APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Imigran

Gadis Imigran

Demi membiayai ayah dan adiknya, Iris Barcova terpaksa menempuh jalan kelam sebagai PSK. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius dari kalangan mafia menawarkan pernikahan kontrak demi pengobatan ayahnya. Di sisi lain, ada seorang dokter tulus yang mencintainya, membuat Iris terjebak dilema. Namun, kenyataan pahit perlahan terungkap bahwa pria penyelamatnya itu diduga merupakan dalang utama di balik segala tragedi yang menimpa hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Iris menemani ayahnya ke klinik terdekat. Sambil menunggu proses cuci darah selesai, Iris menghabiskan waktu membaca buku.

Biasanya, proses pengobatan tersebut akan memakan waktu sekitar tiga jam lebih. Iris harus merogoh sakunya untuk cuci darah ayahnya sekitar lima ratus sampai tujuh ratus dolar, dan itu harus dilakukan tiga sampai empat kali seminggu. Kondisi ayahnya sangat buruk sementara mereka tidak memiliki asuransi kesehatan.

Penghasilan Iris semalam digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak murah. Dia bahkan harus membayar sewa apartemen yang sudah menunggak tiga bulan dan selalu ditagih setiap minggu. Pemiliknya sudah mulai mengeluarkan ancaman, Iris pun terpaksa membayar empat bulan sekaligus, total uang yang harus ia keluarkan lebih dari tiga ribu dolar.

Dirinya juga memberikan sejumlah uang sekolah untuk Jan yang jumlahnya tidak sedikit. Dalam sehari, Iris telah menghabiskan tujuh ribu dolar, belum termasuk biaya pengobatan.

Begitulah nasibnya. Tidak peduli berapa banyak uang yang dia hasilkan, ayah dan saudara laki-lakinya selalu membutuhkan uang. Dia tidak bisa berhenti dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur begitu saja. Siapa yang akan menghasilkan uang demikian banyak di antara mereka bertiga?

Meski menyakitkan, Iris mampu bertahan setiap kali melihat ayahnya dan Jan.

Dalam renungan malamnya, Iris terkadang hanya bisa merintih karena beban itu terasa menghimpit. Tanggung jawab yang ia pikul begitu besar.

Wanita itu masih bisa dengan jelas mengingat, hari di mana ia menghabiskan malam pertama dan melepas kesuciannya. Iris tidak punya pilihan lain dan harus menjual keperawanannya demi dua ribu dollar!

Rasa sakit karena dipaksa untuk melayani pria seusia ayahnya, membuat Iris merasa jijik dengan dirinya sendiri saat itu.

Ini bukan hidup yang dia inginkan. Iris yang memiliki suara emas selalu berharap bisa memulai karir di dunia musik dan tidak menjual tubuhnya. Tetapi pada usia lima belas tahun, ayahnya tidak lagi dapat bekerja, dan ibu mereka meninggal.

Mereka perlu makan dan membayar sewa atau menjadi tunawisma akan menjadi akhir dari perjalanan hidup mereka. Tidak ada jalan untuk kembali ke negara mereka di Slowakia, karena tidak ada lagi yang tersisa di tempat itu!

Iris berhenti membaca dan mengambil napas dalam-dalam dengan hati yang berdenyut nyeri. Tujuh tahun menjalani profesi yang membuatnya tersiksa, Iris mulai ingin terlepas dari semua beban tersebut.

Adakah jalan keluar untuknya?

***

"Iris Barcova!" panggil Juarez.

Wanita yang baru saja tiba sore itu langsung datang dan masuk ke kantornya. Direktur utama hotel tempat dia bekerja mengundangnya untuk duduk.

"Ada keluhan dari Marten Hernandez, pelangganmu tadi malam!" ucap Juarez dengan tatapan mata tajam.

Iris tersentak dan firasatnya mulai tidak enak. Namun gadis itu memilih untuk tetap diam, tidak menanggapi apa pun, setidaknya hingga Juarez selesai bicara. Pria yang masih memiliki aksen Meksiko yang kental itu benar-benar terlihat kejam dan licik.

Bekas jerawat di wajahnya membuat Iris terkadang menganggap Juarez sebagai monster.

"Dia mengeluh dan menolak untuk membayar kamar serta biaya pemesananmu. Alasannya, Marten mengatakan sudah membayarmu sepuluh ribu dolar, TUNAI!" Kata-kata terakhir diucapkan dengan keras dan tegas.

"Tapi kata Marten...."

"Tuan Hernandez! Kamu tidak pantas menyebut nama orang dengan cara yang tidak sopan! Ingat siapa dirimu, Iris! Gadis imigran miskin yang mengais uang dari manusia seperti dia!" potong Juarez dengan keras.

Iris menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya dengan menahan kesal.

"Mr. Hernandez menjanjikan saya tips sebesar itu! Belum termasuk biaya pemesanan dan juga pembayaran kamar!" ulang Iris kali ini dengan keras dan sinis.

Plak!

Sebuah tamparan melayang di wajahnya. Iris terdorong ke samping dengan wajah tertegun. Ada sedikit darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Dengar, Pelacur Kecil! Kamu pikir dirimu begitu berharga? Jangan terlalu merasa diri sok cantik dan menilai diri terlalu tinggi!" Juarez mendesis mengintimidasi. "Kamu tidak lebih dari seorang gadis imigran yang miskin dan bodoh!"

Iris menegakkan dirinya lagi. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit bergelombang terlihat berantakan.

"Bayar semua tagihan dan aku ingin selesai sekarang juga! Jika kamu tidak menyelesaikannya, aku akan melaporkanmu ke petugas imigrasi!" mengancam Juarez, tidak lagi ditoleransi. "Gadis tanpa status jelas pasti menjadi sasaran empuk para sipir penjara yang haus akan kehangatan!”

Jentikan tangannya mengusir Iris dengan kasar. Tanpa berusaha menghapus darahnya, Iris keluar dengan mata panas. Rasa asin terasa di mulutnya dan dia berlari ke kamar mandi terdekat.

Iris menangis lirih, sementara menahan sedu sedan sekuat yang dia bisa dalam toilet. Betapa hinaan demi hinaan terus menderanya hingga tersudut. Kesialan itu seperti tidak pernah habis. Tidak ada lagi ruang tersisa baginya untuk bernapas lega.

Mengapa hidupnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi lebih baik? Dirinya bahkan kini seperti sedang menuju ke jurang kehancuran!

'Adalah lebih baik mati daripada menjalani hidup seperti saat ini!' pikir Iris dengan batin rapuh.

Setelah membasuh wajahnya dan berkumur, Iris bergegas ke kamar manajer klub, Peter. Langkahnya panjang dan tergesa-gesa. Begitu dipersilahkan masuk, Iris mendorong pintu dengan cepat.

"Iris?!" seru Peter kaget. Ada memar di wajah gadis tersebut.

"Berapa yang harus dibayar Marten?" Iris bertanya dengan suara gemetar. Pria yang baru berusia tiga puluh lima tahun itu menghela napas berat.

"Sudah kubilang berkali-kali! Jangan libatkan dirimu dengan Martin Hernandez! Orang itu licik! Dia dulu selalu mendapatkan gadis gratis yang ingin menjadi aktris baru! Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?!" seru Peter kesal.

Iris menahan air mata yang menutupi retinanya. Tapi begitu dia berkedip, satu per satu butiran bening itu terjatuh.

"Aku terancam ditendang dari apartemen, Peter! Adikku butuh uang kuliah, sedangkan ayahku juga harus cuci darah! Katakan padaku, Peter! Dari mana aku harus mendapatkan uang, kalau bukan dari menjual diriku?! " Iris bertanya, sementara menahan isak tangis.

Peter mengutuk dengan menyesal dan menyerahkan tagihan padanya.

"Aku sudah membayar seribu lima ratus dolar. Hanya itu yang kumiliki, selebihnya kau harus mencari sendiri, Iris.”

Iris meraih dan melihat nominalnya. Matanya melebar dan wajah Iris menjadi pucat.

"Lima ribu dolar?!" Iris menjerit.

"Marten tidak membayar minumannya dan dia menginap dua malam di hotel."

"Tapi kenapa aku harus membayar semua tagihannya? Termasuk malam kedua?"

"Iris, itu kelicikan Marten. Dia akan menyeretmu ke neraka terdalam untuk membalas kekalahannya."

"Tapi aku tidak menyakitinya, Peter! Aku melayani pria menjijikkan itu dan kami setuju dengan harganya!"

"Maaf. Aku tidak bisa membantumu kali ini."

Peter mengangkat tangannya dengan lesu. Iris terduduk lemas. Hanya ada seratus dolar yang tersisa dalam dompetnya. Bagaimana dia mendapatkan sisa dari tagihan itu dalam waktu lima jam?

"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Pete. Dari mana aku dapat uang sebanyak itu?" Iris mengeluh dengan mata nanar.

Suaranya terdengar putus asa dan tak berdaya. Peter mengatupkan kedua tangannya dengan wajah gusar.

"Sekali lagi, aku minta maaf. Tapi kali ini aku benar-benar tidak punya solusi untuk situasimu, Iris. Kamu tahu seperti apa Juarez." Manajer klub tidak bisa membantunya sama sekali. Juarez telah mengancam Peter untuk tidak ikut campur terlalu jauh atas masalah Iris.

Wanita itu bangkit dan menyeka air matanya sembarangan. Tanpa pamit, dia berjalan melewati Peter dan pergi.

***

Iris memasuki ruang pembayaran hotel dan setelah meminta waktu untuk melunasi, tapi dia harus menelan kekecewaan lagi.

Manajer hotel meminta pembayaran segera dan tidak ada penundaan.

"Beri aku apa pun yang kamu miliki. Sisanya harus sore ini, seperti perintah tuan Juarez!" cetus pria itu dengan suara dingin.

Iris menyerahkan semua uangnya dan dengan langkah goyah, meninggalkan ruangan.

Dengan kepanikan dan kegelisahan yang memenuhi benaknya, Iris duduk di dalam ruang ganti, di mana mereka berpakaian untuk mempersiapkan diri. Kemalangan demi kemalangan terus ia hadapi hari ini.

Bekerja selama bertahun-tahun Iris tidak pernah bisa menabung. Semua dihabiskan untuk merawat ayahnya dan sekolah Jan. Iris tidak tahu lagi apakah dia masih bisa terus bekerja dengan Juarez.

Pria itu seperti rentenir. Memaksa perempuan imigran miskin, seperti dirinya, dengan bayaran yang mencekik. Iris tidak memiliki identitas, kecuali paspor yang telah kadaluarsa. Setelah tiga tahun mereka tiba di negara itu, ayahnya mengalami kecelakaan dan tidak punya uang untuk mengurus apa pun dalam kondisi cacat.

Denda yang harus mereka bayar sangat mahal, belum lagi proses yang berbelit.

"Iris, Juarez memanggilmu!" Lori berseru dengan wajah cemas. Iris, yang baru saja duduk dan belum selesai berdandan, akhirnya mengangguk. Tanpa menanggapi pertanyaan Lori yang bertubi-tubi, Iris berlalu dengan langkah gontai.

Dia tahu Juarez akan mengintimidasinya lagi tentang pembayaran itu. Dia belum bisa melunasi sampai detik ini.

"Masuk!" perintah Juarez yang tampak siap untuk pergi.

Wanita itu masuk dengan wajah menghadap ke bawah, sementara rahangnya terkatup.

"Kamu belum lunasi seperti yang aku pesan! Mana uang yang kau dapatkan semalam?! Sudah kau gunakan untuk bersenang-senang?!" Juarez mencelanya tanpa simpati.

Pria tua itu mendekat padanya. Iris bisa mencium bau rokok yang menyengat dari mulutnya.

"Layani lima tamu malam ini! Asumsikan pelayanan itu untuk membayar hutangmu! Jangan membantah atau lari! Aku akan menuntut dan melaporkanmu pada polisi karena penipuan! Mengerti?!" bentak Juarez dengan wajah licik.

Iris setuju tanpa bisa melawan. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan aliran deras penyesalannya. Puas dengan intimidasi yang ia lakukan, pria itu meninggalkan Iris dengan menenteng tas kerjanya.

Peter yang hadir di ruangan itu hanya menatap Iris dalam diam.

Setelah Juarez pergi, Iris terguncang dan tersedak oleh isak tangis yang tertahan. Dia harus melayani lima tamu, gratis!

Penderitaan ini menenggelamkan jiwa Iris ke dalam lubang yang pekat. Dia tenggelam dalam keserakahan manusia seperti Juarez.

Tubuhnya seperti diselimuti nafsu berdebu menjijikkan, yang tidak bisa dibersihkan dan akan terus melekat. Jika saja ia bisa memilih, mungkin kematian mendadak akan jauh lebih menguntungkan daripada kehidupannya saat ini.

Malam itu, di ranjang yang sama, Iris menangis dalam diam. Para pria bergiliran menikmati tubuhnya. Terkadang dia menggigit bibirnya sekuat yang dia bisa untuk menahan rasa sakit dan kelelahan.

Air matanya terus mengalir sepanjang malam tanpa henti. Kapan semua ini berhenti?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pemenang Dalam Hidupku
8.6
Selama bertahun-tahun, ia selalu mengalah dan diabaikan oleh keluarganya demi sang adik. Puncaknya terjadi di hari pernikahannya, saat ayah, ibu, kakak, serta tunangannya yang merupakan seorang bos mafia, Jason, justru pergi menghadiri wisuda adiknya. Ditinggalkan sendirian menanggung malu di hadapan para tamu, ia akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap penting. Bertekad untuk tidak lagi mengharapkan kasih sayang mereka, ia memutuskan pergi membawa koper dan rahasia kehamilannya demi memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
9.7
Mendambakan hidup tenang hanyalah mimpi setelah ibu menikahi seorang mantan bos mafia. Kini, Kaelion Verez Montefalco, sang pewaris takhta kejam asal Italia Selatan, resmi menjadi saudara tiriku. Sosoknya yang obsesif mulai mengendalikan setiap embusan napas dan gerak-gerikku tanpa celah. Di tengah perjuangan kerasku demi mempertahankan kebebasan yang tersisa, Kaelion justru memakai seluruh kekuasaannya untuk menjeratku dalam dominasi dingin yang mustahil kuhindari.
Sampul Novel Bidadari Untuk Tuan Mafia
9.3
Silvana Aramazd, gadis lembut bercadar yang terbiasa hidup tenang, harus menikahi Don Vincent Corleane. Pernikahan ini bukan sekadar perjodohan bagi sang pemimpin mafia yang kejam, melainkan jalan keluar dari dunia hitam yang kelam. Di sisi lain, persatuan mereka menjadi kunci untuk menguak misteri di balik kematian orang tua Silvana. Mampukah Silvana bertahan mendampingi Vincent di tengah benturan dua dunia mereka yang jauh berbeda?
Sampul Novel Gadis SMA Milik Mafia Kejam
9.8
Jimmy Alexander adalah mafia berusia 25 tahun yang tak kenal ampun dalam menjalankan bisnis ilegalnya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah hidupnya saat ia bertemu seorang siswi SMA yang tulus menolongnya. Ketulusan itu memicu obsesi cinta dalam diri Jimmy yang kejam. Masalah besar muncul karena gadis impiannya ternyata sudah bertunangan dengan pria lain. Akankah sang mafia merelakan cintanya, atau justru melakukan segala cara demi memiliki gadis tersebut?
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila
9.0
Kehidupan Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan disegani, berubah total setelah menikahi Yara. Tingkah konyol dan kelakuan ajaib sang istri terus menguji kesabarannya. Di balik keceriaan itu, Yara rupanya memendam trauma masa lalu yang membuatnya takut akan keintiman. Di tengah gempuran ancaman dari rival organisasinya, Arkhan berjuang meruntuhkan tembok pertahanan hati Yara. Inilah kisah cinta yang absurd sekaligus emosional antara sang predator dan istrinya yang unik.
Sampul Novel Malam Panas Bersama Mafia Dingin
9.6
Akibat pilih kasih ibunya, Amora Nouline selalu tersisih dari kakaknya, Alana. Ketika sang ayah jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, ibu dan Alana justru tega memaksa Amora menjual dirinya. Demi menyelamatkan sang ayah, ia terpaksa menerima keputusan pahit itu. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang bos mafia yang dingin dan berkuasa. Di balik ketampanan pria tersebut, aura kejamnya membuat Amora dilingkupi ketakutan luar biasa malam itu.