APKDock Logo
Sampul Novel Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya

Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya

9.1 / 10.0
Hubungan penuh gairah antara Vovo dan Jasmine hancur setelah sebuah rahasia terungkap. Vovo menuntut perceraian resmi demi keluarganya, meski berjanji akan kembali. Namun, Jasmine yang telanjur sakit hati memilih pergi jauh, bahkan menggugurkan anak mereka untuk menata ulang hidupnya. Kehilangan Jasmine membuat Vovo didera penyesalan hebat. Kini, ia berjuang mengejar kembali sang mantan istri yang telah ia sia-siakan, demi mendapatkan pengampunan yang nyaris mustahil.

Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya Bab 1

Di dalam kamar tidur yang remang-remang di Vila Tanjung, Kota Nasan.

Setelah berhubungan intim, Vovo dengan lembut mengecup tahi lalat kecil di dada Jasmine, lalu duduk tegak.

Dengan ekspresi datar, dia berkata, "Ayo kita bercerai."

Jasmine, yang masih terengah-engah setelah berhubungan dengannya, menoleh perlahan, sorot mata liar penuh ketidakpercayaan terpancar dari matanya.

Mereka telah menikah selama setahun. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan ingin bercerai?

"Dia mengidap kanker perut dan hidupnya hanya tersisa enam bulan lagi," ucap Vovo sambil menyalakan sebatang rokok.

Asap itu mengepul perlahan di sekitar wajahnya.

"Harapan terakhirnya adalah menjadi istriku," tambahnya, nyaris tanpa beban.

Mendengar itu, Jasmine hanya bisa tertegun. Keheningan menyelimuti ruangan seperti kabut tebal.

Lampu di samping tempat tidur menyala redup, memancarkan bayangan panjang di dinding, membuat jarak keduanya tampak lebih jauh dari kenyataannya.

Vovo melirik Jasmine sambil mengerutkan kening.

"Pernikahan itu hanya untuk menghiburnya," jelas Vovo. "Kita akan menikah lagi setelah enam bulan. Jasmine, hidupnya tidak akan lama lagi."

Suaranya tenang, hampir tanpa emosi, seperti seseorang yang menyampaikan pesan yang tak ada hubungannya dengan dirinya.

Jasmine menatap Vovo dalam diam, matanya tak berpaling dari wajah suaminya.

Vovo berbicara seolah-olah kata-katanya adalah perintah, bukan permintaan.

Hubungan mereka selalu sepihak. Sejak awal, Jasmine-lah yang selalu mengejarnya, terbawa oleh rasa cinta masa muda.

Dia tetap berada di sisinya selama bertahun-tahun, melewati masa-masa sulit tanpa pernah menyerah.

Jasmine masih ingat hari itu, saat hujan deras membasahi tubuh mereka berdua, Vovo berdiri tegak, melindunginya dari ayah tirinya—sambil memegang tongkat yang retak, dan berkata dengan suara penuh amarah, "Sentuh Jasmine lagi, dan kamu akan menyesal."

Momen itu terukir dalam hatinya. Bahkan ketika Jasmine lemah dan berlumuran darah, dia melihat Vovo—tak bergeming, melindungi, dengan penuh keberanian.

Sejak saat itu, Jasmine adalah miliknya.

Dia mencintai pria itu tanpa ragu, memenuhi setiap permintaannya dengan sepenuh hati, lebih sempurna dari siapa pun.

Vovo akan selalu menepuk kepalanya dengan lembut dan hangat, lalu berkata dengan suara pelan, "Jasmine, kamu melakukannya dengan sangat baik."

Tetapi pujian Vovo tidak pernah bertahan lama, ciumannya hanya berlangsung singkat, dan kasih sayang yang mereka bagikan selalu terasa asing. Tetapi Jasmine meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sifatnya.

Bahkan ketika orang lain menyebutnya naif, dia tetap bertahan—setia dan penuh keyakinan.

Dia sudah mendedikasikan tujuh tahun hidupnya untuk pria itu.

Setahun yang lalu, kakek Vovo, Derek, menderita sakit parah. Keluarga, yang berharap dapat menghiburnya, memutuskan bahwa Vovo harus segera menikah. Mungkin pernikahan cucunya bisa memberi pria tua itu kebahagiaan dan semangat untuk bertahan.

Jadi Vovo akhirnya menikahi Jasmine.

Jasmine berpikir mimpinya akhirnya akan terwujud. Tetapi setelah menikah, sesuatu malah berubah. Vovo mulai menjauh. Terkadang, pria itu memandangnya seolah-olah dia adalah orang asing.

"Jasmine, apa kamu mendengar perkataanku?" Vovo mengerutkan kening saat melihat tatapan jauh di mata Jasmine.

"Apa harus melakukan ini?" tanyanya pelan.

Vovo tidak menjawab secara langsung. Sebaliknya, dia berkata, "Jasmine, dia sangat menderita."

Mendengar itu, dada Jasmine terasa sesak. "Lalu bagaimana denganku?"

Vovo tidak langsung menjawab. Sorot matanya suram dan tenang, mengerjap dengan sedikit ketidaksabaran.

Kemudian, setelah terdiam sekitar tiga detik, dia berkata, "Jasmine, dia sedang sekarat. Mungkin kamu tidak tahu, tapi dia mencintaiku. Karena kita sudah menikah, dan dia tidak ingin menyakitimu, dia tidak pernah membiarkan hubungan kami berkembang terlalu jauh. Bahkan saat aku mencoba menebusnya, dia akan selalu menolak. Dia wanita yang baik. Kumohon, biarkan dia memenuhi harapan terakhirnya. Jangan membuatku berpikir kalau kamu tidak berperasaan."

Kata-katanya, yang diucapkan dengan begitu tenang, menusuk hatinya lebih dalam daripada jika pria itu berteriak.

Jadi, menurut Vovo, seorang wanita yang jatuh cinta pada pria beristri—yang berjanji akan menahan diri tapi sebenarnya tidak benar-benar pergi, adalah wanita baik.

Dan seorang istri yang hanya ingin mempertahankan suaminya untuk dirinya sendiri justru dianggap tidak berperasaan.

Jasmine menatap wajahnya. Wajah yang sama yang dulu membuatnya jatuh cinta—mata yang tajam, hidung yang tegas, bibir yang indah.

Kapan segalanya mulai hancur?

Mungkin sejak hari wanita itu muncul.

"Apa kamu yakin ini yang kamu inginkan?" tanya Jasmine, mencoba menenangkan dirinya.

Vovo tidak menjawab, hanya mengatupkan bibirnya.

Akhirnya, dia membuka mulut untuk menjawab. "Ya, kamu—"

"Baiklah." Jasmine memotongnya sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya.

Vovo menatapnya, jelas merasa terkejut. Dia mengerutkan kening, menatapnya dengan tajam.

"Jasmine, kamu menjadi semakin cerdik," ucapnya, dengan nada sedikit kesal. "Kamu tahu aku butuh persetujuanmu untuk melanjutkannya. Apa kamu berniat menggunakannya untuk membuatku kesal?"

Jasmine tidak menjawab. Dia hanya menatap dinding putih, mengamati bagaimana bayangan mereka memanjang.

Vovo mematikan rokoknya dan tidak mengatakan apa-apa lagi, mengenakan pakaiannya dengan cepat, lalu bergegas pergi.

Dia tampak tidak peduli dengan perasaan Jasmine. Dia juga tidak berhenti sejenak untuk menyadari betapa memalukan atau menyakitkan permintaannya itu.

Vovo tahu Jasmine tidak akan bisa meninggalkannya.

Dia sangat yakin akan hal itu.

Pintu tertutup dengan keras di belakangnya.

Dan dengan begitu, Jasmine ditinggal sendirian.

Dia duduk diam di atas tempat tidur, menatap pintu seolah-olah pintu itu akan terbuka lagi.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan muncul di layar.

Dia mengambil ponselnya, Itu adalah pesan dari nomor yang dikenalnya. "Dia datang menemuiku lagi."

Pesan itu disertai dengan sebuah foto. Wajah Vovo tertangkap di pantulan pintu kaca, senyum lembut tersungging di bibirnya, kehangatan di sorot matanya belum pernah Jasmine rasakan sebelumnya.

Jasmine membeku. Kemudian, dia menggulir ke atas untuk melihat pesan-pesan sebelumnya. "Dia bilang dia punya perasaan padaku."

"Malam hujan tidak terasa sepi karena dia ada di sini bersamaku. Bagaimana denganmu?"

"Wanita yang tidak dicintai adalah wanita simpanan. Jasmine, kamu tidak pernah jadi pilihan pertama baginya; dia hanya memilihmu karena terpaksa. Dia melihat keindahan seperti aku, selera kamu sama, dan dia mencintaiku."

Pesan-pesan itu terus berlanjut, membuktikan pengkhianatan Vovo.

Pria yang selama tujuh tahun terakhir selalu memperlakukannya dengan dingin ternyata mampu bersikap lembut pada wanita lain.

Jasmine terus menggulir layar hingga sampai pada pesan pertama. "Kamu seharusnya tahu siapa aku. Apa kamu suka bunga yang ada di ruang tamu hari ini? Akulah yang mengirimnya. Dia bilang bunga-bunga itu sangat indah."

Tentu saja, Jasmine tahu siapa yang mengiriminya pesan.

Vivian, desainer bunga terkenal yang biasa merangkai bunga di berbagai villa dan pesta mewah untuk para klien kaya raya.

Jasmine pernah menunjukkan pesan-pesan itu pada Vovo sebelumnya. Tetapi dia malah mengabaikannya dan mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa pesan itu berasal dari Vivian.

Dia bahkan menuduh Jasmine yang mengirimkannya sendiri untuk menjebak Vivian. Sebagian besar pesan tidak disertai foto, dan yang ada pun terlihat kabur—diambil dari kejauhan sehingga sulit untuk dikenali.

Tetapi tidak untuk hari ini. Foto hari ini sangat jelas.

Jasmine berpikir untuk menunjukkan foto itu padanya. Kemudian matanya melirik laci di samping tempat tidur. Dia meraih dan membukanya.

Itu dia. Di dalamnya, ada tes kehamilan yang dia dapatkan tadi pagi.

Dia mengandung anak Vovo. Pada saat yang paling buruk.

Air matanya jatuh, membasahi kertas itu dan mengaburkan tintanya.

Tetapi untuk apa lagi semua ini? Hati Vovo sudah lama pergi.

Jasmine menyeka wajahnya dan mengambil korek api yang ditinggalkan Vovo. Api menyala saat dia mendekatkan hasil tes ke api.

Vovo tidak menyadari bahwa menyetujui perceraian mereka akan menjadi hal terakhir yang akan dia lakukan untuknya.

Dia telah membayar utangnya—bukan dalam bentuk uang, tetapi tujuh tahun masa mudanya.

Dia tidak akan pernah mencintainya lagi.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia dinikahi Seno Bagaskara, seorang konglomerat yang membawanya ke rumah besar keluarganya. Namun, tinggal bersama saudara ipar lain memicu konflik rumit. Di balik kemegahan rumah itu, Anisa tidak menyadari bahwa adik kandung Seno serta suami dari iparnya memendam gairah terlarang pada dirinya. Kini, ia terperangkap dalam bahaya nafsu terselubung di kediaman tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi ancaman ini?
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.4
Di hari pernikahannya, seorang wanita dikhianati oleh keluarganya sendiri. Orang tua dan tunangannya, James, mendesak agar posisi pengantin digantikan oleh sang kakak yang sekarat demi memenuhi keinginan terakhirnya. Karena menolak, ia diikat paksa di rumah dengan janji akan dibebaskan setelah upacara selesai. Malangnya, saat ditinggal sendirian, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawanya dengan kejam. Ketika keluarganya akhirnya kembali, mereka hanya mendapati jasadnya yang telah membusuk.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan hancur setelah dikhianati calon istrinya. Demi melampiaskan kekecewaan, ia nekat memaksa Zahra menikahinya. Tentu saja Zahra terkejut dan langsung menolak rencana gila tersebut. Tak menyerah, Rayhan menawarkan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra bersedia menjadi pengantin pengganti. Akankah Zahra menerima kesepakatan itu? Sanggupkah ia menjalani biduk rumah tangga sebagai istri pengganti dari pria sedingin Rayhan?
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Suasana khidmat menyelimuti Puncak Lundao di Pulau Sepuluh Ribu Binatang saat puluhan ribu anak belia berkumpul. Para murid baru yang baru mendeteksi akar spiritual ini menyimak dengan saksama petuah tetua berjubah hijau. Sang tetua mengisahkan awal mula sekte yang dirintis oleh Wan Beast Immortal Li. Tokoh legendaris itu awalnya hanya kultivator biasa asal Kerajaan Qin di Alam Qianyang sebelum akhirnya berhasil meraih keabadian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan