APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hold My Hand

Hold My Hand

Kepergian orang tua angkat menyisakan duka sekaligus gejolak rasa yang tak biasa dalam diri Khanza kepada kakaknya, Barra. Kendati tanpa hubungan darah, ikatan persaudaraan mereka melahirkan konflik batin yang menyiksa. Di tengah kebimbangan cinta terlarang itu, ujian berat menghampiri. Keadaan menjadi sangat genting ketika Barra dituduh terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan misterius, mengancam masa depan sekaligus rahasia terdalam yang mereka simpan.
Bab
Bagikan

Bab 3

      Pantulan sinar matahari yang masuk melalui ventilasi kamar membuat mata Khanza menyipit karena silau.

Gadis itu mengucek matanya perlahan lalu menatap sekeliling dengan pandangan yang masih buram. Tatapan Khanza terhenti pada jam di dinding yang kini telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia terkesiap. Buru-buru bangkit dari kasur dan setengah berlari membuka pintu.

Di ruang tamu terlihat Barra tengah membersihkan kaca jendela setelah membuat sarapan untuk mereka. Khanza berjalan mendekat. Duduk di sofa yang tersusun membentuk hurup L di ruang tamu. Memandang kakaknya dengan penuh arti. Sosok yang menjadi pengganti orang tuanya selama ini.

"Kenapa tidak membangunkan Khanza, kak? Khanza kan jadi tidak enak bangun kesiangan."

Mendengar suara sang adik, pria itu menoleh. Menatap seorang gadis bermata cerah. Dengan bibir mengembang yang sempurna. Tidak terasa, waktu terus berjalan hingga kini Khanza telah duduk di bangku SMA kelas tiga. Sementara Barra, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, pria itu menjadi guru di sekolah Khanza.

"Mandi sana. Kakak sudah menyiapkan sarapan," ucap Barra.Yang membuat Khanza sejenak terdiam.

"Hari ini kakak mau ke mana?" tanya gadis itu.

"Ke toko. Ada apa?"

Senyuman yang semula masih merekah di bibir Khanza perlahan memudar. Tatkala ia mendengar bahwa di hari minggu pun Barra masih tetap tak berada di rumah.

Kesibukan Barra selama ini ... telah mengukur jarak di antara keduanya. Sehingga terkadang membuat Khanza begitu merindukan momen-momen saat mereka masih sering bersama dulu.

Namun, sudahlah. Khanza juga tidak mau mendramatisir suasana. Bagaimanapun Barra berjuang keras sampai sekarang itu demi kehidupan mereka.

"Tidak apa-apa. Nanti Khanza akan bawakan bekal."

Menanggapi itu, Barra hanya terdiam. Sedikit memperlihatkan senyuman.

.

        Suara gebrakan meja yang terdengar di sudut kantin sekolah, membuat seisi ruangan menoleh dan mendapati seorang siswi dikerumuni oleh beberapa gadis lain dan tengah dirundung oleh mereka.

Raisa yang merupakan ketua dari gadis-gadis itu menyiram minuman ke atas rambut Diana. Lalu memukulinya secara brutal. Membuat seisi kelas spontan melongo dan menatapi Diana dengan raut wajah entah. Antara kasihan juga kebingungan, karena tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Alasannya jelas, karena yang melakukan itu semua adalah Raisa, putri salah satu pejabat di kota mereka yang memiliki pengaruh besar di sekolah.

Merasa ada yang tidak beres, Khanza yang tadinya hanya sedang berdiri di depan etalase untuk memesan makanan, akhirnya mendekat untuk mengetahui lebih jelas apa yang terjadi.

Dan tindakan yang ada di hadapan Khanza, membuat gadis itu tanpa pikir panjang langsung masuk ke kerumunan untuk menghentikan Raisa.

"Apa yang kau lakukan?" Raisa menatap tajam Khanza dengar raut wajah tidak suka.

"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kau lakukan?" Khanza balas menatap gadis itu. Tanpa takut sama sekali.

"Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan dia."

"Kau melukainya. Itu sudah menjadi urusan sesama manusia."

Mendengar itu Raisa spontan tertawa. Sementara ke tiga temannya sudah melakukan ancang-ancang untuk menyerang Khanza, namun, masih di tahan oleh Raisa.

"Khanza. Walau kakakmu salah satu guru di sekolah ini. Itu tak menjamin bisa melindungi mu. Kau tau siapa ayahku, kan?"

Sejenak Khanza terdiam. Ia tentu tahu siapa ayah Raisa. Serta risiko berurusan dengan gadis di hadapannya adalah dikeluarkan dari sekolah. Akan tetapi, melihat ketidak adilan berada di depan mata Khanza, itu membuat jiwa kemanusiaan Khanza sangat terluka. Ia tidak bisa membiarkan Raisa bersikap semena-mena. Apalagi yang Khanza tahu, Diana bukanlah siswa yang suka mencari masalah.

"Aku beri kesempatan padamu. Jangan ikut campur. Kau tak akan dalam masalah."

Terdiam. Khanza menyempatkan diri berpikir sejenak. Namun ...

"Terserah kau mau melakukan apa. Yang jelas aku hanya mau menolong salah satu temanku." Gadis itu buru-buru menarik tangan Diana, akan tetapi pergelangan tangannya tiba-tiba dijegal.

Melihat bagaimana Raisa kemudian mengangkat tangannya lalu hendak melayangkan pukulan kepada Khanza.

Untungnya Khanza adalah atlet bela diri di sekolah mereka, sehingga bisa dengan mudah gadis itu menahan pergelangan Raisa. Bahkan saat teman-teman Raisa melemparkan benda apa saja ke arah Khanza. Gadis itu bisa dengan cepat menangkis itu semua.

"Hentikan, Raisa. Kau tau, aku bukan lawan yang sepadan untukmu," tukas Khanza yang membuat Raisa semakin murka. Apalagi tangan Khanza yang sudah berhasil mengunci Raisa di belakang tubuhnya, sehingga gadis itu tak bisa melakukan pergerakan apapun lagi.

"Brengsek kau, Khanza! Tak ada takutnya sama sekali!" ucap Raisa terdengar kesal dan tidak terima.

Akhirnya karena sedari awal Khanza memang tak berniat mencari keributan, gadis itu melepaskan Raisa. Membiarkan gadis itu dihampiri oleh teman-temannya dan menatap nyalang Khanza seolah ingin menerkam.

Namun, Khanza tidak peduli. Yang ia lakukan kemudian hanyalah menatap Raisa sekilas lalu membawa Diana pergi.

      Khanza membantu mengeringkan rambut Diana yang basah akibat air yang Raisa tumpahkan. Gadis itu juga mengobati luka-luka kecil di wajah Diana menggunakan obat merah yang tersedia di Unit Kesehatan Sekolah.

"Khanza, terima kasih," ucap Diana menundukkan kepala.

"Kenapa mereka merundungmu?" tanya Khanza. Akan tetapi Diana tak menjawabnya.

"Mengatakannya atau tidak, tidak akan merubah Raisa sama sekali. Ia bisa saja datang lain kali dan kemudian menyakitimu lebih dari pada ini." Gadis itu menjelaskan sambil menoleh pada anggota PMR yang menanyakan Khanza suatu hal.

"Raisa selalu ingin aku mengerjakan PR-nya. Biasanya aku kerjakan, tapi, kemarin sore aku sakit, jadi tidak bisa datang menemuinya saat Raisa meminta. Oleh sebab itu dia marah."

"Jadi selama ini kau yang selalu mengerjakan PR Raisa?"

Diana mengangguk.

Pantas saja di satu bulan terakhir, nilai ulangan Raisa memang selalu lebih tinggi dari pada Khanza. Itu karena Diana--penerima beasiswa di sekolah mereka--yang mengerjakan tugas-tugas Raisa.

"Setelah ini kau bisa melaporkannya pada guru. Buat bukti visumnya juga kalau perlu."

Mendengar itu raut wajah Diana tampak berubah, seperti ada sesuatu yang menahan Diana untuk melakukannya.

"Kenapa?"

"Tak perlu memperluas masalah ini, Khanza. Dan sebaiknya kau juga jangan ikut campur. Melihat Raisa tadi, sepertinya dia benar-benar marah padamu. Aku tidak mau hanya karena aku kau jadi dikeluarkan dari sekolah."

Menanggapi hal itu Khanza tersenyum. Menyentuh kedua pundak Diana lalu menatap wajah polos gadis itu.

"Tidak perlu mencemaskan aku. Kau pikirkan saja dirimu sendiri. Aku tidak yakin setelah ini Raisa akan melepaskanmu kalau kau tidak membuat peringatan padanya. Setidaknya biarkan para guru tahu bagaimana perilaku buruk Raisa."

Hening. Diana lebih memilih untuk tidak menjawab. Sementara Khanza, gadis itu mulai bangkit berdiri.

"Terserah apapun keputusan mu, Diana. Aku tidak akan memaksa. Tapi kau harus belajar melindungi dirimu dengan baik. Jangan biarkan mereka melakukan hal ini lagi."

Ucapan gadis itu membuat Diana termenung sejenak. Mempertimbangkan apa yang Khanza ucapkan. Sebenernya apa yang dikatakan Khanza memang benar. Namun, Raisa takut hal ini hanya akan mempersulit kehidupannya ke depan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU MUNDUR, MAS!
9.1
Sejak tahun pertama, rumah tangga Syafitri dan Guntur tak pernah sepi dari konflik. Sikap Guntur kian memburuk akibat campur tangan serta provokasi dari keluarganya sendiri. Walau telah berusaha bertahan dengan kesabaran penuh, Fitri akhirnya berada di titik jenuh. Ia memilih menyerah dan mundur dari pernikahan yang menyiksa batin ini. Kini, mereka menempuh jalan masing-masing demi menemukan kebahagiaan baru secara terpisah.
Sampul Novel Dikejar Mantan Suami
8.1
Pasca-bercerai dari Haris Prayoga, Ningsih Widyastuti menutup rapat hatinya dan bekerja sebagai pelayan di rumah makan Faiz Wibisono. Walau awalnya sama-sama enggan terlibat asmara, kedekatan membuat perasaan cinta tumbuh di antara Ningsih dan Faiz. Sayang, hubungan mereka terhalang oleh obsesi Haris. Diliputi penyesalan mendalam, sang mantan suami terus mengejar Ningsih dan memicu berbagai kekacauan demi mendapatkan kembali cinta lamanya.
Sampul Novel Jerat Pesona Ayah Anakku
8.9
Kehilangan kesucian dalam satu malam menghancurkan hidup Kara. Diasingkan dan menderita, ia berjuang sendirian demi membesarkan anaknya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi dalang kehancurannya. Kini, pria tersebut kembali hadir untuk menjerat kehidupan Kara lebih dalam. Kara didera ketakutan hebat. Sanggupkah ia bertahan ketika buah hatinya terancam direbut oleh pria yang dahulu merusak dunianya?
Sampul Novel Rahasia Asrama Seni
9.1
Setelah menyelesaikan pelatihan ospek yang melelahkan, seorang mahasiswa baru menghadapi tantangan mendebarkan demi menemui kekasihnya. Sang pacar yang sudah tidak sabar menahan rindu selama setengah bulan memintanya datang ke asrama putri. Dibantu oleh rekan-rekan sekamar pacarnya untuk bersembunyi, pemuda ini harus menyusun rencana cerdik agar tidak tertangkap oleh ibu penjaga asrama yang ketat. Kisah romantis remaja ini dipenuhi ketegangan saat ia mencoba bertahan dan menginap semalam di sana secara rahasia.
Sampul Novel Rahasia di Balik Ruang Gelap
9.5
Di keheningan bioskop pribadi yang remang-remang, sebuah hadiah kedewasaan yang tidak biasa diberikan oleh sang ayah tiri berupa tayangan dewasa. Menyaksikan adegan intim di layar membuat tubuh sang gadis dilingkupi sensasi asing yang menggelisahkan hingga ia tak mampu menahan getaran di tubuhnya. Di tengah kepasrahan dan reaksi tubuh yang memerah, sang ayah tiri mendekat, menarik pakaian dalamnya, dan menawarkan pelajaran untuk menjadi wanita seutuhnya sembari menuntut kepatuhannya yang mutlak.
Sampul Novel Tumbal Pernikahan
9.6
Bagi Amanda, pernikahan bukanlah penyatuan cinta, melainkan belenggu paksaan yang menyiksa. Sebagai istri yang sabar, dia rela mengesampingkan ego dan harga dirinya demi melunakkan hati sang suami yang dingin. Meski badai ujian dan konflik tiada henti menguji ketegarannya, Amanda tetap bertahan dan enggan menyerah. Akankah perjuangan tulusnya mampu meruntuhkan keangkuhan sang suami, atau justru sikap dingin itu akan bertahan selamanya?