
Dokterku, Cintaku
Bab 2
Payudara Teresa sudah sangat bengkak. Aku bahkan tidak tega melihatnya. Aku benar-benar ingin mengisap semuanya keluar.
Setelah Teresa berbaring dengan patuh, aku tidak sabar untuk meletakkan tanganku di atasnya dan memijatnya. Kulitnya sangat halus, pasti luar biasa ketika disentuh.
Aku baru saja memijatnya beberapa kali, tetapi Teresa langsung menekuk sepasang kakinya. Tubuhnya juga terlihat sedikit gemetar. Tepat ketika aku ingin melangkah lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Teresa, dokter sudah selesai memeriksamu belum? Anakmu sudah nangis karena lapar nih!" Aku terkejut mendengarnya. Ternyata itu suara ibu mertua Teresa, Gemma!
Gemma terlihat masih muda. Tubuhnya yang berbentuk indah tidak kalah dengan Teresa, tetapi dia sering memarahi menantunya dengan kata-kata kasar.
Aku segera menarik tubuhku kembali, lalu sengaja merendahkan suara ketika membalas, "Bisa diam nggak? Dia lagi diperiksa, tolong jangan berisik!"
Di luar sana, suasana langsung menjadi sepi. Aku pun melanjutkan aksiku. Jariku menyentuh perut Teresa, tetapi dia tiba-tiba menahan tanganku. Wanita itu berujar, "Paman Alfred, jangan di bagian ini!"
Aku menarik kembali tanganku dengan canggung. Teresa lalu bertanya, "Sudah lancar belum?"
Mana mungkin aku mau melepaskannya semudah itu? Aku sengaja menjawab, "Sekarang, justru momen yang paling penting. Nggak bisa buru-buru. Coba kamu miringkan badan, biar aku bantu pijat lagi."
Aku memutar lewat sisi ranjang, lalu berdiri di belakangnya. Berhubung ranjangnya sangat kecil, saat Teresa memiringkan badan, hampir setengah tubuhnya terekspos ke luar. Selama proses pemijatan, posisi kami jadi sangat berdekatan ....
Teresa menegakkan tubuhnya. Dia menggigit bibir pelan dan tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Kini, wajah Teresa sudah memerah sampai ke telinga. Segera setelah itu, dia bertanya dengan suara yang sangat pelan, "Paman Alfred, sudah cukup belum? Aku merasa tubuhku sudah jauh lebih ringan dan nyaman."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memberi tahu, "Teresa, aku tahu kamu terburu-buru, tapi ini nggak bisa diselesaikan dengan cepat. Sekarang, tinggal satu langkah terakhir saja ...."
Teresa membalikkan badannya. Dia menatapku lekat-lekat dengan wajah memerah. Dia akhirnya bertanya, "Paman Alfred, jangan-jangan kamu berniat buruk padaku? Jangan ya! Kalau begini, aku akan merasa sangat bersalah pada suamiku."
Wajahku langsung berubah sedikit tegang, tetapi aku tetap memaksa diri berujar, "Apa yang kamu bicarakan? Sekarang, kamu merasa lebih enak, 'kan? Itu artinya peredaran darahmu sudah lancar. Itu juga berarti cara pijatku berhasil. Aku cuma ... mau coba apakah sudah bisa keluar ASI-nya."
Teresa memutar mata ke arahku sembari memarahi, "Kamu benar-benar bejat. Mimpi saja!"
Teresa pun turun dari ranjang. Dia segera merapikan bajunya dan mengaitkan kembali kait branya. Wajah dan telinganya sudah memerah, tetapi matanya justru menatap celanaku tanpa berkedip dengan ekspresi seperti masih belum puas.
Aku berdeham sebelum membela diri, "Kalau nggak dicoba, gimana tahu ASI-nya bisa keluar atau nggak? Jangan-jangan kamu mau menyusui anakmu begitu saja? Kalau nggak ada ASI, mertuamu pasti akan memarahimu habis-habisan. Memangnya kamu nggak takut padanya?"
Teresa langsung terdiam. Ibu mertuanya memang dikenal di lingkungan sebagai wanita tua yang galak dan suka marah-marah. Hampir setiap beberapa hari sekali, aku bisa mendengar suara Gemma yang memaki Teresa dari rumahku.
Benar saja, sekujur tubuh Teresa langsung gemetar mendengar ucapanku. Dia tertegun di tempat sebelum membalas, "Paman Alfred, tolong bantu aku. Aku takut dimarahi dia. Huhu ...."
Aku tersenyum puas, lalu menepuk bahunya sambil menimpali, "Kamu angkat saja bajumu. Biarkan aku mencobanya. Kalau masih belum bisa keluar, aku bisa bantu memijat untuk melancarkannya lagi. Untuk apa nangis?"
Teresa tidak ragu-ragu lagi. Dia mengangkat bajunya, lalu aroma susu langsung tercium. Aku menelan air liur sebelum mendekati wanita itu.
Tepat ketika aku membuka mulut dan hendak mengisap payudaranya, Teresa malah mendorongku. Dia bertanya, "Bisakah kamu bersikap lebih lembut ...."
Saat ini, napasku sudah tidak teratur. Aku segera membalas, "Oke, aku akan lebih lembut. Payudaramu benar-benar bagus!"
Kepalaku pun mendekati dada Teresa. Ketika aku membuka mulut, pintu ruang praktik mendadak didobrak.
Berhubung panik, aku segera duduk kembali di kursiku dengan ekspresi serius. Di sisi lain, Teresa juga benar-benar kaget hingga melepaskan tangannya. Bajunya lalu melorot dan kebetulan menutupi bagian dadanya.
Anda Mungkin Juga Suka





