APKDock Logo
Sampul Novel Dijodohin With Gus

Dijodohin With Gus

8.8 / 10.0
Anindya Alisya Syahreza kerap memicu kemarahan guru akibat ulah nakalnya di sekolah. Bersama Lita dan Gilang, ia gemar membolos hingga merundung adik kelas. Khawatir dengan kenakalan tersebut, orang tua Anindya mengirimnya ke pondok pesantren milik sahabat sang ayah. Siapa sangka, keputusan itu justru membawa babak baru dalam hidupnya. Di lingkungan pesantren yang asing ini, Anindya malah terlibat dalam persaingan asmara dua Gus bersaudara yang sama-sama bertekad memikat hatinya.

Dijodohin With Gus Bab 1

Burung-burung telah berkicau di pagi hari. Matahari sudah terbit dari timur hingga masuk celah-celah jendela kamar orang yang sedang terlelap dalam tidurnya.

Alarm di nakasnya berbunyi, namun dihempaskan hingga hancur oleh pemiliknya. Sudah beberapa kali beli alarm namun nihil tidak ada yang selamat.

"ANINDYA, BANGUN... TELAT NANTI SEKOLAHNYA!!" Teriak Nisa, Bundanya.

"Apaan sih Bun... Anindya di skors tauuu, jadi nggak sekolah," Kata Anindya sembari menggeliat dalam tidurnya, mencari posisi yang lebih nyaman.

"Kamu tuh yah... Buat ulah apa lagi sampe di skors?!" Nisa duduk disebelah Anindya, menarik tangan putri semata goleknya.

"Anindya bully adek kelas," Jawab Anindya bangun dengan ogah-ogahan.

"Kenapa bully Adek kelas? Bisa-bisanya, Bunda nggak ngajarin ya!"

"Habisnya ngusik Anindya sih..."

Bunda menghela napas panjangnya. "Awas kalo besok-besok kena skors lagi, Bunda masukin kamu ke pondok pesantren tau rasa," Ucap Nisa saking gregetnya.

Anindya hanya memutar bola matanya malas, mana tega Bundanya memasukkannya di pondok pesantren. Anindya pun melanjutkan tidurnya yang sempat terusik lagi.

"JANGAN TIDUR LAGI ANINDYA!! ANAK SIAPA SIH? GEMES DEH."

"Bunda ih! Anindya masih ngantuk tadi malem begadang liat drakor, lagian nanti Anindya mau keluar," Ujar Anindya kembali bangun.

"Keluar kemana? Sama siapa?" Sergap Nisa cepat dengan pertanyaan.

"Biasa hehe, jalan-jalan sama sepupu," Jawab Anindya berjalan ke kamar mandinya.

"Dari pada jalan-jalan, mending ikut Bunda aja." Tawar Nisa.

Anindya membalikkan badannya seketika. "Kemana, Bun?" Tanya nya antusias. "Liburan kah?"

Nisa tersenyum tipis. "Ke pondok pesantren temen Ayah, mau ikut?"

Anindya mendengus. "Nggak nggak, Anindya nggak mau, nanti malah ribet disuruh pakai jilbab, pakai ciput, pakai baju syar'i dan apalah itu banyak banget peraturannya. Males."

"Udah Bunda tebak sih, pasti nggak mau ikut. Lain kali harus ikut, Bunda maksa," Nisa menyipitkan matanya, menatap Anindya.

"Iya Bunda... Tapi lain kali yaaaa."

"Alhamdulillah deh, akhirnya kamu mau juga." Nisa merubah ekspresi wajahnya menjadi sumringah.

"Lain kalinya dikali-kali ya, Bun!" Teriak Anindya kala Bundanya keluar kamar.

Anindya pun bersiap-siap sebelum Gilang—Sepupunya menyusul. Selesai mandi ia langsung berganti baju dan menggunakan make up natural.

Sambil menunggu dijemput, Anindya memainkan ponselnya yang tidak dibuka sedari semalam, kan kasian kesepian.

Anindya membuka room chatnya bersama Lita, teman lamanya.

Anindya: P

Litai: Nape nyai?

Anindya: Ikut gw yok

Litai: Kmn emg?

Anindya: jln sm Gilang

Litai: Lo lupa ato gmn dah, gw lg di sklh 🐕

Anindya: Gw gk lupa! gw cm nnya lo join kagak?

Litai: Klo iya macem mna keluar sklh ini bestyy😭

Anindya: Tnggl bobol pager blkng sklh ap sshny sih Ta!

Litai: Wah! Ajaran sesat

Anindya: Lo jadi gk sih! Ribet amat😑

Litai: Ya jadilah, Gw kan

Berperi ketemanan

Anindya: Gw tnggu di taman

Litai: Ya iyalah! Masa

Di toilet

(Read)

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Teriak Gilang sembari menyalimi punggung tangan Tantenya.

"Astaghfirullah, ampunilah ponakan saya ya Allah." Nisa menjingkat kaget mendengar teriakan ponakannya, anak dari kakaknya.

"Aamiin ya Allah..." Gilang meraup muka setelahnya.

"Anindya mana, Tante?"

"Anak Tante satu itu tuh! Kebo banget, Tante bangunin harus pake jurus-jurus yang manjur, baru bisa bangun," Ujar Nisa masih kesal dengan kejadian tadi.

"Curhat nih, Tan?" Tanya Gilang menaik turunkan alisnya tersenyum lebar.

"Nggak, cuci piring. Ya iyalah curhat."

"Iya deh, biar fast," Ucap Gilang sambil menuju sofa dan mendudukkan pantatnya.

Tak lama kemudian, seorang perempuan berjalan dengan riang menuruni tangga, lengkap dengan membawa tas ransel dan ponsel di genggamannya.

"Annyeong! Good pagi epribadehh!!" Teriak Anindya menyapa.

Bundanya hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Ayahnya hanya menganggukkan kepala sambil melanjutkan makannya.

"Astaghfirullah Bundaaaa!!"

"Kenapa?"

"Bunda udah nggak sayang sama Anindya?" Tanya Anindya memasang wajah sedihnya.

Bundanya mengelus dadanya sabar. "Sayang banget PAKE BANGET, orang kamu anak semata golek nya Bunda."

"Anindya juga sayang Bunda deh." Respon Anindya mencium pipi Bundanya.

"Oh iya sayang." Panggil Bunda.

"Kenapa, Bun?" Balas Anindya dengan mata yang seolah menanyakan 'apa'.

"Jadi mau ikut Bunda nggak?" Tanya Bunda berharap yang keluar dari mulut Anindya adalah kata iya.

"Kan udah Anindya kasih tahu tadi, masa kurang jelas." Anindya memanyunkan bibirnya dan duduk dimeja makan.

"Mau jadi Sholihah nggak?"

"Iya, yang penting nggak jadi Sholihin tukang sayur nggak papa," Balasnya terkekeh pelan, sementara Gilang menepuk-nepuk pundak Anindya menyemburkan tawanya.

Emang mempunyai anak seperti Anindya membutuhkan ekstra sabar.

"Tahu zina? Zina adalah perbuatan yang buruk, sebuah perbuatan yang keji, jalan yang nggak benar, makanya kalau mau jadi Sholihah jangan pacaran. Kalau udah terlanjur sekarang juga putusin." Terang Bunda dengan kalimat panjangnya.

Anindya memposisikan tubuhnya menghadap Bundanya. "Iya, kalau Anindya nggak lupa. Hehe" Balas Anindya terkekeh pelan.

"Apa? Coba ulang."

"Iya-iya, Bun. Anindya insyaAllah nggak akan pacaran."

"Bagus, kalo sampe ngelanggar langsung Bunda nikahin."

Anindya menganggukkan kepalanya cepat. "Iya nggak papa. Tapi kalo suaminya ganteng, pinter, peka, kaya raya, sholeh, dan rajin menabung."

"Iya, itu mau kamuuuu."

"Aminin, Bundaaa."

Nisa menggelengkan kepalanya. "Bunda jelasin ya, singkat saja kalau dalam Islam, ada beberapa jenis zina yang perlu diketahui beserta perbedaannya. yaitu zina Al-Laman, zina muhsan dan ghairu muhsan."

"Kalau zina Al-Laman itu dilakukan oleh seseorang menggunakan panca indra. Rasulullah pernah bersabda yang artinya telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan atau hasrat, dan yang membenarkan dan mendustakan adalah kemaluan."

"Jadi kalau Anindya ngeliat cowo ganteng itu juga zina, Bun?"

"Kalau ngeliatnya hanya sekilas dan emang nggak sengaja tak apa, tapi kalau ngeliatnya lama... itu zina mata namanya." Bunda menjelaskan.

"Terkecuali sama mahramnya boleh-boleh saja, seperti Ayah, Bunda, Om, Tante." Tambah Niko, Ayah Anindya.

"Jauh-jauh sana lo, bukan mahram gue." Anindya mengibaskan tangannya dan menjulurkan lidahnya pada Gilang disebelahnya.

"Eh-eh, jangan gitu juga dong cielah."

Bunda dan Ayah Anindya tertawa dibuatnya.

"Terus kalau zina muhsan dan ghairu muhsan itu apa?" Tanya Gilang tak menggubris perkataan Anindya, menatap wajah Ayah dan Bunda Anindya.

"Zina muhsan itu bagi pasangan suami istri yang melakukan perselingkuhan hingga melakukan hubungan intim, jenis zina ini terjadi karena melibatkan alat kelamin yang bukan mahramnya."

"Sedangkan zina ghairu muhsan adalah jenis zina yang dilakukan oleh pasangan yang belum menikah atau belum resmi menjadi suami istri. Jenis zina ini sangat perlu dihindari, karena pasangan yang belum menikah dapat terhasut godaan dan hawa nafsu, sehingga melakukan perbuatan zina." Lanjutnya.

"Udah paham sekarang?" Tanya Bunda bersedekap dada menatap Anindya dan Gilang bergantian.

Anindya dan Gilang tersenyum sembari menganggukkan kepalanya kompak.

"Baik anak-anak, sekian materi hari ini, saya mau berangkat ke kantor dulu," Kata Ayah Anindya.

"Iya, pak guru." Balas Anindya.

"Dengerin kata Tulus, Om!" Intrupsi Gilang.

Ayah Anindya mengernyitkan dahinya dan menggerakkan alis sebelahnya.

"Hati-hati dijalan," Ucap Gilang tersenyum bangga.

"Siappp."

Anindya dan Gilang menyalimi tangan Niko sebelum berangkat.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

"Bunda." panggil Anindya setelah Ayahnya benar-benar hilang dari penglihatannya.

"Iya?"

"Anindya pamit jalan-jalan yah?"

"Yaudah hati-hati, Gilang jaga Anak Tante ya."

"Gampang Tan, bocah semprul kayak gini doang."

"Bilang apa lo!!" Mata Anindya membulat sempurna menatap Gilang tajam.

"Ampun deh, maapinnn." Gilang menumpu kedua tangannya meminta ampun.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dijodohin With Gus

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Pemenang Dalam Hidupku
8.6
Selama bertahun-tahun, ia selalu mengalah dan diabaikan oleh keluarganya demi sang adik. Puncaknya terjadi di hari pernikahannya, saat ayah, ibu, kakak, serta tunangannya yang merupakan seorang bos mafia, Jason, justru pergi menghadiri wisuda adiknya. Ditinggalkan sendirian menanggung malu di hadapan para tamu, ia akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap penting. Bertekad untuk tidak lagi mengharapkan kasih sayang mereka, ia memutuskan pergi membawa koper dan rahasia kehamilannya demi memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Dendam di Balik Cinta
8.8
Demi menyelamatkan bisnis keluarga yang hancur, aku tega mengkhianati Jase Mitchell dan memilih menikah dengan Kade Mitchell. Empat tahun kemudian, Kade meninggal dunia. Ibu tirinya yang kejam, Katie Fuller, langsung mengusirku beserta anakku tanpa belas kasihan. Kehilangan segalanya membuatku terpaksa memohon bantuan kepada Jase, yang menyambutku dengan penuh godaan. Di tengah keputusasaan ini, aku berniat memanfaatkan anak Katie sendiri untuk merebut kembali seluruh warisan yang telah dia curi.
Sampul Novel My Lovely Teacher
8.7
Zayn Abidzar, murid SMA bermasalah dengan keluarga yang retak, hampir menyelesaikan sekolahnya. Takdir mempertemukannya dengan Evelyn Green, seorang guru muda, lewat kejadian tak terduga. Pertemuan itu membuat mereka saling berbagi kepedihan masa lalu, termasuk pengkhianatan yang melukai Zayn. Perlahan, cinta terlarang tumbuh di antara guru dan murid ini. Mereka pun terpaksa menyembunyikan hubungan ini dari lingkungan sekolah. Sanggupkah keduanya bertahan tanpa ketahuan?
Sampul Novel Pekerjaan yang Mematikan Tantangan Seorang Test Sleepe
9.5
Tergiur upah tambahan, aku nekat menjadi penguji tidur di hotel misterius. Namun, keputusan ini membawaku ke dalam rangkaian tes tidur yang ganjil dan mengerikan. Mulai dari fenomena tubuh yang memuai secara aneh, teror penyanyi gaib, hingga ancaman sopir taksi berbaju kertas, maut kini mengintai setiap detik. Demi bertahan hidup, aku harus mempertaruhkan nyawa menembus zona mematikan dan membongkar rahasia kelam hotel ini sebelum terjebak selamanya di labirin maut.
Sampul Novel Terbongkarnya Perselingkuhan Suamiku
8.9
Saat kebohongan terbesar dari pasangan hidup akhirnya terungkap, keputusan krusial apa yang mesti diambil? Apakah Anda sanggup melapangkan dada untuk mengampuni serta membuka lembaran baru bersamanya? Ataukah Anda akan bertindak tegas dengan membawa kasus pengkhianatan ini ke jalur hukum di pengadilan? Kini, batin Anda dipaksa memilih antara perasaan cinta atau menegakkan keadilan demi menentukan arah masa depan yang terbaik.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan