
Dokterku, Cintaku
Bab 3
Suami Teresa mendadak masuk bersama mertuanya. Pria itu bertanya, "Apa yang kalian lakukan di dalam? Kenapa lama banget?"
Aku mendorong kacamataku dan berusaha tetap tenang. Aku menyapa, "Julius? Aku lagi periksa istrimu, kenapa kamu malah marah-marah?"
Julius baru sadar kalau itu aku, lalu dia dan ibunya mulai tersenyum malu-malu. Dia membalas, "Ya ampun, kenapa bisa begitu kebetulan? Kalau aku tahu Paman Alfred praktik di sini, aku nggak akan berani masuk begitu saja ...."
Gemma juga menambahkan sambil tersenyum, "Dokter Alfred, maaf ya. Anakku ini memang suka begitu. Kalau ada kesempatan, nanti aku undang kamu ke rumah deh biar kamu bisa makan dan minum sepuasnya. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf. Hehe ...."
Julius menggaruk kepala belakangnya, lalu memberi tahu, "Anak ini nangis minta susu, jadi aku panik. Hehe!"
Aku melambaikan tangan sambil merespons, "Sudahlah, masalah istrimu sudah kubereskan. Kalian bisa keluar sekarang. Masih ada pasien lain yang harus kuperiksa!"
Teresa menundukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih, lalu segera berjalan keluar. Aku pun duduk kembali di kursi. Benakku dipenuhi oleh wanita itu dan juga segala hal yang baru saja terjadi. Adegan yang agak memalukan ini sepertinya bisa kutulis di memoarku nanti.
Aku rasa setelah kejadian ini, Teresa tidak akan datang lagi mencariku. Aku juga khawatir kalau Teresa akan memberi tahu suaminya tentang apa yang terjadi. Kalau suaminya tahu, dia pasti tidak akan melepaskanku begitu saja.
Bagaimana kalau suami Teresa datang ke rumah dan menghajarku? Bagaimana kalau masalah kami tersebar luas? Meskipun sudah bercerai, aku mengadopsi seorang putra. Kalau dia tahu tentang ini, bukankah aku akan merasa sangat malu?
Semua itu membuatku agak takut. Aku menyesal karena terlalu gegabah. Hampir saja tindakanku menyebabkan masalah besar.
Namun beberapa hari kemudian, saat sedang tidur siang di rumah, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Begitu membuka pintu, aku langsung terkejut.
Gemma bersandar di kusen pintu dalam piama renda bertali. Meskipun umurnya sudah 40 tahunan, dia merawat dirinya dengan sangat baik. Sekujur tubuhnya memancarkan aura dewasa. Dia terlihat seolah-olah berusia awal 30 tahunan.
Dalam hati, aku berpikir bahwa mertua dan menantu ini benar-benar menakjubkan. Kalau bisa menaklukkan Gemma hari ini, aku bahkan rela jika umurku harus dipotong beberapa tahun.
Gemma memainkan rambutnya sambil memberi tahu, "Dokter Alfred, dadaku terasa nggak nyaman, bahkan sangat geli. Tadi, aku terus memainkannya sampai keluar air lho. Apa kamu bisa membantuku?"
Gemma pun membelai dadanya sendiri. Meskipun kedua buah dadanya tidak semontok milik Teresa, tetap saja masih kencang. Lebih parahnya lagi, aku bisa melihat puting susunya di balik piama renda bertali yang seksi itu. Dia ternyata tidak mengenakan apa pun di baliknya ....
Aku pun mengangguk, lalu berpura-pura mengambil kotak medis dan ikut dengan Gemma ke rumahnya. Dia duduk di sofa dengan kedua kaki yang terbuka lebar.
Wanita paruh baya itu menggodaku dengan tatapan mata sambil menyentuh kakinya yang indah. Pada saat ini, aku baru sadar bahwa Gemma tidak memiliki pasangan.
Aku buru-buru menahan napas dan berusaha tetap fokus. Aku pun mengambil stetoskop dari kotak medis, lalu menempelkan alat itu di dada Gemma. Tidak disangka, dia malah langsung menyingkirkannya.
Sebaliknya, Gemma menggenggam tanganku dan menempelkannya di dadanya. Ini membuatku sangat terkejut hingga merasa panas di hidungku.
Aku segera bertanya, "Ge ... Gemma, apa yang kamu lakukan?"
Gemma meletakkan kakinya di atas celanaku, lalu berujar dengan kaget, "Gila, besar banget?" Segera setelah itu, dia menambahkan, "Kamu ini cuma pura-pura nggak tahu."
Napasku pun menjadi lebih cepat. Tadinya, aku memang ingin menaklukkan Gemma. Hanya saja, bagaimanapun kami sedang berada di rumahnya. Nyaliku pun menciut.
Tepat ketika aku sedang ragu-ragu, Gemma bertanya, "Kamu sudah menahan diri sangat lama, 'kan? Hari ini, aku akan membiarkanmu merasakan hal yang berbeda. Dijamin akan sangat menegangkan!"
Usai berkata demikian, Gemma tersenyum genit dan berjongkok. Ketika aku sedang menikmatinya sambil memejamkan mata, suara pintu tiba-tiba terdengar. Seseorang berseru, "Bu, aku sudah pulang!"
Anda Mungkin Juga Suka





