APKDock Logo
Sampul Novel Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih

Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih

7.9 / 10.0
Karir violinis Anindya Larasati hancur seketika setelah video pribadinya tersebar luas di sebuah gala megah. Ternyata, skandal ini didalangi oleh Bima Wiratama, kekasihnya sendiri, yang bersekongkol dengan kakak tiri Anindya, Safira. Tak hanya dikhianati, Anindya juga disiksa keji oleh rekan Bima hingga menyisakan luka permanen. Sadar cintanya diperalat untuk balas dendam dan menghadapi obsesi gelap Bima yang ingin menghancurkannya, Anindya bertekad bangkit lalu menghilang demi merebut kebebasannya.

Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih Bab 1

Di acara gala Konservatorium Musik Cipta Kencana yang megah, aku, Anindya Larasati, seorang pemain biola penerima beasiswa, akhirnya merasa memiliki tempat. Terlebih lagi, di sisiku ada Bima Wiratama, kekasihku yang tampan dan berkuasa, salah satu anggota dewan wali amanat termuda.

Namun kemudian, layar raksasa yang seharusnya menampilkan nama-nama donatur, tiba-tiba menyala. Menayangkan sebuah video yang sangat pribadi—sebuah adegan di kamar tidur—untuk disaksikan oleh seluruh elite Jakarta. Momen paling memalukanku dibajak untuk konsumsi publik.

Saat pekikan kaget berubah menjadi bisikan kejam dan tawa mengejek, duniaku hancur berkeping-keping. Bima, yang seharusnya menjadi sandaranku, lenyap tanpa jejak. Beberapa saat kemudian, aku menemukannya, sedang tertawa puas bersama Safira, kakak tiriku. Dia mengakui bahwa seluruh hubungan kami hanyalah "permainan kecil yang lucu" untuk merancang kehancuranku.

Dikhianati oleh pria yang kucintai, digiring seperti binatang, aku kemudian diseret ke sebuah gang gelap oleh teman-temannya. Aku mengalami siksaan yang tak terbayangkan: air cabai membakar tenggorokanku, kilatan kamera mengabadikan ketakutanku, dan sebuah besi panas membekaskan luka di bahuku. Semua demi hiburan publik, atas restu Bima yang kemudian, dengan dingin, memerintahkan para penculik untuk "membereskanku".

Mengapa dia, pria yang pernah membelaku, merancang kekejaman yang begitu mengerikan? Meninggalkanku hancur dan ditandai, bahkan menginginkan aku musnah. Rahasia kelam apa yang mendorong pembalasan dendam yang bengis ini, dan bisakah aku lolos dari obsesinya yang menakutkan?

Pengkhianatan yang brutal dan menyakitkan ini mengubahku. Aku tidak akan hanya bertahan hidup. Aku akan menghilang dari dunianya, dengan caraku sendiri. Membalikkan punggung dari kehancuran yang dia ciptakan untuk menempa masa depan di mana aku, Anindya, akhirnya akan bebas.

Bab 1

Udara di aula megah Konservatorium Musik Cipta Kencana terasa pekat, campuran antara parfum mahal, alunan samar orkestra yang sedang bersiap, dan gumaman pelan para elite Jakarta.

Anindya Larasati memeluk erat kotak biolanya, kulitnya yang usang tampak kontras dengan gaun-gaun berkilauan dan tuksedo tajam di sekelilingnya.

Ini adalah malam penggalangan dana tahunan, sebuah malam yang seharusnya merayakan musik, tetapi bagi Anindya, malam ini lebih banyak merayakan uang dan koneksi yang tidak ia miliki.

Statusnya sebagai mahasiswi beasiswa terasa seperti sebuah cap yang membuatnya berbeda.

Namun, Bima Wiratama adalah sandarannya. Dia berdiri di sampingnya, tangannya bersandar ringan di punggungnya, sebuah gestur kepemilikan yang terasa begitu wajar.

Dia adalah anggota dewan wali amanat, muda, berkuasa, dari keluarga yang namanya terukir di gedung-gedung. Dan entah bagaimana, dia adalah miliknya. Setidaknya, begitu yang ia yakini.

"Tenang saja," bisik Bima, suaranya selembut sampanye yang mengalir bebas. "Tempatmu memang di sini, Anya."

Anindya tersenyum kecil, ingin sekali memercayainya. Tapi kemudian ia melihat kakak tirinya, Safira Adiwangsa, melenggang di antara kerumunan.

Safira, seorang pianis yang bakatnya hanya bisa disaingi oleh popularitas dan kebenciannya pada Anindya. Mata mereka bertemu, dan bibir Safira sedikit melengkung sebelum ia berpaling, sebuah penolakan tanpa kata yang terasa menyakitkan.

Ayah tiri Anindya, Ardi Adiwangsa, ayah Safira, tersenyum bangga pada putrinya, tidak menyadari atau tidak peduli pada ketegangan itu. Dia selalu memprioritaskan citra sempurna keluarga.

Tiba-tiba, lampu meredup. Suasana menjadi hening. Layar raksasa di atas panggung, yang seharusnya menampilkan ucapan terima kasih kepada donatur, berkedip lalu menyala.

Bukan dengan nama, tetapi dengan video pribadi yang buram.

Napas Anindya tercekat. Itu dirinya. Momen intim, adegan di kamar tidur. Audionya samar, tetapi visualnya tidak dapat disangkal. Dan pria itu, meskipun hanya siluet tapi postur tubuhnya familier, jelas dimaksudkan sebagai Bima.

Pekikan kaget serentak menggema di seluruh aula. Layar ponsel menyala, merekam layar besar itu, merekam wajah Anindya yang pucat pasi. Kotak biolanya terlepas dari jari-jarinya yang kaku, berdebam di lantai marmer yang mengilap. Suara itu memekakkan telinga di tengah keheningan yang tiba-tiba mencekam.

Lalu bisikan-bisikan itu dimulai, licik dan kejam.

"Itu... Anindya Larasati, kan?"

"Gadis beasiswa itu?"

"Dengan Bima Wiratama? Skandal besar!"

Tawa, tajam dan mengejek, meledak dari sudut tempat teman-teman Bima, Chandra dan Bayu, berdiri. Wajah mereka bersinar dengan kegembiraan yang jahat.

Video itu terus diputar, mengulang-ulang penghinaan terbesarnya.

Anindya merasa terpaku di tempat, tubuhnya gemetar, rasa malu membakarnya dari dalam. Ia ingin lantai menelannya. Di mana Bima? Tadi dia ada di sampingnya. Ia memindai kerumunan dengan putus asa. Dia sudah pergi.

Ia harus menemukannya. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Dia akan memperbaiki ini. Dia selalu memperbaiki segalanya.

Ia terhuyung-huyung melewati kerumunan, wajah-wajah menjadi kabur, suara-suara menjadi hiruk pikuk penghakiman.

"Tidak tahu malu."

"Pasti pakai badan buat naik jabatan."

"Sama seperti ibunya, kudengar."

Penyebutan ibunya, yang kariernya sendiri hancur karena skandal, adalah tusukan rasa sakit yang baru.

Anindya mendorong pintu kayu ek yang berat, mencari perlindungan, mencari Bima.

Ia menemukan dirinya di koridor yang tidak terlalu ramai menuju lounge pribadi para donatur. Ia butuh waktu sejenak, hanya sejenak untuk bernapas, untuk berpikir. Tangannya merogoh-rogoh tas kecilnya mencari syal yang sedang ia rajut untuk Bima, yang baru setengah jadi.

Sebuah hadiah konyol yang tulus. Gerakan jarum yang berulang-ulang biasanya menenangkannya.

Ia duduk di bangku beludru di sebuah ceruk remang-remang, jari-jarinya bekerja secara otomatis. Lalu ia mendengar suara-suara dari lounge sebelah, pintunya sedikit terbuka. Suara Bima. Dan Chandra, serta Bayu.

"...eksekusi yang sempurna, Bung," kata Chandra, nadanya sombong. "Dia kelihatan seperti baru melihat hantu."

"Kau lihat dia menjatuhkan biolanya?" Bayu terkekeh. "Tak ternilai harganya."

Bima tertawa, suara rendah dan dingin yang sama sekali tidak mirip dengan tawa hangat yang Anindya kenal. "Dia perlu diberi pelajaran. Mencuri posisi solois dari Safira dua tahun lalu... Safira tidak pernah bisa melupakannya. Ini hanya sedikit balasan."

Jarum rajut Anindya berhenti. Darahnya terasa membeku. Posisi solois? Balasan? Untuk Safira?

"Jadi, semua ini, pacaran dengannya, bermain jadi pahlawan... semua cuma akting?" tanya Chandra, ada nada kekaguman dalam suaranya.

"Selingan yang cukup menghibur," jawab Bima, suaranya meneteskan penghinaan. "Safira ingin dia dipermalukan, dan aku selalu menjaga Safira. Lagipula, gadis itu terlalu mudah percaya. Hampir terlalu mudah."

"Bagaimana dengan videonya? Siapa yang sebenarnya membocorkannya?" desak Bayu.

"Anggap saja ini hasil kerja sama," kata Bima dengan lancar. "Intinya, pesan sudah tersampaikan."

Hasil kerja sama. Kata-katanya bergema di keheningan yang tiba-tiba menderu di benak Anindya. Pria yang ia cintai, pria yang ia percayai, telah merancang kehancuran publiknya. Untuk Safira. Karena sebuah kompetisi dua tahun lalu yang bahkan hampir tidak ia ingat pernah ia menangkan.

Pintu lounge terbuka lebih lebar, dan Bima melangkah keluar, teman-temannya mengikuti di belakang. Dia berhenti mendadak saat melihat Anindya. Matanya, yang beberapa saat lalu dingin dan penuh perhitungan, melebar karena pura-pura terkejut, lalu melembut dengan prihatin.

"Anya! Di sini kau rupanya! Aku mencarimu ke mana-mana. Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi di sana tadi benar-benar keterlaluan!"

Dia bergegas ke sisinya, lengannya melingkari bahunya dengan protektif. Chandra dan Bayu menyeringai di belakangnya.

"Jangan dengarkan mereka, Anya," kata Bima, suaranya menenangkan, suara yang selalu ia percayai. Dia menatap tajam beberapa penonton yang masih berlama-lama, yang dengan cepat mengalihkan pandangan mereka. "Aku akan menangani ini. Aku akan cari tahu siapa yang melakukan ini padamu."

Sentuhannya terasa seperti es di kulitnya. Kata-katanya adalah parodi kenyamanan yang mengerikan.

Pikirannya melayang kembali. Enam bulan lalu, ketika seorang profesor yang terkenal sulit mencoba menggagalkannya karena masalah teknis, mengancam beasiswanya.

Bima datang, seorang dermawan yang menawan, seorang wali amanat yang berkuasa, dan "menyelesaikannya".

Dia mengajaknya makan malam setelah itu, mengatakan padanya bahwa dia terlalu berbakat untuk dihalangi oleh politik akademis yang picik.

Dia membuatnya merasa aman, dilihat, dihargai. Dia adalah pahlawannya.

Ia ingat berpikir saat itu, dia seperti burung yang menemukan sarang untukku, tempat yang aman.

Sekarang, sarang itu terungkap sebagai perangkap yang dibangun dengan cermat.

Kehangatan lengannya di sekelilingnya adalah kebohongan. Tatapan prihatinnya adalah kebohongan. Semuanya adalah kebohongan.

Ia terjebak. Benar-benar terjebak oleh pria yang kini menuntunnya melewati para penonton yang tertegun, suaranya berbisik protektif di dekat rambutnya, sebuah pertunjukan publik dari cinta yang tidak lain adalah permainan kejam yang diperhitungkan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bermula Dari Casing Berminyak
9.4
Sebuah benda biasa membawa petaka dalam novel misteri Bermula Dari Casing Berminyak. Sang protagonis menyadari casing ponselnya selalu terasa berminyak secara aneh. Keluhan tersebut hanya dianggap angin lalu, hingga sang sahabat melontarkan gurauan mengerikan bahwa wadah ponsel itu terbuat dari kulit manusia. Ketakutan itu menjadi nyata saat malam tiba, ketika ia terbangun dan merasakan sensasi mengerikan seolah wajahnya sedang dikuliti secara perlahan disertai bisikan dingin yang menuntut kulitnya sendiri.
Sampul Novel En-PD159
7.9
Demi menebus kesalahan masa lalu, Song Jiayan rela menjalani pernikahan aliansi dengan Fu Shisheng. Namun, pengkhianatan pahit menerpanya saat tahu suaminya memalsukan penyakitnya dan berselingkuh. Usai lolos dari berbagai upaya pembunuhan, Jiayan bangkit dan sukses menjabat sebagai CEO di luar negeri. Ketika Shisheng datang mengejar dengan penyesalan, Jiayan memilih berdamai dengan masa lalu, fokus pada aksi kemanusiaan, dan memulai hidup mandiri yang baru.
Sampul Novel Istriku Dewi Perang yang Sakti
9.7
Lima tahun di penjara menempa Dirga Maharaja menjadi panglima perang tertinggi Negara Naga berkemampuan medis tiada tanding. Sialnya, hari pertama kebebasannya justru diawali pengkhianatan oleh sang istri tercinta. Di titik terendah ini, takdir mempertemukan Dirga dengan sosok wanita luar biasa yang rela mendampinginya menghadapi rintangan apa pun, bahkan jika harus melawan dunia. Dirga pun bersumpah akan melakukan segala cara demi menjadikan wanita penyelamatnya itu sosok paling bahagia di bumi.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Sampul Novel SETETES DARAH SUCI
8.6
Legenda kuno meramalkan lahirnya seorang gadis dengan darah suci yang membawa mukjizat. Setetes darahnya berkhasiat memberikan keabadian, kekuatan tak tertandingi, serta mencegah kepunahan klan. Saat kelahirannya yang diiringi awan hitam di malam purnama dan suhu dingin ekstrem, seisi jagat raya berpesta. Kini, hidupnya terancam bahaya besar karena setiap makhluk di alam semesta berambisi memburu dan merebut darah suci di dalam tubuhnya.
Sampul Novel Ssh, He's My Husband
8.6
Kehidupan pernikahan Gilda Safara dengan Alan Sandika Restu penuh cobaan. Menjadi istri dari gurunya sendiri yang sangat populer dan berparas tampan tidaklah mudah. Di sekolah Alan tampak berkarisma, tetapi di rumah ia memiliki sisi nakal yang terus memicu kesabaran serta hasrat Gilda. Hubungan rahasia murid dan guru ini terus diuji oleh godaan. Terlebih lagi, ada rahasia besar tentang identitas asli Alan yang belum terkuak. Siapa sebenarnya sosok suami yang tampak sempurna ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan