APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam

Keinginan Miranda menikmati hiburan berujung kekacauan setelah ia melewati malam intim dengan Athes Russel. Masalah semakin rumit saat ia tahu bahwa pria tersebut adalah mitra bisnis ayahnya. Walau Miranda berupaya keras menghindar dan menampiknya, Athes yang terobsesi pada momen itu justru gencar mengejarnya. Miranda pun kini terjebak di tengah ancaman skandal besar serta jeratan pria yang semestinya ia jauhi sejak awal.
Bab
Bagikan

Bab 2

Las Vegas, Nevada.

Sebuah klub mewah di Las Vegas ini menjadi salah satu tempat yang sering didatangi oleh para artis dan kalangan atas. XS Nightclub, klub mewah yang berada di Las Vegas ini tidak pernah sepi. Setiap harinya selalu ramai dengan para pengunjung. Kehidupan malam di Las Vegas memang sudah terkenal.

Miranda dan Helen yang sudah tiba di Las Vegas tadi pagi. Mereka langsung mengunjungi XS Nightclub, Mereka sudah tidak sabar untuk bersenang-senang menikmati kebebasan mereka. Terutama Miranda, dia harus bersenang-senang sebelum kembali ke Roma

Miranda melangkah masuk ke dalam club malam. Tubuhnya telah terbalut oleh mini dress berwarna gold yang terlihat begitu sempurna. Sangat seksi, dress ini benar-benar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Begitu pun Helen, tidak kalah cantik dari Miranda. Helen mengenakan mini dress berwarna merah dan lipstik merah. Warna merah yang begitu terlihat menggoda.

Miranda dan Helen duduk di kursi tepat di hadapan bartender, mereka langsung memesan vodka. Tidak lama kemudian, bartender memberikan vodka yang telah mereka pesan pada Miranda dan Helen. Mereka pun langsung menyesap minuman mereka perlahan seraya menikmati suara dentuman musik.

“Miranda, apa kau tidak lihat? Pria di ujung sana terus memperhatikanmu,” ucap Helen yang tak lepas menatap pria itu dengan sebuah tatapan kagumnnya.

Miranda menaikkan sebelah alisnya, dia menatap seorang pria yang tengah bersama dengan beberapa wanita di sekelilingnya. Pria itu memang sangat tampan. Namun dengan cepat Miranda mengalihkan pandangannya, kala dia melihat salah satu wanita di sana, tiba-tiba mencium bibir pria itu. Rasanya menyebalkan sekali kalau dirinya melihat adegan mesra seperti ini. Sial, sejak dulu Miranda memang membenci melihat dua insan yang bermesraan di hadapan publik.

“Tidak perlu kau pedulikan, apa kau tidak lihat? Pria itu dikelilingi banyak wanita,” Miranda memesan kembali vodka yang ada di tangannya, lalu menenggaknya hingga tandas.

“Tapi kau lebih cantik daripada wanita-wanita di sana,” tukas Helen meyakinkan. “Ya sudah, lebih baik kita berdansa saja. Kita bisa mendapatkan pria tampan di sana,” lanjutnya seraya melirik para pria yang ada di sekitarnya.

“Tidak, kau saja, aku sedang tidak ingin,” tolak Miranda cepat. Dia terus menenggak vodka yang baru diberikan oleh bartender.

Helen berdecak kesal. “Kalau begitu kau tunggu di sini, aku ingin bersenang-senang. Aku ingin mencari pria untuk menemani malamku,” ujarnya dengan senyuman di wajahnya.

Miranda mengibaskan tangannya sebagai jawaban membiarkan Helen, mencari apa yang dia inginkan. Dengan senang hati, Helen langsung beranjak dari tempat duduknya, dia menuju lantai dansa.

“Vodka, please,” ucap Miranda pada sang bartender tepat di saat Helen meninggalkannya.

“Alright, Miss.” Sang bartender pun memberikan vodka pada Miranda.

Miranda kembali menenggak vodkanya. Entah sudah gelas keberapa, dia pun tidak peduli. Dengan minum, segala beban yang ada di pikirannya akan menghilang.

“Sepertinya kau terlihat begitu kesepian. Temanmu memilih berdansa dengan para pria, tapi kau memilih duduk di sini menyendiri.” Suara bariton menyapa, sontak membuat Miranda sedikit terkejut, dan langsung mengalihkan pandangannya.

“Kau—” Kening Miranda berkerut, menatap sosok pria tampan yang berdiri di sampingnya. Miranda bersumpah, pria yang berdiri di sampingnya, begitu tampan. Rahang tegas, rambut cokelat gelap serta manik mata cokelat dan tubuh tegapnya, membuat pria itu benar-benar sempurna.

“Apa kau sejak tadi memperhatikanku?” Pria itu kini duduk di samping Miranda, dia menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada bartender untuk memberikannya minuman. Sang bartender pun memberikan wine untuk pria itu. Kemudian, dia mengambil minumannya dan menyesapnya perlahan.

Miranda melirik sekilas pria yang duduk di sampingnya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang kala duduk di samping pria itu. Namun dengan cepat Miranda bersikap tenang dan seolah dirinya tidak peduli. “Untuk apa kau di sini? Kau bukannya tadi bersama dengan para wanita?” ucapnya seraya menyesap minumannya dan tampak mengabaikan pria itu.

Pria itu terkekeh dengan suara rendah yang terdengar begitu seksi. “Jadi benar, kau tadi memperhatikanku?”

“Tidak,” Miranda meletakkan gelas sloki di tangannya ke atas meja, lalu mengalihkan pandangannya ke pria yang berdiri di sampingnya itu. “Aku tidak memperhatikanmu. Aku hanya tidak sengaja melihatmu. Sekarang lebih baik kau kembali pada wanitamu, Tuan. Aku tidak ingin dia memikirkan hal buruk tentang diriku,” lanjutnya mengingatkan.

Pria itu kembali terkekeh, dia tak lepas menatap Miranda. “Mereka bukan wanitaku. Kau jauh lebih menarik di mataku daripadanya.”

“Dia bukan wanitamu?” Miranda menautkan alisnya, menatap pria itu dengan begitu lekat.

“Ya,” Pria itu menyesap kembali wine yang ada di tangannya. “Berciuman dengannya, bukan diartikan sebagai pasangan kekasih, bukan? Lagi pula, sejak kau masuk ke dalam klub malam, tatapanku tidak lepas menatap dirimu. Dan aku rasa bukan hanya diriku. Tapi kau mampu menarik perhatian para pria di sini.”

Miranda tersenyum tipis. “Berikan aku alasan kenapa kau harus menatapku? Masih banyak wanita yang lebih cantik. Harusnya kau menatap wanita lain bukan diriku.”

“Well, sayangnya apa yang kau ucapkan salah.” Pria itu mendekat ke arah Miranda. Kini jarak di antara keduanya begitu dekat. Hingga membuat jantung Miranda berdegup kencang. Miranda mengumpat kala dia merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Dengan cepat Miranda berusaha bersikap dingin. “Kenyataannya, kau jauh lebih cantik dari wanita di sini.” Pria itu kembali melanjutkan perkataannya dengan nada rendah yang terdengar begitu menggoda—dia kembali menyesap wine yang masih ada di tangannya, dan tatapan yang terus menatap manik mata perak Miranda.

Miranda tersenyum miring. “Aku tidak mempan dengan rayuanmu, Tuan. Simpan saja rayuanmu untuk wanita lain,” tukasnya dengan nada sinis.

Pria itu tertawa rendah mendengar perkataan Miranda. Sedangkan Miranda, tak henti menatap pria itu yang tengah tertawa. Ya, Miranda benar-benar mengakui, pria yang berdiri di sampingnya ini mampu menggoda para wanita. Tubuhnya yang terbalut dengan kemeja slim fit, dada bidang dan otot lengannya benar-benar sempurna. Miranda berusaha mengalihkan pandangannya, tapi nyatanya matanya tak ingin lepas menatap pria itu.

“Aku tidak suka merayu, Nona. Aku hanya berkata sesungguhnya. Dan aku mengakui kau memang jauh lebih cantik dari wanita di sini,” jawab pria itu dengan seringai di wajahnya.

Miranda hanya tersenyum tipis. Dia tidak lagi menjawab perkataan pria itu. Tiba-tiba kepalanya semakin memberat. Entah sudah berapa gelas dia menenggak vodka di tangannya. Namun, meski pengaruh alkohol itu membuat tubuhnya hampir ambruk, tapi Miranda masih melihat dengan jelas wajah pria yang ada di sampingnya itu.

Kemudian, tatapan Miranda teralih pada sosok wanita yang berambut cokelat tidak jauh darinya, yang menatap pria yang berada di sampingnya itu. “Lebih baik kau merayu wanita yang di sana. Dia terlihat begitu mengagumimu. Aku yakin, tidak masalah baginya untuk bercinta satu malam denganmu,” ujarnya memberi tahu.

Pria itu melirik sekilas wanita yang dimaksud Miranda. Tepat di saat dia melihat ke arah wanita yang duduk tak jauh darinya, dia pun hanya menyunggingkan senyuman tipis. Lalu dia kembali menatap Miranda seraya berkata, “Kau jauh lebih cantik dan menarik darinya.”

Miranda tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar seorang perayu, Tuan.”

Pria mengangkat bahunya tak acuh. Kemudian dia semakin mendekat ke arah Miranda. Namun, tiba-tiba tubuh Miranda hampir ambruk. Dengan cepat pria itu langsung merengkuh pinggang Miranda. “Kau sudah mabuk,” dia berbisik serak di telinga Miranda.

“Tidak, aku tidak mabuk.” Kini Miranda mengaitkan tangannya ke leher pria itu, saat tubuhnya benar-benar tidak mampu berdiri. Miranda mencium aroma parfume di tubuh pria itu. Parfume maskulin yang benar-benar menggodanya. Sesaat dia dan pria itu saling menatap satu sama lain. Sebuah tatapan yang tak mampu Miranda hindari.

“Apa kau ingin berdansa denganku?” Pria itu mengelus pipi Miranda dengan begitu lembut. Serta menatap lekat manik mata perak Miranda.

Miranda bersumpah, tatapan pria itu benar-benar menghipnotis dirinya. Dia bahkan tidak mampu rasanya jauh dari pria itu. Alkohol sialan, membuat dirinya tidak mampu menjauh dari pria yang kini berada di hadapannya. Jika bukan karena pengaruh alkohol, mungkin dirinya masih bisa menjauh.

“Apakah aku harus menerima tawaranmu?” jawab Miranda dengan senyuman di wajahnya. Sebuah senyuman yang terlihat begitu menggoda.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Warisnya yang Tersembunyi, Pelariannya
9.6
Malam pameran seni perdanaku hancur saat suamiku justru muncul di berita demi melindungi wanita lain. Pesan singkatnya yang dingin menegaskan bahwa aku bukan prioritasnya. Selama ini, dia meremehkan bakatku, padahal karyaku adalah fondasi kekayaannya. Lelah diabaikan, aku menyusun strategi cerai yang cerdik. Aku akan menyamarkan dokumen perceraian sebagai berkas hak cipta biasa, memanfaatkan kesombongannya agar dia segera menandatanganinya tanpa curiga.
Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel CEO itu Tunanganku
8.8
Dua puluh tahun Melisa setia menunggu cinta pertamanya hingga ia hampir mati rasa. Ketika mencoba bangkit, ia malah dimanfaatkan pria licik. Sementara itu, Rommy pulang sebagai pria sukses yang mapan namun masih memendam kepedihan masa lalu. Rommy pun datang untuk meminang Melisa. Sayangnya, pinangan itu ditolak karena Melisa tidak tahu tentang perjodohan masa kecil mereka. Di tengah berbagai ujian hidup, akankah kebenaran takdir masa lalu ini sanggup menyatukan kembali cinta mereka?
Sampul Novel Dendamnya, Cinta Abadinya
9.5
Karier hancur dan harta keluarga ludes akibat jebakan kejam Darma Wijoyo serta Jihan Prameswari. Demi biaya berobat ibu, aku terpaksa menuruti ancaman Darma untuk mengakui kesalahan yang tak pernah kulakukan. Namun, janji bosku itu dusta belaka, dan aku hanya diperalat tanpa harga diri. Di tengah kehancuran dan kepahitan pengkhianatan ini, aku bangkit. Rasa sakit kini menjelma menjadi tekad membara untuk membalas dendam pada mereka yang merampas segalanya.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha kerap dikhianati akibat genophobia yang dideritanya. Sang sahabat yang ingin ia sembuh akhirnya mendaftarkan Zeline ke situs kencan global. Lewat platform itu, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang jenuh dengan wanita materialistis. Walau terpisah jarak Indonesia-New York, keunikan Zeline sukses memikat Ricardo. Kini, keduanya harus menghadapi trauma masa lalu dan bentangan jarak demi membuktikan kekuatan takdir cinta mereka.
Sampul Novel Dia Mendanai Wanita Lain Menggunakan Uangku
8.9
Demi menguji kesetiaan sang kekasih, Julissa Palmer memilih menyamar sebagai staf biasa di perusahaannya sendiri. Siasat ini justru membuat Ethan Wilson salah paham. Ia mengira Noreen adalah ahli waris Grup Palmer yang sesungguhnya. Sambil terus merendahkan Julissa, Ethan diam-diam mendekati Noreen demi mengincar harta. Di sebuah pesta mewah, Ethan bahkan nekat melamar Noreen di hadapan media. Ia tidak sadar bahwa Julissa adalah pemilik asli Grup Palmer yang sebenarnya.