APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Devil Beside You

Devil Beside You

Sergio Blanco, pembunuh bayaran berdarah dingin, kehilangan arah saat ditugaskan menghabisi nyawa putri seorang miliarder. Hazel Afford, sang target dengan mata indah, berhasil meluluhkan hatinya. Namun, begitu Hazel menyadari jati diri Sergio yang sebenarnya, rasa cinta itu berubah menjadi muak. Hazel bertekad melarikan diri, tetapi ia malah terjerat dalam lingkaran gairah yang penuh risiko. Akankah Sergio menyelesaikan misinya atau memilih tunduk pada cinta?
Bab
Bagikan

Bab 2

“S-Sergio?” Raut wajah Hazel menegang terkejut melihat sosok pria yang tak ingin lagi dia temui ada di hadapannya. Dia hendak berucap, tapi sekumpulan para penjahat yang mengganggunya kini menyerang pria tampan itu.

“Kau pengganggu! Pergi kau dari hadapan kami!” seru salah satu penjahat.

Sergio mendekat seraya menyunggingkan senyuman sinis. “Bagaimana jika aku tidak ingin pergi?”

“Jika kau tidak ingin pergi dari sini, maka kami akan melenyapkanmu!” salah satu penjahat itu memberikan ancaman tak main-main.

Sergio mengangguk-anggukkan kepalanya. “Great. Aku persilakan kalian untuk melenyapkanku.”

“Mati kau, Sialan!” Salah satu penjahat itu mengeluarkan pisau, dan menyerang Sergio. Dengan gerak sangat cepat—Sergio menepis semua serangan. Pria tampan itu merampas pisau dan menancapkan pisau ke pria yang menyerangnya.

Brakkk

Bau anyir darah semerbak menetes ke balok es di kala Sergio membunuh pria yang menyerangnya. Sisa dari kompolotan penjahat yang masih hidup langsung berlari di kala melihat teman mereka terbunuh dengan kejam.

Hazel memejamkan mata sebentar, di kala takut akan darah yang keluar dari tubuh penjahat. Darah sudah beku bercampur dengan balok es yang memenuhi jalanan di kota Bern.

Sergio mengulurkan tangannya, membantu Hazel untuk bangkit berdiri. “Aku akan mengantarmu pulang.”

Hazel tak sudi menerima uluran tangan Sergio. Dia bangkit berdiri sendiri, dan melangkah pergi meninggalkan Sergio. Tepat di kala wanita itu hendak pergi—Sergio menarik paksa tangan Hazel—memaksa masuk ke dalam mobilnya.

“Berengsek! Lepaskan aku!” seru Hazel yang kini sudah berada di dalam mobil Sergio.

Sergio mengemudikan mobilnya tak memedulikan penolakan Hazel. Sontak, Hazel terkejut di kala Sergio mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Wanita itu sampai harus memegang kuat selt-belt karena takut dirinya akan jatuh.

“Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!” sembur Hazel.

Sergio menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia membuka seat-belt Hazel, menggendong tubuh wanita itu, memindahkan ke pangkuannya. Tepat di kala tubuh Hazel sudah berpindah ke pangkuan Sergio—dia memukul keras dada bidang pria itu, berontak sekuat tenaga.

“Bajingan! Menjauh dariku!” seru Hazel.

Sergio menarik dagu Hazel, menatap iris mata yang sesuai dengan sang pemilik nama. “Harusnya kau berterima kasih, karena aku sudah menyelamatkanmu.”

Hazel tersenyum sinis. “Kau adalah pembunuh. Untuk apa aku berterima kasih pada orang sepertimu?” semburnya.

“Ah, kau sangat kasar, Butterfly.” Sergio mendekatkan bibirnya ke bibir Hazel.

“Aku bicara apa adanya! Pembunuh sepertimu, tidak pantas mendapatkan ucapan terima kasih!” seru Hazel emosi dan penuh dendam.

Sergio menyeringai seraya membelai bahu Hazel yang tertutup coat tebal. “Kau bisa menganggapku sebagai malaikat maut. Aku hanya membantu untuk membersihkan manusia tidak berguna di dunia ini.”

Tangan Hazel mengepal kuat. Dia pergi sejauh mungkin, dan menyendiri di kota Bern, tapi malah masih bertemu dengan pria sialan di depannya. Sosok pria yang sangat dia benci, dan tak ingin lagi dia temui di dunia ini.

“Jangan pernah lagi muncul di hidupku!” geram Hazel.

Tanpa berkata apa pun, Sergio menarik tengkuk leher Hazel, membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu. Dia melumat bibir Hazel tanpa permisi. Sontak mata Hazel melebar mendapatkan ciuman dari Sergio.

Hazel mendorong dada bidang Sergio sekuat mungkin. Dia tidak sudi mendapatkan ciuman dari seorang pembunuh. Akan tetapi, sayangnya berkali-kali dia memukul dada bidang Sergio—nyatanya tenaganya tidaklah sebanding.

Pukulan tangan Hazel melemah di kala ciuman Sergio melembut—menggetarkan seluruh organ dalam tubuhnya. Bibir pria itu mengulum bibir atas dan bawah Hazel bergantian. Tanpa permisi, pria tampan itu menaikkan baju Hazel, hingga dua payudara wanita itu terpampang di hadapannya.

“Oh, Fuck. Aku sangat merindukanmu.” Sergio melepaskan pengait bra Hazel, dan langsung membenamkan bibirnya ke puting payudara wanita itu.

“Ah!” Hazel mendesah seraya membusungkan dadanya di kala Sergio mengisap putingnya. Tubuhnya menggelinjang. Kewanitaannya sudah berkedut-kedut. Dia tidak sanggup menahan gejolak ini.

Lidah Sergio terulur, menyapu ujung puting payudara Hazel. Jeritan demi jeritan lolos di bibir wanita itu. Bahu Hazel bergetar tak sanggup menahan. Otak Hazel seolah berusaha memerintahkan tubuhnya untuk menolak sentuhan pria itu.

“B-bajingan! L-lepaskan aku, akhhh—” Hazel mengerang seraya menjambak rambut Sergio.

Sergio bagaikan bayi yang lapar mengisap dua puting payudara Hazel bergantian. Dia sedikit melihat Hazel mengumpat bercampur mendesah. Seringai di wajahnya terlukis. Bibir menolak, tapi tubuh merespon. Itulah Hazel Afford.

Perlahan, Sergio melepaskan cumbuan di dua payudara Hazel. Pria itu mendekatkan bibirnya ke bibir Hazel sambil memilin puting wanita itu. “Aku ingin sekali tahu rasamu, Buttefly. Aku yakin kau pasti sangat sempit,” bisiknya serak dan vulgar—dan langsung membuat wajah Hazel memerah menahan malu serta amarah yang melebur menjadi satu.

***

Hazel merasa dirinya sudah gila. Dia membiarkan tubuhnya dicumbu oleh pria kurang ajar yang sangat dia benci. Umpatan dan makian tak henti lolos di bibirnya. Dia mengumpati dirinya yang benar-benar bodoh.

Hazel menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang ada di apartemennya selama dirinya berada di Bern. Pria kurang ajar itu sudah pergi, dan hanya mengantar sampai ke lobby.

“Hazel! Kenapa kau murahan sekali?!” Hazel tak henti menyalahkan dirinya.

Sejenak, Hazel mengatur emosi dalam dirinya. Kepingan ingatannya mengingat akan kejadian dulu. Kejadian di mana dirinya pernah diselamatkan oleh Sergio. Dia berpikir bahwa Sergio adalah pahlawan. Tapi fakta telah terungkap. Pria yang sejak dulu dia kagumi adalah pembunuh bayaran.

“Kau harus menjauhi pria itu, Hazel! Tidak tahu harus bagaimana caranya, kau tetap harus menjauhi pria bajingan itu!” geram Hazel pada dirinya sendiri.

Hazel tak ingin melanggar batas berbahaya yang telah dia buat. Sergio—pria itu terlalu berbahaya untuk berada di dekatnya. Hazel tak akan membiarkan pria iblis itu menguasai hatinya yang bodoh.

Di sisi lain, Sergio duduk di kursi mobil seraya memainkan stir mobil. Tatapan pria tampan itu menatap gedung apartemen Hazel dengan sorot mata begitu dingin dan penuh maksud. Seringai di wajahnya terlukis mengingat akan penolakan Hazel.

“Tuan, Anda yakin menerima tawaran dari client kita? A-apa tidak lebih baik Anda tolak saja?” tanya sang asisten dengan cemas dan hati-hati menyampaikan apa yang menjadi pendapat pada bosnya.

Sergio tersenyum licik. “Aku akan menerima tawaran itu. Lima puluh juta dollar, bukan uang sedikit. Aku tidak mau kehilangan lima puluh juta dollar-ku.”

Sang asisten menatap Sergio penuh khawatir, dan kecemasan dalam dirinya. “Tuan, t-tapi target yang diminta client kita—”

“Aku tahu apa yang harus dan tidak aku lakukan. Kau cukup beri tahu client kita bahwa aku akan menjalankan keinginannya,” jawab Sergio dengan seringai kejam di wajahnya—dan sorot pandang lurus ke depan penuh kelicikan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
9.8
Tujuh tahun mendampingi Damian Crestfall, pewaris takhta Crestfall Group, hidup Alira Evangeline Moore hancur seketika saat sang kekasih menolak menikahinya. Di tengah kondisi mengandung, Alira dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi cinta atau menyelamatkan janinnya. Merasa dikhianati janji manis Damian, ia memilih pergi selamanya. Alira bertekad melindungi calon bayinya, meninggalkan Damian, dan memulai lembaran baru yang mandiri.
Sampul Novel Demi Ranjang Panas
7.9
Elena, gadis 23 tahun yang bekerja sebagai pelayan klub malam, harus menghadapi pilu akibat ulah Hendrik. Pasca kepergian sang ibu, ayahnya itu malah kecanduan judi hingga menunggak utang sebesar 500 juta kepada Darel. Kini, rentenir buncit berumur 45 tahun tersebut menagih janji. Karena tak sanggup melunasi, Hendrik tega menjadikan Elena sebagai jaminan utangnya. Akankah Elena terpaksa menyerahkan dirinya menjadi pemuas nafsu Darel demi menebus kesalahan sang ayah?
Sampul Novel Dinikahi Suami Majikan
9.6
Masa muda Laili harus berakhir secara tak terduga demi sebuah pernikahan sakral. Pria berambut putih yang selama ini menjadi majikannya dan selalu ia panggil 'Tuan', kini telah resmi menjadi suaminya melalui akad nikah secara agama. Tak pernah terlintas dalam benak Laili bahwa takdir akan membawanya ke posisi ini. Kini, ia harus beradaptasi menjadi seorang istri dari pria yang dulu ia layani, memicu konflik batin yang mendalam akibat perbedaan status sosial mereka.
Sampul Novel Janji
9.6
Ikatan masa lalu yang pernah terucap kini kembali membayangi kehidupan modern. Saat komitmen lama menuntut pembuktian, berbagai rahasia besar mulai terungkap dan menghubungkan kembali takdir yang sempat terputus. Di tengah jalinan asmara yang kembali tumbuh hangat, ada misteri kelam yang menyelimuti. Setiap tokoh kini dipaksa menghadapi konsekuensi nyata dari sumpah yang pernah mereka ikrarkan dahulu.
Sampul Novel Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
8.0
Rumah tangga yang dibina sekian lama hancur seketika saat sang suami, Benson, diam-diam mendonorkan sperma kepada janda mendiang sahabatnya. Bukannya merasa bersalah, Benson justru memarahi istrinya dengan dalih rasa kemanusiaan dan setia kawan. Pengkhianatan ini kian nyata ketika sang janda memamerkan penthouse mewah baru lengkap dengan foto Benson yang sedang memasak di dapur mereka. Sadar bahwa pengorbanan dan toleransinya telah dieksploitasi habis-habisan, sang istri akhirnya membulatkan tekad untuk mengakhiri pernikahan beracun ini.
Sampul Novel Waiting For Her Love (Bahasa Indonesia)
9.1
Kalea Pradipta, gadis periang yang tak kenal lelah mengejar impian menjadi penyanyi profesional, akhirnya sukses dikontrak label musik internasional setelah berulang kali gagal di ajang pencarian bakat. Ia juga merupakan anak tunggal dari pemilik wedding organizer terkenal. Sementara itu, Damas Evans adalah CEO muda berusia 25 tahun yang memimpin Nada Indonesia Corp. Pria cerdas ini mengelola gurita bisnis sang ayah yang bergerak di sektor hiburan serta kuliner.