APKDock Logo
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan

Jejak Cinta di Kota Hujan

9.7 / 10.0
Naya, seorang penulis yang kehilangan inspirasi, memutuskan pergi ke kota kecil yang selalu diguyur hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, seorang barista misterius dengan rahasia besar. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Naya mengetahui bahwa Arga sebenarnya adalah penulis terkenal yang bersembunyi dari skandal masa lalunya. Kini, Naya dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar identitas asli Arga demi kebenaran, atau melindungi rahasia pria yang dicintainya.

Jejak Cinta di Kota Hujan Bab 1

Naya Priatama menatap keluar jendela kecil dari apartemen yang baru ia sewa di pinggiran kota kecil bernama Windfall. Kota itu terkenal dengan hujannya yang tiada henti, seolah awan kelabu tak pernah mau beranjak dari langit. Hujan gerimis yang jatuh dengan ritme lembut mengiringi pikirannya yang sedang buntu. Setiap tetes air yang menimpa kaca jendela seakan berbisik, menantang imajinasinya yang sudah lama terjebak dalam kebuntuan.

“Apa yang sedang kucari di sini?” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Naya datang ke kota ini dengan harapan besar. Setelah kesuksesan novel debutnya, ia merasa tekanan untuk menghasilkan karya kedua yang lebih baik. Namun, seiring waktu, ide-ide yang dulu mengalir bebas kini seakan terhenti. Inspirasi yang ia harapkan akan muncul dari tempat baru ini tampak menghindarinya, seolah menguji ketabahan dan kemampuannya sebagai seorang penulis.

Apartemennya sederhana—hanya terdiri dari ruang tamu kecil, dapur yang terhubung dengan ruang makan, dan satu kamar tidur. Tidak banyak yang bisa ia lakukan di tempat itu selain menulis, dan itulah yang ia inginkan. Tidak ada gangguan, tidak ada keramaian, hanya dia dan laptopnya.

Namun, saat ini, bahkan laptopnya terasa seperti musuh. Layar putih kosong yang menunggu untuk diisi kata-kata hanya membuat Naya semakin frustasi. Setiap kali ia mencoba mengetik, kata-kata yang muncul terasa tidak memadai, tidak cukup kuat untuk melanjutkan ceritanya.

Naya menarik napas panjang, mencoba meredakan kekesalannya. Ia memutuskan untuk keluar, mencari udara segar, atau mungkin, inspirasi yang selama ini menghindar. Setelah mengenakan jaket tebal dan membawa payung, ia melangkah keluar dari apartemen menuju pusat kota yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki.

Windfall bukanlah kota besar, tetapi memiliki pesona yang unik. Jalan-jalan kecil yang berkelok, deretan toko-toko kuno dengan papan nama yang sudah mulai pudar, dan penduduk lokal yang ramah meskipun tampak sedikit tertutup. Naya merasa ada sesuatu yang istimewa di tempat ini—sebuah energi yang sulit dijelaskan, seolah setiap sudut kota menyimpan cerita tersendiri.

Saat hujan semakin deras, Naya mempercepat langkahnya. Ia menemukan dirinya berhenti di depan sebuah kafe kecil yang tampak hangat dan mengundang. Papan kayu di depan pintu bertuliskan “Café Aria” dengan huruf kursif yang anggun. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kafe dan disambut dengan aroma kopi yang menenangkan.

Suasana di dalam kafe sangat kontras dengan cuaca di luar. Dindingnya dihiasi dengan rak-rak penuh buku, musik jazz lembut mengalun di latar belakang, dan beberapa pelanggan duduk menikmati minuman mereka sambil membaca atau berbincang pelan. Tempat ini langsung memberikan Naya perasaan nyaman yang sudah lama ia cari.

Naya melangkah menuju meja kosong di dekat jendela, tempat ia bisa melihat hujan yang terus turun di luar. Ia baru saja duduk ketika seorang pria mendekatinya. Dia mengenakan seragam barista berwarna hitam dengan celemek cokelat muda, rambutnya yang hitam pekat sedikit berantakan, namun menambah pesonanya. Matanya tajam, tetapi ada sesuatu yang misterius dalam tatapannya.

“Selamat sore,” sapanya dengan suara rendah dan tenang. “Ada yang bisa saya bantu?”

Naya menatapnya sejenak sebelum tersadar dari lamunannya. “Oh, selamat sore. Saya akan pesan latte, tolong.”

Barista itu mengangguk pelan. “Baik, satu latte. Apakah Anda ingin menambahkan sesuatu yang lain?”

Naya menggeleng. “Tidak, itu saja. Terima kasih.”

Sebelum pria itu berbalik, Naya merasakan dorongan untuk bertanya lebih jauh. Namun, ia menahan diri dan hanya mengangguk sopan. Pria itu berjalan kembali ke barista counter, meninggalkan Naya dengan pikirannya.

Ada sesuatu yang menarik tentang pria itu—sesuatu yang membuat Naya ingin tahu lebih banyak. Tapi apa? Mungkin cara dia membawa dirinya, atau mungkin tatapannya yang dalam seolah menyimpan cerita yang tak terkatakan.

Sambil menunggu pesanannya, Naya mencoba membuka laptopnya dan menulis beberapa kalimat. Namun, pikirannya terus mengembara pada barista misterius itu. Apakah dia penduduk asli di kota ini? Atau mungkin dia juga seseorang yang datang ke sini untuk melarikan diri dari sesuatu, seperti dirinya?

Tak lama kemudian, latte pesanannya tiba, diantarkan oleh barista yang sama. Dia meletakkan cangkir di atas meja dengan hati-hati, lalu berkata, “Semoga Anda menikmati minuman ini.”

Naya mengangguk dan memberikan senyum kecil. “Terima kasih.”

Pria itu kembali ke posisinya di belakang counter, tetapi Naya masih merasa ada sesuatu yang aneh. Selama sisa sore itu, Naya duduk di kafe, mencoba menulis dan mengamati sekelilingnya. Namun, perhatian utamanya tetap tertuju pada barista yang sesekali melirik ke arah Naya, seolah menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.

Waktu berlalu dengan cepat. Naya akhirnya memutuskan untuk pulang ketika hujan mulai reda sedikit. Ia menyimpan laptopnya dan berdiri, bersiap untuk meninggalkan kafe. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah keluar, sesuatu menarik perhatiannya—sebuah buku catatan tebal berwarna hitam yang tergeletak di atas meja di belakang counter. Sebagian kecil dari halaman dalamnya terlihat, seolah-olah sengaja dibiarkan terbuka.

Naya merasa ada sesuatu yang aneh pada buku itu. Mungkin karena posisinya yang terlalu mencolok, atau mungkin karena instingnya sebagai penulis yang membuatnya penasaran. Tanpa berpikir panjang, ia mendekati counter dan memutuskan untuk berbicara dengan barista itu.

“Maaf,” panggilnya pelan. Pria itu menoleh, sejenak terlihat kaget dengan keberadaan Naya yang tiba-tiba di dekatnya.

“Ya?” jawabnya.

“Saya tidak bisa menahan rasa penasaran saya,” kata Naya sambil menunjuk ke buku catatan hitam itu. “Apakah itu milik Anda?”

Pria itu terlihat sedikit ragu, namun akhirnya ia mengangguk. “Ya, itu buku catatan saya. Mengapa?”

Naya tersenyum sedikit malu. “Saya hanya penasaran. Sebagai penulis, saya sering membawa buku catatan sendiri untuk mencatat ide-ide yang datang tiba-tiba. Jadi, saya merasa terhubung setiap kali melihat seseorang membawa buku catatan.”

Pria itu tertawa kecil, sebuah suara yang jarang didengar Naya sepanjang pertemuan mereka. “Begitukah? Menulis adalah sebuah seni yang membutuhkan dedikasi, dan saya rasa kita semua yang terlibat di dalamnya memiliki rasa persaudaraan yang sama.”

Naya mengangguk setuju. “Benar sekali. Saya sering merasa bahwa hanya dengan menulis, saya bisa benar-benar mengekspresikan diri.”

Percakapan mereka mulai mengalir lebih lancar, dan Naya merasa semakin tertarik pada pria ini. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Naya, dan pria itu akhirnya menyebutkan namanya, Arga. Namun, ada sesuatu dalam cara Arga berbicara yang membuat Naya merasa bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Cara dia memilih kata-katanya, bagaimana dia menghindari pertanyaan yang terlalu pribadi, semua itu menambah rasa misteri yang sudah melingkupi dirinya.

Sebelum Naya pergi, Arga tiba-tiba berkata, “Jika Anda tertarik, Anda bisa datang ke sini lagi. Mungkin kita bisa berbagi ide-ide menulis.”

Naya terkejut dengan tawaran itu, tetapi ia menerimanya dengan senang hati. “Tentu saja, saya akan sangat senang. Terima kasih.”

Sepanjang perjalanan pulang, Naya merasa ada sesuatu yang berubah. Pertemuannya dengan Arga memberikan perasaan yang baru, seperti lembaran cerita yang siap untuk ditulis. Namun, di balik semua itu, ada rasa penasaran yang tak bisa diabaikan—siapakah Arga sebenarnya? Dan apa yang ia sembunyikan?

Saat Naya tiba di apartemennya dan mulai menulis, pikirannya terus kembali pada sosok Arga. Ia mencoba menggali lebih dalam apa yang ia rasakan, namun setiap kali ia merasa hampir menemukan jawabannya, pikiran itu kembali melesat, menyisakan lebih banyak pertanyaan.

Pagi berikutnya, Naya kembali ke Café Aria, berharap bisa bertemu dengan Arga lagi. Namun, kali ini suasana di kafe berbeda. Tidak ada Arga, hanya seorang barista lain yang tampak asing bagi Naya.

Naya merasa kecewa, namun ia memutuskan untuk tetap tinggal dan menulis. Setelah beberapa jam, ia memutuskan untuk bertanya kepada barista yang bekerja di sana. “Maaf, apakah Arga hari ini tidak masuk

kerja?”

Barista itu mengerutkan kening, tampak bingung. “Arga? Saya tidak yakin siapa yang Anda maksud.”

Naya terkejut. “Barista yang bekerja di sini kemarin, dia yang melayani saya.”

Barista itu tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Maaf, tapi saya sudah bekerja di sini sejak pagi, dan saya tidak melihat ada orang bernama Arga yang bekerja di sini.”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Jejak Cinta di Kota Hujan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
9.6
Hidup Selena sebagai ibu rumah tangga berubah total setelah Haris, bos suaminya, terpesona oleh penampilannya yang sederhana saat berkunjung. Haris menawarkan posisi sekretaris pribadi yang menjadi jalan keluar Selena dari kekangan rumah tangga. Namun, pekerjaan ini justru menyeretnya ke dalam perselingkuhan panas. Demi ambisi naik jabatan, sang suami memilih mengabaikan pengkhianatan tersebut. Kini, mereka semua terjebak dalam pusaran gairah dan tuntutan moral yang mengancam pernikahan mereka.
Sampul Novel Cinta Disisa Serpihan Hati
8.4
Niat baik Dania menyelamatkan Ilham dari kejaran orang asing berujung salah paham warga yang memaksa mereka menikah siri. Di tengah perjalanan menjelajahi berbagai daerah, benih cinta perlahan tumbuh di antara keduanya. Namun, nyawa Ilham terancam oleh konspirasi jahat ibu dan saudara tirinya yang mengincar warisan bisnis hotel sang ayah. Kini, Dania harus terus mendampingi sang pewaris dalam pelarian penuh bahaya untuk melindungi nyawa dan cinta mereka.
Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan
9.2
Diceraikan oleh Raka, seorang model ternama yang menganggapnya beban karier, membuat hidup Asha hancur seketika. Pernikahan mereka yang berjalan tiga tahun harus kandas begitu saja. Di tengah kepedihan mendalam, Asha dipertemukan dengan Rafael Adiwangsa. Duda kaya raya yang merupakan wali murid di tempatnya mengajar ini hadir membawa ketulusan baru. Kini, Asha yang merasa tidak lagi memiliki apa-apa harus memilih: menutup diri atau membuka hati untuk cinta sang konglomerat.
Sampul Novel Dinikahi Calon Kakak Ipar
9.0
Hari pernikahan Elvira berubah menjadi duka saat calon suaminya tewas dalam kecelakaan. Ia pun terpaksa menikahi kakak mendiang kekasihnya yang berwatak kaku, Arsen. Di tengah peliknya pernikahan baru mereka, Elvira menyadari bahwa Arsen adalah alasan sesungguhnya ia jatuh cinta dahulu. Kini, ia bertekad mengajari suaminya cara mencintai. Kisah ini juga mengiringi romansa beda kasta antara sang asisten, Tio, dan sekretaris bernama Mona. Akankah cinta mereka berakhir bahagia?
Sampul Novel Obsesi Kencan Buta Sang Pewaris
8.0
Niat Livia menolong sahabatnya dengan menggantikan posisi di kencan buta malah berujung petaka. Kepribadiannya yang ceria justru memicu obsesi mendalam pada diri Damien Remington, sang pewaris tunggal konglomerat yang dingin dan misterius. Keadaan kian pelik ketika Livia menghilangkan jam tangan mewah milik Damien. Kini ia terseret dalam jerat kekuasaan sang miliarder, berjuang keras melepaskan diri dari kungkungan obsesi Damien yang kian gelap dan mengikatnya.
Sampul Novel THE  HERA'S KING
8.1
King, pria berumur 27 tahun, awalnya sangat kesal dengan keluguan Hera. Sifat gadis baik itu selalu memicu emosinya hingga memunculkan rasa benci. Namun, seiring waktu, kebencian tersebut justru terkikis dan berubah menjadi cinta yang begitu dalam. Kini, King harus berjuang keras demi memenangkan hati sang gadis polos. Mampukah ia menumbuhkan rasa cinta yang sama di hati Hera? Ikuti kisah perjuangan romantis mereka di sini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan