APKDock Logo
Sampul Novel Tentang Harapan

Tentang Harapan

8.9 / 10.0
Jihan Adiztya lelah dituntut menjadi sempurna oleh orang tuanya. Kegagalan perjodohan berulang kali membuatnya kehilangan harga diri dan menjadi bahan cemoohan lingkungan sekitar. Di bawah tekanan berat dan kemarahan sang ayah yang terus membayangi, Jihan harus memikul beban untuk menaklukkan setiap pria. Di tengah keputusasaan mencari sandaran hidup, muncullah seorang pria yang berusaha mengulurkan tangan dan menyelamatkannya dari jurang keterpurukan.

Tentang Harapan Bab 1

Bertahan atau Tersiksa

Keduanya bukanlah sebuah pilihan, tetapi sudah menjadi tuntutan

»|«

Hari Sabtu yang ke 18 kalinya, dilingkari pada kalender itu. Pintu kamarnya di buka oleh Irma, Mamanya.

“Apa yang kamu lihat? Cepat mandi, jangan lupa bersolek secantik mungkin.”

Jihan Adiztya, gadis yang akan menginjak usia 18 tahun tersebut menghela nafasnya kasar, berjalan dengan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya butuh waktu 10 menit, Jihan keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang di pakainya.

Setiap malam Minggu sudah menjadi rutinitas untuk dirinya berpenampilan cantik dari sore hingga tengah malam. Jihan merasa seperti putri Cinderella yang berubah menjadi cantik dalam sekejap hingga melupakan siapa dirinya sendiri.

Jihan menatap tubuhnya yang terbalut gaun mini berwarna fanta yang sangat kontras. Warna kulitnya tidak seputih susu, namun warna kulitnya bersih dan cocok untuk warna kulit di Indonesia.

Tubuhnya kecil dan berisi di usianya saat ini, wajahnya pun tergolong cukup menarik untuk di lihat. Tatapannya berubah menjadi buram tertutup oleh genangan air di pelupuk matanya.

Jihan menggeleng, mencoba mengedipkan matanya berkali-kali agar tak menangis. “Astaga! Lo udah buang-buang waktu.”

Kaki jenjang yang menggunakan heels setinggi tujuh sentimeter itu menuruni anak tangga dengan langkah yang cukup tergesa-gesa. “Maaf, Pa, Ma.”

“Enggak apa-apa, telat 5 menit masih bisa Papa beri toleransi asalkan kamu bisa menarik hati Bara, lelaki yang akan kamu temui malam ini,” ucap Rehan, Papanya dengan nada yang dingin.

Perjalanan yang di lewati sangat lancar tanpa ada hambatan seakan mendukung untuk perjodohan kali ini. Jihan tersadar dari lamunannya, ketika Irma menarik tangannya yang kini posisinya menjadi di antara Irma dan Rehan.

“Ingat! Jaga sikap dan jadi seanggun mungkin, supaya perjodohan kali ini kamu enggak di tolak lagi.”

Jihan mengangguk, lalu melebarkan senyumnya seolah tak ada apa-apa. Padahal jauh di lubuk hatinya ini sedang di landa kegundahan setiap kali ada pertemuan dua keluarga di lakukan.

Rehan dan Irma berdiri saat melihat kedatangan keluarga Rama. Hal tersebut membuat Jihan ikut berdiri dari duduknya menyambut mereka bertiga.

“Selamat malam, Pak Rama.”

Rama tersenyum. “Tidak usah formal begitu, apalagi kita akan menjadi besan.” Lelaki itu menoleh ke arah Bara. “Kenalkan diri kamu.”

Bara tersenyum mengulurkan tangannya ke hadapan Jihan yang langsung di balas oleh gadis itu. “Perkenalkan saya Bara Baskara.”

“Jihan Adiztya,” balas Jihan dengan senyum manisnya yang membuat Bara terpesona selama beberapa saat.

“Sebelum berbicara ke masalah inti, lebih baik kita makan malam terlebih dahulu,” ucap Rama.

»|«

Makan malam telah usai. Kini, saatnya untuk Rama dan Rehan berbicara penting mengenai hubungan kedua anak mereka ke depannya.

“Berhubung Bara setuju, saya tak ingin basa-basi lagi. Sebelumnya, Jihan setuju juga dengan perjodohan ini ‘kan?”

Rehan tersenyum menatap Jihan seolah memberi kode dengan tatapan tajamnya itu. “Tentu saja, Jihan setuju sejak dia tahu kalau akan di jodohkan. Betul ‘kan, nak?”

“Iya, Pak Rama. Jihan percaya dan menerima perjodohan ini karena Jihan yakin pilihan orang tua adalah yang terbaik.”

“Masa remaja kamu, gimana?” tanya Nita seraya memegang tangan Jihan.

“Enggak apa-apa, Bu Nita. Jihan ikhlas selagi bisa menjadi istri yang di idamkan oleh Mas Bara.”

Kelima orang yang ada di meja makan ini tersenyum mendengar jawaban dari mulut Jihan.

Bara memegang kedua tangan Jihan dengan senyum di bibirnya. “Saya percaya kamu yang terbaik untuk saya.” Lelaki itu menoleh kepada kedua orang tuanya. “Percepat pernikahan kami bulan depan, Pa.”

“Baiklah, dua bulan lagi setelah acara kelulusan Jihan, pernikahan segera di laksanakan di tanggal 11 Juli nanti.”

»|«

Esok harinya.

Jihan menempelkan sticky notes yang sudah di tulisnya ke cermin rias yang ada di kamarnya. Tertulis sebuah tanggal dimana dia dan Bara akan melaksanakan sebuah pernikahan yang di dalamnya tak terdapat ikatan cinta. Pikirannya melayang saat acara makan malam kemarin.

Petir bergemuruh membuyarkan lamunan Jihan akan kejadian tadi malam. Dia berjalan ke belakang pintu kamarnya mengambil sepatu heels-nya lalu berjalan keluar kamar setelah memakainya.

“Ma, Jihan hari ini harus keluar rumah sebentar. Mas Bara ngajak Jihan makan di luar.”

“Ya sudah, taklukan hati dia. Kalau perlu kamu jangan pulang ke rumah sebelum dia bertekuk lutut di hadapan kamu.”

Jihan mengangguk berjalan keluar rumah untuk menemui Bara yang sudah berada di depan rumah. Tanpa menunggu lama, Jihan langsung masuk ke dalam mobil putih milik Bara. “Kita mau kemana, Mas?”

“Makan malam dulu, ya. Setelahnya kita jalan-jalan supaya kenal lebih dekat lagi.”

“Iya, Mas.”

Mobil Bara berhenti di salah satu restoran khas Jepang. Keduanya turun dari mobil dan berjalan dengan tangan yang saling berpegangan. Lebih tepatnya, Bara yang memegang tangan Jihan.

Selagi menunggu pesanan datang, Bara menatap Jihan yang membuatnya kembali terpesona hanya melihat wajahnya yang sedang menatap ke luar jendela.

“Jihan.”

Jihan menoleh dengan senyum yang mengembang. “Iya, Mas?”

“Kamu enggak keberatan dengan perjodohan ini? Apalagi kamu masih sekolah.”

“Enggak, Mas. Lagi pula menikah muda apa salahnya?”

Bara menggenggam tangan Jihan. “Jika ada masalah bisakah kamu berbagi dengan saya? Kita lewati bersama-sama.”

Hal itu sontak membuat hati Jihan bergetar karena tak pernah mendapat perhatian khusus seperti ini.

“Terima kasih, Mas. Aku akan coba lebih terbuka lagi. Begitu pula sebaliknya, Mas juga bisa ‘kan terbuka dengan Jihan?”

“Iya.”

Percakapan itu terpotong karena pesanan mereka sudah datang dan memutuskan untuk menghabiskan makanan masing-masing.

»|«

Hujan deras mengguyur kota malam ini membuat Jihan dan Bara terjebak macet. Keduanya tak memiliki tujuan setelah makan malam tadi.

“Kayaknya cuaca malam ini kurang mendukung, kita pulang aja, ya?”

“Ehm– terserah, Mas Bara aja.”

“Oke, saya antar kamu pulang lagi.” Bara tersenyum seraya menoleh kepada Jihan.

Mobil Bara berhenti tepat di pekarangan rumah Rehan. Sebelum Jihan turun dari mobilnya, dia menahan sebentar gadis itu. “Besok pagi, saya jemput untuk berangkat ke sekolah kamu.”

Jihan mengangguk seraya tersenyum. “Mas, enggak akan mampir dulu?”

“Enggak perlu, sudah terlalu malam buat bertamu. Setelah ini langsung istirahat, ya. Saya pamit pulang sekarang.”

“Hati-hati, Mas.” Tangan Jihan terulur untuk mencium punggung tangan Bara membuat sang empu melongo dibuatnya.

Setelah itu, Jihan keluar dari mobil Bara dan berjalan masuk ke dalam rumah saat mobil lelaki itu sudah menjauh.

“Kenapa pulang?”

Pertanyaan ini langsung di lontarkan oleh sang Mama membuat Jihan menatapnya diam.

“Mas Bara yang anter pulang, Ma. Lagi pula besok Mas Bara mau anter Jihan sekolah.”

“Bagus, tandanya Bara sudah mulai tertarik dengan kamu,” ucap Rehan seraya menepuk bahu putrinya.

“Jihan pamit ke kamar dulu.”

Di kuncinya kamar itu, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya.

“Ke depannya akan ada apa lagi yang terjadi?”

»|«

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tentang Harapan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Kisahku dalam Pelukan Gigolo dan Brondong
8.4
Kehidupan pernikahan yang menjemukan mendorong Amanda, seorang wanita paruh baya, mencari pelarian pada jasa gigolo. Walau menemukan sensasi baru, kehampaan hatinya baru terusik setelah bertemu Alex, pemuda cerdas yang memikat. Hubungan intim mereka memicu konflik keluarga dan benturan ambisi. Di bawah tekanan sosial, Amanda akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan dari lelaki lain, melainkan kedamaian batin serta kendali atas hidupnya sendiri.
Sampul Novel Mon Amour
8.4
Farrin menghadapi dilema besar di antara dua pria kembar. Pernah memadu kasih dengan Avan, takdir justru menuntunnya ke pelaminan bersama sang adik, Vian. Tak sanggup merelakan kenyataan ini, Avan bertekad merebut kembali Farrin dari saudaranya lewat berbagai taktik licik. Meski Farrin dan Vian berjuang mempertahankan pernikahan mereka, rencana jahat Avan terus mengintai demi memisahkan keduanya. Akankah Farrin goyah, atau tetap setia pada suaminya?
Sampul Novel Permainan Cinta: Topeng-Topeng Kekasih
9.0
Keputusan Raivan Bertolius melamar gadis desa misterius memicu kehebohan. Di balik kesederhanaannya, sang tunangan ternyata desainer tersohor sekaligus pewaris takhta triliunan dari orang terkaya di dunia. Pengungkapan identitas ini mengejutkan kalangan elit yang meragukan cinta mereka. Namun, Raivan tetap teguh mengumumkan rencana pernikahan. Apa alasan gadis itu menyamar, dan rahasia apa yang membuat Raivan begitu terpikat padanya?
Sampul Novel SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH
9.1
Setelah mendapati tunangannya, Bastian, berselingkuh dengan saudara tirinya hingga hamil, Mentari menolak melanjutkan pernikahan. Namun, demi menjaga perjanjian keluarga, ia harus menerima mempelai pengganti. Sosok itu adalah Samudra, paman Bastian yang diasingkan dan dicap sebagai pria payah yang tidak terurus. Di balik rumor miring bahwa Samudra tidak menyukai wanita, keputusan pria misterius ini untuk menikahi Mentari menyimpan teka-teki besar yang siap mengubah hidup mereka.
Sampul Novel Terpaksa Dimadu
8.4
Kehancuran hati Ririn tak terbendung saat memergoki Arman, sang suami, bersiap menikah lagi di rumah mertuanya. Tanpa memedulikan izinnya, pernikahan kedua itu tetap dipaksakan hingga Ririn terpaksa menyetujui poligami ini. Sebagai syarat, ia menuntut hak mutlak untuk mengatur seluruh prosesi pernikahan tersebut sendirian. Di balik kepatuhan yang ia tunjukkan, Ririn sebenarnya sedang merancang sebuah rencana besar untuk memberi pelajaran setimpal bagi suami dan mertuanya.
Sampul Novel TERTAWAN PESONA MANTAN
8.2
Akibat insiden mati lampu yang membuat Vino cedera parah hingga sulit berjalan, Kalila harus bertanggung jawab. Ia terpaksa menikahi mantan pacar masa sekolahnya itu demi merawatnya. Namun, pernikahan mereka penuh cobaan berat. Di tengah perjuangan membina rumah tangga, kehadiran pria lain yang mencintai Kalila mulai mengusik dan mengancam keharmonisan hubungan pernikahan mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan