
Ciuman Pengkhianat
Bab 2
Ya, aku dan Arkan mulai berpacaran tujuh tahun yang lalu dan sudah menikah selama lima tahun.
Seisi kampus tahu saat aku mendekatinya, dan lalu menikah dengannya seperti yang kuharapkan.
Setelah menikah, kami tinggal di vila orang tuaku yang tidak terpakai.
Aku mengambil seluruh tabunganku demi memulai sebuah perusahaan untuk Arkan.
Lalu meminta bantuan koneksi dari ayahku untuk mengembangkan perusahaan itu hingga menghasilkan puluhan miliar per tahun seperti sekarang.
Dalam waktu lima tahun, Arkan menjadi seorang direktur hebat yang menjadi buah bibir orang-orang.
Di pesta pernikahan, dia bersumpah setia kepadaku di depan semua orang.
"Sayang, aku bersumpah akan mencintai dan menyayangimu selamanya.
Pada saat itu, aku begitu larut dalam kebahagiaan sampai rela mundur dan menyerahkan perusahaan sepenuhnya kepada Arkan.
Arkan yang mendadak kaya raya segera merekrut Lidya, yang seharusnya masih terlalu muda, untuk menjadi sekretaris pribadinya.
Aku dulu membuat keributan untuk mempertanyakan situasi ini.
Arkan menjawab dengan sok suci, menuduhku membesar-besarkan masalah dan berpikiran kotor.
Tapi dia tidak tahu bahwa aku tadi mengalami pendarahan saat minum dengan seorang klien perusahaan.
Setelah dilarikan ke rumah sakit, aku baru tahu bahwa aku hamil dan mengalami keguguran.
Aku menelepon Arkan beberapa kali dan Arkan menolak semuanya.
Ternyata Arkan ciuman mesra dengan Lidya.
Tiba-tiba aku merasa semuanya tidak ada artinya.
Melihat wajah agresif Arkan, aku menghela napas dan tersenyum getir.
Di luar hujan turun deras disertai dengan guntur yang memekakkan telinga.
Sama tragisnya dengan suasana hatiku.
"Arkan, kita cerai saja. Rumah dan mobil adalah milikku sebelum menikah. Saham perusahaan dibagi masing-masing setengah."
Mata Arkan terbelalak tak percaya.
"Raline, kamu sudah gila? Aku cuma berciuman dengannya. Kenapa sampai bercerai?"
"Aku baru tahu pikiranmu ternyata sangat picik!"
Aku belum sempat berkata apa-apa. Ponsel Arkan tiba-tiba berdering di waktu yang tidak tepat.
Suara perempuan yang manis dan merdu terdengar dari ujung telepon.
"Arkan, petirnya keras sekali, aku takut di rumah sendirian. Bisa tolong temani aku?"
Arkan menghibur dengan lembut, "Oke, tunggu sebentar. Jangan takut, aku akan segera ke sana."
Suaranya sangat lembut. Aku belum pernah mendengar dia bicara seperti ini sebelumnya.
Setelah menutup telepon, Arkan menatapku dengan dingin.
"Raline, aku tahu kamu terbawa emosi. Aku akan memberimu sedikit waktu untuk memikirkannya."
Aku menatapnya. Pria yang dulu sangat kucintai telah berubah menjadi seseorang yang tidak kukenali.
Aku mencoba memegangi bajunya.
"Arkan, jangan pergi. Temani aku."
Wajahnya langsung berubah menjadi suram dan dingin.
"Jangan bikin ribut lagi. Lidya sangat penakut, dia paling takut petir. Kamu mau biarkan dia sendirian?"
Arkan lalu pergi keluar pintu tanpa ragu.
Gemuruh guntur di luar jendela semakin keras, dan aku meringkuk di pojokan.
Tentu saja, aku juga takut petir.
Saat aku masih kecil, orang tuaku sibuk bekerja. Jadi ketika guntur bergemuruh, aku hanya bisa bersembunyi di pojokan rumah sambil memegangi boneka.
Sampai aku bertemu dengan Arkan, yang selalu melindungiku dengan pundak tegapnya.
"Raline, mulai sekarang, aku akan menemanimu setiap hujan turun."
Tapi Arkan kini pergi menemani Lidya tanpa pikir dua kali.
Dia khawatir Lidya takut di rumah sendirian? Bukankah aku juga sendirian?
Setengah jam kemudian, aku melihat Lidya mengunggah sebuah status.
Foto dua tangan yang saling menggenggam.
Jam tangan Rolex hijau, kemeja putih, dan tangan yang sangat familier itu. Aku langsung kenal bahwa itu adalah tangan Arkan.
Hanya saja, cincin kawin di jari tengahnya telah dilepas, meninggalkan bekas pucat.
Lidya juga menambahkan dua kalimat di foto itu.
"Lucunya, anjing kesayanganku terlalu lengket. Hujan deras pun harus menemaniku."
Anda Mungkin Juga Suka





