APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilema Hati

Dilema Hati

Kehidupan mandiri Leonard Mahendra yang berusia 38 tahun berubah drastis sejak kedatangan Evelyn. Putri sahabatnya itu menumpang hidup karena sang ayah berdinas di luar negeri. Kepribadian Evelyn yang periang memberi warna baru pada hari-hari Leonard. Lambat laun, kepedulian Leonard berkembang menjadi cinta terlarang. Evelyn pun bimbang karena memendam rasa pada teman ayahnya. Hubungan rahasia ini terancam hancur saat ayah Evelyn pulang dan mengetahui segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Leonard Mahendra duduk di ruang tamu yang terletak di sudut rumahnya. Suasana tenang dan sunyi, hanya terdengar suara kipas angin yang berputar lembut di sudut ruangan. Pagi itu, seperti biasa, ia menyeduh secangkir kopi hitam yang sudah menjadi rutinitas setiap hari. Rumah yang besar dan megah ini terasa sepi, tanpa ada suara riuh anak-anak atau kehadiran seorang wanita. Sungguh, hidupnya berjalan sangat teratur, tanpa ada gangguan berarti.

Tapi segalanya mulai berubah ketika Evelyn, putri sahabat lamanya, datang untuk tinggal bersamanya. Sang ayah, yang bekerja di luar negeri untuk beberapa tahun ke depan, meminta Leonard untuk menjaga Evelyn, yang baru saja lulus dari universitas. "Jaga dia baik-baik, Leonard. Kamu tahu betapa pentingnya dia bagi kami," pesan sahabatnya yang selalu membuat Leonard merasa lebih seperti keluarga daripada sekadar teman.

Leonard tidak pernah menyangka bahwa kehidupan yang awalnya tenang dan teratur itu akan berubah begitu cepat. Ia mengingat hari pertama Evelyn datang, wajahnya yang cerah dan senyumnya yang selalu membuatnya terkesima. Namun, ia mencoba menahan perasaan itu, mengingat ia adalah seorang teman lama ayah Evelyn, dan tidak ada yang bisa lebih rumit dari menjalin hubungan dengan anak sahabat sendiri.

Pagi itu, Evelyn masuk ke ruang tamu, membawa seplastik roti bakar dan secangkir jus jeruk. "Pagi, Om Leonard. Ini buat sarapan," kata Evelyn dengan senyum cerianya, sambil meletakkan makanan di meja.

Leonard menatapnya, berusaha untuk tetap tenang, namun hatinya tak bisa menghindari detak yang lebih cepat setiap kali melihat Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Kamu baik sekali," jawabnya, mencoba mengalihkan perhatian dengan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai di mejanya.

Namun, Evelyn tidak menghiraukan kata-katanya dan duduk di samping Leonard, memperhatikan layar laptopnya. "Om Leonard, aku harus ngerjain laporan ini. Bisa bantuin aku?" tanyanya, dengan mata yang memohon.

Leonard mengalihkan pandangannya ke Evelyn, ragu sejenak. "Tentu, aku bisa bantu, tapi aku rasa kamu bisa melakukannya sendiri. Kamu sudah lulus kuliah, kan? Pasti sudah cukup pintar untuk ini," jawabnya, meski di dalam hati ia ingin lebih dekat lagi dengannya.

Evelyn tertawa kecil. "Iya, tapi kadang aku butuh bantuan Om. Kamu lebih berpengalaman, kan?"

Leonard tersenyum tipis, merasa canggung. Evelyn sangat polos dan tak tahu betapa sulitnya baginya menjaga jarak dengan gadis yang sudah begitu dia anggap sebagai adik sendiri, meski hatinya menyimpan perasaan yang jauh lebih rumit. "Baiklah, kita lihat apa yang bisa aku bantu," jawabnya, menghindari tatapan langsung dari Evelyn.

Sementara itu, Evelyn yang sibuk dengan laporan di laptopnya sesekali mencuri pandang ke arah Leonard. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ada ketegangan yang terasa di antara mereka, meski tidak diungkapkan secara langsung. Ia merasa ada yang berubah, meski tak tahu persis apa itu.

Setelah beberapa saat, Evelyn menutup laptopnya dan memandang Leonard dengan serius. "Om Leonard, aku ingin bertanya sesuatu," katanya, suaranya sedikit ragu.

Leonard menoleh, sedikit terkejut. "Tanya saja, Evelyn. Apa yang kamu pikirkan?"

Evelyn menghela napas, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku tahu ini mungkin aneh, tapi... aku merasa aku mulai melihatmu sebagai lebih dari sekadar teman ayahku." Ia menunduk, wajahnya memerah. "Maksudku, Om Leonard, kadang aku merasa lebih nyaman denganmu daripada dengan orang lain. Aku... aku merasa kita bisa saling memahami."

Leonard terdiam, perasaannya langsung campur aduk. Ia bisa merasakan kedekatan yang Evelyn rasakan, namun itu adalah perasaan yang tak bisa ia balas. Mengingat posisi mereka, hal itu tidak boleh terjadi. "Evelyn, kita harus hati-hati dengan perasaan seperti itu," kata Leonard akhirnya, suara berat, mencoba mengatur kata-katanya. "Aku tahu kamu merasa begitu, tapi kamu harus ingat kita hanya teman, dan aku sudah seperti keluarga buatmu."

Evelyn merasa cemas mendengar itu, hatinya mulai berkecamuk. "Tapi Om, aku nggak bisa membohongi perasaanku. Aku suka kamu, dan... aku merasa nyaman di dekatmu."

Leonard merasakan dadanya sesak. Ia tahu, perasaan Evelyn bukan hanya sekadar kekaguman biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, dan itu membuatnya takut. Ia menatap Evelyn dengan penuh perhatian, mencoba menjaga ketenangannya. "Evelyn, aku tahu ini sangat sulit, tapi kita tidak bisa membiarkan perasaan itu berkembang. Aku lebih tua dari kamu, dan kita punya hubungan yang harus kita jaga."

Namun, meskipun kata-kata itu keluar begitu tegas, Leonard tahu bahwa dirinya pun tak mampu sepenuhnya mengabaikan perasaan yang tumbuh dalam dirinya. Dan saat itu, ia sadar bahwa mungkin ia sudah terperangkap dalam perasaan yang tak bisa ia hindari.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka, dan Gustavo, ayah Evelyn, muncul di ambang pintu. Ia baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang panjang.

"Evelyn, Leonard," sapa Gustavo, senyum lebar terukir di wajahnya. "Aku baru saja sampai. Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat canggung seperti itu?"

Evelyn cepat-cepat menyembunyikan ekspresinya, mencoba menenangkan dirinya. "Nggak, Pa. Kami hanya ngobrol aja."

Leonard berpura-pura santai, meskipun ada ketegangan yang jelas terjaga antara dirinya dan Evelyn. Namun, satu hal yang pasti-kehadiran Gustavo kali ini mungkin lebih penting daripada yang mereka duga. Karena tak lama setelah itu, semuanya akan berubah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Setelah insiden malam pengantin yang menjebak Bara, Ayla diusir hingga harus mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia membangun kehidupan yang mapan dan merawat anaknya tanpa pernah diketahui Bara. Kini, takdir memaksanya pulang demi menuntaskan sebuah misi rahasia yang mempertaruhkan reputasinya. Walau dicap sebagai wanita murahan dan harus menghadapi pria yang ia benci, Ayla pantang mundur demi memperjuangkan tujuan krusial hidupnya.
Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max
7.8
Hera mengira hidupnya tak bisa lebih buruk lagi, sampai sang ibu terjerat utang pada Max, rentenir yang dikenal sangat kejam. Akibatnya, Hera disandera sebagai jaminan pelunasan utang tersebut. Batas waktu yang terus berjalan membuat posisinya kian terdesak. Jika ibunya gagal melunasi kewajiban itu tepat waktu, nasib mengerikan telah menanti Hera. Mampukah ia bertahan hidup dalam cengkeraman kekuasaan penuh Max yang dingin?
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Ulang tahun Thania yang harusnya bahagia berujung tragis ketika ia diculik dan dipaksa melihat orang tuanya dibunuh. Kini, dirinya disekap sebagai pemuas hasrat oleh seorang pemimpin mafia yang amat kejam. Demi bertahan hidup, Thania harus memikirkan cara untuk memikat hati sang penyiksa. Bisakah ia menaklukkan sang bos mafia agar bersedia membantunya membongkar konspirasi besar di balik kematian keluarganya, atau ia justru akan terperangkap selamanya?
Sampul Novel Pesona Ibu Susu Anakku
7.8
Bima tak menyangka Jenny, siswi SMA yang dahulu ia tolong, kini menjadi ibu susu bagi bayinya. Kehamilan Jenny di usia muda menyimpan teka-teki besar. Seiring waktu, daya tarik gadis itu mulai menggetarkan hati Bima yang sebenarnya telah beristri. Akibat sebuah salah paham, keduanya terpaksa menikah siri. Bima bahkan berniat menceraikan Soraya, istri sahnya. Namun, Jenny enggan melukai hati sesama perempuan. Akankah Soraya mampu bertahan atau justru terdepak?
Sampul Novel Skandal Pengasuh Tua dan Putraku
8.4
Setelah memergoki Bi Tati membawa keluarganya makan kerang dan lobster secara diam-diam, sang majikan luluh oleh permohonan ampun serta bujukan kakak iparnya. Demi kekerabatan, ia hanya memberi sanksi potong gaji. Namun, keputusan itu berujung petaka. Baru dua hari ia pergi ke luar negeri, putranya yang baru lulus kuliah menelepon sambil menangis di tengah pesta perayaan rumahnya, mengaku telah tidur dengan pengasuh tua tersebut.
Sampul Novel Tujuh Tahun Menikah, Hanya Sia-Sia!
9.3
Pernikahan Aksara Sanjaya dan Nareswari yang berjalan tujuh tahun terasa hampa tanpa kehadiran anak. Sang istri enggan mengandung karena takut merusak penampilan fisiknya, memicu keretakan dalam hubungan mereka. Di tengah situasi dingin ini, Aksara, sang CEO Sanjaya Corp, justru menemukan kenyamanan pada Rumi Kamila. Kepedulian serta kecerdasan sang sekretaris dalam mengurus segala kebutuhannya membuat hati Aksara luluh, hingga hubungan kerja mereka akhirnya melewati batas.