APKDock Logo
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga

Dikira Miskin Oleh Keluarga

9.6 / 10.0
Gaya hidup Gunawan yang tampak biasa saja membuat orang tuanya keliru dan mengira dirinya jatuh miskin. Padahal, di balik kesederhanaan tersebut, ia menyembunyikan identitas aslinya yang sangat mengejutkan. Anggota keluarga yang kerap meremehkannya sama sekali tidak menyadari bahwa pria ini sebenarnya adalah seorang miliarder luar biasa dengan kekayaan yang sangat melimpah ruah.

Dikira Miskin Oleh Keluarga Bab 1

"Mobil Mas kenapa jelek? Kecil lagi. Coba lihat mobilku. Besar, bagus, kinclong. Mobil Mas pasti gak ada AC-nya?" tanya Eva pada Gunawan.

"Iya, gak ada, Va. Cuma AC alami aja." Gunawan mengakhiri obrolan dengan tersenyum sembari meninggalkan adiknya yang berdiri di ambang pintu menyambut kedatangan sang kakak.

"Mbak. Gimana kabarnya?" tanya Eva pada Riska. Kakak iparnya.

"Baik, Va."

Pandangan Eva pada kakak ipar sedikit aneh. Ia menaikkan sedikit bibirnya karena memandang Riska yang datang ke rumah mertua hanya memakai sendal jepit berlapis kaus kaki.

"Mbak gak malu ke sini cuma pakai sendal jepit?" Sontak pertanyaan Eva membuat semua orang yang ada di ruang tamu memandang ke arah kaki Riska. Ibu Gunawan, Ayahnya, dan suami Eva sangat terkejut. Sang ibu mertua bahkan sampai menggelengkan kepala melihat penampilan Riska.

Eva beranjak masuk setelah menyapa kedua keponakannya.

"Mas katanya di Jakarta punya usaha, tapi kok mobilnya jelek gitu? Kayaknya bisa jalan aja sukur." Mobil taft tahun 90'an masih diamatinya. Rasa jijik tampak pada wajah Eva.

"Mas suka sama mobil itu, Va. Udah lama jadi inceran mas."

"Gun. Apa kamu gak kasihan sama anak-anak? Beli mobil kok gak ada AC-nya. Katanya istri kamu juga kerja, mana hasilnya? Pulang kampung bawa mobil bobrok gitu." Sang ibu menimpali.

"Coba lihat adikmu. Baru tiga tahun nikah, mobilnya bagus, rumahnya mewah. La kamu, mobil aja butut gitu. Coba ibu lihat foto rumah yang katanya baru kamu beli kaya gimana? Pasti cuma lantai satu, ya?"

Riska dan Gunawan diam mendengarkan sang ibu berbicara.

"Sudahlah, Bu. Toh, Gunawan sama Riska sehat. Cucu-cucu kita juga sehat. Mau rumah mereka besar atau enggak, ya emangnya kenapa?"

"Pak, lihat Riana sama Gilang. Bajunya kumel gitu. Mana apek. Lagian beli mobil gak ada AC-nya kasian lho Pak, anak-anak kegerahan."

"Gak apek, Bu. Jangan ngada-ngada. Orang bapak udah cium mereka, kok. Pada wangi-wangi."

"Ah, Bapak ini. Mampet, ya, hidungnya."

Riska beranjak setelah berpamitan ke kamar. Ia berniat membereskan baju dan beristirahat.

"Kamu mau ke mana? Orang tua lagi ngomong itu jangan minggat."

"Bu. Riska itu mau istirahat. Kasian perjalanan jauh."

"Gunawan juga mau istirahat, Bu. Capek nyetir seharian."

"Makanya, beli mobil bagus yang gak bikin capek kalo lama-lama nyetir, Mas."

Gunawan, Riska, dan kedua anak mereka masuk ke kamar.

Sedari mereka menikah, cacian sudah biasa diterima oleh Gunawan dan Riska. Terlebih oleh sang ibu. Gunawan yang hanya lulusan STM menjadi bahan olok-olok keluarga ibunya. Sedari muda, ia merantau di kota Metropolitan dan membiayai sekolah adiknya, Eva. Tak hanya itu, ia juga mengajari adik sepupunya bernama Sundari untuk bekerja.

Eva berhasil lulus sarjana karena bantuan kakaknya hingga ia bisa mencari pekerjaan di sebuah bank swasta. Posisi yang cukup bagus di bank itu hingga bisa mengangkat derajat kedua orang tua. Sedangkan Sundari, yang hanya bisa lulus di bangku SMA, kini memiliki usaha cake sendiri di rumah.

Gunawan yang keluar dari rumah ketika berumur enam belas tahun, mencoba keberuntungan di kota. Berpindah-pindah kota sering dilakukannya. Hingga pernah terusir dari kos-kosan karena terlambat membayar. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan Riska dan bekerja padanya.

Riska, anak pengusaha kaya yang jatuh hati pada seorang bawahan ayahnya. Riska terdidik sebagai pribadi yang mandiri, sopan, sederhana, baik, dan tidak suka bermewah-mewah. Sedari kecil, didikan ayahnya tak mengijinkan ia diantar memakai mobil ke sekolah. Membeli alat tulis mewah dan bermanja-manja dengan asisten rumah tangga.

Wanita dua puluh delapan tahun itu terbiasa melakukan pekerjaan rumah meski ia memiliki rumah tiga lantai. Berteman dengan siapa saja tanpa terkecuali anak-anak asisten rumah tangga ayahnya.

Kesederhanaan Riska bahkan sempat menjadi bahan olok-olok teman-temannya di sekolah. Sebagai orang mampu, ia masuk di SMA favorit yang cukup terkenal di Jakarta.

"Lo gak tahu ini sekolah elit? Lo pasti anak babu yang disekolahin ama majikan, ya?" ejek Dinda. Gadis cantik nan modis dengan dandanan tak wajar sebagai siswi sekolah.

"Kenapa? Ini tas sama sepatu juga gue beli pakai duet gue sendiri. Walaupun murah, seenggaknya gue gak ngemis sama orang tua."

"Dasar anak babu! Awas aja, ya, lo ketemu lagi ama gue."

"Yuk, gaes. Gue gak tahan di sini lama-lama. Entar ketularan miskin lagi." Dinda dan teman-temannya meninggalkan koridor sekolah.

Siang itu, ketika sepulang sekolah, Dinda dan teman-temannya yang berada tepat di belakang Riska berjalan dan hampir menempel pada gadis sederhana itu.

Salah satu teman Dinda, menanyakan tugas yang diberikan guru pada saat jam pelajaran hampir usai. Beberapa menit ia mengajaknya mengobrol. Tanpa disadari, Dinda dengan teman yang lain, mengiris tas Riska dengan cutter. Tak berselang lama, beberapa barang berjatuhan dari sana.

"Hah, apaan tuh?" teriak Dinda seketika. Ia berpura-pura terkejut dan segera menyembunyikan benda tajam itu dibalik sakunya.

Riska segera berbalik badan dan ikut terkejut. Alat tulis, juga beberapa benda lain miliknya jatuh berantakan. Dilihatnya, tas yang ia pakai sudah sobek.

"Eh, anak babu. Tas udah sobek masih aja dipakai. Bener-bener gak punya duit, ya? Ahahahaha." Dinda dan teman-teman lainnya menertawakan Riska yang tampak kesal. Murid yang lain hanya melihat ke arah Riska. Tanpa menjawab, gadis itu segera berlari keluar sekolah. Ia tak menangis, hanya saja teramat kesal. Tas yang baru ia beli saat berganti semester, kini sudah rusak. Ia tahu, Dinda sengaja merobek tasnya karena Riska ingat betul tas itu semula baik-baik saja.

Baru sampai di rumah dan belum berganti seragam, Riska mendengar papanya berbicara ditelepon. Nada yang cukup mengkhawatirkan sehingga membuat Riska berlari menghampiri sang papa.

"Kenapa, Pa?"

"Sopir operational kantor kecelakaan, Sayang. Sekarang lagi ada di rumah sakit."

"Sopir operational? Pak Mukti, Pa?" tanya Riska.

"Iya. Pak Mukti."

"Kasian, Pa. Dia dulu pernah nolongin Riska pas mau jatuh dari tangga."

"Kamu masih ingat, Riska?"

"Iya. Riska ikut, ya, Pa."

Selain baik, rasa empati Riska juga tinggi. Terlebih kepada orang yang selama ini setia bekerja pada sang papa. Saat Riska kecil, ia hafal betul dengan sosok Pak Mukti. Lelaki paruh baya yang rendah hati dan murah senyum juga giat bekerja.

Sesampainya Riska di rumah sakit, ia terkejut. Ada gadis seumuran dirinya menangis di depan ruang rawat Pak Mukti.

"Dinda?" Gadis itu menoleh.

"Riska?"

"Apa lo anak Pak Mukti?" tanya Riska.

Dinda mengangguk disertai isakan tangis.

"Jadi, lo anak Pak Suryo?" tanya Dinda setelah melihat Riska datang dengan sang papa.

"Iya."

Dinda beranjak dan memeluk Riska dengan erat. Dipelukan gadis yang selama ini ia hina, ia menangis kencang.

"Maafin gue, Ris. Gue udah hina lo. Gue udah keterlaluan sama lo. Gue gak tahu kalo lo anak Pak Suryo."

"Jadi lo takut sama Papa gue?"

"Iya, Ris. Jangan pecat Papa gue, ya. Gue janji, apa yang lo minta gue turutin. Asal jangan pecat Papa gue."

"Din. Semua manusia itu sama. Lo gak boleh beda-bedain anak siapa dia, kaya atau enggak. Harta itu cuma hiasan aja. Semua manusia lahir gak bawa apa-apa. Jadi, gue minta sama lo, hargai manusia entah siapa pun dia. Gue gak sakit hati, Din, lo ejek. Gue mau lo hargai gue apa adanya gue, sebagai diri gue, bukan anak dari Suryo Utomo. Ngerti."

Dinda mengangguk pelan. Ternyata, gadis yang selama ini ia hina dan sempat ia kerjai itu adalah anak dari bos tempat ayahnya bekerja.

Semenjak saat itu, berita begitu cepat tersebar. Semua murid di sekolah begitu menghargai dan menghormati Riska. Mereka kini tak mempermasalahkan kesederhanaannya meski pulang pergi, ia masih menaiki angkot atau bajaj.

Kejadian itu masih ia ingat hingga kini. Dinda pun bekerja di kantor Riska. Kantor yang ia dirikan dari nol tanpa bantuan nama besar papanya.

"Kenapa kamu gak ijinin Ayah bawa Alpart, Bun? Seenggaknya, Eva gak akan ejek kita seperti ini."

Riska tersenyum dan berkata, "Buat apa, Yah. Pamer? Apa harta itu untuk dipamerkan? Toh, dari dulu Ibu sama Eva juga udah ejek kita dari awal kita mulai usaha."

"Kamu gak sakit hati, Bun? Tiap kita ke sini, lho mereka begitu?"

"Sama sekali gak, Yah. Aku ingin mereka itu hargai kita dengan apa adanya, bukan karena harta."

"Sulit, Bun. Ibu memang seperti itu dari dulu."

"Bunda gak masalah, Yah. Dari dulu, sejak bunda masih sekolah juga sering diejek cuma karena pake tas jelek, sepatu jelek."

"Ayah bangga punya istri seperti Bunda."

*****

Tak berapa lama Gunawan dan keluarga beristirahat di kamar, Eva tiba-tiba masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.

"Mas. Bisa pindahin mobilnya gak? Mobil aku mau lewat. Takut kegores, soalnya baru beli seminggu yang lalu."

Gunawan pun beranjak tanpa menjawab adiknya.

"Eh, Mas. Mobil Mas udah lunas belum? Gak mungkin dong mobil butut belum lunas. Mobil aku yang bagus aja udah lunas."

Gunawan menarik napas dan melihat ke arah Eva. Ia masih berusaha menahan emosi terhadap sang adik. Andai bukan mulut adiknya yang berbicara, mungkin emosi Gunawan sudah meluap sejak pertama ia datang.

Bersambung......

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dikira Miskin Oleh Keluarga

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Alpha Eden
8.9
Megan bertekad menguak misteri tewasnya sang kakak, Helena, satu dekade lalu. Bermodalkan buku harian, ia pergi ke Jazmore, tetapi malah terlempar secara misterius ke tahun 1945. Di hutan belantara masa lalu, Megan bertemu dengan Alpha Eden, pemimpin werewolf yang sangat tangguh. Terjebak di era asing, ia harus berhadapan dengan sihir dan kutukan kuno, sekaligus menerima takdir sebagai mate sang Alpha. Mampukah Megan mengungkap rahasia Helena dan kembali ke tahun 2010?
Sampul Novel Dangerous Touch (Sentuhan Berbahaya)
9.7
Isabel harus menjalani hari-hari yang sepi dan penuh duka sebagai Putri Mahkota setelah kepergian ibu serta kakaknya. Di tengah kesedihan itu, ia bertemu dengan Joseph, seorang miliarder playboy yang bergelimang kemewahan. Pertemuan ini menyalakan percikan asmara yang sangat kuat di antara mereka. Namun, cinta membara ini tidak berjalan mulus. Berbagai rintangan besar dan badai masalah menghadang, memaksa keduanya berjuang keras demi mempertahankan hubungan tersebut.
Sampul Novel DIA
9.5
DIA
Masyarakat diguncang kepanikan hebat saat sebuah jasad bangkit kembali secara misterius. Fenomena mengerikan di luar nalar ini tidak hanya menyebarkan ketakutan nyata bagi siapa pun yang melihatnya, tetapi juga mulai menyingkap tabir rahasia kelam yang sekian lama tersimpan rapat. Di balik peristiwa mayat hidup yang menggemparkan tersebut, ada sebuah kebenaran terlarang yang siap membongkar segalanya dalam atmosfer misteri yang sangat menegangkan.
Sampul Novel Istri kecil tuan mafia
8.9
Kehidupan Yui Miura runtuh setelah terjebak dalam prostitusi daring dan bertemu bos Yakuza yang kejam. Pria itu menjadikan Yui budak penebus utang nyawa ayahnya, Matsumoto. Dalam keputusasaan, Yui nekat menawarkan rahimnya demi uang. Kesepakatan kelam pun terjalin lewat tawa dingin sang mafia. Malam penuh gairah itu resmi dimulai, menjadi awal dari penyesalan terdalam yang akan terus menghantui sisa hidup Yui.
Sampul Novel Rahasia Antara Aku dan Kakak Ipar
9.6
Demi menyembunyikan perasaan cintanya pada pria lain, Kayla terpaksa berpacaran dengan Rendy walau hubungan mereka terasa hambar. Rendy tahu bahwa hati kekasihnya itu milik orang lain. Namun, ia sangat terkejut saat menyadari bahwa sosok yang dicintai Kayla adalah Gibran, ipar Kayla sendiri. Di tengah bayang-bayang masa lalu Kayla dan Gibran, Rendy bertekad menjauhkan gadis itu agar tidak merusak rumah tangga kakaknya. Mampukah Rendy menyelesaikan rumitnya cinta segi empat ini?
Sampul Novel Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat
8.7
Karena kewalahan menghadapi gairah suaminya yang luar biasa, sang istri yang putus asa akhirnya mengadu dan meminta bantuan kepada sahabat dekatnya. Demi menengahi konflik rumah tangga tersebut, sahabatnya memutuskan datang berkunjung langsung ke rumah mereka. Dengan mengenakan gaun ketat yang sangat seksi dan menonjolkan lekuk tubuhnya, ia berniat menguji sendiri kebenaran dari rumor mengenai keperkasaan sang suami yang selama ini dikeluhkan oleh istrinya tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan