APKDock Logo
Sampul Novel Adikku Seorang Pelakor

Adikku Seorang Pelakor

9.1 / 10.0
Kehidupan Ayu Wulansari runtuh setelah dikhianati oleh suaminya, Rangga, dan adik kandungnya sendiri, Nindi. Perselingkuhan mereka memicu cinta segitiga rumit yang sangat menyiksa perasaan Wulan. Kepedihan Wulan kian memuncak ketika ia terpaksa melihat Rangga menikahi Nindi yang tengah mengandung. Di tengah kenyataan pahit yang jauh dari kata indah, Wulan harus menghadapi takdir penuh air mata saat kebahagiaan hakiki seolah mustahil diraih.

Adikku Seorang Pelakor Bab 1

“Kejam! Ini terlalu kejam untukku. Sangat tidak adil. Kenapa dia bisa setega itu?” tangisku pecah tak terkendali begitu mendapati kenyataan bahwa suamiku telah mendua.

“Tenangkan dirimu, Nduk …” pinta Budhe Lastri sambil berusaha memelukku yang berontak tak dapat mengendalikan diri.

“Mereka biadap, Budhe. Bagaimana mungkin adik kandung dan suamiku bisa setega itu? Mereka manikamku dari belakang. Adik yang aku besarkan penuh kasih sayang, ternyata begitu picik!” pekikku keras. “Mengapa harus dia yang menjadi selingkuhan suamiku? Mengapa?!”

Aku semakin histeris, rasanya tak sanggup menerima kenyataan.

*****

Ini adalah kisah tentang air mata. Hati yang tercabik luka. Kenyataannya, hidup tak melulu tentang tawa. Alir hidup di dunia nyata tak seperti dalam drama. Di mana selalu ada cercah bahagia setelah duka melanda. Kata mereka yang bijak, ketika Tuhan menyayangimu, maka jalanmu semakin terjal. Ujianmu akan semakin berat dan berliku. Kesedihan dan pilu akan sambung-menyambung tanpa putus. Lalu kebahagiaan, hanya akan datang ketika negeri akhir telah membayang.

Ah, entah aku harus percaya atau tidak dengan petuah orang-orang bijak yang telah banyak makan garam kehidupan. Kadang, aku merasa bahwa mereka hanya sedang berusaha menghiburku yang menyedihkan. Memberi setitik harapan semu sebelum aku mati kelu. Namun, dengan jelas aku tahu, kisah sedih ini bagai bayangan yang tak lepas dari hidupku. Mengikatku dengan erat, semakin berat dan penat.

Tuhan menyayangiku? Adakah yang bisa memberi jawaban pasti tentang pertanyaan itu? Aku rasa, selama menyandang status sebagai makhluk, tak akan ada yang bisa menjawabnya dengan segala kepastian. Mereka yang jujur hanya mampu memberi kemungkinan. Mungkin iya, mungkin tidak!

Aku yang tahu betapa kotornya diriku. Selalu merasa bahwa ujian panjang ini bukan karena Tuhan menyayangiku, tetapi sedang marah padaku. Aku yang seorang pendosa, mana pantas hidup bahagia. Iya, aku adalah manusia bunglon yang pandai berpura-pura. Dunia ini adalah panggung teater, tempatku menipu dalam semu. Siapa yang aku tipu? Orang-orang di sekelilingku? Tidak, bukan mereka. Lebih tepatnya aku sedang menipu diriku sendiri, dan mungkin aku sedang mencoba menipu Tuhan. Lihatlah, betapa naif dan pendosanya diriku. Bahkan Tuhan pun ingin aku tipu. Bukankah ini cukup untuk membuat Tuhan marah padaku?

Hahaha .... Apakah aku sudah gila? Mungkin iya. Aku sudah tidak tahu lagi di mana batas normal dari sebuah kewarasan. Pedih dan perih seperti nasi dan lauk yang aku telan setiap hari. Ini cukup untuk bisa membuatku tertawa dengan kubangan air mata. Atau sebaliknya, hati menangis menjerit, tetapi bibir tersenyum ceria bak orang paling bahagia.

Aku yakin, sebagian pasti mengira ini adalah bualan. Sebuah hiperbol untuk mendramatisir cerita. Sayangnya, ini adalah kisah nyata. Kisah sedih yang pilu dalam kehidupan. Tak ada pilihan kecuali menjalaninya. Merangkai hari dengan air mata. Menyulam waktu yang sunyi dengan kidung hati yang mengurai kecewa dan tangis sembilu. Kisah tersembunyi dibalik ketegaran palsu. Jiwa yang kering dengan harapan yang hampir pupus. Aku, Ayu Wulansari, pemilik cerita sendu yang usang ditelan waktu.

*****

Aku hanya bisa menangis meratapi nasib. Menertawakan diriku yang harus tetap tersenyum tegar di hari pernikahan adikku. Adik satu-satunya yang begitu kusayangi. Bagaimana tidak, selepas orang tuaku meninggal, hanya dia yang aku miliki. Ya, kami yatim piatu. Ibu meninggal ketika melahirkan adikku. Sedang bapak, telah berpulang kepangkuan Sang Khaliq ketika usiaku genap dua puluh tahun. Sejak itu, aku hanya hidup berdua bersama adikku. Aku bekerja keras agar kami bisa hidup dengan layak. Tentunya, aku juga harus membiayai adikku yang kala itu masih duduk di bangku SMP.

Kembali pada pernikahan adikku. Mengapa aku menangis di hari bahagianya? Bukankah seharusnya aku ikut bahagia? Normalnya begitu. Namun sayangnya, hidupku sudah tidak normal lagi. Apalagi ketika melihat siapa yang hendak menikahi adikku. Laki-laki itu, dia adalah orang yang aku cintai. Ayah dari anakku. Namun kini, aku harus merelakannya menikahi adikku. Dia yang tadinya suamiku, kini akan menjadi adik iparku.

“Wulan, yang sabar, Nduk …” kata Budhe Lastri, tetangga sebelah rumah.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar nasihat itu. Sabar? Sampai kapan aku bisa bertahan untuk bersabar? Hidupku sudah terasa bagai di neraka. Aku tersiksa. Ingin menangis, berteriak, dan marah. Tapi marah pada siapa? Adikku? Suamiku? Atau pada diriku sendiri? Rasanya, ini seperti lelucon yang tidak lucu. Bagaimana kemalangan ini bisa terjadi padaku?

Tentanng perasaanku, jangan ditanya bagaimana hancurnya. Ini tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Sebah yang memenuhi dada. Kecewa yang menyeruak. Marah yang tak dapat kulampiaskan. Entah rasa apa lagi yang membaur di hatiku. Jika tak ingat pada anak laki-lakiku yang masih berusia lima tahun, mungkin aku sudah gantung diri agar tak menyaksikan pernikahan ini.

“Hapus air matamu, Nduk! Budhe tahu ini berat, tetapi ini adalah keputusanmu sendiri, kan?” Budhe Lasti menepuk bahuku. Seakan mencoba memberiku kekuatan untuk tegar dan bertahan.

“Iya, Budhe. Ini memang keputusanku,” ucapku lirih.

Entahlah, aku bukannya menghapus air mataku, tetapi tangisku semakin pecah. Air bening itu semakin menganak sungai menyusuri pipiku. Lalu, kupeluk anak semata wayangku yang kecil. Dia tampak kebingungan melihatku menangis.

“Bunda mengapa menangis?” tanya buah hatiku dengan polos.

“Tidak apa-apa, Nak. Bunda tidak menangis. Ini mata bunda hanya kemasukan debu,” kilahku.

Aku semakin erat memeluk putraku. Air mataku semakin tak terbendung. Aku menutup mulutku rapat- rapat agar isak tangisku tak terdengar. Meski kami berada di kamar, tetapi di luar telah banyak tamu yang berdatangan. Aku tak ingin mereka mendengar tangisanku ini. Ya, aku masih saja sombong. Tidak ingin terlihat lemah di mata orang-orang.

“Sabar, Nduk … sabar ….” Budhe Lastri kembali menguatkanku. Kali ini dia juga ikut memelukku dan anakku.

“Terima kasih, Budhe. Budhe selalu ada untukku,” gumamku. Entah Budhe Lastri mendengarnya atau tidak karena suaraku sangat lirih.

Budhe Lastri, wanita berusia lima puluh tahun lebih ini sudah seperti ibuku. Beliau ikut merawatku dan adikku waktu kami masih kecil. Sepanjang hari, kami dititipkan di rumah Budhe Lastri ketika bapak pergi bekerja. Dia juga selalu menguatkanku diwaktu aku terpuruk dan mengalami masa sulit. Seperti saat ini. Sudah beberpa hari, Budhe Lastri selalu mendampingiku. Mungkin dia takut jika aku berbuat nekat atau melakukan sesuatu yang berbahaya. Bunuh diri misalnya.

“Mbak, penghulunya sudah datang. Mbak Wulan dan Ibu mau ke depan atau tidak?” tanya Laili, anak kedua Budhe Lastri. Usianya 20 tahun, seusia dengan adikku, Nindi.

Budhe Lastri melepas pelukannya terhadapku dan anakku. Begitu juga denganku yang tak lagi memeluk anakku. Aku lalu menyeka air mata. Menahannya agar tak tumpah lagi.

“Rio ikut Tante Laili dulu ke luar, ya? Nanti Bunda dan Eyang Lastri nyusul.”

“Rio sini, ikut sama Tante!” ajak Laili yang langsung menuntun tangan kecil Rio ke luar dari kamarku.

“Kuatkan hatimu, Nduk! Allah itu Maha Baik. Budhe tahu ujian ini berat untukmu, tetapi kau pasti bisa melaluinya. Budhe yakin, Allah sayang sama kamu. Makannya kamu diuji seperti ini untuk mengangkat derajatmu, Nduk.”

Budhe Lastri kembali memberi petuah untukku.

“Semoga aku kuat, Budhe.”

Mataku kembali berkaca-kaca. Rasanya ingin kembali menumpahkan air bah dari pelupuk mata.

“Harus, kuat, Nduk,” tutur Budhe Lastri sambil membimbingku berdiri. Dia menuntunku ke luar kamar, menuju tempat akad nikah adikku dilaksanakan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Adikku Seorang Pelakor

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang terdekatku, mulai dari sahabat, kerabat, hingga musuh masa lalu, tewas mengenaskan. Pelaku pembunuhan berantai ini sangat rapi menyembunyikan bukti, membuat sosoknya tak terdeteksi. Di tengah pusaran misteri yang mencekam ini, daftar korban terus bertambah panjang. Kini, bahaya besar mulai mengancam nyawaku sendiri. Aku yang terjebak di pusaran teror ini harus menghadapi kenyataan bahwa maut sedang mengincar dari kegelapan.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
9.2
Clayden Ardhanesa, dahulu dikenal sebagai Bradford, rela melepas kejayaannya di puncak dunia demi menikahi wanita yang dicintai. Ia memilih melindungi sang istri dari balik layar hingga wanita itu sukses. Namun setelah berhasil, sang istri justru menganggap Clayden tidak berguna dan meminta cerai. Saat nama Clayden kembali bergema di panggung dunia, sang mantan hanya bisa bersimpuh menyesali keputusannya sambil menangis tanpa henti.
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Setelah sekian lama menyendiri, Mira melakukan kesalahan besar akibat pengaruh alkohol di hari ulang tahunnya. Ia melewati malam yang intim bersama Rendi, lalu kabur begitu saja tanpa sempat mengenali wajahnya. Saat berusaha melupakan kejadian tersebut, Mira terkejut ketika bertemu calon besannya. Rendi ternyata adalah ayah dari calon menantu anaknya. Kini, mereka terjebak dilema untuk mengubur rapat memori itu atau malah melanjutkan hubungan terlarang di belakang anak-anak mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan