APKDock Logo
Sampul Novel Gairah Sang Pelakor

Gairah Sang Pelakor

8.9 / 10.0
Kehancuran rumah tangga seorang istri bermula dari penemuan kontak asing berlabel si buruk rupa di gawai suaminya. Siapa sangka, julukan kejam itu disematkan sang suami untuk menghina dirinya. Demi menyembunyikan perselingkuhan dengan wanita lain, pria itu tega merendahkan istrinya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan ini membongkar fakta pahit bahwa sang istri tidak lagi dihargai, sementara suaminya justru asyik memadu kasih di belakangnya.

Gairah Sang Pelakor Bab 1

Kejutan Pagi

"Mah, carikan ponselku," teriak suamiku, mas Hanung. Dia pasti kehilangan ponselnya tadi malam setelah terlalu seru memainkan game hingga larut malam, lalu tertidur di ruang tamu.

"Iya pah, sebentar, aku sedang menyuapi Bintang," teriakku dengan tangan belepotan bubur bayi, membantu makan anak keduaku, Bintang Perkasa Wiguna yang berusia delapan bulan.

Aku usapkan tangan penuh bubur tim daging sapi itu ke daster, supaya kembali bersih. Itulah salah satu fungsi daster yang aku pakai di pagi hari. Lagipula aku belum mandi, tidak apalah kotor, nanti aku akan mencucinya hingga bersih.

Itulah salah satu aktifitas pagiku, bagi ibu rumah tangga yang mengurus satu orang suami dan dua orang anak.

Namaku Hesti, berusia tiga puluh lima tahun, setiap hari yang aku kerjakan adalah rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga. Bangun jam empat pagi, tidur paling malam setelah memastikan semuanya sudah terlelap dengan baik, semua itu sudah biasa.

Suamiku mas Hanung Wiguna adalah staff di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang kecantikan. Ya, dia adalah staff akunting  bagian keuangan yang setiap hari dipusingkan dengan angka angka yang menjadi laporannya.

Anak pertamaku bernama Adam  Perkasa Wiguna, usianya enam tahun, sekarang duduk di bangku taman kanak kanak. Anak laki laki berkulit putih bersih, seperti kulit dasarku sebelum terbakar sinar matahari. Maklumlah, sekarang tidak lagi sempat memakai kaus tangan apalagi kaus kaki untuk melindungi tangan mulus dari terpaan sinar matahari.

Sepertinya warna kulitku turun satu tingkat, apalagi sudah tidak lagi sempat mengusapkan pelembab kulit, apalagi pencerah.

Aku dikelilingi tiga orang laki laki yang harus aku urus dengan baik, mulai mereka bangun tidur hingga kembali tidur. Iya, mereka semua adalah laki laki, yang membutuhkan kesabaran dan dedikasi yang luar biasa, itu menurutku, bukan bermaksud membandingkan gender, mungkin karna aku seorang wanita, jadi aku membutuhkan waktu untuk terus belajar bagaimana mengurus mereka dengan sebaik mungkin.

Tidak mengeluh sedikitpun, karna bagiku menjadi istri dan seorang ibu adalah ibadah yang aku percaya nantinya akan berbalas surga oleh Allah, surga terindah, setelah pengabdian seumur hidup yang dilakukan dengan ikhlas.

"Bintang, sebentar ya nak, mamah cari ponsel papah dulu," ucapku pada Bintang, walaupun dia belum bisa bicara, namun aku tahu betul dia memahami apa yang aku ucapkan. Aku menerapkan pola asuh komunikatif. Sering mengajaknya berbicara, bercerita mengenai banyak hal, yang mungkin juga belum dia pahami.

"Mamah, susuku," ucap Adam yang merengek karna ada tumpahan susu di dekat piring makannya.

"Iya sebentar ya nak, pakai lap yang ada di sebelahmu," ucapku pada Adam yang duduk di meja makan, menyantap sarapannya, menu sederhana, nasi putih dengan telur dadar setengah matang yang merupakan menu kesukaannya. Juga segelas susu rasa Vanila, dia akan menghabiskan itu semua sebelum mobil jemputan sekolah datang.

Aku segera mencari ponsel suamiku karna dia akan segera berangkat ke kantor. Aku cari di tempat biasa, sofa kesayangannya yang seolah menjadi tempat bertapa. Dia bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk bermain dengan ponselnya. Entah apa yang dimainkannya, mungkin game online, atau membuka buka media sosial. Aku tidak ingin tahu atau mencari tahu, karna itu sudah menjadi ranah pribadinya.

Aku masukkan tanganku ke semua sisi sofa, ternyata tidak ada. Aku mencarinya, dengan teliti, di semua area ruang tamu. Nihil, ponsel itu tidak ada. Aku terdiam sejenak, memikirkan di mana kira kira ponsel itu berada.

"Ah, kamar tidur," ucapku. Aku segera berlari menuju ke kamar tidur, mencari ponsel berwarna hitam dengan pelindung yang juga berwarna hitam.

Di atas tempat tidur, di bawah bantal, di balik selimut yang masih berantakan karna aku belum sempat merapikannya. Di atas meja, bahkan di dalam lemari, aku tidak menemukan ponsel itu. Ponsel itu seolah lenyap, tidak terlihat dimanapun.

"Mah, Bintang nangis, Adam juga mencarimu, ayo cepat," teriak mas Hanung dari luar kamar tidur.

"Iya sebentar, masih aku cari," teriakku.

Mas Hanung terlihat masih sibuk berkaca, membenahkan sabuk hitam, lalu dasi berwarna biru garis garis yang dia kenakan. Di depan kaca besar yang ada di ruang tengah, ah dia bisa berdiri di sana mungkin sekitar sepuluh menit sebelum memastikan semuanya siap dan sempurna.

Kami tinggal di perumahan dengan dua kamar tidur, lumayan lah, cukup besar untuk kami tinggali ber empat. Apalagi kami baru pindah sekitar setahun, meninggalkan rumah mertuaku, mandiri di rumah sendiri, mengurusnya sendiri, walau sangat repot tapi aku bersyukur, karna bisa membangun keluargaku sendiri, dengan caraku sendiri.

Hidup tanpa asisten rumah tangga, mengalah untuk tidak bekerja supaya kedua anakku tidak kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Masih bisa merasakan diurus dengan sebenar benarnya, melihat wajah orang tuanya, melewati masa kecil dengan bahagia.

Itu sudah kami sepakati, mencari nafkah adalah tugasnya, mengurus rumah dengan seluruh isinya adalah tugasku. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak melakukan apa apa, karna dari ujung rambut hingga kaki, dan juga semua hal yang mereka butuhkan adalah menjadi tanggung jawabku.

Aku tidak ingin membuang waktu, cara cepat menemukan ponsel adalah dengan cara menghubungi nomornya. Aku segera meraih ponselku, ponsel dengan pelindung bergambar foto keluarga, ya itu sebuah wujud kebahagiaanku karna meniliki suami yang baik, juga dua anak laki laki yang menggemaskan.

Aku mencari kontak suamiku, lalu melakukan panggilan. Dengan serius aku mencari suara yang timbul dari ponsel suamiku, suara dering.

Ya, aku sudah mendengar bunyi ponsel itu. Dengan sigap segera berlari untuk menemukannya.

Aku membuka pintu kamar mandi, rupanya ponsel itu ada di dalam kamar mandi, dia letakkan di atas rak tempat sabun.

"Kebiasaan, kenapa tidak sekalian mengajaknya mandi (ponsel)," gerutuku.

Aku hendak mematikan ponselku, namun tiba tiba mataku dikagetkan dengan sebuah nama yang muncul di layar ponsel suamiku yang sekarang sudah ada digenggamanku.

"Si buruk rupa."

"Deg," bunyi jantungku yang seakan mendapat hantaman benda keras.

Tiba tiba kepalaku merasakan sedikit pusing, ada kunang kunang yang menyergap, namun aku berusaha tetap sadar. Aku menggoyang goyangkan kepala, apa benar aku akan pingsan? ah untuk apa, ada dua anak yang menungguku, mereka harus aku urus.

Apa maksudnya? dia menamai kontakku dengan si buruk rupa? benarkah itu, sungguh tidak bisa aku percaya.

Aku menamainya dengan sebutan suamiku, aku sangat menghargai dia sebagai suami, juga ayah dari anak anak yang aku lahirkan.

Apa aku berlebihan jika memiliki perasaan yang tiba tiba menyesakkan ini? hanya sebuah nama, ya, nama yang mengejutkan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Gairah Sang Pelakor

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dinikahi Om Bujang
9.4
Terinspirasi dari kisah nyata, novel ini membuktikan bahwa usia dan status sosial bukanlah kunci kebahagiaan pernikahan, melainkan kejujuran serta sikap saling melengkapi. Kisahnya menyoroti kesabaran seorang suami yang membimbing istrinya kembali mendekatkan diri kepada Islam. Meski masa lalu sang istri kerap menuai cemoohan dari pihak keluarga, sang suami tetap setia mendampingi dan merawatnya saat sakit. Inilah bukti cinta tulus yang mengutamakan kesabaran serta perjuangan spiritual.
Sampul Novel Fatal
9.2
Esther harus membayar mahal kesalahan fatal di masa lalunya yang telah merenggut nyawa seseorang. Demi menebus dosa besar tersebut, ia terpaksa menjalani pernikahan penuh penderitaan bersama Felix. Sebagai kakak dari korban yang tewas, Felix diselimuti amarah dan bertekad menggunakan ikatan pernikahan ini sebagai alat balas dendam. Esther pun hanya bisa pasrah menerima segala siksaan dari suaminya di bawah bayang-bayang penyesalan mendalam.
Sampul Novel Godaan kakak iparku
9.5
Aku terjebak dalam situasi rumit akibat sikap posesif kakak iparku yang bersikap layaknya kekasih. Perhatiannya kepadaku bahkan melampaui kepedulian terhadap istrinya sendiri. Di balik perlakuan tidak wajar dan melampaui batas ini, ada sebuah rahasia gelap yang menyelimuti hubungan kami. Kini, aku berada di tengah misteri besar yang memicu keraguan mendalam untuk memercayai kenyataan yang ada.
Sampul Novel Heartache
9.4
Sembilan tahun tanpa kepastian membuat Renjana lelah, terutama di usia 27 tahun saat tekanan sosial untuk menikah kian mendesak. Di tengah keputusasaan terhadap kekasihnya, pihak keluarga berinisiatif menjodohkannya dengan pria pilihan mereka. Kini, Renjana dihadapkan pada pilihan sulit: akankah ia membuka hati pada cinta baru yang hadir perlahan karena desakan keluarga, atau tetap bertahan menanti kepastian dari kekasih lamanya?
Sampul Novel PANGERAN AGUNG
9.6
Kerajaan Mandala dipimpin oleh sosok luar biasa, Pangeran Agung. Penguasa ini sangat disegani berkat keadilan dan kearifannya dalam memimpin rakyat. Saat bahaya mengancam, keberaniannya yang kokoh selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah ini menyoroti perjuangan sang raja bijaksana dalam mempertahankan kedamaian negerinya, mengandalkan keteguhan jiwa serta dedikasi tanpa batas untuk menghadapi segala rintangan.
Sampul Novel Pendekar Petualang Cinta
8.9
Anjasmara, putra selir dari Kerajaan Galuh yang rupawan, memulai pengembaraan sebagai pendekar untuk memenuhi perintah ibunya: mencari seorang wanita tangguh yang sulit ditaklukkan sebagai cinta sejati. Alih-alih demikian, ketampanannya malah memikat banyak gadis. Perjalanan asmaranya kian rumit saat ia terseret ke dalam pusaran konflik dunia persilatan yang mematikan sekaligus menguji kekuatannya. Akankah ia berhasil menemukan belahan jiwanya di tengah ancaman bahaya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan