APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatah Malam Untuk Mertua

Jatah Malam Untuk Mertua

Leo menghadapi dilema berat ketika calon ibu mertuanya yang janda meminta hubungan intim sebagai syarat nikah. Sementara itu, Dinda terkejut saat ayah kandungnya, Pak Bram, menginginkannya dan mengajukan tuntutan yang sama. Terjebak dalam pusaran nafsu dan tekanan orang tua, akankah Leo dan Dinda mengkhianati komitmen demi memenuhi syarat gila tersebut? Kisah penuh intrik dan pengkhianatan ini akan menguji batas kesetiaan cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mas kita harus berhenti melakukan ini sebelum pernikahan," ucap Dinda dengan suara yang sedikit gemetar.

"Aku nggak mau kita melanggar lebih jauh. Kita harus sama-sama kuat dan menumpahkannya nanti setelah kita menikah," tambahnya.

Leo menunduk, merasa bersalah dan malu.

"Kamu benar, Sayang. Aku minta maaf, aku seharusnya nggak minta itu sama kamu. Ini salahku," balas Leo pelan.

Dinda mengangguk,“Yang penting kita sudah sama-sama mengerti. Aku hanya ingin kita menikah dengan hati yang bersih, tanpa ada rasa penyesalan"

Leo menyalakan kembali mobil dan melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang meski ada beban yang masih tersisa. Malam itu, meskipun mereka telah melakukan sesuatu yang tak mereka rencanakan, ada perasaan saling memahami yang mendalam di antara mereka. Keduanya berjanji dalam hati untuk menjaga hubungan ini sebaik mungkin hingga tiba saatnya mereka resmi menjadi suami istri.

Setelah beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Dinda. Hujan gerimis masih terus turun, membuat suasana malam terasa semakin dingin. Leo dan Dinda bergegas masuk ke dalam rumah, menggigil sedikit karena dinginnya udara di luar.

Begitu masuk ke dalam rumah, Dinda langsung menunjukkan perhatiannya kepada Leo.

"Kak, kamu kelihatan lelah banget. Aku buatin teh panas, ya?" tawarnya dengan senyum lembut.

Leo hanya mengangguk sambil tersenyum, berusaha menyingkirkan pikiran tentang apa yang terjadi di dalam mobil tadi. Meskipun hatinya masih sedikit berat, melihat perhatian Dinda membuatnya merasa lebih tenang. Mereka duduk di ruang tamu, menikmati kehangatan rumah yang kontras dengan dinginnya udara di luar.

Sementara Dinda sibuk di dapur, Bu Mela muncul dari ruang dalam, tersenyum melihat kedekatan mereka.

"Kalian kelihatan cocok sekali," ucap Bu Mela sambil mendekati Leo.

Leo tersenyum kikuk, merasa sedikit canggung di depan Bu Mela setelah apa yang ia alami tadi di mobil bersama Dinda. Namun, ia berusaha tetap tenang dan sopan.

Setelah beberapa saat, Dinda kembali dengan dua cangkir teh panas dan duduk di sebelah Leo.

"Ini, Sayang. Biar kamu hangat," ujar Dinda sambil menyerahkan cangkir itu.

Leo menerima teh itu dengan senyum hangat,"Terima kasih, Sayang"

Bu Mela memperhatikan mereka sejenak sebelum berkata,"Leo, di luar hujan, sudah malam juga, terus kamu kelihatan sangat lelah. Kenapa nggak menginap saja di sini malam ini? Lebih aman daripada kamu harus pulang dalam keadaan seperti ini"

Leo ragu sejenak, merasa tidak enak hati.

"Aduh, aku merasa nggak enak, Bu... Takut merepotkan," ujar Leo.

Namun, Bu Mela segera menenangkannya.

"Nggak usah khawatir. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Lagipula, Dinda juga setuju, kan, Sayang?" Bu Mela menoleh ke arah putrinya.

Dinda mengangguk setuju, menunjukkan rasa peduli yang tulus kepada tunangannya,"Iya, Mas. Menginap aja di sini. Aku nggak pengen kamu sakit karena kelelahan. Ingat pernikahan kita hanya menghitung hari"

Leo merasa hatinya sedikit lega mendengar itu, meski masih ada rasa canggung.

"Baiklah, kalau begitu saya terima tawarannya, Bu. Tapi maaf jika aku merepotkan ibu sama Dinda," ucap Leo sambil melirik Dinda yang tersenyum malu.

Bu Mela tertawa kecil,"Tentu saja tidak, Leo. Kamu kan sudah ibu anggap anak ibu juga"

Leo mengangguk, merasa sedikit lebih tenang meski hatinya masih dipenuhi berbagai perasaan. Dalam hatinya, dia senang bisa lebih dekat dengan Dinda, meski tetap berusaha menjaga jarak sesuai dengan komitmen mereka.

Malam itu, Leo merasa nyaman meskipun hatinya masih terguncang oleh kejadian sebelumnya. Dinda memastikan bahwa dia mendapat tempat tidur yang nyaman di kamar tamu, dan setelah semuanya beres, mereka berdua mengucapkan selamat malam.

Leo berbaring di tempat tidur, matanya memandang langit-langit kamar sambil merenungkan kejadian hari ini. Perasaan campur aduk memenuhi pikirannya, antara rasa cinta yang mendalam untuk Dinda, rasa bersalah atas kejadian di mobil, dan perasaan aneh yang ia rasakan saat berada dekat dengan Bu Mela.

Malam itu, meski tubuhnya lelah, pikirannya tetap terjaga, dipenuhi dengan harapan untuk masa depan yang akan segera datang, namun juga dengan keraguan dan kebimbangan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Leo terbangun dari tidurnya saat mendengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya samar dari lampu koridor. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sosok Bu Mela, calon mertuanya, melangkah masuk dengan perlahan. Pakaian daster yang dikenakan Bu Mela begitu tipis dan menggoda, menampilkan siluet tubuhnya yang montok dengan sangat jelas.

Leo menelan ludah, merasa campuran antara kaget dan kebingungan.

"Bu... Ada apa ini?" tanya Leo dengan suara serak, mencoba tetap tenang meski pikirannya kacau balau.

Bu Mela hanya tersenyum tipis, senyum yang membawa aura misterius sekaligus menggoda. Dia duduk di tepi ranjang, sangat dekat dengan Leo, membuat udara di sekitarnya terasa semakin panas.

"Leo, aku nggak bisa tidur. Rasanya dingin sekali malam ini," bisiknya, matanya menatap Leo dengan pandangan yang sulit diartikan.

Leo merasakan tubuhnya kaku, pikirannya berputar-putar mencari alasan untuk memahami situasi ini.

"Tapi, Bu. ini nggak benar," jawab Leo dengan suara terbata-bata, matanya menatap Bu Mela dengan cemas.

Namun, Bu Mela mengangkat tangan, menaruhnya di bibir Leo, membuat Leo terdiam seketika.

"Ssstt... Jangan khawatir, Leo. Ini hanya antara kita berdua," ucap Bu Mela dengan nada lembut namun tegas.

"Aku hanya butuh sedikit kehangatan. Kamu bisa membantuku, kan?" imbuhnya dengan suara menggoda.

Leo merasa semakin bingung dan terjebak. Di satu sisi, dia tahu betapa salahnya situasi itu, dia mencintai Dinda dan tidak ingin mengkhianatinya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa mengabaikan desakan Bu Mela, terutama dengan ancaman yang sudah disampaikan sebelumnya. Jantungnya berdebar kencang, dan dia merasa terjebak di antara kewajibannya kepada Dinda dan tekanan dari Bu Mela.

"Bu... Aku... Aku nggak bisa..." Leo berusaha keras menolak, tapi suaranya terdengar lemah bahkan bagi dirinya sendiri.

Bu Mela mendekat, wajahnya semakin dekat dengan wajah Leo.

"Jangan bilang nggak bisa, Leo. Aku tahu kamu bisa. Kamu hanya perlu... membantu aku sebentar saja." Bu Mela menatap dalam-dalam

Leo menutup matanya, merasa benar-benar terjebak dan tidak tahu harus berbuat apa. Bu Mela kini berada sangat dekat dengannya, napasnya terasa hangat di kulit Leo. Tangan Bu Mela mulai bergerak ke arah dada Leo, memberikan sentuhan lembut yang membuat Leo semakin bingung dan takut.

Namun, di tengah semua itu, pikiran Leo terbayang wajah Dinda, wanita yang dia cintai dan yang ingin dia habiskan hidupnya bersama. Itu memberinya kekuatan untuk berbicara meski suaranya masih bergetar.

"Bu, aku mohon, kita berhenti sampai di sini. Aku... aku nggak bisa mengkhianati Dinda," ucap Leo penuh harap.

Bu Mela menatap Leo dengan pandangan yang sulit ditebak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu, setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia perlahan menarik diri, meski masih tersenyum tipis.

"Kamu benar-benar mencintai Dinda, ya?" tanyanya dengan nada lembut namun penuh makna.

Leo mengangguk perlahan, berusaha menenangkan diri,"Iya, Bu. Aku benar-benar mencintainya. Dan aku ingin menjaga hubungan ini tetap suci sampai kami menikah"

Bu Mela memandang Leo dengan tatapan yang tajam sebelum akhirnya berdiri dari ranjang.

"Baiklah, Leo. Aku menghargai kejujuran dan keteguhan hatimu," ucap Bu Mela dengan nada yang lebih dingin.

"Tapi ingatlah... apapun yang terjadi malam ini, aku tetap memegang kendali atas masa depan pernikahan kalian. Jika kamu tidak memberikan jatah malam untukku, semuanya akan aku batalkan!" tambahnya merasa sedikit kecewa.

Leo hanya bisa mengangguk tanpa berkata apa-apa, masih dalam keadaan syok. Bu Mela kemudian keluar dari kamar dengan langkah perlahan, meninggalkan Leo yang masih terguncang dengan apa yang baru saja terjadi.

Setelah pintu tertutup, Leo terbaring di tempat tidur dengan perasaan campur aduk, lega karena tidak menyerah pada godaan, tapi juga takut akan konsekuensi yang mungkin terjadi setelah ini. Dia tahu, mulai saat ini, hubungannya dengan Bu Mela akan berubah, dan dia harus lebih berhati-hati dalam mengambil setiap langkah ke depannya.

"Aku memang menyukai tubuhnya yang molek, tapi aku takut Dinda mengetahui apa yang aku lakukan dengan ibunya," gumam Leo kebingungan, di satu sisi dia juga merasakan hasratnya bangkit ketika membayangkan tubuh bu Mela yang tadi hanya memakai daster tipis dan benar-benar sangat menggoda.

*****

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Mafia yang Kejam Ingin Aku Kembali
9.8
Eleanor, mantan pewaris angkuh, dulu kerap meremehkan Andreas yang hidup menumpang di rumahnya. Delapan tahun berselang, situasi berbalik sepenuhnya. Andreas kini menjelma sebagai bos besar yang berkuasa, sedangkan Eleanor jatuh miskin dan menderita. Pertemuan kembali membawa ketegangan karena Andreas masih menyimpan dendam lama. Ia menekankan bahwa rasa benci atas penghinaan Eleanor di masa lalu menjadi bahan bakar utamanya untuk meraih kejayaan saat ini.
Sampul Novel Catatan Rahasia Sekretaris Suamiku
7.8
Bukti perselingkuhan Fathan terbongkar setelah istrinya, Davina, menemukan sebuah buku harian rahasia milik Lulu. Ketegangan memuncak ketika Lulu, yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus sahabat Davina, mendadak tewas terbunuh secara misterius. Siapa pelaku di balik pembunuhan keji ini? Mampukah rumah tangga Davina dan Fathan bertahan melewati rintangan pengkhianatan serta misteri kematian yang belum terpecahkan? Temukan jawabannya dalam kisah penuh teka-teki ini.
Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
7.9
Saat sang putri terbaring lemah karena demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri pertemuan sekolah untuk anak dari cinta sejati masa lalunya. Ketika sang istri mencoba menghubungi, panggilan tersebut justru dijawab oleh wanita lain yang menangis meminta maaf. Jeffry yang merebut ponsel tersebut malah memarahi istrinya, berdalih hanya menolong seorang janda dan anak yatim. Kecewa dengan sikap suaminya, sang ibu akhirnya menawarkan pilihan kepada putrinya untuk hidup berdua saja dengannya mulai sekarang.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire
8.7
Kehidupan sederhana Hana mendadak berubah drastis setelah ia terbangun di sebelah pria asing. Saat kesadarannya kembali utuh, kebingungan besar langsung melandanya karena ia sangat yakin belum pernah menikah dengan siapa pun. Hana pun terus mempertanyakan bagaimana sosok tak dikenal itu bisa tidur di ranjangnya. Kini, sebuah misteri besar mulai membayangi dan mengusik hari-hari tenang yang biasa ia jalani.
Sampul Novel IZINKANLAH AKU MENCINTAIMU
8.4
Tepat di malam pertama, Gaza mengusir dan menceraikan Rania akibat fitnah video syur yang dituduhkan padanya. Di tengah keputusasaan Rania, Azka hadir untuk menikahinya. Berbeda dari Gaza yang kaya, Azka hanyalah saudara kembar Gaza yang hidup sederhana dan kerap dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Meski pernikahan ini diragukan oleh ibu mereka karena perbedaan status sosial, Rania memilih bertahan. Namun, kesetiaannya diuji saat Gaza kembali dan memohon maaf.
Sampul Novel Jadi Korban Kelalaian Orang Tuaku
9.6
Seorang gadis diculik dan disiksa oleh musuh ayahnya yang ingin balas dendam. Saat pembunuh menghubungi sang ayah yang merupakan kapten polisi, panggilan itu diabaikan demi menemani sang adik di sebuah lomba. Korban pun tewas mengenaskan setelah lidahnya dipotong. Ketika sang ayah dan ibu yang seorang ahli forensik tiba di TKP untuk menyelidiki kasus ini, mereka mengutuk kekejaman pelaku. Tragisnya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jasad hancur yang sedang mereka periksa adalah putri kandung mereka sendiri.