APKDock Logo
Sampul Novel Malam Panas Bersama Mafia Dingin

Malam Panas Bersama Mafia Dingin

9.6 / 10.0
Akibat pilih kasih ibunya, Amora Nouline selalu tersisih dari kakaknya, Alana. Ketika sang ayah jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, ibu dan Alana justru tega memaksa Amora menjual dirinya. Demi menyelamatkan sang ayah, ia terpaksa menerima keputusan pahit itu. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang bos mafia yang dingin dan berkuasa. Di balik ketampanan pria tersebut, aura kejamnya membuat Amora dilingkupi ketakutan luar biasa malam itu.

Malam Panas Bersama Mafia Dingin Bab 1

Dengan wajah penuh keceriaan, Amora berlarian dari mulai turun dari bis hingga sampai ke depan rumahnya, tiba didalam rumah terlihat Ayahnya yang bernama  Pak Billi dan Ibunya yang bernama Maria tengah duduk sambil menikmati secangkir teh hangat di ruangan televisi.

"Ayah, Ibu, aku pulang!" kata Amora.

"Mora, kau sudah pulang rupanya! Maaf ayah tidak hadir di acara kelulusan sekolahmu, ayah masih sakit Mora,"

"Iya yah tidak apa-apa Ayah, Ibu sekarang Mora sudah lulus sekolah,"

"Baguslah Mora, jadi kau bisa bantu-bantu Ibu untuk kerja cari uang kau lihat sendiri kan ayahmu sakit-sakitan terus, Ibu capek kalau hanya Ibu yang kerja sendirian untuk keluarga kita!" ujar Bu Maria.

Deg..

Padahal sudah menjadi makanan sehari-hari ucapan yang keluar dari bibir Ibunya itu selalu saja membuat hati Amora tidak nyaman, tapi kenapa kali ini Amora merasa sangat sakit sekali mendengar Ibunya meminta dirinya untuk segera bekerja, sementara kakaknya Alana Nouline tidak pernah sedikitpun diminta untuk membantu keuangan keluarga mereka.

"Bu, nanti Ayah juga sehat lagi! Biarkan saja Mora kuliah mengikuti jejak Alana,"

Ckckckck..

Terlihat tawa Bu Maria seperti setengah mengejek mendengar Pak Billi mengatakan jika Amora lebih baik kuliah.

"Ayah ini kok ada-ada saja, masa Mora disamakan dengan Lana, yah kalau Mora kuliah mau bayar biayanya pakai apa? Daun? Untuk makan sehari-hari saja kita pas-pasan, lagipula ya yah, Alana itu kan sejak kecil dapat beasiswa karena otaknya jenius, kuliah juga dia pakai beasiswa jadi tidak pernah merepotkan kita, beda dengan Amora sejak kecil kita mengeluarkan banyak biaya pendidikan untuknya!"

Jleb..

Selalu kata-kata yang bersifat merendahkan dan menyakitkan yang terlontar dari bibir Ibunya yang setiap hari didengar oleh Amora, seperti dirinya hanyalah seorang anak tiri atau seorang anak pungut yang tidak memiliki arti berharga bagi sang Ibu. Mau marah juga tidak mungkin, toh semua yang diucapkan oleh Ibunya itu seratus persen benar.

Amora tidak pernah sekalipun masuk rangking sepuluh besar sejak duduk dibangku sekolah dasar hingga SMA, sementara Alana selain dia cantik dan terkenal dilingkungan sekitar rumah dan sekolah karena prestasinya yang segudang, selalu dapat beasiswa bahkan hingga saat ini.

Bukan Amora malas dan tidak mau banyak belajar, hanya saja sejak kecil Amora fokusnya terbagi untuk mengurus rumah bersih-bersih ketika pulang sekolah, orangtuanya itu bekerja sebagai buruh di pabrik dekat rumah mereka, jadi rumah tidak ada yang merapihkan dan membersihkan jika bukan Amora. Itulah sebabnya sejak dulu mau belajar pun waktu yang dimiliki Amora terbatas dan dia selalu kelelahan akibat beres-beres rumah tanpa seorangpun membantunya.

Alana sang kakak, tidak akan mungkin mau membersihkan rumah kakaknya itu memang selalu egois dan mementingkan dirinya sendiri.

"Heh Mora, dengarkan Ibu bicara tidak?"

Lamunan tentang sikap dan perlakuan tidak adil sang Ibu terhadap dirinya, tersadar karena Bu Maria berbicara kembali.

"Mora!"

"I-iya Bu,"

"Bagaimana kau akan bekerja kan?"

"Iya Bu, secepatnya Mora akan cari pekerjaan kalau begitu Mora ke kamar dulu Yah, Bu,"

"Hmm,"

"Jangan lupa nanti habis makan cuci piring sekalian ya!"

"Iya Bu,"

Amora kemudian meninggalkan kedua orangtuanya lalu segera masuk kedalam kamar berukuran 2x2 meter itu, kamar sempit dan kumuh itu menjadi tempat curahan hati Amora kala dirinya tidak tahan lagi dengan semua yang diucapkan oleh orang-orang di rumah ini.

"Ketika kak Lana lulus SMA, Ayah dan Ibu sangat antusias untuk datang ke sekolah bahkan aku masih sangat ingat Ayah dan Ibu membeli pakaian yang sangat mahal dan bagus demi datang ke acara kelulusan kak Lana waktu itu!"

Tak terasa air mata Amora pun menetes tanpa bisa dibendung sama sekali, orangtuanya itu memang tidak pernah bersikap kasar, ataupun membentak Amora, tapi ucapan biasa saja sudah mampu memberikan luka terus menerus dihati Amora, terutama sang Ibu karena ayahnya tidak pernah banyak bicara juga tidak pernah membela dirinya secara terang-terangan.

"Bu, kalau Ayah sehat lagi tolong biarkan Mora kuliah saja, kasihan dia kalau harus ikut bekerja,"

Uhukk..Uhukk..

"Haduh Ayah, kuliah? Ayah pikir biayanya murah? Kalau Mora seperti Alana yang dapat beasiswa, Ibu juga tidak akan larang dia untuk kuliah kok Yah tapi kan Ayah tau sendiri, Mora itu tidak pintar seperti Lana,"

Jika sudah berdebat dengan Bu Maria sudah pasti Pak Billi tidak bisa lagi membantah, di rumah ini Bu Maria lah penguasa rumah dan yang mengatur segala sesuatunya adalah Bu Maria.

Malam harinya, ketika semua pekerjaan rumah sudah beres Amora pun merebahkan tubuhnya yang pegal-pegal diatas sofa ruangan televisi! Bagaimana tidak lelah dan pegal-pegal, pulang dari sekolah dari mulai mencuci piring, menyapu dan mengepel, mencuci semua pakaian anggota rumah ini, menjemur, menyapu halaman rumah, menyetrika pakaian semua dilakukan oleh Amora setiap hari agar tidak terlalu menumpuk.

Ceklek...

Alana sang kakak, akhirnya tiba di rumah dengan membawakan satu kotak donat dengan berbagai macam varian rasa. Alana menaruh satu kotak donat tersebut diatas meja kemudian duduk disamping Amora.

"Tuh makan, donat itu mahal loh Mora rasanya enak sekali," kata Alana.

"Iya kak nanti Mora makan,"

"Eh, Lana anak Ibu sudah pulang rupanya! Kok malam sekali Na?"

"Biasalah Bu, tadi Alana ada belajar kelompok dulu dengan teman kampus nah ini salah satu dari mereka belikan Lana donat, enak deh Bu!"

"Wah, Lana ini kan donat mahal," kata Bu Maria sambil membuka kotak donat itu.

Terlihat raut wajah bahagia sekaligus bangga Bu Maria ketika menikmati donat yang mulai dia masukan kedalam mulutnya, seolah-olah semua rasa lelah atas pengabdian Amora sejak siang tadi membersihkan rumah tidak ada harganya sama sekali dibandingkan dengan sepotong donat mahal itu.

"Terimakasih ya nak, kau itu memang selalu ingat kita yang ada di rumah,"

Alana tampak menceritakan kegiatan dirinya hari ini di kampus pada sang Ibu, terlihat Bu Maria sangat antusias dan bangga mendengarkan cerita Alana sambil menikmati donat mahal tersebut, rasanya ingin sekali Amora pergi masuk dan mengurung diri didalam kamarnya.

"To-tolong!" Pak Billi berteriak dengan suara seraknya.

Brukk...

"A-ayah?" kata Amora.

"Bu, itu Ayah," kata Alana yang ikut panik.

Ketiganya kemudian segera berlari menuju kamar Pak Billi, terlihat Pak Billi sudah berada dibawah ranjang dengan posisi tengkurap dan sudah tidak sadarkan diri, mereka bertiga pun panik dan langsung menelpon ambulans.

Beruntung di kota kecil ini ambulans akan tiba dengan cepat dan bisa memberikan pertolongan pertama pada Pak Billi, mereka akhirnya ikut kedalam ambulans dan sama-sama pergi ke rumah sakit yang ada di kota kecil ini.

Mereka bertiga menangis sedih melihat kondisi Pak Billi yang tak kunjung sadar, hingga tiba di rumah sakit Pak Billi segera mendapatkan penanganan dari dokter dan beberapa perawat. Pak Billi masuk kedalam ruangan ICU sehingga baik Bu Maria, Alana dan Amora hanya bisa menunggu diluar ruangan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Malam Panas Bersama Mafia Dingin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Diperlakukan Bak Orang Asing Oleh Suami Anakku
8.2
Setelah merelakan seluruh hidupnya demi Ricardo dan putri mereka sebagai ibu rumah tangga, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit. Kehadiran kembali cinta lama suaminya yang baru bercerai mengubah segalanya. Diperlakukan layaknya pelayan oleh anak kandungnya sendiri dan diabaikan oleh sang suami, ia akhirnya memilih mundur. Dengan menandatangani berkas perceraian tanpa menuntut hak apa pun, ia pergi menjauh. Namun kini, setelah ia melangkah pergi, penyesalan mendalam justru datang menghampiri mereka.
Sampul Novel Lima Tahun, Cinta yang Memudar
8.3
Demi wasiat Yudha, pria yang dicintainya, Aruna rela mengabdi lima tahun sebagai asisten Brama. Namun setelah kontraknya berakhir, pengorbanan Aruna yang bahkan nyaris tewas dalam balapan maut demi Brama justru dituduh sebagai cari perhatian. Kekejaman Brama kian tak berperasaan saat ia membiarkan Cheryl menyiksa Aruna hingga menjualnya di lelang amal. Merasa pengabdiannya dibalas kehinaan, Aruna memilih mengakhiri hidup di jembatan kenangan Yudha dengan pesan terakhir yang memilukan.
Sampul Novel Purba Mahkota
8.2
Perebutan takhta Putri Purba memicu perang saudara berdarah di antara tujuh putri yang dulunya saling menyayangi. Di tengah kekacauan ini, mahkota kekuasaan justru jatuh ke tangan Purbasari, putri yang sama sekali tidak mendambakan takhta. Kegagalan ini menyisakan kepahitan mendalam bagi Purbararang, sang kakak sulung yang ambisius. Kini, dari balik jeruji besi, ia meratapi kasih sayang tulusnya kepada sang adik sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Sampul Novel Tawanan Sang Penguasa "Terbelenggu Takdir, Terikat oleh Cinta"
9.1
Keyra terperangkap dalam konspirasi politik rumit dan menjadi tawanan Aditya. Sang penguasa dingin yang menyimpan luka rahasia itu ternyata memendam perasaan mendalam. Di tengah kepungan dendam serta pengkhianatan yang mengancam, hubungan mereka justru mulai tumbuh. Ketika kekuasaan kian membebani, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit antara ambisi takhta atau perasaan cinta. Akankah ikatan hati mereka mampu bertahan dan menjadi penyelamat di tengah badai takdir?
Sampul Novel UNCONDITIONALLY
8.1
Bagi Aurora, Angkasa adalah takdir dan belahan jiwanya. Namun bagi Angkasa, pertunangan paksa itu adalah kutukan yang merenggut kebebasannya. Ia sangat membenci kehadiran Aurora yang terus membuntutinya bagai bayangan. Angkasa mendambakan ketenangan dan hak untuk mencintai perempuan pilihannya sendiri. Meski Aurora berjanji akan terus bertahan dengan cinta tulus tanpa syarat, Angkasa justru kian bertekad untuk menunjukkan kebenciannya secara terang-terangan.
Sampul Novel WANITA INCARAN CEO TAMPAN
9.4
Christian terancam dijodohkan oleh kakeknya jika gagal membawa pacar dalam tiga hari. Di tengah keputusasaan, ia mengejar seorang gadis misterius penjaga toko bunga yang tiba-tiba lenyap. Christian pun pasrah menerima perjodohan dengan Calista Madison. Namun, ia terkejut saat menyadari Calista adalah wanita yang dicarinya. Kini tampil angkuh dan menolak dirinya, Christian yang terluka harga dirinya segera menyusun rencana licik agar Calista tak bisa kabur lagi.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan