APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Sang Pelakor

Gairah Sang Pelakor

Kehancuran rumah tangga seorang istri bermula dari penemuan kontak asing berlabel si buruk rupa di gawai suaminya. Siapa sangka, julukan kejam itu disematkan sang suami untuk menghina dirinya. Demi menyembunyikan perselingkuhan dengan wanita lain, pria itu tega merendahkan istrinya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan ini membongkar fakta pahit bahwa sang istri tidak lagi dihargai, sementara suaminya justru asyik memadu kasih di belakangnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kejutan Pagi

"Mah, carikan ponselku," teriak suamiku, mas Hanung. Dia pasti kehilangan ponselnya tadi malam setelah terlalu seru memainkan game hingga larut malam, lalu tertidur di ruang tamu.

"Iya pah, sebentar, aku sedang menyuapi Bintang," teriakku dengan tangan belepotan bubur bayi, membantu makan anak keduaku, Bintang Perkasa Wiguna yang berusia delapan bulan.

Aku usapkan tangan penuh bubur tim daging sapi itu ke daster, supaya kembali bersih. Itulah salah satu fungsi daster yang aku pakai di pagi hari. Lagipula aku belum mandi, tidak apalah kotor, nanti aku akan mencucinya hingga bersih.

Itulah salah satu aktifitas pagiku, bagi ibu rumah tangga yang mengurus satu orang suami dan dua orang anak.

Namaku Hesti, berusia tiga puluh lima tahun, setiap hari yang aku kerjakan adalah rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga. Bangun jam empat pagi, tidur paling malam setelah memastikan semuanya sudah terlelap dengan baik, semua itu sudah biasa.

Suamiku mas Hanung Wiguna adalah staff di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang kecantikan. Ya, dia adalah staff akunting  bagian keuangan yang setiap hari dipusingkan dengan angka angka yang menjadi laporannya.

Anak pertamaku bernama Adam  Perkasa Wiguna, usianya enam tahun, sekarang duduk di bangku taman kanak kanak. Anak laki laki berkulit putih bersih, seperti kulit dasarku sebelum terbakar sinar matahari. Maklumlah, sekarang tidak lagi sempat memakai kaus tangan apalagi kaus kaki untuk melindungi tangan mulus dari terpaan sinar matahari.

Sepertinya warna kulitku turun satu tingkat, apalagi sudah tidak lagi sempat mengusapkan pelembab kulit, apalagi pencerah.

Aku dikelilingi tiga orang laki laki yang harus aku urus dengan baik, mulai mereka bangun tidur hingga kembali tidur. Iya, mereka semua adalah laki laki, yang membutuhkan kesabaran dan dedikasi yang luar biasa, itu menurutku, bukan bermaksud membandingkan gender, mungkin karna aku seorang wanita, jadi aku membutuhkan waktu untuk terus belajar bagaimana mengurus mereka dengan sebaik mungkin.

Tidak mengeluh sedikitpun, karna bagiku menjadi istri dan seorang ibu adalah ibadah yang aku percaya nantinya akan berbalas surga oleh Allah, surga terindah, setelah pengabdian seumur hidup yang dilakukan dengan ikhlas.

"Bintang, sebentar ya nak, mamah cari ponsel papah dulu," ucapku pada Bintang, walaupun dia belum bisa bicara, namun aku tahu betul dia memahami apa yang aku ucapkan. Aku menerapkan pola asuh komunikatif. Sering mengajaknya berbicara, bercerita mengenai banyak hal, yang mungkin juga belum dia pahami.

"Mamah, susuku," ucap Adam yang merengek karna ada tumpahan susu di dekat piring makannya.

"Iya sebentar ya nak, pakai lap yang ada di sebelahmu," ucapku pada Adam yang duduk di meja makan, menyantap sarapannya, menu sederhana, nasi putih dengan telur dadar setengah matang yang merupakan menu kesukaannya. Juga segelas susu rasa Vanila, dia akan menghabiskan itu semua sebelum mobil jemputan sekolah datang.

Aku segera mencari ponsel suamiku karna dia akan segera berangkat ke kantor. Aku cari di tempat biasa, sofa kesayangannya yang seolah menjadi tempat bertapa. Dia bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk bermain dengan ponselnya. Entah apa yang dimainkannya, mungkin game online, atau membuka buka media sosial. Aku tidak ingin tahu atau mencari tahu, karna itu sudah menjadi ranah pribadinya.

Aku masukkan tanganku ke semua sisi sofa, ternyata tidak ada. Aku mencarinya, dengan teliti, di semua area ruang tamu. Nihil, ponsel itu tidak ada. Aku terdiam sejenak, memikirkan di mana kira kira ponsel itu berada.

"Ah, kamar tidur," ucapku. Aku segera berlari menuju ke kamar tidur, mencari ponsel berwarna hitam dengan pelindung yang juga berwarna hitam.

Di atas tempat tidur, di bawah bantal, di balik selimut yang masih berantakan karna aku belum sempat merapikannya. Di atas meja, bahkan di dalam lemari, aku tidak menemukan ponsel itu. Ponsel itu seolah lenyap, tidak terlihat dimanapun.

"Mah, Bintang nangis, Adam juga mencarimu, ayo cepat," teriak mas Hanung dari luar kamar tidur.

"Iya sebentar, masih aku cari," teriakku.

Mas Hanung terlihat masih sibuk berkaca, membenahkan sabuk hitam, lalu dasi berwarna biru garis garis yang dia kenakan. Di depan kaca besar yang ada di ruang tengah, ah dia bisa berdiri di sana mungkin sekitar sepuluh menit sebelum memastikan semuanya siap dan sempurna.

Kami tinggal di perumahan dengan dua kamar tidur, lumayan lah, cukup besar untuk kami tinggali ber empat. Apalagi kami baru pindah sekitar setahun, meninggalkan rumah mertuaku, mandiri di rumah sendiri, mengurusnya sendiri, walau sangat repot tapi aku bersyukur, karna bisa membangun keluargaku sendiri, dengan caraku sendiri.

Hidup tanpa asisten rumah tangga, mengalah untuk tidak bekerja supaya kedua anakku tidak kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Masih bisa merasakan diurus dengan sebenar benarnya, melihat wajah orang tuanya, melewati masa kecil dengan bahagia.

Itu sudah kami sepakati, mencari nafkah adalah tugasnya, mengurus rumah dengan seluruh isinya adalah tugasku. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak melakukan apa apa, karna dari ujung rambut hingga kaki, dan juga semua hal yang mereka butuhkan adalah menjadi tanggung jawabku.

Aku tidak ingin membuang waktu, cara cepat menemukan ponsel adalah dengan cara menghubungi nomornya. Aku segera meraih ponselku, ponsel dengan pelindung bergambar foto keluarga, ya itu sebuah wujud kebahagiaanku karna meniliki suami yang baik, juga dua anak laki laki yang menggemaskan.

Aku mencari kontak suamiku, lalu melakukan panggilan. Dengan serius aku mencari suara yang timbul dari ponsel suamiku, suara dering.

Ya, aku sudah mendengar bunyi ponsel itu. Dengan sigap segera berlari untuk menemukannya.

Aku membuka pintu kamar mandi, rupanya ponsel itu ada di dalam kamar mandi, dia letakkan di atas rak tempat sabun.

"Kebiasaan, kenapa tidak sekalian mengajaknya mandi (ponsel)," gerutuku.

Aku hendak mematikan ponselku, namun tiba tiba mataku dikagetkan dengan sebuah nama yang muncul di layar ponsel suamiku yang sekarang sudah ada digenggamanku.

"Si buruk rupa."

"Deg," bunyi jantungku yang seakan mendapat hantaman benda keras.

Tiba tiba kepalaku merasakan sedikit pusing, ada kunang kunang yang menyergap, namun aku berusaha tetap sadar. Aku menggoyang goyangkan kepala, apa benar aku akan pingsan? ah untuk apa, ada dua anak yang menungguku, mereka harus aku urus.

Apa maksudnya? dia menamai kontakku dengan si buruk rupa? benarkah itu, sungguh tidak bisa aku percaya.

Aku menamainya dengan sebutan suamiku, aku sangat menghargai dia sebagai suami, juga ayah dari anak anak yang aku lahirkan.

Apa aku berlebihan jika memiliki perasaan yang tiba tiba menyesakkan ini? hanya sebuah nama, ya, nama yang mengejutkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dan ternyata cinta
9.4
Pertemuan tak terduga di atas pesawat mempertemukan Vita, seorang pramugari, dengan Andrian yang merupakan prajurit TNI. Andrian langsung jatuh hati pada pandangan pertama saat bertolak ke Jawa. Hubungan mereka berjalan lancar hingga berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, badai datang menerpa rumah tangga mereka ketika Vita tiba-tiba mengajukan gugatan cerai. Kini, Andrian terjebak dalam dilema besar apakah harus menyetujui perceraian tersebut atau tidak.
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova
8.5
Buku harian lama yang tak sengaja ditemukan kembali membawa Naelsa larut dalam kenangan masa sekolah. Lembar demi lembar catatan itu membangkitkan ingatan manis tentang cinta monyetnya bersama seorang teman sekelas. Kisah romansa masa lalu yang penuh emosi ini memiliki sebutan unik dari Myna, sahabat dekatnya, yang menamainya Macaca Lova. Naelsa kini harus menelusuri kembali lembaran memori indah yang sempat terlupakan dalam hidupnya.
Sampul Novel Ena-Ena 21+
8.4
Antologi kisah romansa dewasa ini menghadirkan kumpulan cerita pendek yang menyoroti lika-liku hubungan penuh gairah. Pembaca akan diajak menyelami dinamika cinta penuh kuasa dari para CEO dan pengusaha, hingga polemik emosional yang dihadapi janda, duda, serta konflik mertua-menantu. Menampilkan latar profesi beragam mulai dari dokter, tentara, hingga satpam, setiap narasi dikemas memikat untuk memenuhi fantasi Anda akan kisah cinta yang mendalam dan unik.
Sampul Novel Es Batu
8.1
Relva Arilia, gadis tulus yang jenaka, menaruh hati pada Steven Grellyn. Sayangnya, pemuda sedingin es itu terus mengabaikannya. Walau kerap menghadapi penolakan, keuletan Relva lambat laun mengikis sikap kaku Steven yang semula enggan membuka diri. Perjalanan cinta mereka tidaklah mudah, melainkan sebuah perjuangan emosional yang sarat rintangan serta air mata. Demi masa depan bersama, keduanya harus meredam ego agar kehangatan kasih dapat mencairkan kebekuan hati dan mengubah takdir mereka.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, seorang penulis yang kehilangan inspirasi, memutuskan pergi ke kota kecil yang selalu diguyur hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, seorang barista misterius dengan rahasia besar. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Naya mengetahui bahwa Arga sebenarnya adalah penulis terkenal yang bersembunyi dari skandal masa lalunya. Kini, Naya dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar identitas asli Arga demi kebenaran, atau melindungi rahasia pria yang dicintainya.
Sampul Novel TERJEBAK GAIRAH DUDA
7.8
Sena Aurellia, mahasiswi berusia dua puluh tahun, dibuat geram oleh ulah Tristan. Tetangga dudanya yang berumur tiga puluh tujuh tahun itu mendadak mengajaknya menikah. Meski Tristan tampak awet muda, Sena tetap menganggapnya pria mesum yang tak tahu diri. Tinggal sendirian di rumah bibinya, Sena selalu berupaya menghindari godaan usil Tristan. Hubungan mereka pun diwarnai perseteruan tiada henti layaknya kucing dan tikus. Namun, sebuah malam tak terduga akhirnya mengubah segalanya.