APKDock Logo
Sampul Novel Ibu Susu Anak Hot Duda

Ibu Susu Anak Hot Duda

8.4 / 10.0
Sejak pubertas, Lisa kerap mengalami pelecehan akibat kondisi fisiknya yang kelebihan hormon. Demi mengatasi produksi ASI yang melimpah, ia rutin memompa dan menyumbangkannya. Saat mulai lelah dengan rutinitas tersebut, sebuah tawaran datang dari utusan seorang konglomerat yang mencari ibu susu untuk bayi telantar. Lisa menerima pekerjaan itu tanpa menyadari bahwa keputusan ini akan menyeretnya ke dalam pusaran hidup sang ayah bayi, seorang duda yang siap mengancam kesuciannya dengan pesona yang berbahaya.

Ibu Susu Anak Hot Duda Bab 1

1. Masih Gadis Sudah Punya Asi

"Masih SMA susunya gede banget, pasti sering digrepe cowok tuh!"

"Oh jelas, walaupun dah ditutup kerudung, tetep aja tuh tete tetep keliatan gede."

"Semalem berapa, Neng?"

"Yok sama Abang, dijamin puas ahaha!"

Lisa menunduk ketika suara-suara itu kembali terngiang di kepalanya. Ia pikir hinaan karena dirinya berdada besar akan berlalu bila dibiarkan. Nyatanya, ia masih saja mendengarnya, bahkan sampai kini Lisa sudah memasuki semester 7 perkuliahan. Seolah-olah, besar dadanya menandakan Lisa layak diperlakukan seperti jalang oleh para lelaki. Parahnya, beberapa perempuan yang ia harapkan dapat mendukung, malah ikut-ikutan menghinanya karena rasa iri.

"Udah Nduk, gak usah didengerin omongan orang. Kamu kan gak ngelakuin apa yang mereka katakan," ujar sang nenek lembut, seolah mengerti keterdiamannya.

Lisa pun langsung mendongak ke arah neneknya dan mengangguk.

Semua orang mungkin tidak tahu. Meski Lisa anak seorang pelacur, ia dididik untuk menjadi gadis baik-baik yang tidak tersentuh oleh laki-laki mana pun. Bisa saja Lisa memanfaatkan kemolekan tubuhnya yang menurun dari sang ibu, tetapi Lisa tak melakukannya. Sepertinya, ia bisa tetap terjaga karena doa sang nenek.

Mengingat ibunya, Lisa terdiam.

Sudah lima tahun wanita itu meninggal setelah dibunuh oleh istri sah dari salah seorang pelanggannya. Sayang, keluarga Lisa tak mampu melawan kekuatan para orang kaya tersebut, sehingga sampai saat ini, Lisa tidak bisa menuntut perempuan yang membunuh ibunya itu.

Beberapa sedih melihat keadaanya. Namun, banyak juga anggota keluarganya yang mengatakan kalau ibunya memang pantas mendapatkan itu karena berani-beraninya merebut suami orang. Bahkan, Lisa sempat menjadi bulan-bulanan masyarakat sekitar.

Dan lagi-lagi, bentuk tubuhnya yang sudah dewasa sebelum "waktunya" dijadikan hinaan lagi.

Hal itu sungguh melukai harga dirinya, tapi untungnya, Lisa tetap menjaga dirinya sebagaimana cara Islam mengajarkan untuk menutup auratnya.

Meskipun banyak orang yang mengatakan agar ia tidak menggunakan kerudung sebagai "kedok", Lisa tidak menghiraukannya sebab baginya, itu perintah Allah yang akan dia lakukan sebagai perempuan muslim. Ia harus menggunakannya tanpa kata tapi dan tanpa kata nanti. Bahkan, kalau bentuk tubuhnya tidak sebagus saat ini, Lisa tetap akan menggunakannya.

"Kadang aku iri sama temen-temen, Nek, aku ingin seperti remaja pada umumnya ...." keluhnya, lesu.

Sang nenek pun mengelus hijab Lisa dengan lembut, "Lisa kan anak spesial, hidup semua orang berbeda, termasuk Lisa juga."

"Tapi, Nek ... kata orang-orang, aku kayak Ibu, yang suka jual diri ke suami orang. Ibu-ibu bilang gitu, tiap pulang kuliah aku digangguin laki-laki, aku juga dikatai Ayam Kampus. Padahal aku gak gitu Nek, dideketin cowok aja aku gak mau."

Nenek Mirna tersenyum lembut. "Kamu kan nggak niat buat melakukan hal buruk, kamu udah melakukan yang terbaik untuk diri kamu sendiri. Biarkan orang lain memandangmu seperti apa, karena itu bukan wilayah kita untuk menghentikannya, kita hanya bisa berdoa kepada Allah supaya apa yang kamu dapatkan sekarang bisa terbalas suatu hari nanti, dan orang akan berhenti untuk memperlakukan kamu dengan rendah seperti ini."

Lisa mendengarkan dengan seksama. Neneknya tak pernah gagal menenangkan emosinya yang meluap ketika pulang sekolah atau kuliah. Sampai ia menginjak semester akhir ini, hanya neneknya yang bisa menenangkan kegelisahan hatinya setelah Allah.

"Setidaknya kamu harus usaha, nanti kalau kamu udah lulus bisa mungkin kamu setidaknya memiliki suami, ya suami yang bisa menghargai kamu dan membiarkan kamu melanjutkan pendidikan atau membiarkanmu mengejar mimpimu."

'Benar apa kata nenek, ia harusnya mulai memikirkan itu juga,' batin Lisa.

"Itu hanya saran sih. Karena bagaimanapun, selama kamu nggak punya seorang laki-laki yang melindungi kamu dari segi fisik maupun mental dan juga status, kamu akan selalu diperlakukan seperti ibumu. Jadi Ini saran aja untuk tidak berpikir yang tidak-tidak."

Lisa mengangguk. Memang benar, ketika ia keluar rumah, ia memang akan kembali digoda oleh banyak laki-laki dan mungkin dibicarakan dengan julid oleh para wanita yang iri pada keindahan tubuhnya.

Mereka tidak akan peduli pada kondisi fisiknya yang kelebihan hormon, hingga harus membuat Lisa rajin memompa susu dan menampungnya, untuk kemudian disumbangkan ke bank asi. Bila tidak dipompa, dia akan merasa sakit, hingga pegal. Jadi, Lisa lah yang harus bergerak untuk melindungi dirinya sendiri.

'Hanya saja, aku tak tahu sampai kapan akan melakukan ini semua,' batin Lisa. +++

Lisa masih melamun karena pikirannya tentang omongan negatif dari orang-orang itu. Ia selalu sendiri. Tidak ada yang mau berteman dengannya, selain Mei, sahabatnya.

Kadang, ia tak habis pikir mengapa ia dijauhi teman sebayanya. Bahkan, ada beberapa dosen yang tega menjatuhkan perasaannya di kelas, seperti ditawari dosen untuk jadi sugar baby atau hal bejat lainnya oleh orang-orang yang katanya 'pengajar'.

Seperti takdir, Mei tak jauh dari tempat Lisa duduk, melihat perempuan itu merenung. Didekatinya Lisa yang sedang duduk di bawah pohon sambil memakan bekalnya.

Mei pun duduk dan menatap Lisa dengan prihatin. Karena anak pelacur yang dianugerahi tubuh yang indah, Lisa harus mengalami penderitaan seperti ini. Padahal, Lisa ini anak yatim piatu yang harus bergantung pada neneknya yang sudah tua.

Mei sendiri adalah anak dari Ustadzah yang menjadi guru ngaji bagi Lisa, sehingga ia berusaha untuk mengajak teman-temannya berteman dengan Lisa. Meskipun belum berhasil, tapi Mei tetap berusaha untuk membantu Lisa sebisa mungkin.

"Lis, kamu kenapa nggak makan di kantin?" tegurnya.

Lisa yang kaget dengan kedatangan Mei pun tersenyum, "Aku bawa bekal soalnya, jadi nggak perlu ke kantin."

"Kamu mau nggak aku beliin es teh?"

"Nggak deh, aku nggak mau, kata Nenek gak baik minum es," tolaknya.

Mei terkekeh mendengar penuturan Lisa yang polos. Bagaimana bisa gadis polos seperti Lisa mendapat pandangan buruk dari masyarakat? Itu sangat tidak adil. Padahal, merekalah yang tak bisa menahan fantasi atas tubuh Lisa, tapi harus perempuan itu yang menanggunya karena diciptakan demikian.

Sungguh, Mei merasa sangat kasihan dengan kondisi itu.

'Seandainya mereka tahu, Lisa sangat bersahaja. Ia sering melakukan amalan sunnah bukan hanya wajib. Setiap Senin dan Kamis ia puasa, ia juga sering salat malam, salat Dhuha ketika istirahat pertama,' batin Mei menatap iba Lisa yang lagi-lagi hanya makan ketika jam 12.

Berfoya-foya?

Mana mau, Lisa melakukannya. Bahkan, ia tidak pernah satu kalipun ia menerima ajakkan Mei untuk jalan-jalan.

Jika Mei memintanya untuk menemaninya ke pasar, barulah Lisa mau. Itu pun hanya sekali atau dua kali, karena Lisa sendiri juga merasa tidak nyaman kalau di keramaian--banyak pria yang menatapnya dengan lapar.

"Hemm, sejujurnya aku juga masih berusaha biar temen-temenku mau deket sama kamu," ucap Mei memandang Lisa.

Lisa tersenyum mengerti. Ia merasa beruntung memiliki Mei di dalam hidupnya, sebagai satu-satunya orang yang mau membantunya, menemaninya, dan berbicara serius dengannya, atau bercanda dengannya.

"Ya ampun, nggak apa-apa Mei, kamu udah berusaha dengan keras dan aku nggak mau ngerepotin kamu lagi," balas Lisa, "suatu hari nanti, aku percaya mereka juga akan mau berteman sama aku."

Mei mengangguk. "Kamu orang baik. Aku nggak tahu kenapa banyak orang menjauhi kamu seperti ini hanya karena bentuk tubuh kamu."

"Gimana lagi? Ini udah dari sononya juga. Aku juga gak bisa mengendalikan pandangan orang lain kan." Senyum manis terbit di pipi Lisa membuat Mei kembali mengangguk, sebelum ia kembali teringat sesuatu. "Oh, iya! Terus, kamu masih di tawari jadi model?"

Lisa tampak sedih dan mengangguk. Tentu saja masih. Ia cantik dan memiliki tubuh yang indah, para pencari bakat tentu akan menawarinya dengan bayaran menggiurkan.

"Kamu benar-benar gak tertarik jadi model?" tanya Mei lagi.

Lisa langsung menggeleng, "Ya nggaklah. Aku nggak mau jadi model. Gak jadi model aja kayak gini hidupnya, apalagi kalau jadi model bisa rusak aku."

"Ya nggak gitu juga kali. Enggak sampai rusak karena kamu juga orang baik," bela Mei.

"Bisa aja, kan menjadi model juga hidup di dunia entertainment banyak orang yang lihat aku. Aku takut aku jadi bahan fantasi para laki-laki hidung belang di luar sana."

Mei membenarkan itu. "Iya juga sih, aku turut prihatin ya," ujarnya simpati.

"Oh ya aku ada pesan dari Bi Ijah. Katanya dia mau ketemu sama kamu, tapi sore kamu katanya nggak di rumah kemarin."

"Bi Ijah?"

Lisa terdiam. Salah satu ibu yang sering ikut pengajian bersama mereka tiba-tiba mencarinya? Ada apa?

"Nanti katanya Bu Ijah mau ke rumah kamu lagi, katanya mau ngomong penting," ucap Mei sembari mengangguk.

"Ngomong penting apa, gak biasanya?" tanya Lisa akhirnya tak menyembunyikan rasa penasaran.

"Aku juga nggak tahu sih, ngomong penting apa," jawab Mei, "yang jelas, kamu jangan lupa, ya."

2. Menjadi Ibu Susu?

Setelah pulang dari kampus, benar saja Bi Ijah ada di depan rumahnya sedang duduk di eperan rumah lusuh itu.

"Kamu baru pulang?" tanya Bi Ijah berdiri.

Bi Ijah adalah tetangga dari ustadzah Ami yang merupakan ibu dari Mei.

"Iya, Bi. Ada apa ya?" tanya Lisa sambil mencium tangan kanan Bi Ijah khidmat.

"Kita masuk dulu yuk! Ada hal penting yang mau Bibi omongin sama kamu."

Lisa pun mengangguk dan mempersilahkan Bi Ijah untuk masuk ke dalam rumahnya yang sangat sederhana itu.

Rumah dengan ruang tamu yang sangat sederhana semuanya serba kayu sampai lantai-lantainya pun kayu. Bi Ijah dipersilahkan duduk dan disuguhi mium teh.

"Bi mohon maaf ya, cuma ini aja yang kami punya," ucap Lisa sopan.

Bi Ijah mengangguk saja, "Ini maaf yah, Bibi dapat info dari Ustadzah kalau kamu bisa mengeluarkan asi."

Lisa terdiam. Ia menatap ragu wanita di hadapannya. Ini adalah rahasia yang hanya diketahui keluarga dan ustadzah pembimbingnya.

Menyadari tatapan Lisa, Bi Ijah segera berkata, "Eh, tenang aja, Bibi nggak ngomong sama orang lain kok."

Lisa pun mengangguk, "Makasih ya Bi Ijah, tapi Bi Ijah kenapa cari tahu tentang aku yang menghasilkan asi?"

"Em gini, jadi kan kerja sama Tuan Alexander yang konglomerat itu loh yang rumahnya gedongan di komplek elit sebelah."

Lisa mengangguk mengerti, meskipun ia sebenarnya tidak tahu betul tentang informasi keluarga yang sering dibicarakan oleh masyarakat itu.

"Jadi, Bi ijah ada pesan dari Tuan Alex kalau beliau sedang mencari ibu susu untuk anaknya yang baru sebulan.

Lisa pun terheran, "Loh ibunya ke mana?"

Bi Ijah terlihat menghela nafas sedih dengan raut wajah yang terlihat prihatin.

"Ibunya pergi. Ibunya kan model terus sekarang dia sedang proses cerai dengan Tuan Alex karena menganggap kalau menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah hal yang mengekang, dan ia tidak ingin menjadi ibu rumah tangga, ia ingin mengajar karirnya sebagai model."

Lisa tampak mengerti.

Melihat itu, Bi Ijah pun menjelaskan kembali, "Jadi, sekarang tuan muda Axel atau Axellio ini nggak ada yang nyusuin, sementara dia alergi susu sapi dan kambing. Intinya dia itu alergi susu formula gitu, jadinya sekarang dia minum susu asi dari Bank Asi, tapi Tuan Alex agak ragu dengan susu yang ada di bank Asi karena kita nggak tahu apa yang ada di susu tersebut. Takut ada bakteri atau penyakit turunan dari si pemilik Asi-nya."

"Logis juga sih Bi, kekhawatiran Tuan Alex," ucap Lisa.

"Nah, Bibi mau nawarin penawaran buat kamu untuk jadi Ibu Asi buat Tuan Muda Axel, karena kasihan banget dia tiap hari tiap malam nangis, tapi Tuan Alex mengurangi intensitasnya karena masih takut dengan kandungan yang ada di Asi yang kami beli di Bank Asi."

"Jadi aku nyusuin anak itu, Bi?" tanya Lisa polos sambil mengangguk.

Bi Ijah sontak tertawa mendengar ucapan dan ekspresi Lisa itu.

"Lisa tenang aja, Pak Axel itu aslinya baik cuman emang orangnya agak kelihatan galak. Cuman kan nanti kamu jarang ketemu sama beliau, kamu bakalan nyusuin anaknya aja, gitu. Tapi karena emang anak-anak jadi kadang minta susunya pas malam juga, jadi kalau bisa kamu juga tinggal di sana gitu."

"Menginap?" Lisa pun langsung sedih mendengar syarat itu. "Bi, tapi aku nggak bisa kalau harus tinggal di sana, soalnya Nenek sendiri."

Bi Ijah pun mengerti, "Hem, iya juga ya. Ya udah nanti kamu diskusiin aja sama Nenek kamu ya. Bibi tunggu besok sore, besok habis kerja Bibi ke sini lagi kalo bisa nemuin nenekmu juga."

Lisa pun mengangguk tersenyum ramah, "Makasih ya, Bi."

+++

"Lisa, kenapa mukanya kayak tertekan gitu?" tanya sang Nenek. Ia begitu heran melihat wajah cantik cucunya yang terlihat sangat tertekan, seperti ada yang ingin disampaikan, tetapi takut.

Tak lama, Lisa pun mendongak. Ekspresinya tampak bingung, "Aku ragu, Nek."

"Ragu kenapa? Coba cerita sama Nenek," gumamnya.

"Tadi sore, Bi Ijah ke sini nawarin kerjaan. Gajinya gede tapi harus tinggal di rumah majikan," ujar Lisa.

Mirna terlihat berpikir sebelum menjawab, "Kerja jadi pembantu, kok harus tinggal di rumah?"

"Bukan, jadi Ibu Susu, karena masih bayi sekitar dua bulan, jadi kadang malem-malem butuh asi dan dia alergi susu formula."

Mirna tentu saja terkejut dengan kenyataan itu, "Nenek sih mau ijinin, tapi kalau harus tinggal di rumahnya agak ragu. Soalnya nenek aja takut ketika kamu harus keluar rumah. Apalagi itu harus tinggal di sana."

"Hem, ya udah nek aku tolak aja ya."

"Eh jangan langsung ditolak, kamu coba tanya apakah boleh kamu pulang pergi. Maksudnya jangan tinggal di rumahnya majikan."

"Iya Nek, tapi biar jelas nenek temui Bi Ijah langsung."

Mirna setuju untuk menemui Bi Ijah juga, bagaimana ini pekerjaan resmi pertama Lisa, jadi ia cukup antusias. Setidaknya, cucunya ini bisa mendapatkan uang untuk membiayai hidupnya sendiri, sehingga bisa hidup seperti anak seumurnya.

+++

Sore harinya, ketika Bi Ijah kembali ke rumah mereka. Lisa kembali mengatakan apa yang disampaikan oleh Mirna. Mirna juga menyempatkan diri di rumah untuk agar bisa bertemu langsung dengan Bi Ijah. Ketiga orang itu itu duduk di ruang tamu dan membicarakan tentang apa yang dimaksud Bi Ijah.

"Nah, Bu Mirna pasti sudah tahu apa yang saya tawarkan pada Lisa, saya ingin Lisa menyusui anak majikan saya. Jadi gimana, Bu, apakah dibolehkan?"

Mirna mengangguk-angguk, "Sebenarnya saya juga sudah membicarakan itu dengan Tuan saya."

Mirna kemudian angkat bicara, "Iya saya tahu hal itu, cuman yang ingin saya sampaikan sebenarnya boleh-boleh saja jika Lisa menyusui seorang bayi, dari segi bagaimana Lisa memanfaatkan asi itu daripada dia jual ke bank asi yang sebenarnya merepotkan. Ia juga agak kesulitan karena memang yang namanya orang punya asi pasti sering banget kan payudaranya kencang dan dia kadang sampai merasakan sakit juga, sampai-sampai di tempat yang seharusnya umum gitu, sampai bajunya basah hanya karena asi.”

“Iya, memang kalau punya asi bisa keluar kapan aja, harus pake jaket atau baju luar,” tanggap Bi Ijah.

“Nah iya, jadi saya kira kalau memang ada seorang bayi yang membutuhkan asinya Lisa, dia bisa menyusui dan mungkin kalau diminum langsung sama si bayi itu lebih banyak, nggak hanya yang kami jual ke bank asi.”

"Itu benar Bu Mirna, jadi menurut Bu Mirna bagaimana?" tanya Bi Ijah lagi.

"Kalau saya sih boleh-boleh aja sih Lisa jadi ibu asi, cuman yang saya nggak bisa itu ketika harus membiarkan Lisa tinggal di rumah majikan. Mohon maaf bukannya saya sok bagaimana, cuman Lisa ini memang punya tubuh yang lebih dewasa daripada anak seusianya, makanya saya khawatir tentang bagaimana kalau dia tinggal di sana pasti ada banyak fitnah. Nah, karena itu saya ingin sekali agar Lisa tetap aman, terlindungi kehormatannya dan dia tidak dilukai juga harga dirinya."

"Emang pandangan orang sudah buruk tentang Lisa, tapi saya tidak ingin itu dikembangkan untuk kebutuhan orang lain. Lisa anak baik-baik, saya yang didik dari bayi, jadi saya nggak terima kalau sampai terjadi sesuatu sama dia," tambah sang Nenek.

"Baik Bu Mirna, saya mengerti. Saya akan sampaikan ke Tuan. Semoga aja nanti Lisa bisa pulang pergi, tapi mungkin kalau pun nggak nanti saya bisa beli asi dari Lisa," ujar Bi Ijah dengan tersenyum.

Mirna juga tersenyum menanggapinya, sementara Lisa sendiri tadi aja menyimak setelah menyiapkan cemilan dan minuman. Setelah selesai pembicaraan mereka, Lisa pergi ke kamar dan terdiam.

"Apakah mereka mau menerima persyaratan dari nenek?" lirihnya meragu.

3. Pria Dewasa yang Hot

Keesokan harinya, Bi Ijah kembali datang seperti biasa. Tampaknya, ia hanya bisa menemui Lisa saat sore setelah jam kerjanya selesai.

"Saya sudah bicara dengan Tuan Alex, kalau Tuan Alex sendiri nggak masalah, bahkan dia bersedia menyiapkan sopir atau motor untuk aktivitas pulang pergi Lisa. Kalau Lisa nggak mau pakai sopir, jadi di sana nanti Lisa bisa pulang sekitar jam 4 sore, dengan jam kerja setelah pulang sekolah.”

Lisa dan Nenek Mirna mengangguk-angguk mendengarkan, “Jadi Lisa nggak kelamaan di sana, kalau Tuan Alex sendiri memang lebih memperhatikan kualitas. Dia pengennya sesuatu yang bagus, kalaupun harus Nak Lisa di sana dalam waktu singkat nggak apa-apa, nggak masalah. Nanti Lisa bisa siapkan cadangan untuk diminum Tuan Muda ketika malam hari. Tuan Alex juga menyiapkan makanan khusus Ibu Menyusui, nanti Lisa dipastikan setidaknya harus siap untuk makan makanan sehat demi agar Tuan Muda menerima asi yang sehat. Bagaimana?"

Lisa mengangguk setuju, "Selama ini, Nenek juga gak ngebolehin jajan sembarangan. Jadi, aku makan makanan yang baik terus."

Bi Ijah pun mengangguk, begitupun juga Mirna yang telah menyetujui. Alhasil Bi Ijah berkata kalau, "Lisa bisa mulai kerja besok dan saya akan mengajak Lisa ke rumah Tuan Alex dulu hari ini untuk memperkenalkannya kepada Tuan Alex karena besok Tuan Alex tidak di rumah beliau harus perjalanan bisnis ke luar negeri, jadi hari ini perkenalan dan besok langsung kerja,” jelasnya.

Lisa menurut saja, sehingga mereka pun langsung menuju ke rumah besar Alexander itu.

+++

Ketika tiba, Lisa melongo melihat kemewahan rumah bossnya itu. Selama ini, ia hanya bisa melihat itu di TV, tapi sekarang ada di depan matanya!

Ia tidak tahu kalau ia bisa sampai menginjakkan kaki di rumah itu sebagai salah satu dari pekerja di sana dan benar saja, di sepanjang jalan menuju ke rumah istana itu ia melihat beberapa bodyguard menatapnya. Ketika ia baru masuk, ia juga menemukan beberapa bodyguard yang menatapnya penuh damba sekaligus kagum. Meskipun begitu, Bi Ijah sudah berkata kalau mereka steril dari perilaku jahat.

"Lis, tenang aja dah. Meskipun mereka mungkin kaget dengan kecantikan kamu, mereka nggak akan ngapa-ngapain karena mereka udah dididik dengan baik juga sama Tuan Alexander."

Lisa pun mengangguk dan menjadi lebih tenang mendengarnya.

Setelah mereka sampai di sebuah ruangan yang konon katanya ruang kerja Tuan Alex, pun Bi Ijah langsung mnegetuk pintu dan izin masuk. Langsung saja dari dalam sudah terdengar suara agar mereka masuk.

"Masuk!"

Lisa bisa melihat seorang pria dewasa sedang membaca dokumen dan sesekali mengetik di komputernya. Pria itu tampan, berbadan besar alias kekar, tidak terlalu besar tapi pas untuk dikatakan pria hot yang selalu dibicarakan perempuan masa kini. Namun, Lisa agak ngeri ketika melihat beberapa tato di tangannya dan tindik di telinga kanan kirinya yang berwarna perak kecil tapi memberi kesan sangar.

Lisa jadi ingat kalau dulu ia juga pernah melihat orang tersebut di TV, mungkinkah dia artis, atau orang penting di Indonesia. Ingatan Lisa buruk, ia menyesalkan hal itu di saat-saat seperti ini, ingatannya harusnya bekerja dengan baik.

Maxelio Derix Alexander, seorang pewaris utama keluarga Alexander yang merupakan keluarga bangsawan yang berasal dari Spanyol. Namun, ayah Max menikah dengan seorang putri Duke dari Inggris, sehingga Max bersama kedua kakaknya memiliki masa kecil di dua negara itu.

Hingga Max merantau ke Asia dan membangun perusahaan di Indonesia, lalu ia memilih menetap di sini dan berumah tangga dengan Eva Jianka si model papan atas keturunan China-Sunda. Makanya ia sering melakukan perjalanan bisnis, jadi tidak bisa mencurahkan banyak waktunya bersama sang anak dan istri, sampai istrinya muak dan memilih berpisah.

"Tuan, ini saya datang membawa Lisa, Ibu Susu untuk Tuan Muda Axel."

Orang yang disebut sebagai Tuan itu pun mendongak dan meletakkan pulpennya, melepaskan kacamata bacanya dan menatap lekat orang yang datang bersama Bi Ijah.

Max seketika tertegun melihat sosok itu, sosok berhijab dan bergamis dengan jaket berhodie oversize yang membungkus tubuh berisinya itu. Gadis itu tersenyum polos, tapi Max buru-buru menyadarkan diri agar tidak terpesona. Ia sedikit mendengar dari Bi Ijah kalau gadis yang akan ia bawa masih kuliah, intinya kalau dibandingkan dengannya, mereka memiliki perbedaan usia yang jauh.

"Namanya, Lisa?" tanya Max dingin.

Bi Ijah mengangguk, "Benar Tuan," jawab Bi Ijah.

Max terus menatap Lisa dengan tatapan menyelidik, "Serius kamu masih kuliah?" tanyanya.

Meski gugup, Lisa memberanikan diri menatap lawan bicaranya yang bermata biru muda itu, "I--iya, Tuan. Semester 7, sebentar lagi lulus."

Itu jawaban yang tak terduga bagi Max, Lisa terlihat sekali polos, padahal awalnya ia curiga kalau meskipun Lisa anak kuliahan, ia adalah anak nakal yang melakukan pergaulan bebas.

Ia pun tersenyum tipis, lalu mengangguk-angguk dan mengisyaratkan agar Lisa duduk.

Bi Ijah tentu sangat terkejut dengan reaksi Max, bagaimana bisa Max tersenyum padalah seluruh mansion tau bagaimana tuan mereka yang sangat irit senyum. Di tengah lamunannya, Max mengusirnya keluar agar ia dan Lisa leluasa membicarakan kontrak.

"Kamu keluar dulu," ujarnya.

Lisa terkejut ketika Bi Ijah juga dengan cepat mengangguk, "Baik, Tuan," ujar Bi Ijah sambil mengelus pundak Lisa agar Lisa tidak takut.

Max tau Lisa takut karena harus berdua dengan orang asing di sebuah ruangan, sementara itu Bi Ijah membiarkan pintu sedikit terbuka.

Ditinggal Bi Ijah, Lisa duduk di sebrang Max yang dibatasi meja kerjanya yang menurut ukuran Lisa itu sangat besar.

"Jadi kamu menghasilkan asi?" tanya Max.

Lisa mengangguk, "Iya, Tuan."

"Kenapa?"

Lisa terkejut dengan pertanyaan itu, "Maksudnya, Tuan?"

"Ya, saya perlu tau bagaimana orang yang nantinya akan mengalirkan asi untuk makanan anak saya, saya harus memastikan orang itu adalah orang baik-baik. Kamu pernah mendengar kan, kalau sifat orang tua bisa menurun dan bisa saja dengan kontak asi."

Lisa mengangguk mengerti dengan penjelasan itu, "Kata dokter karena saya kelebihan hormon."

"Sejak?"

"Sejak kelas 7 SMP ketika saya mulai haid, pertumbuhannya sangat pesat, sehingga Nenek saya membawa saya ke dokter."

"Hasilnya?" tanya Max lagi.

Lisa agak gugup sebenarnya, tapi ia tetap menjawab karena ia tidak melakukan kesalahan, jadi ia tak perlu takut.

"Karena faktor genetik, saya kelebihan hormon. Sehingga sejak saat itu, saya mulai menjual asi ke bank asi."

Pembicaraannya sudah cukup, Max juga tak tahan berlama-lama dengan gadis molek itu. Entah mengapa, ia merasa takut tak bisa menahan hasratnya yang sejak lama terpendam.

"Oke, kita training kamu dulu seminggu. Kalau anak saya nyaman baru kita tanda tangan kontrak," ujar Max.

Tanpa mengatakan apa-apa Lisa langsung tersenyum dan mengangguk.

"Sekarang kamu keluar dan minta Ijah untuk mengantar kamu bertemu anak saya agar dia berkenalan dengan calon ibu susunya," lanjutnya dingin dan mengalihkan pandangan dari Lisa.

Meski bingung, Lisa hanya bisa mengangguk lagi dan segera pamit. "Baik Pak, saya pamit keluar dulu."

Perempuan muda itu terus melangkah meninggalkan Max yang mengusap wajahnya frustasi. Pria itu tampak tidak menyangka pertemuannya dengan calon ibu susu sang anak akan berakhir 'kekalahan' pada bagian bawahnya.

"Gue harus menghindar, gila cuma liat mukanya aja gue tegang gini. Brengsek banget, dia keliatan polos dan gak tau apa-apa," lirihnya.

Jujur saja, Max tidak pernah sebegitu mudah terangsangnya dengan seorang wanita, apalagi ini seorang gadis kuliahan yang polos!

"Lisa ...."

4. Baby Axel Mulai Bucin

"Huaaaaa!"

Lisa merasa kaget begitu mendengar suara bayi menangis. Ketika ia menaiki tangga, tangisan itu semakin kencang terdengar.

Seketika, Lisa merasa sangat kasihan. Tangisan kejar itu seolah menandakan sang bayi tidak baik-baik saja, sementara suara dua perempuan juga berusaha menenangkan sang bayi dengan tabah.

Bi Ijah mengantarkan Lisa ke kamar sang Tuan Muda.

Sebuah kamar dengan pintu putih yang biasa saja, tetapi ketika dibuka tampak mewah dalam warna pastel yang sarat akan anak-anak.

"Permisi, Mbak Resti!" sapa Bi Ijah ketika membuka pintu dan mendapati seorang baby sitter dan bayi di gendongannya yang sedang menangis.

Sementara di sebelahnya ada Mbak Mami yang memegang mainan mencoba membantu menenangkan.

Melihat itu, Bi Ijah mendekat, "Ya ampun ini Aden kenapa lagi?" tanyanya panik.

"Enggak tau Bi, dia keliatan laper tapi gak mau minum susu," jawab Mbak Resti.

"Susu apa?" tanya Bi Ijah mengambil alih baby Axel.

"Formula Bi, tadi Pak Alex menghentikan pembelian susu di bank asi gara-gara ditemukan virus di salah satu susu yang kami beli," ujar Mbak Mami--salah satu pembantu yang ikut membantu Mbak Resti menangkan baby Axel.

"Ya Allah, pantesan," ujar Bi Ijah sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya agar baby Axel tenang.

Lisa yang sedari tadi menonton pun, tak tega karena baby Axel benar-benar lapar. Ia tak akan tenang kalau tidak diberi susu.

"Maaf Bi, boleh saya coba susui?" tanya Lisa mengulurkan tangan.

Bi Ijah, Mbak Mami dan Mbak Resti langsung terkejut.

Awalnya, mereka tak mengindahkan eksistensi Lisa karena fokus pada baby Axel.

"Kamu siapa?" tanya Mbak Mami.

"Iya, kok di sini?" tanya Mbak Resti tak kalah bingung.

Bi Ijah pun langsung menjawab, "Ini Ibu Asi buat Tuan Muda. Lisa, namanya. Kenalannya nanti ya, ini Aden udah keburu lapar."

Melihat baby Axel yang semakin kejar pun, akhirnya Bi Ijah menyerahkan baby Axel ke tangan Lisa. Lisa yang sudah memiliki pengalaman menggendong bayi pun langsung bisa menggendongnya tanpa diajari.

Bi Ijah juga mempersilahkan agar Lisa duduk di tepi ranjag milik baby Axel, lalu ia menyiapkan bantal agar Lisa mudah menyusuinya.

"Duduk dulu sini!" ujar Bi Ijah.

Benar saja, tak lama kemudian setelah ada digendongan Lisa, baby Axel tenang dan mencari sumber makanannya di dada Lisa.

Lisa duduk perlahan, lalu menatap ketiga orang dewasa itu dengan malu.

"Aku belum pernah nyusuin, gimana caranya Bi?" tanyanya malu.

"Gini ...."

Bi Ijah terkekeh, ia kemudian mempraktikan dengan menyingkap hijab instanya ke atas dan menunjukkan caranya.

Lisa mengikuti apa yang dilakukan Bi Ijah, dengan malu-malu mengeluarkan payudara sebelah kanannya kemudian mendekatkannya ke arah mulut kecil baby Axel yang sedari tadi seperti ikan yang ada di air.

"Bismillah," bisik Lisa mengelus kepala baby Axel lembut.

Tak lama, baby Axel langsung mengempeng di puting milik Lisa membuat si empunya meringis karena geli. Tentu saja, ini pertama kalinya ada makhluk yang menyedot payudaranya langsung.

Bi Ijah, Mbak Resti dan Mbak Mami lega melihatnya, mereka lelah menenangkan baby Axel yang kalau sudah menangis susah ditenangkan. Sudah begitu tenaganya yang besar membuat yang menggendong kualahan.

Beberapa kali Lisa meringis, karena baby Axel menyedot dan sesekali menggigitnya dengan gusinya. Sensasi geli lebih mendominasi dan membuat Lisa yang mudah geli itu menjadi lebih geli lagi.

"Anu ... Mbak ini namanya siapa?" tanya Mbak Resti sang baby sitter.

Ketiga perempuan dewasa itu duduk di lantai menonton Lisa menyusui, meski Lisa sudah menutupi payudaranya dengan hijabnya, Lisa tetap merasa malu.

"Maaf ya Mbak-mbak, saya belum kenalan. Nama saya Lisandra Purwaningsih, panggil saja Lisa. Anu ... saya yang akan menyusui dedek Axel ke depannya," ujar Lisa malu-malu.

"Oh iya iya, kemarin Pak Alex memang pesen sama Bi Ijah buat nyariin, eh ketemu kamu. Kamu masih kuliah katanya, ya?" tanya Mbak Mami.

Lisa mengangguk, "Iya, Mbak."

"Owalah berarti kamu yang digosipin tetangga, yang tanya tubuh kamu yang seksi meskipun masih sekolah dulu, eh sekarang udah kuliah aja.."

"Masa?" tanya Mbak Resti.

Bi Ijah angkat bicara, "Iya, emang keturunan. Emaknya aja seksi, tapi dijamin Lisa ini anak baek-baek, salihah," jelasnya.

"Iya sih keliatan," ujar Mbak Mami.

"Kesian juga ya kamu Lis, digosipin kek gitu," ujar Mbak Resti.

"Gak papa Mbak, udah biasa. Aku juga gak pingin punya tubuh yang dewasa begini, tapi aku udah diet gak ngaruh, yang kurus malah perutku," jawab Lisa.

Mereka jadi langsung akrab setelah ngobrol-ngobrol, sampai sejam berlalu, baby Axel tertidur nyenyak.

Mbak Resti pun berinisiatif untuk mengambil alih baby Axel dari Lisa untuk dipindahkan ke box bayi, akan tetapi baby Exo tidak mau melepaskan *uting Lisa dari mulutnya.

Meskipun ia setengah tidur tetapi ia masih menyedot susu yang ada di dalam payudara Lisa. Hal itu membuat Mbak Resti dan Bi Ijah kebingungan. Sementara Mbak Mami sendiri sudah pulang dari tadi karena waktu kerja yang sudah habis. Karyawan yang tinggal di rumah itu adalah Mbak Resti dan Bi Lastri, sementara Mbak Mami dan Bi Ijah pulang ke rumahnya karena tempat kontraknnya yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

"Gimana nih?" tanya Lisa khawatir.

"Ya udah, coba kamu sambil tiduran di kasur biar Aden Axel sekalian tidur," ujar Mbak Resti akhirnya.

Lisa menurut, dengan hati-hati ia merebahkan baby Axel dan dirinya sendiri dengan miring, ia tidak menarik payudara kanannya yang masih ada di mulut baby Axel karena baby Axel terlihat masih menyedotnya.

"Aduh, ini kalau nggak bisa dicopot kamu kayaknya perlu nginep deh. Soalnya kalau dipaksa, pasti Aden Axel bakalan nangis terus dan itu bisa semalaman loh." ujar Bi Ijah cemas.

"Iya, kasihan kalau nangis terus ...." dukung Mbak Resti.

Hal itu membuat Lisa khawatir, tapi ia juga mengkhawatirkan neneknya yang tinggal sendiri.

"Lah, terus aku nggak pulang gimana? Nenek kan nenek sendirian di rumah," ujar Lisa khawatir.

Bi Ijah kemudian mencari solusi, "Em, gini aja. Apa nanti Bibi ke rumah kamu dan bilang sama Nenekmu? Nanti Bibi akan bilang sama dia kalau Aden Axel nggak mau lepas dari kamu."

Lisa pun mengangguk menurut, sementara Mbak Resti jadi merasa bersalah karena Lisa yang harus berusaha untuk menenangkan baby Axel.

"Aku nggak papa kan, tiduran di sini Mbak?" tanya Lisa pada Mbak Resti.

"Ya nggak apa-apa, kan juga Aden Axel yang mau bukan kamu."

Lisa pun mengangguk ia menatap baby Axel yang sangat lucu dan tampan. Fitur wajahnya mulai terlihat dan ia teringat dengan sosok yang ia temui di ruang kerja itu, dia adalah Ayah dari bayi yang sedang ia sesuai.

Ternyata baby Axel yang tampan itu menurun dari sang ayah, wajahnya sangat bule, rambutnya coklat terang dan matanya berwarna biru, itu sangat indah. Terlebih lebih baby Axel yang masih bayi membuat siapapun gemas.

Lisa terus menepuk-nepuk pantat baby Axel dengan pelan dan membuat baby Axel tidur dengan tenang, tapi sekali lagi, ia belum membiarkan payudara Lisa meninggalkan mulutnya.

Si baby sepertinya mulai bucin pada ibu susunya.

Ini baik, tapi bisa jadi menyulitkan Lisa karena baby itu akan sangat nempel padanya....

5. What?!

Bibi Ijah pun pamit keluar dari kamar baby Axel dan melihat Max yang terlihat sedang berjalan menuju ke kamar anaknya.

"Gimana, Lisa udah ketemu sama Axel?" tanyanya berhenti setelah berada di depan pintu kamar baby Axel.

"Iya Tuan Muda Axel kelihatan banget suka sama Lisa dan dia sekarang sudah tidur, tapi sayangnya Aden gak mau ngelepasin ...." Bi Ijah agak ragu untuk menceritakan detailnya.

Max memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana panjang casualnya menatap Bi Ijah penasaran.

"Melepaskan apa?" tanya Alex tidak mengerti.

"Anu... itu Tuan Muda nggak mau melepaskan susu ... em ... maksudnya payudara Lisa, jadi sekarang Lisa nggak bisa pulang," ujarnya menyesal.

Max terkejut, ia jadi langsung membayangkan apa yang dikatakan Bi Ijah, ia merasa sangat kurang ajar kalau begini, sedikit-sedikit langsung terbayang dan itu wajar karena meskipun ia seorang pebisnis dan terkenal memiliki kehidupan yang bebas, ia tidak pernah jajan di luar karena semenjak ia tidak berhubungan dengan istrinya ia berpuasa dan tidak mengindahkan hal-hal berbau seks hinggap di tubuhnya.

Apalagi seks dengan orang-orang sembarangan seperti jajan di luar yang ia tidak tahu bagaimana riwayat tubuh wanita-wanita itu. Apakah itu berpenyakit atau tidak, sebab Max sendiri memang jebolan dari kuliah jurusan kedokteran yang akhirnya jadi pebisnis. Ia lebih mementingkan kesehatan daripada yang lain.

"Tuan?" tegur Bi Ijah yang melihat tuannya diam saja.

Max pun mencoba menetralkan ekspresinya. Ia mengangguk-angguk mengerti, "Ya udah, nanti malam kalau misalnya belum bisa pulang, coba negosiasi sama neneknya dia, atau kalau perlu neneknya dia bisa tinggal di sini."

Bi Ijah terkejut, "Yang benar, Tuan?" tanya Bi Ijah.

"Serius, saya nggak pernah main-main kan?"

Bi Ijah mengangguk, "Lagian yang saya perlukan adalah seseorang yang bisa memberi makan anak saya, Lisa ternyata bisa, tapi keterbatasan dia yang harus berada di samping neneknya itu yang harus kita cari solusi.

Kalaupun tidak mau ya nanti melihat bagaimana Axel, apakah dia mau melepaskan Lisa atau tidak. Saya juga tidak mau kalau anak saya nangis terus, kata dokter kalau Axel keseringan nangis kejer, dia akan sakit, jadi kamu coba cari solusinya bicara dulu sama neneknya Lisa."

Bi Ijah pun mengangguk dan pamit pergi. Setelah kepergian Bi Ijah, Max menghampiri kamar milik putranya. Perlahan ia membuka pintu dan agak terkejut karena sekarang Lisa sedang tiduran di kasur sang anak sambil posisinya miring dengan payudara yang tertutup hijab sehingga mulut milik Axel juga tertutup sedikit.

Untunglah, Max jadi tidak bisa melihatnya secara langsung. Agak kecewa sih, tapi bahaya juga kalau ia melihat, bisa-bisa tak bisa tidur.

Ia juga melihat Resti yang duduk di tepi ranjang sembari menanggapi obrolan dari Lisa. Ia sendiri bukan tipe bos yang terlalu saklek dan banyaknya peraturan. Asalkan karyawannya bisa bekerja dengan baik, ia membebaskan mereka bersikap seperti apa, asalkan tidak melampaui batas.

Ketika ia melihat Lisa yang sesekali tersenyum dan terus menepuk pantat baby Axel, akhirnya ia mengerti kalau Lisa memang benar-benar orang ia cari.

Ia tersenyum dan merasa lega. Kemudian ia menutup pintu kamar putranya perlahan dan berjalan ke kamarnya yang ada di samping kamar baby Axel.

Sampai di kamar, ia segera menelepon seseorang.

"Halo!"

"Hola Boss, ada apa neh?!" jawab suara dari sebrang yang terdengar slengekan.

"Ini, tolong cari tahu tentang gadis yang bernama Lisandra ...."

"Lisandra siapa, Bos?" tanya suara dari seberang.

"Saya nggak tahu kelengkapannya, cuman kamu coba cari nama itu. Dia adalah seseorang yang masuk ke dalam mension ini tadi sore, kamu bisa kan cari tau?"

Orang yang ada di seberang langsung menyetujuinya, "Siap Boss, btw gak nyangka mulai tertarik lagi ama betina awokawok!"

"Gue gak pernah belok, Ferguso. Udah cepetan, gue tunggu sejam lagi," ujarnya.

"Eh buset, gak segampang itu woy! Ya udahlah, bayarannya kudu gede loh!"

"Cerewet!" desis Max sebelum mematikan sambungan telpon itu.

"Baru aja beberapa jam di sini udah ngaruh banget, brengsek banget gue ...." ujar Max frustasi.

Wajah Lisa yang manis itu terngiang di pikirannya, bagaimana bisa gadis secantik itu bisa polos padahal ia bisa menjadi kaya raya hanya dengan tubuhnya itu.

Seperti kebanyakan cewek cantik dan seksi, mereka akan memanfaatkan itu untuk menggaet pria berduit di luar sana, tak perduli pria beristri. Sayangnya, Lisa adalah gadis yang dididik untuk menjadi wanita salihah.

+++

Tipe orang itu beda-beda, makanya ada banyak warna untuk memberikan kita pelajaran bahwa hidup tak selamanya berputar di sekitar kita. Makanya, inilah yang membuat Max heran dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia yang biasanya suka dengan wanita seksi dan glamour, suka gonta-ganti pasangan meski tak sampai seks, kini menjadi tidak selera lagi dengan itu.

Ia malah sekarang tertarik dengan seorang gadis kuliahan yang memang cantik dan bertubuh indah, tetapi ketika ia sekarang pergi ke club malam dan melihat ada banyak anakperempuan muda usia belasan dan dua puluhan tahunan, ia malah menganggap mereka seperti angin lalu.

"Minum dulu, Bro!" ujar Pamungkas, si aktor sukses yang merupakan mak comblang antara Max dan mantan istrinya.

Max menggeleng, "Gak selera," ujarnya lesu.

Ia jarang merokok, tapi ia sering minum ketika pusing dngan kerjaan, ia memang tidak sepenuhnya menghindari hal-hal yang merusak kesehatan, tapi kadang-kadang ia melakukan itu.

"Ada masalah lo ya? Cerita aja kale ...." tanya Kevan, pebisnis muda dan juga anak dari orang terkaya di Indonesia.

"Bukannya lo udah lupain mantan lo?" tanya Hans nyambung, ia memangku dua wanita seksi di kedua pahanya.

Ditatap ketiga sahabatnya, ia menggeleng seolah mengenyahkan pikiran kotor dalam dirinya. "Gue ... keknya pedofil."

"What?!" kaget Kevin.

Sementara Hans sampai membuat dua jalang di pangkuannya terpental karena gerakan refleknya. Pamungkas juga sampai memuntahkan minuman yang baru ia sesap, ia kaget dengan kelimat Max yang tak biasanya itu.

"Jelasin dulu, anjir lo jangan bikin gue mati cepet!" protes Pamungkas mengelap mulutnya.

"Seriusan, gue suka sama bocah kuliahan."

Max meringis melihat reaksi ketiga sahabatnya, tentu saja kalimat rancu itu menimbulkan persepsi negatif yang sebenarnya ia sendiri yang memancingnya.

"Gue gak salah denger, kan? Lo suka sama bocil?" tanya Hans setelah menolong kedua jalangnya yang terlempar ke lantai.

"Dia cantik pasti ...." tuduh Kevin.

"Memang cantik, tapi dia kek ukhti-ukhti gitu, lo paham kan pada?"

"Anjir!" gumam Pamungkas sampai mendelik.

"Si goblok, serius?!" tanya Kevin.

"Iya, makanya gue minta saran, gue harus gimana?!" tanya Max lagi frustasi sampai menjambak rambutnya sendiri.

"Gak kebayang sih, lo pasti lagi sakaw sekarang ya?" tuduh Hans tak percaya.

"Gue lebih percaya lo sakaw daripada lo suka sama ukhti-ukhti, serius," ujar Kevin.

"Gue malah lebih percaya lo nikah sama Mimi Peri daripada suka sama ukhti-ukhti, ini bukan lo banget. Lo gak lewat kuburan kan, pas ke sini?" tanya Pamungkas ngarang.

Max menatap ketiganya datar tanda ia serius dan seolah menjawab semua tuduhan ketiganya dengan keyakinan 100%. Akhirnya Kevin yang memutus ketegangan di anatara mereka dengan deheman.

"Oke, kayaknya kita butuh penjelasan lo dulu ….” ujar Hans dengan mode bijaknya.

"Jadi...."

6. Sugar Daddy and Sugar Baby?

“Nah, soalnya kalau masalah suka ya kita perlu cari jalan keluar, kalo kiranya hubungan ini bakal bahaya lo bisa hindarin dia, tapi situasinya kan kita gak tau,” ujar Hans lagi.

Maka, Max menceritakan detail perkaranya, mulai dari ia yang mencari ibu susu, sampai datanglah seorang gadis kuliahan yang polos tetapi menghasilkan asi dan kecantikannya memikat dirinya. Tentu ini pembahasan yang serius di antara mereka.

"Jadi gitu ...." gumam Pamungkas setelah mendengar cerita dari sahabatnya.

Kevin sampai bengong sendiri, ia berpikir keras. Si otak matematikanya mulai mengeluarkan percikan api seperti listrik yang konslet akibat dari arus listrik yang rusak. Lalu Hans, ia mengusir kedua jalangnya sebelumnya dan fokus pada pembahasan masalah Max.

"Rumit sih, masalahnya si Axel udah bucin ama tuh cewek," ujarnya.

"Nah itu masalahnya," ujar Kevin.

"Tapi emang salah kalo lo suka ama cewek yang umurnya beda jauh ama lu?" tanya Pamungkas.

Kevin dan Hans kembali memikirkan itu, "Tentu aja masalah."

Hans si playboy dan jebolan kuliah jurusan Social Science and Management di Harvard itu, lalu mengungkapkan pendapatnya.

"Sejauh ini yang gue pahami bukan gitu konsepnya, masalahnya kenapa percintaan age-gap dilarang karena kebanyakan kasus emang lebih merugikan si cewek yang diperbudak baik fisik maupun non fisik. Ini kayak contoh sugar baby and sugar daddy gitu, kasus di US kan gitu banyaknya ...."

"Di Indo juga banyak kali," tanggap Pamungkas sebelum menyesap minumannya lagi.

"Ya gitulah, intinya selama lo memperlakukan dia dengan baik, cara lo mencintai dia bukan cara yang jahat, itu gak masalah, dengan catatan si cewek juga suka rela. Tapi bukan suka rela yang goblok kek para sugar babby karena uang ya, maksudnya dalam konsteks tulus," jelas Hans.

Kevin langsung berrtepuk tangan disusul Pamungkas, "Weh si playboy lagi waras, kontra banget sama omongan lu," ujar Kevin.

"Tau nih, padahal baru aja tuh dua jalang dipangku, sekarang ngomongin ketulusan," ujar Pamungkas heran.

Hans langsung melempar keduanya dengan cemilan, "Ya elah, jarang-jarang gue lagi mode begini," gerutunya kesal.

"Tapi bener juga ...." ujar Max tiba-tiba.

Ketiga temannya menoleh, padahal tadi Max sepertinya sangat fokus mendengarkan Hans seperti orang bertapa, tapi sekarang mulai bersuara dan ketiganya menunggu tanggapan darinya.

"Bener gimana?" tanya Hans.

Suasana kembali hening ketika Max belum membuka suaranya, ia malah beranjak pergi meninggalkan ketiga orang itu dan mengabaikan panggilan mereka berkali-kali.

Sesampainya di rumah, ia melihat anaknya yang tidur nyenyak, ia lega melihatnya, ia tak tega kalau harus melihat anaknya itu menangis hanya karena susu yang harusnya mudah ia beli dengan gelimang harta yang ia miliki.

Ia duduk di samping box bayi milik baby Axel, lalu ia memandang putranya darii dekat, ia sangat mirip dengannya. Hanya bentuk alisnya yang menurun dari sang ibu.

Tak lama, ponselnya berbunyi tanda notifikasi pesan masuk.

Lalu ia keluar kamar baby Axel menuju ke kamarnya sendiri, ia tak ingin putranya terganggu dalam tidurnya. Bawahannya yang tengil itu sudah menemukan banyak informasi tentang Lisa, ini sangat mengejutkan tapi ia bangga dengann itu.

+++

Sebenarnya Lisa agak was-was tinggal di rumah besar itu, seperti kata neneknya, ia boleh tinggal di rumah majikan asal ia menjaga diri. Selama ini ia sudah menjaga diri, tapi neneknya khawatir karena ketika Lisa ada di wilayah seseorang takutnya ia tak bisa membela diri lagi.

"Baby Axel udah ngantuk ya?" tanya Resti pada si bayi yang mulai merem-merem.

Lisa langsung terbangun dari lamunannya, ia melihat Resti yang mendekatinya sambil mengajak bayi itu ngobrol. Ia langsung tersenyum dan langsung melihat si bayi yang memang sudah ngantuk.

"Eh udah ngantuk ya Baby Axel?" tanya Lisa juga.

"Iya nih, Kakak," jawab Resti menirukan suara bayi.

Kemudian Lisa mengambil alih baby Axel, ia mengajak Resti untuk ke kamar baby Axel untuk menyusuinya. Ia baru selesai bersih-bersih di kamar yang sama dengan Resti setelah pulang sekolah tadi.

"Eh, Mbak, aku heran kenapa ya kok Pak Max sekaya ini, dia usaha apa?" tanya Lisa penasaran dengan kemewahan yang ia lihat di rumah itu.

Resti langsung berbinar dan menceritakan cerita yang ia tau, meskipun itu tidak akurat karena hanya berdasarkan cerita dari orang lain yang belum tentu benar. Padahal, Max tak hanya luar biasa, tapi memang luar biasa dari yang paling luar biasa.

Selain sebagai pengusaha ia juga merupakan mafia yang bersembunyi di balik tampangnya yang serba keren. Mulai dari fisiknya yang good looking, ia juga good rekening tentu saja, mengingat penghasilannya setiap bulan tak kurang dari USD2,3 miliar. Berapa kalau dirupiahkan, mencapai Rp 3.872 triliun. Memang Max menyembunyikan jumlah itu demi agar bisnis gelapnya tidak tercium, jadi ia USD20,5 miliar pertahun.

Tentu dengan kekayaan itu Max masuk dalam list orang terkaya di Indonesia, Asia, tapi tidak di Eropa, padahal penghasilan aslinya kalau ia mau jujur, ia bisa mengalahkan siorang terkaya di dunia tahun 2023. Namun, Max cari aman dengan tidak memamerkan penghasilan aslinya itu.

Meski sudah menjadi orang terkaya dan juga tertampan di antara orang-orang kaya yang berwajah pas-pasan, Max masih diselingkuhi sang istri karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang hampir 20 jam penuh setiap hari. Kini ketika istrinya sudah pergi, ia baru sadar kalau ia salah meski masih gengsi untuk mengakuinya. Ia sudah meminta maaf pada mantan istri, tetapi mantan istrinya sudah terlanjur kesal dan tidak mau memperbaiki hubungan. Ia memilih melanjutkan karirnya yang tertunda dan pergi dari Jakarta.

Max baru pulang ketika ia mendengar suara merdu dari kamar pembantu yang dekat dengan dapur, itu suara yang jarang sekali ia dengar bahkan mungkin bisa diitung jari ia mendengarnya. Lalu, ia mendekati kamar pembantu itu dan terkejut ketika mengintip sedikit, itu membuatnya tambah bimbang dengan dirinya sendiri.

"Ck," decaknya tanpa sadar. Sejauh apa perasaannya itu untuk si gadis kuliahan yang lugu itu?

7. Kekhawatiran Max

“Dor!”

“Astaghfirulloh, Meiiii!” kaget Lisa ketika mendapati satu-satunya temannya mengagetinya ketika ia sedang serius nugas di gazebo taman kampus.

Mereka satu kampus tetapi beda jurusan, tetapi gedung mereka bersebelahan, jadi Mei tak perlu jalan jauh untuk menemui Lisa yang selalu sendiri itu.

Mei duduk di samping Lisa, disusun Hanum yang baru-baru ini berkenalan dengan Lisa, mereka bertemu di grup magang.

“Assalamu’alaikum, semua!” sapanya ceria.

“Wa’alaikumsalam, Num,” balas Lisa dan Mei.

“By the way, lu berdua enak banget gak ada KKN, gue ada,” keluh Mei yang benci harus tinggal di luar rumah.

“Makanya masuk jurusan ekonomi,” ledek Hanum.

“Yeu, gue juga mana tau kalau jurusan ekonomi diistimewakan,” balas Mei.

“Tapi emang jurusan lu ribet si, Mei.”

“Dih ngatain, lagi kesel juga ….”

Lisa hanya terkekeh mendengarkan keduanya berdebat masalah kampus mereka yang tidak adil itu. Memang kampus itu membuat aturan istimewa bagi mahasiswa jurusan ekonomi yang dibebaskan dari KKN, sebab mereka akan menjalani magang selama 6 bulan dan harus bisa membangun bisnis sekecil apapun.

Pembicaraan mereka mengalir, hingga Hanum nyeletuk membicarakan tentang seseorang yang membuat Lisa langsung pucat pasi.

"Gue tadi ditanyain sama Kak Baron tentang lo, Lis. Lo ada kenal sama dia?"

Bukannya menjawab, Lisa malah melamun, tentu ia tau. Pria yang membuatnya mengalami trauma dan membuatnya ingin berhenti menjalani hidup, seorang yang dua minggu lalu membuatnya takut karena menguntitnya.

"Lis ...." gumam Mei merasa aneh dengan respon Lisa.

Lisa langsung tersenyum dan menggeleng, "Aku gak kenal sih, cuma tau kalau dia senior di jurusan teknik," ujarnya datar.

"Dia keknya tertarik ama lu, Lis," ujar Hanum.

Mei terkekeh, "Gak heran kalau Lisa yang ditaksir, kalau gue lah aneh, hahaha!" sahut Mei sengaja.

Mei memang sengaja membuat agar Hanum teralihkan fokusnya pada pembicaraan yang sepertinya membuat Lisa tak nyaman. Ia tau pasti ada yang disembunyikan darinya.

+++

Nama: Lisandra Purwaningsih

TTL: Jakarta, 22 Februari 2001

Usia: 22 tahun

Tinggi badan: 165 cm

Berat badan: 52 kg

Ukuran sepatu: 39

Domisili: Jakarta Pusat, Jl. Dahlia, Gang. Seruni, No. 90L (bersama neneknya)

Pendidikan terakhir: SMKN 10000 Jakarta

Hobi: Membaca novel, membuat kue dan merawat tanaman

Cita-cita: Pebisnis kue

Prestasi: Memenangkan lomba baca puisi tingkat nasional

Ibu: Sandra (Nama asli: Guti)

Pekerjaan Ibu: PSK sejak usia 18 tahun

Usia: 34 tahun (sudah meninggal)

Kasus meninggal: Pembunuhan

Ayah: -

Data ayah terlihat kosong karena memang Lisa diketahui anak hasil perselingkuhan ibunya yang saat itu menjadi simpanan orang.

Diduga, Lisa anak dari suami orang yang membunuhnya.

Max mengerutkan kening membaca riwayat hidup Lisa. Ia lahir dari rahim pelacur, kemudian tumbuh menjadi gadis baik yang dididik oleh neneknya, itu luar biasa. Padahal dengan tubuh moleknya itu, ia bisa saja mendapatkan banyak royalti untuk hidupnya, misalkan menjadi model.

Ia tak habis pikir dengan kondisi Lisa, ia masih memikirkan hal itu dan akan mendalaminya lagi. Kini ia melihat kinerja Lisa tak ada masalah, ia bahkan menjadi ibu asi terbaik yang ia punya, tapi ia kesulitan menekan perasaannya terhadap gadis kuliahan itu.

Gedung-gedung pencakar langit dii balik dinding kaca laintai 34 itu tak menghibur kegundahan hati Max, ia masih menimbang perasaannya dan berusaha mengenyahkan perasaan merah jambu itu pada Lisa. Ia merasa seperti ABG kalau masih hanyut dalam perasaan cinta-cintaan itu.

+++

Sore harinya sekitar jam 17.00 WIB, Max tak tau mengapa ia malah lewat jalan di mana kampus Lisa berada, ia bahkan sampai berputar tiga kali untuk mengamati sekitar. Ada hal yang mengganjal hatinya, ia merasa ada yang salah.

Ia memantau CCTV, tidak melihat keberadaan Lisa bahkan baby Axel sampai menangis, untunglah Lisa meninggalkan asinya untuk baby Axel. Namun, itu membuat Bi Ijah ikut khawatir, tak biasanya Lisa tak mengabarinya, hingga akhirnya melapor pada Max.

Tak tahan menunggu di luar gerbang kampus, Max melajukan mobilnya masuk gerbang kampus dan memarkirkan mobilnya di sana. Kampus terkenal di Jakarta yang hanya bisa dimasuki oleh orang kaya atau orang pintar, Max yakin Lisa ada di kategori kedua, karena beasiswa prestasi.

"Bener kan kampus ini ...." gumamnya.

Setelah itu, ia keluar mobil dan mengamati kampus yang sudah mulai gelap karena cuacanya juga mendung. Ia menyandarkan tubuhnya yang masih lengkap dengan jasnya, hanya dasinya yang sudah dilepas. Tak biasanya ia menunggu seseorang seperti ini, hingga ia bosan dan mengeluarkan rokoknya.

Melihat kondisi kampus yang mulai dinyalakan lampu tamannya, tanda hari sudah gelap, Max jadi semakin khawatir, apakah Lisa sudah pulang dan mampir ke suatu tempat. Kakinya melangkah ke dalam dan mulai menyusuri koridor sambil merokok, ada seorang Satpam yang lewat dan menegurnya.

"Eh, Masnya ngapain di sini?" tanya satpam yang sedang patroli itu.

Max meliriknya dengan sikap angkuhnya, ia mengepulkan asap dari hidungnya dan menjawab santai.

"Saya mau jemput mahasiswi di sini, Bapak tau yang namanya Lisa?"

Satpam itu mengeryit, ia mengingat-ingat sosok yang bernama Lisa yang ia kenal, "Dia cantik dan pake hijab, kan Mas?"

Max mengangguk, tak heran kecantikan Lisa membuatnya terkenal.

"Saya gak liat sih ...." jawab Satpam itu membuat Max menghela napas kasar.

"Ya udah saya cari dulu."

"Mau saya temenin, Pak?"

"Gak usah!"

Namun, belum sempat Max berjalan lagi, ia mendengar suara teriakan.

"Toloooooong!"

Ternyata tak hanya Max yang dengar, tapi Satpam juga mendengarnya, mereka berdua kaget dan spontan mencari sumber suara. Satu hal yang diketahui Max, itu suara Lisa, gadis polos itu.

Max berlari sekuat tenaga, jantungnya berdetak dengan kecepatan yang over, tapi ia tak memepermasalahkan itu dan berlari diikuti Satpam yang membawa senter dan menerangi koridor dengan sembarangan.

"Lisa!!!" teriak Max mencoba memberri petunjuk agar Lisa mendengarnya.

"Aaaaaaaa!" Teriakan itu terdengar lagi, semakin dekat suaranya.

Max lantas mengikuti arah suara dan masih diikuti Satpam yang sebenarnya merasa takut apa yang terjadi di dalam ruangan yang paling jarang dikunjungi itu, itu seperti suara hantu yangs ering menjadi cerita horor kampus mereka.

"Lisa!" panggil Max terus berlari.

Hingga tak lama teriakan demi teriakan menyuusul, Max yakin satu ruangan yang tertutup dengan cahaya kuning dari dalam itu adalah asal suara berada. Ia menoleh ke arah Satpam dan meminta Satpam memanggil siapapun yang bertanggungjawab di kampus.

Satpam tersebut langsung melaksanakan tugasnya, sementara Max langsung mendobrak pintu tersebut dengan kekuatannya yang ia bangun dengan rutin gym tiap pagi.

Bunyi pintu terbuka kasar pun terdengar dan membuat semua yang ada di ruangan itu mendelik kaget, begitupun dengan Max yang shock melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.

"Lisa!!!"

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ibu Susu Anak Hot Duda

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai dari Laurence Andrews untuk ke-99 kalinya. Bukannya peduli, Laurence malah mengusir Josie dari mobil demi menerima telepon dari sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan pernah pergi. Namun, ia tidak sadar bahwa kesabaran Josie telah habis akibat terus diabaikan. Di saat yang sama, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera bercerai dan pergi dari negara itu selamanya.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali bersama seorang wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menjanjikan pesta pernikahan formal sebagai ganti atas keputusannya menikahi perempuan itu. Statusku sebagai putri bangsawan dan menantu konglomerat membuatku menolak keras menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan, aku akan membuat hidupnya hancur hingga dia jatuh miskin.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan