keluarga yang bahagia"

Leo menelan ludah, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Aku juga nggak sabar, Sayang. Aku pengen kita segera menikah, dan... aku pengen menumpahkan semua perasaan ini sama kamu," ucap Leo dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna.

Dinda merasakan desiran di hatinya mendengar kata-kata Leo. Ada rasa hangat dan rindu yang tumbuh di dalam dirinya.

"Aku juga sama, Mas. Aku pengen kita segera jadi suami istri, berbagi segalanya... termasuk kasih sayang yang kita punya," balas Dinda tersenyum.

Obrolan mereka berlanjut dengan semakin banyak rencana tentang masa depan, tentang bagaimana mereka akan menghabiskan hidup bersama, dan tentang impian-impian yang akan mereka wujudkan. Di dalam hati mereka, ada perasaan yang semakin membara, sebuah keinginan kuat untuk segera memulai kehidupan baru sebagai suami istri, di mana mereka bisa saling mencintai sepenuhnya tanpa batasan.

Leo dan Dinda tenggelam dalam momen itu, menikmati kebersamaan mereka dengan penuh cinta dan harapan. Meski ada bayangan gelap yang menghantui pikiran Leo, untuk saat ini, dia memilih untuk fokus pada cinta yang mereka miliki, berharap bahwa apa pun yang akan terjadi, mereka akan bisa menghadapinya bersama.

Dalam suasana malam yang sepi dan hanya ditemani suara hujan gerimis, Leo merasa semakin sulit untuk menahan desakan hasrat yang kian membara di dalam dirinya. Semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin besar dorongan itu muncul, membelenggu pikirannya hingga membuatnya tidak mampu berpikir jernih. Di sampingnya, Dinda duduk diam, wajahnya masih terlihat tenang meski ada sedikit kebingungan yang tampak di matanya.

Setelah beberapa menit berusaha menenangkan diri, Leo akhirnya tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia menepi di pinggir jalan lagi, kali ini dengan lebih mendesak. Dengan suara yang terdengar sedikit putus asa berupaya mengungkapkan.

"Sayang... Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar nggak bisa menahannya lagi. Aku butuh bantuanmu, Sayang," ucap Leo lirih.

Dinda menoleh dengan tatapan cemas.

"Mas, kamu ngomong apaan sih? Aku nggak yakin kita harus melakukannya. Kita sudah dekat dengan hari pernikahan kita, dan--"

"Aku ngerti, Sayang. Aku ngerti itu!" potong Leo, suaranya terdengar serak.

"Tapi aku benar-benar nggak kuat lagi. Aku... aku cuma minta kamu bantuin aja, nggak lebih," tambahnya seraya menahan hawa nafsu yang membara.

Dinda melihat ke dalam mata Leo, melihat betapa gelisah dan tersiksanya tunangannya itu. Meskipun hatinya merasa bimbang, ada bagian dari dirinya yang tidak tega melihat Leo dalam kondisi seperti ini. Dia mencintai Leo dan tahu bahwa dia juga manusia dengan segala kelemahan.

Setelah menghela napas panjang, Dinda berkata dengan suara pelan.

" Hmmm, ya udah. Aku akan bantu aja. Tapi hanya kali ini saja, ya?" Dinda menatap dalam-dalam calon suaminya.

Leo mengangguk, merasa sedikit lega meski rasa bersalah masih mengganjal di hatinya

"Iya, Sayang. Aku janji ini nggak akan sering-sering," jawab Leo tersenyum senang.

Dengan tangan gemetar, Dinda mendekati Leo dan mulai membantu seperti yang diminta. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, hanya terdengar napas mereka yang semakin berat. Meski ini bukan sesuatu yang Dinda harapkan akan mereka lakukan sebelum pernikahan, dia melakukannya dengan perasaan campur aduk antara cinta, kasih sayang, dan ketidakpastian.

"Kocok yang kenceng, Sayang," pinta Leo, suaranya memburu.

"Iya, Mas. Aku gak nyangka punyamu besar banget sih," ucap Dinda, merasa ketakutan melihat batang kejantanan Leo yang besar dan panjang.

Leo merasakan kelegaan yang luar biasa saat Dinda membantunya. Dia berusaha menahan suara dan mengendalikan perasaannya, tetapi dorongan itu begitu kuat. Meski Dinda melakukannya dengan penuh hati-hati, Leo merasakan bahwa ini adalah cara mereka untuk meredakan ketegangan yang telah menumpuk sepanjang hari.

"Lebih cepat lagi, Sayang. Ini mau keluar." Leo meringis merasakan aliran darahnya memuncak.

"Cepet keluarin, Mas," sahut Dinda yang juga sebenarnya merasa terangsang.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Leo akhirnya mencapai puncaknya. Dia terengah-engah, merasa campuran antara kelegaan dan rasa bersalah. Dinda menarik tangannya kembali, wajahnya sedikit memerah, dan dia menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan pikirannya.

"Arrgghh." Leo mengerang kenikmatan ketika batang kejantanannya menyemburkan lahar hangat.

Dinda kaget melihat itu, tangannya pun terkena cairan putih nan kental.

"Ihh, Sayang... Banyak banget sih," lirih Dinda yang langsung mengambil beberapa lembar tisu.

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Mafia yang Kejam Ingin Aku Kembali
9.8
Eleanor, mantan pewaris angkuh, dulu kerap meremehkan Andreas yang hidup menumpang di rumahnya. Delapan tahun berselang, situasi berbalik sepenuhnya. Andreas kini menjelma sebagai bos besar yang berkuasa, sedangkan Eleanor jatuh miskin dan menderita. Pertemuan kembali membawa ketegangan karena Andreas masih menyimpan dendam lama. Ia menekankan bahwa rasa benci atas penghinaan Eleanor di masa lalu menjadi bahan bakar utamanya untuk meraih kejayaan saat ini.
Sampul Novel Catatan Rahasia Sekretaris Suamiku
7.8
Bukti perselingkuhan Fathan terbongkar setelah istrinya, Davina, menemukan sebuah buku harian rahasia milik Lulu. Ketegangan memuncak ketika Lulu, yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus sahabat Davina, mendadak tewas terbunuh secara misterius. Siapa pelaku di balik pembunuhan keji ini? Mampukah rumah tangga Davina dan Fathan bertahan melewati rintangan pengkhianatan serta misteri kematian yang belum terpecahkan? Temukan jawabannya dalam kisah penuh teka-teki ini.
Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
7.9
Saat sang putri terbaring lemah karena demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri pertemuan sekolah untuk anak dari cinta sejati masa lalunya. Ketika sang istri mencoba menghubungi, panggilan tersebut justru dijawab oleh wanita lain yang menangis meminta maaf. Jeffry yang merebut ponsel tersebut malah memarahi istrinya, berdalih hanya menolong seorang janda dan anak yatim. Kecewa dengan sikap suaminya, sang ibu akhirnya menawarkan pilihan kepada putrinya untuk hidup berdua saja dengannya mulai sekarang.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire
8.7
Kehidupan sederhana Hana mendadak berubah drastis setelah ia terbangun di sebelah pria asing. Saat kesadarannya kembali utuh, kebingungan besar langsung melandanya karena ia sangat yakin belum pernah menikah dengan siapa pun. Hana pun terus mempertanyakan bagaimana sosok tak dikenal itu bisa tidur di ranjangnya. Kini, sebuah misteri besar mulai membayangi dan mengusik hari-hari tenang yang biasa ia jalani.
Sampul Novel IZINKANLAH AKU MENCINTAIMU
8.4
Tepat di malam pertama, Gaza mengusir dan menceraikan Rania akibat fitnah video syur yang dituduhkan padanya. Di tengah keputusasaan Rania, Azka hadir untuk menikahinya. Berbeda dari Gaza yang kaya, Azka hanyalah saudara kembar Gaza yang hidup sederhana dan kerap dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Meski pernikahan ini diragukan oleh ibu mereka karena perbedaan status sosial, Rania memilih bertahan. Namun, kesetiaannya diuji saat Gaza kembali dan memohon maaf.
Sampul Novel Jadi Korban Kelalaian Orang Tuaku
9.6
Seorang gadis diculik dan disiksa oleh musuh ayahnya yang ingin balas dendam. Saat pembunuh menghubungi sang ayah yang merupakan kapten polisi, panggilan itu diabaikan demi menemani sang adik di sebuah lomba. Korban pun tewas mengenaskan setelah lidahnya dipotong. Ketika sang ayah dan ibu yang seorang ahli forensik tiba di TKP untuk menyelidiki kasus ini, mereka mengutuk kekejaman pelaku. Tragisnya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jasad hancur yang sedang mereka periksa adalah putri kandung mereka sendiri.