APKDock Logo
Sampul Novel Istri Dari Desa

Istri Dari Desa

8.5 / 10.0
Sering dicap udik dan bertubuh gemuk, Asmi terus menerima hinaan dari keluarga suaminya. Ibu mertuanya bahkan terang-terangan menolaknya karena statusnya yang dianggap miskin dan yatim. Namun, sebuah fakta besar akhirnya terkuak. Sang suami tidak pernah menyangka bahwa wanita yang direndahkan itu sebenarnya adalah miliarder dengan aset melimpah di berbagai tempat. Akankah perlakuan buruk keluarga tersebut berubah setelah mengetahui jati diri Asmi yang sesungguhnya?

Istri Dari Desa Bab 1

"Asmi tolong angkat galonnya!" titah Ibu saat kami semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Istriku yang tengah duduk bersama kami akhirnya bangkit.

"Eh gak usah, apaan sih Bu, masa iya istriku disuruh angkat galon kayak gak ada orang lain aja," sahutku sambil menarik lagi tangan Asmi.

"Gak apa-apa atuh A, lagian Neng juga bisa." 

Istriku lalu ke dapur melakukan apa yang diperintahkan ibu.

"Asmi jangan lupa bantu Bibik cuci piring dan kwalinya juga!" teriak Ibu lagi.

"Bu, kasihan Asmi dong, masa iya dari pagi disuruh di belakang terus, cuci piringlah, masaklah, bikin kuelah," protesku.

Aku cepat-cepat bangkit akan menyusul Asmi tapi segera Kak Alfa menyahut.

"Udah biarin aja sih, udah biasa ini istrimu kerja berat, di desa pasti dia suka pikul-pikul kayu bakar sama rumput, jadi kalau sekedar angkat galon sama kerja di dapur ya gak seberapa buat dia."

"Bener tuh," timpal si bungsu.

"Enak banget punya istri kayak si Asmi, udah tenaganya kayak samson bohai pula," celetuk Mas Angga, suami Kak Alfa.

Akhirnya semua orang yang sedang berkumpul di sana tertawa, sementara aku menyusul istriku ke dapur, hatiku meradang rasanya setiap kali dekat dengan mereka, lagi-lagi istriku yang jadi bahan ejekan mereka.

Kami adalah 4 bersaudara, yang pertama Kak Alfa punya suami namanya Mas Angga, mereka sudah punya dua orang anak usia SMA semua. Kedua Kak Fatih punya istri namanya Mbak Andin, cantik emang mirip artis tapi kelakuannya sama kayak Kak Alfa julitnya keterlaluan, mereka juga udah punya 2 orang anak tapi masih usia SMP dan SD, yang ketiga aku.

Aku baru menikah dengan Asmi sebulan yang lalu itupun karena bapak terus saja menekanku agar aku buru-buru menikah supaya tidak dilangkahi oleh Hanum.

Akhirnya mau tak mau aku menerima jodoh yang diberikan Bapak padaku ya meskipun akhirnya istriku itu sering jadi bahan cemoohan semua saudara, iparku juga anak-anaknya karena bobot Asmi yang gendut juga berasal dari desa.

Yang ke empat Hanum, adik bungsuku itu baru akan menikah dua hari lagi, karena itu kami sering kumpul di rumah ibu dan bapak akhir-akhir ini untuk membantu mengurus semua keperluan hajatannya.

"Sudah belum Neng?" tanyaku saat sampai di dapur.

"Beres A." Asmi menepuk-nepuk telapak tangannya.

"Lain kali jangan suka mau kalau disuruh-suruh begini, ayo kembali ke depan."

"Loh yang suruh itu Ibu loh A, masa iya Neng jangan ikutin perintah ibu."

"Ya udah ayo ke depan."

"Neng mau bantu bibik cuci piring dulu, A."

Ya ampun entah istriku ini terlalu nurut, baik atau polos.

"Ya udah tapi cepet kembali ke depan."

Akupun kembali ke ruang keluarga.

"Hasan, udah jahit baju seragam belum istrimu itu? Jangan sampai ya kita gak seragamanan di acara nikahannya Hanum, nanti fotonya jadi jelek gara-gara gak kompak," tanya Ibu.

"Gak tahu nanti coba tanya Asmi aja, Bu." jawabku malas.

Sekitar 15 menit kemudian istriku datang.

"Asmi, kamu udah jahit baju seragam belum?" tanya Ibu.

"Seragam apa, Bu?"

"Seragam nikahan lah Asmi, masa iya seragam sekolah, masih sekolah kamu?"

"Hahaha." Semua orang kembali terbahak, mereka tidak peduli meski aku ada di sana dan menatap tak suka ke arah mereka.

"Loh emang harus ada seragam gitu? Atuh Asmi mah gak tahu gimana ya? Mana waktunya udah mepet pula," katanya, wajahnya kini terlihat resah.

"Yah Kak Asmi gimana sih? Makanya jangan mikirin makanan terus dong, terus gimana kalau Kak Asmi gak punya seragam? Nanti fotonya jadi jelek karena kelihatan gak kompak," dengus Hanum si calon pengantin. 

Wajahnya terlihat kesal saat tahu istriku ternyata tidak punya baju seragam keluarga.

"Warna apa sih? Nanti Kakak cari deh di toko biar selaras, bila perlu nanti kita ganti aja seragamnya, biar Kakak yang carikan buat kita semua," tanya istriku lagi.

"Gak usahlah Kak, gak bakal cocok kalau beli jadi, mendadak pula." Hanum menyahut kesal, gadis berusia 25 itu akhirnya pergi ke kamarnya.

"Kalau gitu nanti kamu gak usah ikut difoto Asmi! Kamu kan gak punya bajunya," celetuk Kak Alfa.

"Loh kok gitu Kak?" tanyaku.

"Udahlah A, gak apa-apa cuma foto doang," sahut Asmi lagi.

Akupun menarik tangan Asmi ke belakang.

"Neng, kenapa sih lagian gak jahit bahannya dari jauh-jauh hari?" 

"Bahan apa?" 

"Loh Neng emang gak dikasih bahan sama Kak Alfa dan Mbak Andin?"

Istriku menggeleng, "gak, A."

Keterlaluan, pantesan tadi kak Alfa dan mbak Andin cengengesan begitu, rupa-rupanya mereka emang sengaja gak kasih bahan ke Asmi supaya Asmi gak ikut difoto. Entah apa masalah mereka sama Asmi itu tega sekali mereka pada istriku.

Aku kembali menarik tangan istri ke ruang keluarga.

"Kak Alfa! Mbak Andin! Apa-apaan ini? Kalian sengaja kan gak kasih Asmi bahan supaya dia gak jahit baju seragaman? Kalian sengajakan lakuin ini supaya Asmi gak ikut difoto?" Marah aku pada mereka, semua orang yang sedang duduk bangkit saat melihat kemarahanku.

"Loh kok aku? Mbak gak tahu apa-apa," sahut Mbak Andin.

"Tahu ih kamu main tuduh aja." Kak Alfa juga menyahut.

"Ya kenyataannya emang Asmi gak dikasih bahan, ulah siapa lagi kalau bukan ulah kalian? Kalian 'kan yang urus hajatan ini?!" sentakku lagi.

Di tengah keributan kami akhirnya Bapak datang.

"Apa sih ribut-ribut? Di rumah orang tua bukannya pada rukun malah adu mulut begini?" 

"Ini nih Pak, Kak Alfa sama Mbak Andin mereka sengaja gak kasih istriku bahan supaya gak pakai baju seragaman."

"Loh kok kamu jadi salahin dan sentak-sentak istri Mas sih?" sahut Mas Fatih.

"Wajar dong Mas, Hasan sentak istri Mas, karena istri Mas Fatih emang salah, maksudnya apa coba gak ngasih bahan baju ke istriku?"

"Bahannya emang gak akan muat buat bikin baju istrimu Hasan, istri kamu harus pake double bahannya, 'kan tubuhnya emang jumbo." 

"Kak Alfa," decitku menghentikan ucapannya.

"Sudah! sudah!" teriak Bapak lagi, beliau melambai-lambai tangan ke atas untuk melerai kami.

"Apaan sih kalian? Karena bahan baju aja kalian ribut begini. Kamu Alfa, bener kamu gak kasih bahan ke istrinya Hasan?"

"Iya Pak, habisnya Hasan gak ada sumbangsihnya sih dalam hajatan ini, makanya Alfa gak kasih istrinya bahan karena kalau dikasihpun kami harus kasih double, tripple malah karena buat Hasannya juga."

"Kamu nih, ya kasih aja gak apa-apa, bahan keluargakan uangnya dari Bapak bukan dari kamu, berapa sih emangnya kamu nyumbang buat hajatan ini? Cuma sejuta 'kan?!" sentak Bapak, wajah Kak Alfa seketika pias menahan malu.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Istri Dari Desa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
8.8
Diceraikan suami kikir yang kerap menghina latar belakang pendidikannya, seorang wanita miskin terpaksa menuruti kehendak orang tua untuk menikahi duda kaya. Tanpa landasan cinta, pernikahan kedua ini membawa ketidakpastian baru. Mampukah ia bangkit dari trauma masa lalu akibat perlakuan buruk mantan mertua, lalu merajut kebahagiaan sejati bersama suami barunya? Ikuti perjuangan menyentuh hati dalam memulihkan luka batin di tengah biduk rumah tangga yang terpaksa.
Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku
8.5
Keenan Alfaro tumbuh tanpa orang tua, mengandalkan kalimat papanya yang keras untuk bertahan. Kini di usia 18 tahun, ia menjadi murid beasiswa yang urakan dan playboy, ditakuti semua orang. Namun Mutiara, gadis pintar seangkatannya, berhasil meluluhkan hatinya. Hubungan mereka berubah menjadi neraka ketika Mutiara meminta Keenan mempublikasikan status mereka. Para cewek yang merasa dimanfaatkan oleh rayuan Keenan, bersama para cowok yang pernah dikalahkannya, kini membalas dendam dengan membuli Mutiara. Akankah cinta mereka bertahan di tengah tekanan dan kekerasan? Atau Mutiara akan menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Dinodai Tetangga
8.9
Satu peristiwa keji meruntuhkan dunia Andini. Alex, tetangga yang seharusnya bisa dipercaya, memerkosanya—meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Trauma itu membuat Andini menjauh dari suaminya, Arka, yang mencoba memahami istrinya yang hancur. Demi mengubur kenangan buruk itu, mereka memutuskan pindah rumah. Namun, kenyataannya, kejahatan tidak mengenal alamat. Alex terus membayangi dan mengganggu Andini, seolah tak pernah rela melepaskannya. Pertanyaannya, sampai kapan Andini bisa bertahan? Akankah ia membiarkan teror itu berlanjut, atau menemukan keberanian untuk melawan? Sebuah kisah gelap tentang trauma, ketakutan, dan batas akhir ketahanan seorang istri.
Sampul Novel Hold My Hand
8.0
Kepergian orang tua angkat menyisakan duka sekaligus gejolak rasa yang tak biasa dalam diri Khanza kepada kakaknya, Barra. Kendati tanpa hubungan darah, ikatan persaudaraan mereka melahirkan konflik batin yang menyiksa. Di tengah kebimbangan cinta terlarang itu, ujian berat menghampiri. Keadaan menjadi sangat genting ketika Barra dituduh terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan misterius, mengancam masa depan sekaligus rahasia terdalam yang mereka simpan.
Sampul Novel Mendadak Dinikahi Om-Om
9.6
Demi membiayai pengobatan sang ibu setelah kecelakaan tragis, Nala terpaksa menyetujui pernikahan darurat dengan Bastian Wilantara, pria asing yang menyelamatkannya. Seiring waktu, pernikahan yang semula dingin mulai diwarnai perasaan cinta. Namun, kedamaian itu terusik ketika Nala menemukan rahasia mencurigakan yang disembunyikan Bastian. Begitu motif asli di balik pernikahan mereka terungkap, Nala kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk bertahan atau pergi.
Sampul Novel Sebelum Hujan Membasahi
7.9
Fuad, pemuda sensitif yang mudah terpengaruh opini orang lain, memilih merantau demi membuktikan diri pada orang tuanya. Namun, langkahnya mengejar mimpi di tanah perantauan terhambat oleh kehadiran beberapa wanita yang memikat hatinya. Kini, ia terjebak dalam dilema besar antara tuntutan karier dan kekosongan asmara. Sanggupkah Fuad menyelaraskan ambisi profesionalnya dengan gejolak cinta yang kian menyiksa batin?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan