APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya

Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya

Hubungan penuh gairah antara Vovo dan Jasmine hancur setelah sebuah rahasia terungkap. Vovo menuntut perceraian resmi demi keluarganya, meski berjanji akan kembali. Namun, Jasmine yang telanjur sakit hati memilih pergi jauh, bahkan menggugurkan anak mereka untuk menata ulang hidupnya. Kehilangan Jasmine membuat Vovo didera penyesalan hebat. Kini, ia berjuang mengejar kembali sang mantan istri yang telah ia sia-siakan, demi mendapatkan pengampunan yang nyaris mustahil.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan harinya, Vovo duduk di dalam mobil Maybach-nya yang diparkir tepat di luar gedung pengadilan, dengan tenang mengetuk setir dengan tangan kirinya.

"Vovo, kamu dan Jasmine sudah menikah selama setahun sekarang. Bukankah sudah saatnya kalian memiliki seorang anak?" Suara wanita tua terdengar dari pengeran telepon.

Wajah Vovo melembut, jejak kekecewaan terlintas sejenak, tetapi dia tetap sangat sabar.

"Oma, kami berdua masih muda. Tidak perlu terburu-buru. Nenek dan Kakek sebaiknya fokus menjaga kesehatan. Dia ...."

"Apa maksudmu dengan 'tidak perlu terburu-buru'?" Suara wanita tua itu meninggi, terdengar sedikit jengkel. Kondisi kakekmu mungkin sudah membaik, tapi kami tidak semakin muda. Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang kita punya."

"Nenek ...."

"Jangan banyak alasan! Vovo, aku sudah mendengar rumornya. Apa pun yang terjadi, kamu harus memperlakukan Jasmine dengan baik."

Keheningan menyelimuti saluran telepon selama beberapa detik.

"Vovo, apa kamu mendengarku?" tanya sang Nenek.

Vovo mengusap keningnya frustrasi. "Aku mengerti, Nek."

Mereka mengobrol sebentar sebelum dia mengakhiri panggilan.

Vovo kembali mengetuk setir kemudi dengan jarinya, kali ini lebih lambat, pikirannya teralihkan. Dia menatap gedung pengadilan dari kaca mobilnya.

Vovo mengatupkan rahangnya. Kemudian, dia membuka aplikasi pesan di ponselnya.

Ibu jarinya melayang di atas foto profil yang familier—gambar bunga sederhana, bertuliskan "My Love." Vovo melewatinya dan membuka obrolan dengan Jasmine.

Pesan terakhir yang dia kirimkan padanya hanya mengingatkan tentang waktu dan tempat untuk bertemu terkait urusan perceraian.

Jasmine masih belum datang.

Dengan raut wajah masam, Vovo mengirim sebuah pesan baru. "Di mana kamu?"

Saat itu juga, terdengar suara ketukan di jendela. Vovo menoleh dan melihat Jasmine berdiri di luar, wajahnya terlihat sedikit pucat.

Jasmine membuka pintu dan duduk di kursi penumpang, menatapnya dengan tatapan kosong.

Vovo masih mengenakan pakaian kemarin—pakaian yang sama yang dia pilih untuknya.

Jasmine melakukannya selama bertahun-tahun—memilih dasi, menentukan parfum yang dipakainya, hingga mengatur setiap detail potongan kemeja dan jasnya.

"Kenapa kamu terlambat?" tanya Vovo.

Jasmine berpaling, menghindari tatapannya.

"Aku tidak terlambat," jawabnya pelan.

Dia bukan lagi gadis yang dulu, yang selalu datang lebih awal dan menunggunya tanpa ragu.

Jari-jari Vovo berhenti di atas setir kemudi. Dia menyipitkan kedua matanya saat menatapnya.

Jasmine terlihat sedikit pucat, mungkin karena semalam dia tidak bisa tidur setelah Vovo menyebutkan soal perceraian.

Meski begitu, dia terlihat baik-baik saja.

"Nenek baru saja meneleponku," ucap Vovo pelan, sambil mengalihkan pandangannya. "Jangan beri tahu mereka mengenai perceraian kita. Mereka sudah terlalu tua untuk mendengar kabar seperti itu."

Jasmine tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia bertanya, "Apa kata nenekmu?"

"Nenek ingin kita punya anak," jawab Vovo datar, terdengar sedikit kesal.

Keheningan menyelimuti mobil itu.

Beberapa saat kemudian, Jasmine tertawa pelan.

Vovo mengepalkan tangannya ke kemudi dan menoleh ke arah luar jendela.

Ada kalanya dia membayangkan seperti apa rupa anak mereka kelak.

Dia teringat saat memeluknya dari belakang, menempelkan tangannya di perutnya sambil berbisik, "Jasmine, kapan kamu akan memberiku seorang anak?"

Tetapi itu tidak pernah terjadi.

Bagaimanapun juga, mereka bisa menikah lagi dalam enam bulan dan mulai merencanakan untuk memiliki anak. Masih ada cukup waktu.

Namun Vivian hanya memiliki waktu enam bulan lagi.

Di luar, orang-orang berlalu lalang.

Tak lama kemudian, Jasmine mulai berbicara. "Vovo, untuk terakhir kalinya. Apa kamu benar-benar yakin ingin melanjutkan proses perceraian ini?

"Apa kamu merasa ragu?" bentak Vovo, terlihat sangat kesal.

Vivian masih menunggunya di studio.

Setelah mendengar jawabannya, Jasmine tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia mengambil sebuah dokumen dari tasnya, lalu memberikannya pada Vovo.

Vovo menerimanya dengan ekspresi cemberut, membolak-balik halaman. Itu adalah perjanjian pembagian harta.

"Kalau kita bercerai," ucap Jasmine, "kita harus memperjelas semuanya. Aku hanya akan mengambil apa yang menjadi hakku dari Keluarga Puconto. Dan mulai saat ini, uang yang kita hasilkan akan menjadi milik masing-masing secara pribadi."

Kemudian Jasmine mengeluarkan pulpen dan meletakkannya di sampingnya.

"Jika kamu setuju, tanda tangan di sini."

Mata Vovo tetap tertuju pada dokumen itu, kerutan di keningnya semakin dalam saat dia membacanya.

Dokumen tersebut terlalu sederhana. Jasmine benar-benar tidak menuntut banyak hal. Tanda tangannya juga sudah ada di sana.

Vovo tidak mengerti.

Apa maksud Jasmine sebenarnya? Ini hanyalah perceraian palsu.

Vivian hanya memiliki waktu enam bulan lagi. Vovo berniat menghabiskan sisa waktu itu di sisinya. Setelah itu, dia akan kembali pada Jasmine—tidak ada orang lain yang perlu tahu bahwa perceraian ini pernah terjadi.

Baginya, Jasmine adalah wanita yang setia tanpa syarat.

Vovo tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang memiliki harga diri atau batasan.

Ada kalanya Vovo merasa bosan dengannya, memaksanya melakukan hal-hal yang sengaja merusak harga dirinya.

Tetapi Jasmine tidak pernah menolak.

Dia akan kembali dengan senyuman lembut, memperlihatkan hasilnya seperti sebuah trofi. "Vovo, lihat—aku berhasil. Bukankah ini hebat?"

Jasmine adalah seorang istri yang baik. Lemah lembut. Penurut. Selama tujuh tahun, dia telah melihat hal itu berulang kali.

Jika bukan karena Vivian, pernikahan mereka mungkin akan terus berjalan seperti itu.

Namun ....

Yang terbayang di benaknya—wajah Vivian yang lemah dan muntah darah, masih berusaha tersenyum—menusuk dadanya. Rasa sakit itu begitu tajam dan tak bisa dihilangkan.

Vovo berpaling ke luar jendela sekali lagi.

Pantulan wajah Jasmine menatapnya—kosong, dan tanpa ekspresi.

Apa ini cara Jasmine mengancamnya?

Bagaimanapun juga, dia pernah memalsukan pesan untuk memfitnah Vivian.

Jasmine membenci Vivian.

Sambil tertawa kecil, Vovo mengambil pulpen dan menandatangani namanya.

Tidak ada seorang pun yang bisa mendesaknya. Bahkan Jasmine sekali pun.

Ada dua salinan perjanjian itu.

.Jasmine dengan tenang mengambil salinannya setelah Vovo menandatangani keduanya.

Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ke gedung pengadilan. Mereka mengajukan perceraian bersama-sama.

Saat mereka kembali ke sini nanti, mereka akan menyelesaikan semuanya dan mengambil surat keputusan resmi.

Begitu semua urusan formal selesai, keduanya pun melangkah keluar dari gedung pengadilan bersama.

Matahari sudah terik, dan Jasmine bisa merasakan kehangatan itu di kulitnya.

Vovo mengamati orang-orang yang berlalu lalang.

Tak sulit menebak pasangan mana yang akan menikah dan siapa yang akan berpisah. Beberapa orang memilih untuk melangsungkan pernikahan di kantor pengurusan pernikahan.

Sekelompok orang berjalan berdampingan, sambil bergandengan tangan.

Senyum wanita itu mengingatkan Vovo pada sesuatu. Dia teringat ekspresi yang sama di wajah Jasmine setahun lalu, saat mereka pertama kali menikah.

Vovo melirik Jasmine, tetapi ekspresi wanita itu terlihat datar.

"Aku akan terus mentransfer uang ke rekeningmu selama enam bulan ke depan," ucap Vovo. "Dan jangan katakan apa pun pada Kakek dan nenekku."

Dia tidak menunggu jawaban. Dia hanya berbalik dan berjalan pergi.

Jasmine hanya berdiri diam, menyaksikan mobilnya menghilang di tikungan.

Tak lama setelah itu, taksi Jasmine datang.

Kemudian, dua mobil itu berbelok ke arah yang berbeda.

Satu menuju Toko Bunga Vivian.

Dan yang satu menuju Rumah Sakit Harmoni.

Vovo masuk ke studio Vivian, di mana wanita itu menyambutnya dengan senyuman lembut.

Vovo lalu memberitahunya, "Semuanya sudah selesai. Dia tidak membuat keributan."

Sementara itu, Jasmine melangkah ke ruang kandungan dan duduk diam di hadapan dokter.

Dokter itu menjulurkan tangannya dan menarik tirai.

"Jasmine ... apa kamu yakin ingin menggugurkan kandunganmu?" Dokter sekaligus sahabatnya, Ayu Hussain, menatapnya dengan ekspresi cemas. "Dulu, kamu sangat ingin punya anak. Kamu bahkan berusaha begitu keras untuk menjalani program hamil ...."

Jasmine merogoh tasnya dan meletakkan surat pengajuan perceraian di atas meja.

"Ya," jawabnya tenang. "Aku ingin menggugurkan kandunganku. Aku tidak menginginkannya lagi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pengantin yang semestinya menjadi momen sakral bersama suami justru berakhir mengejutkan. Aku malah menghabiskan malam penuh gairah yang begitu intim dengan sosok pria perkasa lain yang misterius. Begitu pagi menjelang, kekacauan hidup yang rumit mulai menerpa diriku. Pengalaman tak terduga yang memabukkan itu seketika menjungkirbalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang akan mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel Antara Aku dan Adik Tiriku
8.7
Raffael akhirnya pulang setelah enam tahun pergi ke luar negeri akibat fitnah kejam dari adik tirinya, Syaqila. Meski kini Syaqila berniat tulus untuk meminta maaf atas kesalahan masa lalu yang membuat Raffael terasing, ia justru disambut dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Hubungan mereka pun kini berada di ujung tanduk. Apakah pertemuan ini akan menjadi momen rekonsiliasi yang damai, atau justru menjadi awal dari rencana pembalasan dendam Raffael?
Sampul Novel Moonlight and Mr. CEO
8.2
CEO mebel ternama di Hong Kong, Nicholas Liu, kerap diterpa gosip miring soal asmaranya karena masih melajang. Ketenangan hidup Nic terusik ketika ia dititipkan kucing putih oleh sahabatnya, Hanna. Akibat enggan mengurusnya, ia menaruh hewan itu di teras. Namun, saat bulan purnama bersinar terang, kucing tersebut mendadak hilang. Secara ajaib, sosok wanita menawan tanpa busana muncul menggantikannya, membawa perubahan besar dalam takdir hidup Nic.
Sampul Novel Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih
7.9
Karir violinis Anindya Larasati hancur seketika setelah video pribadinya tersebar luas di sebuah gala megah. Ternyata, skandal ini didalangi oleh Bima Wiratama, kekasihnya sendiri, yang bersekongkol dengan kakak tiri Anindya, Safira. Tak hanya dikhianati, Anindya juga disiksa keji oleh rekan Bima hingga menyisakan luka permanen. Sadar cintanya diperalat untuk balas dendam dan menghadapi obsesi gelap Bima yang ingin menghancurkannya, Anindya bertekad bangkit lalu menghilang demi merebut kebebasannya.
Sampul Novel Senja Berkawan Derita
8.7
Sejak lahir, Senja Kumala dibenci ibunya akibat sebuah tragedi pilu. Nasib buruk berlanjut saat dewasa, di mana ia terjebak pernikahan sebagai istri kedua yang hanya dimanfaatkan untuk melahirkan anak. Di tengah siksaan batin itu, Senja bertemu seorang pria dingin yang skeptis terhadap cinta. Kehangatan Senja perlahan meluluhkan hati pria tersebut hingga cinta tumbuh di antara mereka. Namun, sebuah rahasia besar kini terungkap dan mengancam untuk menghancurkan hubungan mereka.
Sampul Novel Terpikat Pesona Guru Muda
8.7
Maya Ailenn, siswi populer yang tidak tertarik pada lelaki sebayanya, justru menaruh hati pada pria dewasa. Ketertarikan ini menyeretnya ke dalam cinta segitiga rumit dengan gurunya sendiri, Dewangga, dan tunangannya yang bernama Sarah. Walau menyadari Dewangga akan segera melangsungkan pernikahan, Maya tidak mau mundur. Ia bahkan rela menyerahkan hal paling bernilai dalam hidupnya demi merebut sang guru. Akankah obsesi Maya berhasil, atau ia harus menelan kekalahan pahit dari Sarah?