APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIONESA

DIONESA

Kepindahan ke sekolah baru membawa perubahan besar bagi Sasa, terutama saat ia dipasangkan sebangku dengan Dion, cowok dingin yang tertutup. Di tengah masa adaptasinya, Sasa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sang ayah telah memiliki kekasih baru. Kesedihan Sasa rupanya mampu menyentuh hati Dion yang semula apatis. Ia pun mulai membuka diri demi menghibur Sasa. Kebersamaan ini menyingkap rahasia masa lalu Dion, sekaligus menumbuhkan benih cinta yang manis di antara mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Menjadi anak baru di sebuah sekolah itu rasanya tidak enak. Itu yang dirasakan Sasa. Hari ini merupakan hari pertamanya masuk sekolah disalah satu sekolah negri di Jakarta. Di benaknya sudah dipenuhi dengan hal-hal yang mengerikan ketika akan melangkahkan kakinya di kelas.

Sasa diantar seorang guru ke kelas XI IPA 3, begitu Sasa masuk dia menjadi sasaran tatapan dari 28 siswa yang ada di kelas itu. Tentunya dengan tatapan yang menghakimi, mulai dari rambut sampai kaki. Sasa hanya bisa menunduk, menunggu Guru yang mengantarnya berbicara dengan Guru yang sedang mengajar di kelas itu.

“Ini kelas baru kamu, nanti perkenalan atau gimana selanjutnya tanya sama Ibu ini saja ya,”ujar Guru yang mengantar Sasa.

“Baik Bu.”

Guru itu ke luar, keadaan kelas semakin riuh. Bisa dipastikan seisi kelas sedang membicarakan Sasa.

“Baik anak-anak, tenang dulu. Tolong perhatiannya ke sini sebentar. Kalian dapat teman baru, dia pindahan dari Jogja.”

“Bu… jangan Ibu dong yang kenalkan. Biar dia dong Bu yang kenalkan sendiri…” celetuk seorang siswa laki-laki dari belakang.

“Boleh juga, oke silahkan kenalakan dirimu sendiri Nak,” ujar Guru itu pada Sasa.

Sasa mengangguk, dia mengangkat kepalanya yang dari tadi tertuduk. Dia menghela nafasnya, melempar pandangannya ke depan. Dia mengumpulkan tenaga untuk berbicara.

“Hai semua...” sapa Sasa.

“Hai...” sambut semua siswa yang ada di kelas.

“Perkenalkan nama saya Shakira Dwita Wijaya, biasa dipanggil Sasa…”

“Sasa? Micin dong…” celetuk laki-laki yang tadi lagi.

Jelas celetukan itu mengundang tawa seisi kelas. Sasa hanya bisa terdiam, dugaannya benar kalau hari ini dia akan menjadi bahan tertawaan teman-teman barunya.

“Sudah… sudah…. Nanti kalian lanjutkan saja perkenalannya pada jam istirahat ya. Sasa kamu bisa duduk di barisan belakang sebelah kiri,” Guru itu menunjuk meja yang di sudut.

Meja itu hanya diisi satu murid saja, bangku di sebelahnya kosong. Murid yang ada di meja itu seorang lelaki, wajahnya tidak terlalu bersahabat dan terkesan tidak peduli dengan yang terjadi di kelas. Sasa berjalan ke meja yang ditunjuk guru tersebut. Dia mencoba menebar senyum pada murid yang ada di sekitar meja itu.

“Hai Sasa, aku Della…” sapa seorang murid perempuan yang duduk di depan meja Sasa.

“Hai aku Sasa,” ujar Sasa pada Della.

Beberapa murid ikut bersalaman dengan Della, kecuali laki-laki yang duduk semeja dengan Sasa. Wajah murid laki-laki itu acuh, tidak peduli dengan kedatangan Sasa. Sasa mengalah, dia mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.

“Hai, aku Sasa…”

“Aku sudah tahu, tadi kan kamu sudah bicara di depan. Buat apa diulang lagi? Aku gak tuli kok,” jawab laki-laki itu ketus.

Sasa melongo, dia tidak mengira kalau respon dari laki-laki dingin itu akan ketus.

“Dia pikir dia siapa? Sombong amat jadi orang,” batin Sasa.

“Sudah Sa, jangan masukin ke hati. Dion memang orangnya seperti itu kok,” ujar Della.

Sasa hanya mengangguk, mencoba tersenyum. Walaupun di dalam hatinya sangat kesal. Sasa membuka tas, mengeluarkan dan membanting bukunya ke atas meja.

“Biasa saja dong!” tegur Dion dengan ketus.

Sasa tidak merespon, dia seolah-olah tidak mendengar teguran dari Dion. Sampai pulang sekolah, tidak ada perbincangan antara Sasa dan Dion. Begitu bel berbunyi, Dion buru-buru mengemasi buku-bukunya dan pergi.

“Sa, kamu pulang ke arah mana?” tanya Della.

“Aku ke daerah Jakarta Selatan Del.”

“Ohh, kita searah dong. Mau bareng gak?”

“Ehmmm aku dijemput kok Del, makasih ya.”

“Ya sudah, aku duluan ya Sa. Sampai jumpa besok…”

“Iya Del…”

Sasa menyusuri koridor kelas sendiri, tentu dia menjadi bahan perhatian murid-murid di sekolah itu. Wajahnya yang manis, dengan tubuh yang tinggi semampai dan kulitnya yang putih bersih wajar menarik perhatian murid-murid terkhusus dari para lelaki.

Sampai di gerbang, Nino sudah menunggu. Nino adalah abang kandung Sasa. Usia mereka terpaut cukup jauh, sekitar 8 tahun. Sekarang Nino sudah bekerja, tepatnya membuka distro miliknya sendiri. Melihat Nino yang sudah ada di seberang jalan, Sasa langsung menyebrang jalan tanpa melihat ke kiri dan kanan.

“Aaaaaarrggggghhh….” Teriak Sasa, ketika satu motor melewati tubuhnya hanya terpaut beberapa centi meter.

Untung saja pengemudi motor itu bisa mengendalikan motornya dengan baik, nyaris saja Sasa diserempet motor besar itu.

“Punya mata gak?! Kalau menyebrang lihat-lihat dulu!” bentak pengemudi motor itu dari balik helmnya.

Sadar dengan kesalahannya, Sasa hanya tertunduk dan diam. Pengemudi motor itu juga langsung tancap gas. Dengan langkah lunglai, Sasa berjalan menuju mobil Nino.

“Kamu gak apa-apa Sa?” tanya Nino dengan panik.

“Enggak.”

“Lain kali hati-hati ya.”

“Iya.”

“Kamu lagi lamunin apa sih? Sampai gak lihat ada motor sebesar itu lagi jalan. Telat saja dia rem, sudah jadi lemper kamu.”

“Sudah dong Bang, jangan dimarahin terus. Aku juga gak mau kok kejadian seperti itu,” gerutu Sasa.

“Tuh kan, dibilanging pasti protes.”

“Bukan protes Bang, tapi aku juga syok tadi. Sudah dong jangan diomelin lagi.”

Nino tidak bersuara lagi, dia mengemudikan mobilnya. Melihat wajah Sasa yang cemberut, Nino merasa iba. Nino memang paling tidak bisa melihat wajah adiknya cemberut, dia sangat sayang pada Sasa apalagi setelah Ibu mereka meninggal dunia. Nino merasa kalau Sasa adalah tanggung jawabnya.

“Sudah gak usah cemberut, jelek banget ih…”

“Bodo amat,” jawab Sasa ketus.

“Eh, ngomong-ngomong kamu kenal sama yang bawa motor tadi?”

“Enggak.”

“Bukannya teman satu sekolah kamu, seragamnya sama.”

“Ya kali aku kenal semua anak murid di sana, baru juga hari pertama masuk sekolah,” jawab Sasa masih dengan intonasi yang ketus.

“Galak amat sih adikku, terus gimana hari pertama sekolah kamu?”

“Gak jauh beda seperti Abang, menyebalkan.”

Nino terkekeh mendengar jawaban Sasa.

“Ehmm, kamu lapar gak Sa? Kita makan yuk…”

Sasa melirik Nino.

“Mau gak? Kamu bisa makan sepuasnya deh nanti.”

“Bener?”

“Benar lah…”

“Gitu dong, itu baru Abang aku. Makan sepuasnya kan?” Sasa sumringah.

“Iya. Tapi makan sepuasnya di rumah…”

“Aahhhh, nyebelin!” Sasa cemberut lagi.

“Iya… iya… kita makan di luar deh. Sudah jangan cemberut lagi.”

Sasa tersenyum.

Mereka menuju salah satu resto keluarga yang ada di sekitaran Jakarta Pusat. Begitu sampai di sana, Sasa langsung memesan beberapa menu kesukaannya.

“Habis tuh Sa?” tanya Nino.

“Kalau gak habis, ya bawa pulang Bang,” jawab Sasa dengan santai.

Nino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan adik kandungnya itu. Tapi dia tidak melarang, dia membiarkan saja apa yang ingin dilakukan Sasa.

“Oh ya Sa, Papah pernah cerita sesuatu gak sama kamu?” tanya Nino disela-sela mereka makan.

“Cerita? Tentang apa Bang?”

“Tentang Tante Eva.”

“Tante Eva? Siapa itu?”

“Pacar Papah,” jawab Nino pelan.

Sasa berhenti makan, dia menatap wajah Nino. Seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah Dengan Seorang Miliarder Berkondisi Vegetatif?!
7.9
Valerie menjadi korban pengkhianatan kekasih dan adiknya sendiri hingga dituduh berselingkuh setelah malam bersama pria asing. Akibat fitnah itu, sang ayah membuangnya dan memaksanya menikahi seorang miliarder yang terbaring koma demi bisnis. Enggan terus ditindas, Valerie memutuskan hubungan dengan keluarganya. Namun, begitu suaminya terbangun dan menuntut pertanggungjawaban, Valerie justru memilih melarikan diri untuk memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Ibu Meninggal, Suami Sibuk dengan Mantan
8.0
Saat ibu mertuanya terkena serangan jantung, Nova segera menghubungi suaminya yang merupakan dokter kardiologi. Namun, sang suami justru menuduh Nova berbohong dan memilih menemani mantan kekasihnya. Tragedi terjadi saat sang ibu wafat di meja operasi sementara suaminya pergi ke konser. Ketika pulang dan melihat Nova memeluk kotak abu, ia justru murka dan menuduh Nova bersandiwara demi menarik perhatiannya. Kisah novel modern bergenre misteri ini mengupas kehancuran rumah tangga yang tragis.
Sampul Novel Kehidupan Malam Mendatangkan Cinta
8.2
Demi melunasi utang dan biaya medis ibunya, Maudy terpaksa mengambil pekerjaan misterius berbayar tinggi. Keputusan ini menyeretnya ke dunia malam kota Alka, tempat ia harus bertahan hidup di sebuah lokalisasi. Tak disangka, Maudy justru jatuh cinta pada seorang pria kaya yang ternyata pemilik tempat tersebut. Hubungan asmara mereka pun harus menghadapi berbagai rintangan berat yang tak terduga.
Sampul Novel Occidens
9.7
Akibat ketamakan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran hidup dalam kebencian dan kutukan. Perlahan, hatinya yang dingin mencair berkat Selena, gadis pencari kayu yang selalu ceria. Namun, takdir kejam menguji cinta mereka saat Edgar dinobatkan sebagai pemimpin kaum immortal sekaligus penguasa klan demon. Aturan mutlak melarang sang raja memiliki ratu. Bisakah hubungan mereka bertahan menghadapi hukum dunia immortal yang sangat mengikat?
Sampul Novel SUGAR BEBS
8.6
Sebagai putri bungsu di keluarga Dirdja, Xena hanya hidup demi satu tujuan, yaitu membalas dendam. Ia bertekad mewujudkan misi tersebut dengan segala cara. Targetnya adalah Riga, pria dingin yang ternyata memiliki banyak kemiripan sifat dengannya. Di balik parasnya yang lugu, Xena menyembunyikan sisi liar, sementara Riga menyimpan amarah membara. Pertemuan dua kepribadian ini justru membuat benih cinta dan dendam tumbuh bersamaan di tengah konflik mereka.
Sampul Novel Sumpah Hening Balas Dendam Sang Luna Berparut
9.7
Kehadiran seorang wanita dengan anak bergenetik Alpha Damian di klinikku mengungkap kebenaran pahit. Melalui ikatan batin, aku merasakan cinta tulus Damian untuk wanita itu. Puncaknya, di pesta kawanan, Damian melindunginya hingga membuatku keguguran. Ia bahkan mengabaikanku yang sekarat demi luka kecil putranya. Setelah dibuang ke jurang oleh kekasihnya dan ditolak atas namanya, aku berhasil selamat. Kini, aku melangkah ke Swiss untuk bangkit dari segala kehancuran.