APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hold My Hand

Hold My Hand

Kepergian orang tua angkat menyisakan duka sekaligus gejolak rasa yang tak biasa dalam diri Khanza kepada kakaknya, Barra. Kendati tanpa hubungan darah, ikatan persaudaraan mereka melahirkan konflik batin yang menyiksa. Di tengah kebimbangan cinta terlarang itu, ujian berat menghampiri. Keadaan menjadi sangat genting ketika Barra dituduh terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan misterius, mengancam masa depan sekaligus rahasia terdalam yang mereka simpan.
Bab
Bagikan

Bab 2

    Serpihan air hujan yang masuk dibawa angin, dibiarkan begitu saja. Menerpa wajah Barra yang kini menatap lurus pepohonan di halaman rumah.

Lampu kuning keemasan yang menyala di atas pagar terlihat serupa rembulan yang bersembunyi di balik kegelapan. Rasanya malam ini tak jauh berbeda, kecuali perasaan hampa juga kosong setelah ditinggal pergi oleh ayah ibunya, untuk selama-lamanya.

      Barra yang semula hanya berniat memeriksa Khanza dari balik pintu kamar, tiba-tiba harus merangsak masuk setelah ia mendengar rintihan-rintihan kecil dari dalam sana.

Adiknya mengigau. Suhu tubuh Khanza meninggi menyebabkan tubuh gadis itu terasa sangat panas saat Barra meletakkan punggung tangannya di kening sang adik. 

"Ibu ... Ayah ... " Selama beberapa saat Barra hanya mampu terdiam. Mencerna rasa kehilangan yang sedang Khanza rasakan. Sebelum kemudian ia bergerak mengambil air hangat juga kain yang kemudian Barra balurkan di tubuh Khanza, berharap agar demam adiknya bisa sedikit mereda.

Selama berulang kali Barra mengganti air dalam mangkok kecil itu. Akan tetapi demam Khanza tetap tinggi dan tidak turun sama sekali.

Melihat sejenak ke arah jarum jam yang kini sudah menunjukkan pukul dua petang, akhirnya Barra membawa gadis itu ke luar. Memasukkannya ke dalam mobil, lalu mencari rumah sakit terdekat yang bisa menangani Khanza.

      Berdasarkan hasil pemeriksaan, Dokter berkata bahwa kondisi tubuh Khanza memburuk akibat rasa kehilangan yang begitu mendalam.

Gadis itu sudah mengalaminya selama beberapa kali. Dan kehilangan ayah ibunya kali ini membangkitkan trauma Khanza kecil akibat kecelakaan yang menimpa gadis itu beberapa tahun yang lalu. Yang naasnya itu juga merenggut nyawa orang tua kandung Khanza.

"Saya sudah memberi obat penenang juga pereda demam. Namun, meski kondisi Khanza mungkin setelah ini akan terlihat membaik, ia harus tetap mendapat penanganan dari psikiater," ucap Dokter pada Barra yang hanya mendapat anggukan pelan dari pemuda itu.

      Pekatnya langit malam seolah tengah mendeskripsikan perasaan dua kakak beradik yang masih berada di dalam ruang perawatan. Dokter benar, Khanza sudah merasakannya lebih dari satu kali. Yaitu saat ayah ibunya meninggal akibat kecelakaan yang akhirnya mengantarkan Khanza ke keluarga ini. Juga saat orang tua mereka pergi beberapa hari yang lalu.

Karena hal itu, wajar bila Khanza akhirnya menjadi seperti ini.

"Kakak ... "

"Khanza, kau sudah sadar?"

Tatapan gadis itu terlihat sayu ke arah Barra. Di mana pemuda itu langsung menggenggam tangan adiknya dan tersenyum agar Khanza merasa lebih baik setelah melihatnya.

"Jangan khawatir, kakak ada di sini. Lekaslah pulih."

.

       Setelah kejadian hari itu. Sekilas tak tampak ada yang berbeda dari keluarga mereka. Selain Barra yang harus menyiapkan segala jenis keperluan untuk Khanza. Mulai dari sarapan, bekal makan siang. Lalu beberapa hal yang biasanya dilakukan oleh ibu mereka, kini harus Barra yang menggantikannya.

"Mulai besok Khanza saja yang membuat sarapan. Kakak tidak perlu lagi bangun pagi pagi hanya untuk memasak," ucap Khanza pada Barra saat mereka hendak melakukan sarapan pagi bersama-sama di meja makan.

"Kenapa? Masakan kakak tidak seenak ibu ya?"

Gadis itu selama beberapa saat termenung. Menatapi Barra dengan sorot yang tak dapat Barra mengerti.

"Kakak, kakak juga bersedih kan, atas kematian ayah dan ibu?"

Pertanyaan Khanza membuat Barra terdiam. Yang membuat Khanza akhirnya melanjutkan kalimat yang selama ini begitu ingin ia katakan. Namun, tertahan di benaknya.

"Semenjak kepergian ayah dan ibu, Khanza tak pernah melihat kakak menangis. Kakak selalu terlihat tenang. Seolah tanpa mereka pun kehidupan kita masih bisa terus berjalan. Apa kakak tidak merasa kehilangan sama sekali? Apa ... Kepergian ayah dan ibu tak mengubah hidup kakak sedikit pun?" Kali ini Khanza mengatakannya sambil berurai air mata. Rasanya begitu menyedihkan saat ia hanya merasa kehilangan sendirian.

Di hadapan Khanza, kakaknya selalu bertindak seolah semua baik-baik saja. Bahkan Barra bisa tersenyum dan tertawa ceria bersama Daris di rumah mereka. Sementara Khanza, untuk bertahan sampai sejauh ini ia merasa begitu kesulitan. Malam-malam nya terasa sangat panjang. Jika bukan karena terapi dan obat yang Psikiater beri, sepertinya Khanza masih merasa sulit untuk tidur sampai saat ini.

"Kau benar. Kehidupan harus terus berjalan walau tanpa ayah dan ibu," jawab Barra. Meletakkan air mineral di hadapan Khanza.

"Manusia tidak bisa terus hidup dalam rasa kehilangan. Sekuat tenaga, walaupun susah, mereka harus bangkit untuk menghadapi esok hari. Tersenyumlah. Ayah dan ibu juga tidak suka melihatmu seperti ini." Tangan Barra menghapus air mata Khanza. Membuat gadis itu tak bisa menjawab apa-apa.

Mungkin benar yang dikatakan Barra. Manusia tak bisa terus terpaku dengan rasa kehilangan mereka. Harus melakukan sesuatu agar kekosongan itu terisi kembali dengan semestinya. Yaitu menjalani hari seolah semuanya tak terjadi apa-apa.

Menghapus sisa-sisa air matanya sendiri, Khanza memasukkan makanan dengan begitu lahap. Berusaha mengenyahkan bayangan ayah dan ibunya, yang biasanya selalu ada bersama mereka menikmati makanan di pagi hari. Meskipun hal itu membuat air mata Khanza menetes lagi. Dan lagi.

.

      Suara aliran sungai di belakang rumah, adalah satu-satunya hal yang dapat menenangkan Barra dari riuhnya suara dalam kepala.

Sebatang rokok dihisap kuat oleh pemuda itu, hingga kepulan asap mengudara sesudahnya.

Sementara di samping Barra, seorang sahabat yang telah lama membersamai pemuda itu juga terlihat. Daris. Mereka memperbincangkan suatu hal. Tentang apa saja yang akan Barra lakukan setelah semua properti dan aset yang orang tuanya miliki terjual untuk menutupi hutang.

"Jadi, kau mau membuka usaha di dekat kampus kita?"

"Ya. Masih ada sedikit sisa tabungan untuk aku dan Khanza. Aku akan menggunakannya menjadi penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan kami ke depan."

"Mau tidak mau kau memang harus melakukan itu, Barra. Tapi tenang saja, aku bisa menjadi asistenmu nanti."

Hal itu membuat Barra tertawa. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Kembali memperbincangkan hal-hal yang membuat tawa mereka semakin terdengar keras dari arah kamar Khanza.

.

       Selayaknya sosok pengganti orang tua. Seiring bertumbuhnya Khanza saat ini, Barra mulai dengan tegas mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada gadis itu. Tentang apa saja yang boleh dilakukan, juga yang dilarang untuk seorang perempuan.

Meskipun tidak ada lagi sosok ayah dan ibu di dalam rumah mereka, Barra memastikan bahwa Khanza ... Tak akan kehilangan rasa kepercayaan.

Di bawah teduhnya mentari sore, Barra mengajari gadis itu pelatihan seni bela diri. Yang nantinya ia yakin akan sangat berguna untuk kehidupan Khanza ke depan.

Bersama dengan gugurnya dedaunan, Khanza merenggangkan otot-otot tangan, memukul udara, melayangkan tendangan. Kemudian Barra membenahi letak posisi tangan gadis itu, menunjukkan padanya bagaimana posisi yang benar. Lalu memerintah Khanza untuk mengulangi gerakan yang salah, seperti yang telah ditunjukkan oleh Barra.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU MUNDUR, MAS!
9.1
Sejak tahun pertama, rumah tangga Syafitri dan Guntur tak pernah sepi dari konflik. Sikap Guntur kian memburuk akibat campur tangan serta provokasi dari keluarganya sendiri. Walau telah berusaha bertahan dengan kesabaran penuh, Fitri akhirnya berada di titik jenuh. Ia memilih menyerah dan mundur dari pernikahan yang menyiksa batin ini. Kini, mereka menempuh jalan masing-masing demi menemukan kebahagiaan baru secara terpisah.
Sampul Novel Dikejar Mantan Suami
8.1
Pasca-bercerai dari Haris Prayoga, Ningsih Widyastuti menutup rapat hatinya dan bekerja sebagai pelayan di rumah makan Faiz Wibisono. Walau awalnya sama-sama enggan terlibat asmara, kedekatan membuat perasaan cinta tumbuh di antara Ningsih dan Faiz. Sayang, hubungan mereka terhalang oleh obsesi Haris. Diliputi penyesalan mendalam, sang mantan suami terus mengejar Ningsih dan memicu berbagai kekacauan demi mendapatkan kembali cinta lamanya.
Sampul Novel Jerat Pesona Ayah Anakku
8.9
Kehilangan kesucian dalam satu malam menghancurkan hidup Kara. Diasingkan dan menderita, ia berjuang sendirian demi membesarkan anaknya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi dalang kehancurannya. Kini, pria tersebut kembali hadir untuk menjerat kehidupan Kara lebih dalam. Kara didera ketakutan hebat. Sanggupkah ia bertahan ketika buah hatinya terancam direbut oleh pria yang dahulu merusak dunianya?
Sampul Novel Rahasia Asrama Seni
9.1
Setelah menyelesaikan pelatihan ospek yang melelahkan, seorang mahasiswa baru menghadapi tantangan mendebarkan demi menemui kekasihnya. Sang pacar yang sudah tidak sabar menahan rindu selama setengah bulan memintanya datang ke asrama putri. Dibantu oleh rekan-rekan sekamar pacarnya untuk bersembunyi, pemuda ini harus menyusun rencana cerdik agar tidak tertangkap oleh ibu penjaga asrama yang ketat. Kisah romantis remaja ini dipenuhi ketegangan saat ia mencoba bertahan dan menginap semalam di sana secara rahasia.
Sampul Novel Rahasia di Balik Ruang Gelap
9.5
Di keheningan bioskop pribadi yang remang-remang, sebuah hadiah kedewasaan yang tidak biasa diberikan oleh sang ayah tiri berupa tayangan dewasa. Menyaksikan adegan intim di layar membuat tubuh sang gadis dilingkupi sensasi asing yang menggelisahkan hingga ia tak mampu menahan getaran di tubuhnya. Di tengah kepasrahan dan reaksi tubuh yang memerah, sang ayah tiri mendekat, menarik pakaian dalamnya, dan menawarkan pelajaran untuk menjadi wanita seutuhnya sembari menuntut kepatuhannya yang mutlak.
Sampul Novel Tumbal Pernikahan
9.6
Bagi Amanda, pernikahan bukanlah penyatuan cinta, melainkan belenggu paksaan yang menyiksa. Sebagai istri yang sabar, dia rela mengesampingkan ego dan harga dirinya demi melunakkan hati sang suami yang dingin. Meski badai ujian dan konflik tiada henti menguji ketegarannya, Amanda tetap bertahan dan enggan menyerah. Akankah perjuangan tulusnya mampu meruntuhkan keangkuhan sang suami, atau justru sikap dingin itu akan bertahan selamanya?