APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Berbalut Luka

Gadis Berbalut Luka

Ditinggalkan begitu saja oleh sang kekasih membuat Ayana kehilangan kepercayaan pada pria. Ia pun bertekad mengunci rapat hatinya demi mencegah kepedihan yang sama terulang kembali. Namun, ketetapan hati Ayana goyah saat Bima Argunarta tiba-tiba hadir lagi dalam hidupnya. Sosok dari masa lalu ini membawa kembali rangkaian memori kelam yang menakutkan sekaligus menyesakkan dada. Kini, Ayana terpaksa berhadapan kembali dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Bab
Bagikan

Bab 2

Seminggu setelah hubunganku berakhir, aku pun memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur, mulai mencari kesibukan yang mungkin nantinya akan membuat beban pikiranku teralihkan. Semenjak kejadian tempo hari, aku tak pernah lagi mengambil job pemotretan. Aku ingin menenangkan diri, menikmati kesendirian yang mungkin terdengar bodoh. 

Benar kata Mira, seharusnya aku memperlihatkan pada Arka bahwa aku tetap bisa berdiri dengan sehat meski dia tak lagi menjadi kekasihku. Harusnya aku terlihat biasa saja, agar dia merasa bahwa diriku ternyata tak terpuruk setelah ditinggalkan olehnya. Namun, semuanya hanya angan semata, semuanya hanya sekadar kata-kata yang tidak bisa direalisasikan. Semakin aku berusaha melupakan semua kenangan tentang dirinya, semakin sering pula bayangannya muncul di hadapanku. 

Apa yang salah denganku? Mengapa otak dan hatiku menolak untuk melupakannya? Semua usaha yang sudah kulakukan sepertinya hanya sia-sia, membuang barang pemberiannya, menghapus semua foto yang ada di galeri, dan membakar foto cetak yang terpampang di dinding kamar. Hanya satu yang tak kulakukan, memblokir nomornya. Aku masih berharap suatu saat nanti, dia menghubungiku dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan padaku.  Pemutusan secara dadakan ini, jelas membuatku sangat terpuruk. 

Aku sadar, selain orang tuaku yang tidak setuju, Tuhan pun sepertinya demikian. Tuhan mungkin saja tidak ingin melihatku menjalani hubungan yang tidak diridhoi. Pacaran dengan yang seiman saja dilarang, apalagi yang tak sejalur. Aku memaksakan senyuman yang terasa sangat berat. Air mataku lagi-lagi mengalir. 

Tuhan, apakah tak ada jalan untuk bersama dengannya? Apakah kami memang tak ditakdirkan untuk bersama? Jika memang dia bukan takdir dan jodohku, tolong tegarkan hatiku. Tunjukkan jalan, agar aku bisa segera melupakan semua kenangan tentangnya. Walaupun berat, aku akan mencoba semua hal agar hatiku rela melepaskan lelaki yang tiga tahun terakhir ini memberiku kebahagiaan, meski pada akhirnya dia pula menggoreskan luka yang teramat dalam.

Suara ketukan pintu dan bel bergantian mengganggu pendengaranku. Segera kuhapus air mata yang masih membanjiri pipi tirus yang entah sejak kapan tak terurus. Kulangkahkan kaki menuju interkom, melihat siapa orang di luar sana yang berani mengganggu acara menyendiri yang sudah kulakukan seminggu ini.

“Pulang aja, Mir,” usirku di balik interkom.

“Aku nggak bakal pulang sebelum masuk dan melihat kondisimu.”

Aku tertawa. Ralat. Tepatnya memaksakan tawa. “Aku baik-baik saja, tak ada yang salah denganku,” elakku dengan suara yang sengaja kukecilkan. 

“Jangan pura-pura tegar, Na. Kamu bukanlah wonder woman yang bisa menahan semuanya sendiri.”

Lagi-lagi air mataku mengalir, benar kata Mira. Aku sebenarnya butuh sandaran dan teman untuk mengeluarkan semua keluh kesahku saat ini.

***

“Jangan berpikir bahwa kau sendiri, ada aku. Apa kau tak menganggapku sahabat?” Gadis itu memelukku, mengelus pundakku yang masih bergetar akibat tangisan yang semakin histeris. 

“Aku masih sayang sama dia, Mir. Apa salahku sehingga dia dengan mudahnya mengatakan perpisahan? Apa aku tak berharga buatnya? Apa tiga tahun ini tak bernilai di matanya?” Aku memukul pelan pelipisku dengan kedua tangan. “Aku benar-benar bodoh,” lanjutku dengan nada menyesal.

“Kamu nggak bodoh. Dia yang bodoh, sudah nyia-nyiain kamu yang dengan tulus mencintai dan menerima semua kekurangannya.” Mira kembali mengelus punggungku. “Jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Na. Kamu sangat berharga buatku dan jangan beranggapan bahwa tak ada orang yang menyayangimu dengan tulus.”

“Dia capek sama perlakuan orang tuaku, Mir. Aku pun akan melakukan hal yang sama, jika berada di posisinya.” Aku menghela napas frustrasi lalu menunduk. “Sampai sekarang aku masih menyalahkan kedua orang tuaku,” cicitku.

“Jangan salahin mereka. Orang tuamu hanya sebagai jembatan agar hubungan kalian berakhir. Tuhan sudah merencanakan semuanya, Na.”

Lagi-lagi kenyataan itu membuatku tersenyum kecut. Mengapa Tuhan mempertemukan kami jika akhirnya akan seperti ini? Apa semuanya adalah ujian untukku? Akan tetapi, bagaimana aku harus melewati semua ini? 

“Tuhanku atau tuhannya?”

“Ayana, jangan mengada-ngada.”

Suara Mira meninggi, membuatku mematung dan tak berani membantah. Gadis itu mengembuskan napas panjang lalu memasang cengiran.

“Mau jalan nggak, Na,” ajak Mira membuatku mengerutkan alis. 

“Malas banget. Aku benar-benar nggak mood jalan-jalan,” tolakku dengan nada lemah.

“Ish, kalau putus itu jangan dihayati atau dinikmati, yang ada malah makin galau dan nyesek.”

“Iya, iya. Kamu kan, ahli dalam masalah percintaan. Putus sudah biasa, tinggal cari yang lain.”

Mira tertawa mendengar penuturanku. Sahabatku ini memang sangat hobi mengoleksi kekasih. Katanya, sebelum menetapkan hidup pada satu laki-laki, ada baiknya untuk mengenal banyak laki-laki terlebih dahulu. Sahabatku ini tidak mau membuang masa mudanya hanya untuk satu laki-laki saja, dan saat itu aku tahu bahwa ia sedang menyindirku karena aku yang sangat setia pada Arka. 

Jika ditanya apa aku menyesal telah menjalin hubungan yang cukup lama dengan pria itu, jawabanku sudah pasti tidak. Setidaknya aku mendapat sebuah pelajaran dari hubungan kami, bahwa sesuatu yang berbeda memanglah tak baik, apalagi perbedaan kami menyangkut pada keyakinan. Perbedaan sikap, pandangan, atau pun asa mungkin masih bisa ditolerir. Namun, bagaimana dengan keyakinan? Aku tak mungkin menghianati Tuhan dan keluargaku, begitu pula dengan dirinya.

Sejujurnya aku ingin berterima kasih pada Arka, sebab dia telah mengenalkan arti cinta sesungguhnya. Dia telah mengajarkanku pada indahnya perbedaan. Dan dia rela melepasku untuk jalan yang lebih baik. 

“Ayana, cepetan.” Mira menarik tanganku, membuyarkan lamunan yang sejak tadi kugeluti. 

Aku menarik oksigen dan membuang karbon dioksida. Inhale … exhale. Mengikuti kemauannya mungkin akan membuatku sedikit lebih fresh. Daripada terus menerus berbaring dan mengingat kenangan kami yang sepertinya akan membuatku lebih stres lagi. 

“Baiklah, aku ganti baju dulu.”

“Gitu, dong. Sekali-kali keluar. Jangan ngerem mulu.” Cengirannya sukses membuatku memanyunkan bibir.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU MENYERAH MENJADI ISTRIMU, MAS!
8.0
Pernikahan keduaku membawa badai yang tak terduga dalam rumah tangga kami. Andin, yang dulunya adalah sosok istri penurut dan sangat polos, kini berubah total secara mengejutkan. Sikapnya tak lagi hangat seperti sedia kala. Ia kini memperlakukanku dengan sangat dingin serta acuh tak acuh. Perubahan drastis dan ketidakpedulian yang ia tunjukkan secara tiba-tiba ini membuat hubungan kami mendingin, menyisakan ketegangan yang kian menyiksa setiap harinya.
Sampul Novel Cinta Terlarang & Rahasia
9.4
Karina, yang tumbuh dalam keluarga broken home, menjalani hubungan gelap bersama Evan, suami dari saudara perempuan sahabatnya. Begitu skandal ini terbongkar, ia menerima kecaman dari publik serta dimusuhi oleh Siska. Karina akhirnya memutuskan pergi dalam kondisi hamil tanpa memberi tahu siapa pun. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali ke Jakarta bersama putranya. Kini, misteri identitas ayah kandung anak tersebut terancam terungkap. Sanggupkah ia terus menyembunyikan rahasia kelam itu?
Sampul Novel Gairah Cinta Senior
8.4
Demi masa depan, Diana rela menolak cinta Arga meski keduanya saling memendam rasa sejak lama. Namun, keteguhan hatinya goyah saat mulai kuliah. Di kala Arga terus berjuang mendekatinya dari jauh, Diana justru dipertemukan dengan Bara. Senior galak berlabel bad boy itu mulai memperlihatkan ketertarikan padanya. Kini Diana bimbang, harus bertahan pada komitmen masa lalu atau hanyut dalam gairah baru yang menantang.
Sampul Novel Pelangi di Ujung Senja
9.5
Hubungan asmara Reza dan Arini dipenuhi rintangan dan jauh dari kata sempurna. Sebagai sosok pertama yang mengisi hati Arini, Reza menuntut sebuah pengorbanan besar darinya. Arini dipaksa belajar merelakan demi cinta yang terasa semu. Situasi kian rumit karena masa lalu Reza bersama Maya terus membayangi mereka. Kini, Arini harus memilih: terus bertahan untuk menjadi pelabuhan terakhir Reza, atau menyerah dan hanya menjadi penonton yang menyaksikan akhir kisah mereka.
Sampul Novel Sekalipun Kembali, Hatiku Tetap Pergi
9.6
Saat menonton konser sendirian, seorang istri terkejut melihat Martin Sutanto, suaminya yang mengaku sedang dinas luar kota, muncul di layar lebar bersama cinta pertamanya, Desi Maulanda. Di depan ribuan penonton, Martin meminta lagu "Kembali ke Masa Lalu" agar mereka tidak pernah berpisah tiga tahun lalu. Di tengah sorak penonton dan air mata yang mengalir, sang istri terpilih di sesi berikutnya. Melalui lagu yang sama, ia menyatakan penyesalan terdalamnya karena telah menerima lamaran pernikahan Martin.
Sampul Novel Tentang Harapan
8.9
Jihan Adiztya lelah dituntut menjadi sempurna oleh orang tuanya. Kegagalan perjodohan berulang kali membuatnya kehilangan harga diri dan menjadi bahan cemoohan lingkungan sekitar. Di bawah tekanan berat dan kemarahan sang ayah yang terus membayangi, Jihan harus memikul beban untuk menaklukkan setiap pria. Di tengah keputusasaan mencari sandaran hidup, muncullah seorang pria yang berusaha mengulurkan tangan dan menyelamatkannya dari jurang keterpurukan.