APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Pelunas Hutang Mafia

Istri Pelunas Hutang Mafia

Aurora terpaksa menikahi Lucian Moretti, seorang mafia kejam, demi melunasi utang sang paman. Siapa sangka, Lucian rupanya telah lama memendam cinta padanya. Di saat asmara mulai bersemi, rahasia masa lalu mendadak terbongkar dan menguji hubungan mereka. Situasi kian rumit ketika musuh mengintai dan Aurora menyembunyikan penyakit mematikan dari suaminya. Lucian kini harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan wanita yang sangat dicintainya itu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aurora duduk di kursi belakang mobil dengan jantung berdegup kencang. Perjalanan kembali ke rumah terasa begitu lambat, setiap detik yang berlalu semakin menyesakkan dadanya. Lucian duduk di sampingnya, diam, tapi keberadaannya begitu menekan.

Tangannya bertumpu pada pahanya, jari-jarinya mengetuk pelan, seolah sedang menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Matanya menatap lurus ke depan, tetapi Aurora bisa merasakan amarahnya seperti api yang membakar udara di dalam mobil.

Aurora menelan ludah. Dia tahu Lucian marah-bukan, bukan hanya marah. Dia murka.

"Lucian..." suara Aurora terdengar pelan, hampir seperti bisikan.

Pria itu tetap diam, tidak mengalihkan pandangan.

Aurora menggigit bibirnya, mencoba mengatur napasnya. "Kau menembak Adrian."

Lucian akhirnya menoleh, tatapannya tajam seperti belati. "Dan itu masih terlalu ringan untuk seseorang yang mencoba mencuri istriku."

Aurora terkejut. "Mencuri? Aku bukan barang, Lucian!"

Lucian mencondongkan tubuhnya, membuat jarak mereka semakin dekat. "Kalau begitu, jangan bertingkah seperti seseorang yang bisa diambil oleh orang lain, Aurora."

Aurora ingin membantah, tapi tatapan pria itu begitu menusuk, membuat suaranya terhenti di tenggorokan.

Lucian melanjutkan, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku sudah memberimu peringatan. Aku memberimu kesempatan untuk tidak menentangku. Tapi kau justru pergi menemui musuhku di belakangku."

Aurora mengepalkan tangannya. "Aku ingin kebebasan, Lucian. Aku ingin keluar dari pernikahan ini!"

Lucian tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. "Kebebasan? Dan kau pikir Adrian bisa memberikannya padamu?"

Aurora terdiam.

Lucian mendekat lagi, hingga napas hangatnya menyapu wajahnya. "Kau tidak tahu siapa Adrian sebenarnya, Aurora. Dia bukan pria baik yang kau kira."

Aurora menatapnya ragu. "Dan kau menganggap dirimu lebih baik?"

Lucian tersenyum miring. "Tidak. Tapi setidaknya, aku tidak berbohong padamu tentang siapa aku."

Aurora merasa perutnya mengerut. Lucian benar-dia tidak pernah berpura-pura menjadi pria baik. Sejak awal, dia sudah menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang berbahaya, seseorang yang tidak akan ragu untuk menghancurkan siapa pun yang mengkhianatinya.

Mobil berhenti di depan rumah mereka.

Lucian keluar lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuknya. Tangannya terulur, tapi Aurora mengabaikannya dan keluar sendiri.

Dia mendengar Lucian mendengus kecil di belakangnya.

Mereka masuk ke dalam rumah, dan begitu pintu tertutup, Lucian berbalik menatapnya.

"Aku sudah lelah dengan semua ini," katanya dingin.

Aurora menatapnya curiga. "Maksudmu?"

Lucian melangkah mendekat, memerangkapnya di antara tubuhnya dan dinding. "Aku sudah memberimu waktu. Aku sudah bersabar. Tapi kau masih terus mencoba melawan."

Aurora meneguk ludah, tapi dia tidak mundur. "Aku tidak akan menyerah, Lucian. Aku tidak bisa hidup seperti ini."

Lucian menatapnya dalam-dalam, lalu tangannya terangkat, menyentuh dagunya dengan lembut.

"Tidak bisa, atau tidak mau?"

Aurora menggigit bibirnya, menolak menjawab.

Lucian mendekatkan wajahnya, hingga hanya beberapa inci yang memisahkan mereka. "Aku ingin kau memahami satu hal, Aurora. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Tidak sekarang, tidak pernah."

Aurora merasakan jantungnya berdetak kencang. "Dan jika aku tetap mencoba?"

Lucian tersenyum kecil. "Maka aku akan memastikan kau tidak punya tempat untuk lari."

Aurora merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada ancaman di balik kata-kata itu, tapi yang lebih mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak takut seperti seharusnya.

Dia seharusnya membenci Lucian.

Dia seharusnya takut padanya.

Tapi yang dia rasakan saat ini adalah sesuatu yang lebih berbahaya-ketertarikan.

Aurora tidak bisa tidur malam itu.

Dia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya penuh dengan kejadian hari ini.

Lucian mengancamnya. Tapi di saat yang sama, dia juga melindunginya.

Dia menembak Adrian, tapi dia juga menunjukkan bahwa dia tidak bisa kehilangan Aurora.

Siapa sebenarnya pria itu?

Aurora memejamkan matanya, mencoba mengabaikan semua pikirannya. Tapi baru beberapa menit kemudian, pintu kamarnya terbuka.

Aurora membuka matanya dan langsung menegang saat melihat Lucian berdiri di ambang pintu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya waspada.

Lucian tidak menjawab. Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

Aurora menegakkan tubuhnya. "Lucian-"

Pria itu duduk di tepi tempat tidur, mengamatinya dengan mata gelapnya.

"Kenapa kau terus melawanku, Aurora?"

Aurora mengepalkan tangannya. "Karena aku tidak bisa menerima ini."

Lucian tersenyum tipis. "Tidak bisa menerima pernikahan kita?"

Aurora menatapnya tajam. "Tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanya alat bagimu."

Lucian menghela napas. "Kau bukan alat, Aurora."

Aurora tertawa sinis. "Lalu apa? Trofi? Boneka?"

Lucian menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu akhirnya berkata, "Kau adalah milikku."

Aurora menahan napas.

Lucian melanjutkan, suaranya lebih lembut. "Aku menikahimu bukan hanya karena utang pamanku. Aku sudah menginginkanmu jauh sebelum itu."

Aurora menatapnya, terkejut.

Lucian menyentuh dagunya dengan lembut, mengangkat wajahnya hingga mereka saling menatap. "Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi satu hal yang harus kau pahami... aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Aurora merasakan napasnya tercekat.

Matanya menatap dalam ke mata Lucian, mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi yang dia temukan hanyalah kebenaran yang menakutkan.

Lucian benar-benar menginginkannya.

Dan itu membuat semuanya semakin berbahaya.

Keesokan paginya, Aurora terbangun dengan kepala berat. Dia nyaris tidak tidur semalaman, pikirannya terus dipenuhi dengan kata-kata Lucian.

Saat dia turun ke ruang makan, Lucian sudah duduk di sana, menyesap kopinya dengan tenang.

Aurora ragu sejenak, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi seberangnya.

Lucian menatapnya sekilas. "Tidur nyenyak?"

Aurora mendengus pelan. "Kau tahu jawabannya."

Lucian tersenyum kecil, lalu meletakkan cangkir kopinya. "Hari ini, aku ingin kau menemaniku."

Aurora mengernyit. "Ke mana?"

Lucian tidak langsung menjawab. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Aurora menatapnya curiga, tapi dia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan.

Mereka berkendara selama hampir satu jam sebelum akhirnya berhenti di sebuah vila besar di tepi pantai.

Aurora turun dari mobil, mengagumi tempat itu dengan bingung.

"Ini tempat apa?"

Lucian berdiri di sampingnya, tangannya berada di saku celana. "Rumah kita."

Aurora menoleh cepat. "Apa?"

Lucian menatapnya dengan tenang. "Aku membelinya untukmu."

Aurora terdiam.

Lucian mendekat, suaranya lebih lembut. "Kau ingin kebebasan, Aurora. Ini caraku memberikannya padamu."

Aurora tidak tahu harus berkata apa.

Lucian menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Tapi aku bisa memberimu tempat di mana kau merasa tidak terjebak."

Aurora menatap pria itu, hatinya berdebar.

Mungkin, Lucian bukan hanya pria yang mengikatnya.

Mungkin, dia juga seseorang yang sedang belajar bagaimana mencintai.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Api Cemburu Ladyboy
7.9
Diandra, seorang gadis tomboy yang menggemari dunia motor, terpaksa harus bertunangan dengan Handoko. Di balik gelimang hartanya, Handoko memiliki obsesi rahasia untuk berpenampilan anggun layaknya sang ibu. Walau ia berniat memperbaiki diri, kehadiran Diandra malah memicu konflik hebat yang mengancam kelangsungan hubungan mereka. Di tengah badai emosi dan rintangan, akankah cinta sanggup menyatukan dua kepribadian yang saling bertolak belakang ini?
Sampul Novel Gadis Berbalut Luka
8.7
Ditinggalkan begitu saja oleh sang kekasih membuat Ayana kehilangan kepercayaan pada pria. Ia pun bertekad mengunci rapat hatinya demi mencegah kepedihan yang sama terulang kembali. Namun, ketetapan hati Ayana goyah saat Bima Argunarta tiba-tiba hadir lagi dalam hidupnya. Sosok dari masa lalu ini membawa kembali rangkaian memori kelam yang menakutkan sekaligus menyesakkan dada. Kini, Ayana terpaksa berhadapan kembali dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Sampul Novel Jovan, Birahi Anak Panti
8.1
Membangun biduk rumah tangga rupanya tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Dulu, dalam benak saya, pernikahan hanyalah soal menyatukan dua orang dan saling memenuhi kebutuhan lahir batin secara simpel. Namun, realitas menyuguhkan kerumitan lain yang mewarnai perjalanan ini. Kisah nyata ini menceritakan perjuangan kami sebagai pasutri muda berumur dua puluh dua tahun, yang harus menghadapi berbagai ujian berat demi mempertahankan komitmen.
Sampul Novel Kau Rebut Ayahku, Aku Rebut Suamimu
9.5
Hidup Arlena hancur setelah seorang wanita merebut ayahnya, memicu duka mendalam yang merenggut nyawa ibunya. Didorong amarah, ia merancang aksi balas dendam yang tak biasa. Kesempatan emas muncul saat Arlena tahu bahwa perusak keluarganya adalah istri dari Rafael Vallenzo, bosnya yang berkuasa. Arlena bertekad memikat Rafael demi menuntut keadilan, tetapi rencana nekat ini justru menjerat perasaannya sendiri dalam risiko yang berbahaya.
Sampul Novel Mendadak Kaya
8.4
Nasib malang menimpa seorang gadis berlesung pipi yang baru saja dipecat. Namun, sebuah tawaran ajaib datang menghampirinya. Ia diminta menemani seorang pria misterius makan malam di kediamannya selama satu malam saja. Tanpa ada syarat aneh lainnya, ia dijanjikan bayaran fantastis senilai seratus juta rupiah. Kesempatan emas di tengah himpitan ekonomi ini menyadarkannya bahwa takdir hidup dapat berubah drastis dalam sekejap mata.
Sampul Novel ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany
8.0
Daniel dan Stefany tumbuh bersama sejak kecil dan selalu merayakan Natal di gereja tua desa mereka. Ketika remaja, perasaan cinta mulai muncul di antara keduanya, tetapi mereka memilih diam karena takut merusak persahabatan. Tepat saat Daniel bersiap mengungkapkan isi hatinya, Stefany mendadak pindah ke kota tanpa pesan. Bertahun-tahun berlalu, Daniel tetap setia menanti di gerbang gereja setiap musim dingin tiba. Akankah takdir membawa Stefany kembali kepadanya?