APKDock Logo
Sampul Novel PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN  (Seni Untuk Merawat Luka)

PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN (Seni Untuk Merawat Luka)

8.3 / 10.0
Ujian berat menanti sepasang kekasih yang mendambakan kebahagiaan, saat bayang-bayang masa lalu yang kelam datang mengusik. Rasa cemas yang mendalam melahirkan krisis kepercayaan serta kerumitan cinta segitiga. Kini, keputusan sulit harus diambil antara bertahan demi masa depan atau menyerah pada dampak masa lalu. Perjalanan ini membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar kekaguman fisik, melainkan seni menyembuhkan luka dan komitmen kuat untuk terus melangkah bersama.

PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN (Seni Untuk Merawat Luka) Bab 1

Pukul empat sore di caffe biasanya, aku sengaja menunda seduhan kopi pahit dan laparku, untuk menunggu seseorang.

Tiga puluh menit berlalu sia-sia. Perutku yang keroncongan dan bibir yang tak tahan dengan godaan kopi dalam gelas itu, akhirnya memaksaku untuk meminum dan memakan sandwich itu. Seusai itu, kembali kupikir dalam dalam. Pengecut ya aku hanya untuk menunaikan sebagian dari pada ibadah cinta yang berupa 'Menunggu' saja ku tak mampu, apalagi menerima keriput wajahmu dihari tua, bisingnya mulutmu ketika permintaan sengaja tak segera ku turuti. Aku ini apa, hanya laki-laki usang yang mendambakan cinta tapi tak lolos ujian sederhana menunggu darinya kataku ’Payah’. Waktu sudah menunjukan hampir pukul lima sore yang artinya waktu ashar akan segera usai dan menyambut adzan maghrib kotaku, ku lihat petani di pinggiran caffe sesegera mungkin kembali untuk berbahagia melepas letih karena bertemu keluarga serta paling penting ialah melihat senyum istri yang ia cinta. Selain petani aku juga sengaja mengamati disamping kiri kanan ku. Ada belasan muda mudi yang asyik menunaikan ibadah cintanya dengan bersenggama tangan ada yang bergandengan terlihat raut wajah mereka yang membahagiakan ‘kataku’ “tak seperti meja nomer 13 (meja ku) yang usang karena orang yang ku nanti tak kunjung datang”. Dalam benak ku “ sejatinya aku ingin makan bersamamu tapi maaf pesan yang kau balaskan di whatsapp itu terlampai cuek yang membuatku kehilangan kepercayaan untuk mengajak mu makan. Tapi tenang pesanannya sudah diatas meja kita, dan maaf pesananku sudah kuhabiskan dulu. Karena ketidakmampuanku menunggu dari berisiknya cacing-cacing diperutku, sekali lagi maaf”.

Sore itu juga aku beranikan diri untuk menelfon mu.

“kamu , dimana ?” tanyaku melalui telpon genggam.

“sebentar…,” Jawabnya, dengan suara lirih ditahan.

Lalu telpon ditutup tiba-tiba.

Kataku “ kamu kenapa” dengan terheran.

Asa bergelimang diotakku menyelimuti kekhawatiran dengan ditemani sepotong sandwich yang kumakan sore itu. Sembari kuambil novel dari dalam tasku. Novel bersampul merah berjudul laki-laki yang keluar didepan rumah. Harapanku dengan membaca akan menyibukan pikiran. Aku jadi teringat dua minggu lalu tepat waktu ulang tahunku, ada seorang sahabat karibku -Mahmud- merekomendasikan novel ini. Terlepas dari tulisan yang renyah ada pesan yang tersirat sama dengan apa yang kurasakan sore ini, meskipun sejatinya aku tak sama sekali kenal dengan penulisnya.

Ihwal, aku yang dikenal laki-laki usang tak mengenal apa itu cinta dipaksa tertunduk lutut dengan kehadiranmu, buktinya sederhana “aku masih menunggu”. Bagiku isi dari pada novel itu tidak lebih dari sebatas kisah yang ditulis dengan ciamik menjadi konsumsi. Tanpa harus lebih mengenal jauh siapa penulisnya karena, bisa jadi kisahnya hipokrit indahnya tulisan tak menjamin lenturnya sikap yang sama sepertimu” cantik nan indah namun tak henti membuat ku khawatir, ini begitu melelahkan kau tau".

Kegiatan membaca ini sejatinya, mulai kusukai beberapa tahun lalau, saat seorang perempuan sederhana yang kutu buku di kampus mengenalkan diri kepadaku. Kejadian itu terjadi tepat diwaktu pertama aku masuk kuliah yang menyisakan pesan begitu dalam sampai hari ini. Katanya, buku akan mengubah pandangan kita tentang fananya hidup yang hanya sebatas uji.

Pada akhirnya, aku betul-betul tenggelam larut dalam buku, hingga sedari ku lihat waktu dalam Arlojiku yang menunjukan pukul lima sore.

“ sudah satu jam ternyata aku menunggu, sia sia bukan” kataku. Sembari kulihat detik jam yang berputar serta kudapati suara kiacauan burung disawah ,

kemudian, aku memutuskan memesan makanan lagi. Menunggu betul-betul membuat lapar, sementara dia sampai saat ini belum memberi kabar kepada ku untuk datang sejak telpon singkat tadi. Artinya, dia pasti akan datang lebih lama lagi. Seperti yang sudah-sudah, aku makin terbiasa dengan pola seperti ini. Menunggu tanpa tahu pasti kapan dia akan datang. Namun, satu hal yang harus aku tegaskan, dia pasti akan datang. Itulah alasan kenapa aku selalu bersedia menunggunya. Karena dia adalah mahluk tuhan yang meskipun rumit tapi tak pernah ingkar janji. Hanya saja, sering telat datang dari waktu yang dijanjikannya. Dan, untuk soal itu, aku punya pemakluman berkali lipat untuknya , sebagai kata maaf dan bukti kesungguhan cinta.

Tiga puluh menit kemudian , aku baru menyadari bahwa waktu telah menunjukan maghrib yang bersamaan dengan pesananku datang, akhirnya dia datang juga meskipun dengan terburu-buru.

Katanya “ maaf, aku harus memperlakukanmu seperti tadi lagi. Menutup telpon dengan cara yang tidak menyenangkan lagi”.

Kata ku” syukur penantian ku terobati dengan santunnya sikap meminta maaf, bagiku ini lebih dari pada cukup”. Sembariku tersenyum lebar, yang sontak kulihat diwajahnya tergaris penyesalan.

Padahal sejatinya, hal seperti itu sudah sering kali terjadi. Dan, dengan ketulusan hatiku. Aku memaafkan dan memakluminya. Namun, dia tetap saja melakukan hal yang sama. Kemudian, aku hanya berdiri dan tersenyum, lalu medekatinya, mengusap lembut lesung pipinya.

“Duduklah, bisikku, “ kamu pasti kesal dan lapar bangetkan”. Dia duduk di kursi yang tepat dihadapanku. “ sebentar ya, aku pesan makanan , yang ini makanlah aku terbiasa menunggu” kataku. Sembari berjalan dan memikirkan menu yang sama dengannya agar terlihat bak difilm-film romansa.

Seperti yang kukatakan diatas, aku sama sekali tidak marah dan merajuk saat dia telat, hebatnya seusai aku memesan makanan siap saji, tak sepotong makanan pun ia makan untuk menunda lapar.

“ hebat bukan, dia rela menunda-nunda lapar. Meskipun sudah kupersilahkan makan dulu”. Sambil menghela nafas, aku menghampirinya,

“sesederhana ini ternyata kau buatku hanyut, This is eternal of love”. Kataku.

“ bagaimana hari ini, pekerjaanmu ?”

“semuanya terkendali. Bos lagi banyak maunya, tapi biasalah masih bisa kuatasi”.

“Jangan terlalu terforsir. Kalau kamu sudah tak sanggup dengan tekanan ditempat kerja, tak ada salahnya pula pindah pekerjaan ketempat lain”, ucapku.

Aku tahu , bekerja seperti kamu dengan target cukup tinggi tiap harinya bukanlah hal yang mudah bukan ?. Beban kerja dan tekanan atasan sungguh tidaklah ringan. Itulah sebabnya aku berusaha tak pernah mengeluh kepadanya meski menunggu berjam-jam sebelum dia datang, alibiku.

“kamu memang yang paling mengerti aku.”ucapnya.

“karena aku mencintaimu”, tandasku.

“terimakasih”.

“tidak perlu. Itu sudah menjadi hal lumrah dan beresiko saat aku memutuskan untuk menemanimu. Aku hanya sedang belajar menerimamu seutuhnya, termasuk jika kamu sedang sibuk sekalipun sama sekali tak punya waktu, dan semoga aku tak tertarik dengan wanita lain diluarsana".

“aku tak salah memilihmu”. Dia tersenyum.

“makanya dimakan keburu dingin”. Kataku.

“iya”.

Syukur, kataku karena dia memakannya dengan lahap. Menikmati seporsi Rice bowl cepat saji yang sudah dipotong-potong kecil . Yang dibalut dengan saus merah.

“Bulan ini aku dapat rezeki lumayan dan cukup untuk kita”

“Wah, alhamdulillah, itu artinya tuhan sedang menjawab doa-doaku”, jawabku dengan senyum”.

Sembari, aku menatap indah bolamatanya sebelum ia melanjutkan makan.

Dia tak berubah, meskipun sedang makan begitu lahap. Namun, tetap terus bercerita. Tentang aktivitas harian yang begitu melelahkan . Sebetulnya aku sadar pola ini tersusun karena kondisi psikologisnya begitu banyak tekanan. Sehingga dia terbiasa terburu-buru dalam semua hal. Termasuk saat makan pun tidak melewatkannya membicarakan aktivitas yang dia lalui seharian tadi.

“ iya, aku berhasil bernegosiasi dengan bupati kota malang. Kemungkinan dia akan mengambil mobil dariku untuk keperluan sekretaris daerahnya, dan jumlahnya tak sedikit. Lumayan bonusnya, Cuma aku memang harus meneguhkan kesabaran. Biasanya , dia harus memuluskan urusanya dulu dengan prosedur kantor, olah-olahlah pejabat kok”, ucapnya.

Bukannya aku tidak peduli pendapatannya dari mana. Hanya saja, untuk urusan ini aku tidak ingin ribut dengan membantahnya. Dia sudah terlalu lelah bekerja.

“Enak, ya. Jadi pejabat, mau pakai mobil mewah, bisa pakai uang negara , uang rakyat maksudnya”.

“Tidak semua, sih menurutku. Tapi memang ada. Mereka hanya memikirkan gemerlapnya dunia dan isi perut, lebih tepatnya rumah mewah”.

Aku terdiam mendengar ceritanya, kata ku “harus aku jawab apa”. Karena satu sisi, dia bekerja dan mendapatkan uang itu dari julannya kepada pejabat. Di sisi lain, aku sadar itu tidak sepenuhnya jual beli yang “bersih”.

“Tidak usah difikir berlebihan. Nanti, setelah kita menikah, aku akan meninggalkan semua ini. Aku hanya butuh banyak uang saat ini”. Ucapnya, seolah bisa membaca kekhawatiranku.

Dalam hatiku

“ selain cantik, kau terampil dalam membaca pikiran orang, sudah seperti penyihir”.

Dia sudah selesai makan. Sementara pesananku baru saja datang diantarkan oleh pelayan caffe, tak menunggu lama aku langsung melahap pesananku.

“Kamu sudah doa?, tanyanya.

“Belum”

“Awas satu piring dengan setan.

Sontak bibirkan langsung berdoa dengan pelan, sembari menerka dalam hati perhatian sekali kau hari ini, jadi ingin lebih lama bersamamu.

“Aku pergi kesurau dulu boleh?” Tanyanya padaku.

“Boleh silahkan”

Dia adalah gadis spesial bagiku, karena selain pekerja keras ia juga selalu ingat dengan tuhannya. Dalam hatiku.

“Betapa indahnya menua bersamamu, nanti tak akan terbayang kalau kita punya sepasang anak. Kau pasti yang akan mengajarinya untuk taat pada agamamu, tentang hal hal yang tidak terlihat layaknya tuhan saja kau percaya apalagi dengan aku yang betul betul mencintaimu”.

Setelah dua puluh menit berselang ia kembali kemeja tepat saat aku selesai makan. Sembari membereskan piring dimeja, aku sengaja tak menyulutkan rokok. Karena beberapa bulan lalu aku berjanji padanya untuk berhenti merokok.

“ Akhirnya aku sadar, merokok tidak lebih dari hanya sekedar kebiasaan yang merugikan diriku sendiri”, ucapku waktu itu saat baru saja memeriksa kesehatan di rumah sakit karena gangguan pernapasan.

Sebetulnya dia sama sekali tak mempermasahkanku merokok hanya saja aku berpikir semenjak aku mengalami gangguan pernafasan ia yang selalu merawatku, satu sisi aku senang karena empatinya namun ini hanya akan menambahi pekerjaannya yang super sibuk.

“ Aku bersyukur kamu berhenti merokok, semoga bukan hanya karena bertemu denganku”. Tandasnya.

“Bagaimana kabar Reni ?” tanyanya padaku.

Aku sengaja hanya diam. Tidak menjawab sepatah katapun. Reni adalah kekasihku. Perempuan yang lebih dulu bersamaku dan mendapati dasyatnya cintaku. Entah hubungan kami rumit atau hanya sebatas pertemuan biasa, tapi setauku aku dan Reni telah berpacaran selama lima tahun lalu. Tapi, cinta memang terkadang serumit ini. Kerapkali orang dimasalalu selalu menjadi topik bahasan yang bagiku hanya akan menyulutkan api kemarahan karena berfikir berlebihan (over thinking).

Pertanyaannya memang singkat namun bagiku dia masih selalu akan percaya bahwa masalalulah pemenangnya. Apalagi sampai hari ini aku masih sering menghubunginya walaupun secara diam diam. Seringkali, aku sampaikan padanya hidup adalah perjalanan kedepan bukan kebelakang namun ini mungkin sulit diterima. “

“Rumitkan, dengan cara apalagi aku meyakinkanmu atas masalalu yang sudah berlalu”. Tegasku.

“kamu sabar ya walaupun kamu tidak lebih dahulu dari pada Reni, tapi aku yakin kamu adalah bidadari tuhan yang dikirimkan untuk masadapan ku, aku bersyukur bersamamu”. Kataku.

Lanjut Membaca

Daftar Isi PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN (Seni Untuk Merawat Luka)

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali berturut-turut di arena justru berujung pengkhianatan dari Roderick. Sang tunangan tega bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick sirna seketika demi menyatakan cinta pada wanita lain di depanku. Kecewa, aku langsung menghubungi ayahku, sang bos mafia besar. Kupastikan pernikahan kami batal karena aku akan mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil anak Jeremy secara sembunyi-sembunyi walau sadar dirinya cuma dimanfaatkan. Demi bisa lepas dari cengkeraman Jeremy yang kejam, ia sengaja memicu kemarahan pria itu. Sayang, pelarian Angela gagal setelah Jeremy melacak keberadaannya. Saat Angela pasrah dan memohon dilepaskan, kehadiran anak mereka justru membalikkan keadaan. Jeremy yang berhati dingin kini malah berbalik ingin mengabdi dan melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sampul Novel SRTJC
7.9
Selamat menikmati kompilasi kisah unik tentang realitas kehidupan remaja masa kini. Di dunia mereka, logika sering kali diabaikan demi tindakan spontan yang penuh kejutan tak terduga. Setiap babnya menggambarkan potret autentik mengenai kelakuan nyeleneh dan absurditas khas anak muda di era modern. Mari ikuti petualangan seru mereka yang diwarnai tawa serta kegilaan saat menjalani keseharian. Saksikan bagaimana momen-momen paling mustahil justru menjadi nyata dalam lembar cerita ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan