APKDock Logo
Sampul Novel Grafiti Dinding Hati

Grafiti Dinding Hati

8.4 / 10.0
Masa magang Citta Buwana berjalan penuh tekanan sebagai sekretaris William Rustenburg, atasan tempramental yang selalu menganggapnya tidak kompeten. Situasi kian rumit ketika rencana perjodohan mereka yang dirancang oleh Johan, ayah William, terungkap. Meski William menolak keras dan kerap mempermalukan Citta, Johan tidak goyah dengan keputusannya. Di tengah kebencian dan pernikahan paksa ini, akankah ketulusan serta pengorbanan Citta mampu melunakkan hati William?

Grafiti Dinding Hati Bab 1

Pandangan Citta menyapu setiap sudut panggung yang ada di depannya. Panggung itu miliknya. Tata panggung yang minimalis, namun tetap terlihat elegan itu telah dipersiapkan untuk dirinya. Ya, hari ini akan menjadi salah satu hari yang bersejarah dalam hidup Citta. Pada hari ini Citta akan dikukuhkan sebagai guru besar di universitasnya. Selain predikat sebagai guru besar, akan ada "gelar" tambahan yang akan disandang Citta, yaitu sebagai guru besar termuda di seluruh universitas. Dari informasi yang disampaikan oleh panitia acara, rektor akan menyerahkan sebuah cinderamata padanya. Cinderamata yang merupakan simbol dari pengakuan rektor atas pencapaian gemilangnya sebagai guru besar termuda.

Citta memang tidak pernah bermain-main atau bersantai jika berurusan dengan belajar atau menuntut ilmu. Dan buah dari kerja kerasnya itu, ia berhasil meraih tingkat tertinggi dalam jabatan fungsional di dunia akademik. Citta berhasil menjadi guru besar di usia yang terbilang sangat muda, yakni tiga puluh tahun. Dan selepas hari ini, bahkan selepas acara ini, orang-orang akan mengganti sapaan untuknya dengan Prof atau profesor, bukan lagi Bu atau Ibu.

“Senat Universitas memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri.” Suara alto pembawa acara menggugah Citta dari lamunannya. Dengan perlahan ia berdiri dan memosisikan dirinya menghadap lorong yang memisahkan deretan kursi di sayap kanan dan kiri aula pertemuan.

Bersama para undangan yang duduk di deretan paling depan, Citta menghadap ke arah datangnya serombongan orang yang memakai toga dengan gordon berwarna-warni sesuai warna fakultas masing-masing.

Setelah para anggota senat universitas menempati posisinya masing-masing. Citta bersama hadirin kembali duduk sesuai instruksi pembawa acara. Citta kemudian menoleh ke sisi kanannya. Johan Rustenburg, ayah mertua Citta, setia mendampinginya di sana. Sesekali Johan menepuk punggung tangan Citta, mencoba memberikan dukungan berupa semangat begitu dilihatnya Citta gugup atau terkadang gelisah.

Citta tersenyum ke arah Johan sambil bibirnya mengucapkan terima kasih, meskipun tanpa suara. Namun, senyum di wajah Citta langsung memudar tatkala ia melihat kursi di sisi kanan Johan yang kosong. Sedianya kursi di samping kanan Citta adalah untuk William, suaminya. Dan kursi kosong di sisi kanannya lagi adalah untuk Johan. Namun, Johan dengan tanggap berpindah ke kursi untuk William demi memberikan dukungan pada Citta. Menjaga perasaan Citta yang tentunya kecewa karena tidak didampingi suaminya.

Citta menatap hampa panggung di depannya. Otaknya dipenuhi oleh pengandaian-pengandaian tentang William. Seandainya William hadir saat ini dan duduk di sampingnya. Seandainya William menggenggam tangannya, mengalirkan ketenangan melalui sentuhan jemarinya yang lembut. Seandainya William menyaksikan dirinya memberi pidato pengukuhan, tentu lelaki itu akan merasa bangga akan pencapaian istrinya. Sayangnya, dari semua hal yang seandainya dapat dilakukan William saat ini, lelaki itu justru tidak menampakkan batang hidungnya.

“Papa selalu ada di sampingmu, Sayang.” Johan yang tetiba bersuara kontan membuat Citta tersentak karena kaget.

“Terima kasih, Pa.” Citta berkata sambil kedua matanya berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa dukungan dari orang terdekatnya sangat penting saat ini.

“Kira-kira William akan hadir tidak ya, Pa?” Imbuh Citta sambil berkali-kali memperbaiki posisi duduknya. Johan menangkap kegelisahan Citta.

“Jika Will datang sekarang, tentu panitia masih bisa mengizinkannya masuk.” Ujar Citta lirih. Johan iba melihat menantunya. Dalam hati, Johan bertekad akan memarahi William bila mereka berdua bertemu nanti.

“Apakah William marah padaku ya, Pa? Apa ia tidak suka dengan pencapaianku ini?” Citta kembali melontarkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab Johan. Daripada menjawab pertanyaan Citta, Johan memilih untuk meletakkan tangannya di atas tangan Citta. Menepuknya sebentar kemudian menarik tangannya kembali.

“Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Hadirin dimohon berdiri.” Suara pembawa acara sukses menyingkirkan kecamuk pikiran Citta dan Johan. Mereka berdua perlahan berdiri.

Citta berdiri dengan sikap sempurna. Kedua tangan yang terkepal berada di samping tubuh. Pandangannya lurus ke depan dengan sedikit mengangkat dagu. Citta kini terlihat siap menyanyikan lagu kebangsaan, mengikuti suara kompak dari paduan suara mahasiswa.

Sementara Johan juga berdiri dengan sikap sempurna, meskipun ia tidak ikut menyanyikan lagu kebangsaan. Johan memang bukan orang Indonesia. Ia berasal dari Belanda. Namun lebih dari empat puluh tahun bermukim di Indonesia membuat Johan sudah seperti orang Indonesia asli. Satu hal yang membuat Johan tidak bisa disebut sebagai orang Indonesia adalah kewarganegaraannya. Johan tetap memilih menjadi warga negara Belanda daripada Indonesia.

*

"Kepada Profesor Citta Buwana yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar, waktu dan tempat kami persilakan."

Citta beranjak dari duduknya, membungkuk hormat pada Johan, kemudian melangkah menuju podium. Sesampainya di atas podium, Citta mengedarkan pandangannya yang kini lebih leluasa, menyapu seluruh hadirin yang datang. Untuk beberapa detik lamanya Citta menatap pintu masuk yang tertutup rapat. Hatinya berharap pintu itu terbuka dan menampilkan sosok William di baliknya.

Lagi-lagi harapan Citta sirna tatkala menyadari apa yang dipikirkannya adalah mustahil. Dengan memaksakan sebuah senyum getir, pandangan Citta pun beralih pada naskah pidato yang sudah dijilid rapi menyerupai buku.

William Rustenburg. Citta menyebut nama suaminya. Berharap lelaki itu datang sebelum ia mulai berpidato. Untungnya, Citta memanggil nama William dalam hati sehingga tidak satu pun hadirin yang mendengar. Kecuali Johan. Ya, Johan tahu jika Citta sangat menantikan kehadiran William. Sorot mata Johan yang tak henti terarah pada Citta menangkap bulir bening yang tergelincir jatuh dari sepasang kelopak mata Citta. Detik berikutnya, Johan mengepalkan tangannya. Ia membulatkan tekad untuk membuat perhitungan dengan William, putra semata wayangnya.

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Grafiti Dinding Hati

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Before After: Marriage
7.8
Crystal Winter Oberoi selalu bingung dengan sikap dingin dan kasar Austin, kakak laki-lakinya. Padahal, kekejaman Austin hanyalah topeng untuk meredam rasa cinta terlarang yang kian tumbuh. Austin bahkan nekat bertunangan demi mengubur perasaannya, tetapi cinta itu tetap bersemi kuat. Kini, kakak beradik tersebut terjebak dalam pusaran dosa dan dilema batin yang rumit, mengancam hubungan darah serta komitmen yang telah mereka bangun.
Sampul Novel Dandelion, Wish, and Wind
9.1
Kepulangan Yoshino Izumi ke Jepang terjadi hanya karena paksaan sang ayah. Ia sangat membenci tanah airnya sendiri lantaran luka masa lalu akibat pengkhianatan ibu kandungnya. Namun, rasa benci itu perlahan terkikis setelah ia berjumpa dengan seorang gadis misterius berambut perak. Tanpa Izumi sadari, sesosok jiwa dari masa lalunya masih setia menunggu dirinya kembali. Di bawah langit musim panas yang dihiasi dandelion, ia berharap kerinduan mendalam yang tak pernah pudar ini akhirnya bisa tersampaikan.
Sampul Novel Gejolak Hati dan Logika
7.8
Olivia menghadapi dilema besar antara cinta dan trauma masa lalu. Ia mencintai Rendra, bosnya yang kaya, namun logikanya menolak pernikahan. Luka mendalam akibat kematian sang ibu karena KDRT serta kegagalan cinta saudara perempuannya memicu ketakutan hebat akan pengkhianatan. Terlebih, kakak dan adiknya sangat menentang hubungan ini. Di tengah bayang-bayang kelam masa lalu, mampukah Olivia membuka hati, memercayai Rendra, dan memilih kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Pernikahan Di Atas Dendam
9.5
Demi mengusut kematian sang ayah, Alesya bertekad membalas dendam pada Barra. Karena kekurangan bukti, ia mengambil langkah ekstrem dengan menikahi Edward, anak kandung Barra, agar bisa menyelidiki musuhnya dari dekat. Namun, pernikahan tanpa cinta ini membawa dilema baru. Akankah perasaan tulus perlahan tumbuh di antara mereka? Ataukah nyawa Alesya justru terancam habis di tangan Barra sebelum misteri itu terpecahkan?
Sampul Novel TAK MAU DIMADU
9.7
Pernikahan harmonis yang dibangun selama lima tahun kini berada di ambang kehancuran. Badai datang menerpa saat seorang wanita dari masa lalu Ilham tiba-tiba hadir kembali. Kehadiran orang ketiga ini seketika merusak kebahagiaan dan meruntuhkan komitmen suci mereka untuk menua bersama. Pengkhianatan tersebut menghancurkan gairah hidup yang ada. Akankah rumah tangga mereka mampu bertahan di tengah gempuran masa lalu yang merusak segalanya?
Sampul Novel Terjerat Nikmat Sesaat
9.3
Di tengah gemerlap asmara modern, ada satu aturan penting yang wajib ditaati: jangan jatuh cinta agar tidak terjebak dalam kerumitan. Kisah ini menyoroti pergolakan emosi yang mendalam ketika batas kenyamanan fisik dan komitmen sejati kian kabur. Saat hasrat sesaat berubah menjadi dilema batin yang pelik, mampukah akal sehat bertahan menghadapi kuatnya tarikan perasaan, atau justru takdir yang akan menentukan akhir segalanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan