APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO 1 Miliar Won

CEO 1 Miliar Won

Demi sang ibu yang sakit, Kim Liu, pengacara muda yang berbakti, bersedia dijodohkan dengan Jung Jisung. CEO TJ Group yang kaya raya ini memiliki trauma masa lalu akibat penculikan saat kecil. Walau awalnya bersikap dingin, ketulusan Liu perlahan meluluhkan hati Jisung. Sayangnya, pernikahan rahasia mereka menghadapi cobaan berat dari kebencian ibu mertua, usikan mantan kekasih Liu, hingga intrik licik Song Minseo. Mampukah cinta mereka bertahan di tengah tekanan harta?
Bab
Bagikan

Bab 2

Siapa yang baru saja ibu temui? Aku tidak bodoh, ibu pasti sudah termakan omongan orang lain. Siapa? Paman dan Bibi Shin lagi?” tanya Liu bertubi-tubi saat ibunya kembali mengutarakan rencana perjodohannya.

“Aku sebentar lagi mati, Liu. Kamu akan hidup bahagia bersama lelaki ini. Dia akan membiayai seluruh hidupmu, aku akan mati dengan tenang,” lirih ibunya pilu.

Air mata ibunya jatuh, membasahi bantal polos berwana hijau tosca. Kim Liu tak berdaya melihatnya. Rasa kesal, sedih, muak, bercampur jadi satu.

“Sejak kapan ibu menjadi gila harta seperti ini? Sungguh bukan ibu sekali. Aku mohon untuk sekali ini saja, biarkan aku membangkang,” pinta Liu, memeluk ibunya.

“Aku, hanya tidak ingin kamu sebatang kara di dunia ini, Liu,” bisik sang ibu tepat di telinganya.

“Dia akan menjagamu,” tambahnya.

“Siapa?” Kalimat terakhir ibunya membuat Liu langsung menoleh, entah kenapa ia merasa seperti ibunya sedang menyembunyikan sesuatu, yang tak ia tahu itu apa.

“Sahabat ibu? Atau anaknya yang ibu jodohkan denganku? Siapa?”

“Hubungi saja nomor yang diberikan bibimu, Ibu mohon. Dia orang yang baik, Ibu jamin itu,” ucap ibunya terakhir kali sebelum kembali memejamkan mata. Liu hanya menghela nafas mendengarnya, sampai sebuah suara berisik di luar kamar menyita perhatian Liu.

“Baik, Tuan. Berhati-hatilah di perjalanan.” Begitulah sayup-sayup suara yang berhasil Liu dengar.

Liu segera beranjak dari duduknya, berniat memeriksa ke luar ruangan. Namun tangan sang ibu lebih dulu menghentikannya, membuatnya mau tak mau terduduk lagi. Liu tiba-tiba teringat perkataan Dayeon beberapa saat lalu, ia melihat ke sekeliling kamar ibunya lagi. Ia baru sadar bahwa ruangan itu benar-benar tak terlihat seperti ruangan biasa.

Kamar itu dilengkapi dengan TV besar dan kulkas berisi penuh makanan di sudut ruang. Ada sofa besar di tengah-tengahnya, yang di pisahkan dengan tirai tepat di samping kasur pasien. Dan yang paling penting, ada meja perawat yang berjaga 24 jam penuh di depan pintu kamar.

Liu hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Benarkah biaya rumah sakit ibunya yang ia bayarkan betul-betul sudah mengcover semua fasilitas itu?. Lamunan Liu buyar saat genggaman tangan ibunya tiba-tiba mengencang. Ya, ibunya kejang lagi.

“SUSTER... TOLONG...!” teriak Liu panik.

Dilihatnya ke arah meja jaga perawat yang kosong, “Argh... sialan.”

Dengan tangan bergetar, ia memencet tombol emergency di atas kasur berkali-kali. Hanya butuh waktu kurang dari lima detik sampai tiga orang perawat masuk dan menyuruhnya keluar. Ia masih bisa mendengar suara monitor yang seakan memekik di telinganya.

“Vitalnya lemah sekali, segera lakukan tindakan!” perintah salah satu perawat yang masih terdengar oleh Liu tepat sebelum pintu itu tertutup.

Kini ia hanya bisa menangis, seperti kemarin-kemarin saat ibunya kambuh seperti sekarang. Kaki Liu lemas, ia terduduk di lantai koridor rumah sakit yang sepi, semakin menangis histeris saat memori tentang perjuangan ibu yang membesarkannya seorang diri kembali terlintas.

Tanpa sengaja, tangan Liu meremas kantong jaketnya. Ia pun merogoh saku itu dan mengeluarkan kertas notes kecil yang sudah tak berbentuk. Dibukanya rematan kertas itu, menunjukkan sebuah nomor telepon lengkap dengan sebuah nama yang tertulis disana, berbunyi ‘Jung Jisung’.

Tanpa basa-basi, Liu segera mengambil ponselnya dan menelepon nomor itu. Entah apa yang sedang ada di pikirannya, emosi nampak benar-benar menguasainya sekarang. Selang beberapa detik, panggilan itu pun bersambut.

Liu tak menunggu jawaban dari seberang, ia langsung menyerbunya dengan semua sumpah serapah yang ingin ia ungkapkan.

“LAKI-LAKI SIALAN! SEMUA INI KARENAMU!”

“KENAPA KAMU DIAM SAJA DENGAN SEMUA OMONG KOSONG INI?”

“KENAPA KAMU TIDAK MELAKUKAN APAPUN?”

“KENAPA?”

“KENAPA HANYA AKU YANG TIDAK PUNYA PILIHAN?”

“KENAPA... KENAPA KALIAN MENYIKSAKU...?!”

Tangis Liu semakin menjadi setelah ia memekik di kalimat terakhirnya. Liu kembali melanjutan tangis itu hingga perlahan mereda tanpa menutup telepon yang masih tersambung.

“Sudah puas mengutukku, Kim Liu?” ucap lelaki dari ujung telepon itu, terdengar tenang sekali.

Mata Liu terbelalak mendengarnya, seakan baru dihantam realita akan hal bodoh apa yang baru saja ia lakukan. Baru saja Liu hendak bersuara, seorang perawat tiba-tiba keluar dari kamar ibunya.

“Ibu anda sudah melewati masa kritis, tapi maaf, sebaiknya anda tidak mengganggu istirahatnya terlebih dahulu. Kami akan menjaganya,” kata perawat itu sebelum menghilang lagi di balik pintu.

Liu lega, kaki lemasnya seakan bisa menapak lagi. Namun begitu Liu melihat ponselnya, panggilan telepon itu ternyata sudah dimatikan.

“Sialan, berani-beraninya dia menutup teleponku lebih dulu,” sungut Liu dengan menyedot ingus di sisa tangisnya.

Saat Liu hendak pergi, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menghentikannya.

“Le Pre Michel lt.3, 21.00” bunyi pesan itu.

“Apa-apaan ini? Apa dia baru saja mememerintahku?” gerutu Liu kesal.

“Lihat saja nanti malam, habislah kau,” imbuhnya.

---

Liu mondar-mandir di depan cermin kamarnya, sedang menimang apakah ia benar-benar akan pergi menemui laki-laki yang ia panggil CEO sialan itu malam ini. Ia pun tak bisa menelepon teman-temannya untuk meminta pendapat, karena perjodohannya yang dirahasiakan.

“Arrrghh....” teriaknya sambil mengacak-acak rambut.

Melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan, ia pun segera mandi dan bersiap-siap. Akhirnya Liu pun memutuskan untuk datang. Ia akan memastikan nasibnya di rencana perjodohan yang sedang membelitnya.

Pukul sembilan tepat, Liu tiba di restoran Le Pre Michel seperti yang dijanjikan. Setelah melakukan pengecekan sigkat di luar gedung, ia pun dipersilakan masuk. Liu hanya pernah melihat review restoran itu dari internet saja, karena rumornya, harga makanan di sana sangat tidak masuk akal. Diluar dugaan, restoran mewah itu ternyata sepi sekali, Liu bahkan belum berpapasan dengan satu pun pelanggan selama perjalanannya ke lantai tiga.

“Kenapa ini? Apa prosentase orang kaya di Korea sudah menipis?” kelakarnya dalam hati.

Keluar dari lift, seorang laki-laki pelayan menyambut dengan membungkuk 90 derajat di depannya. Liu yang kikuk hanya berdehem kaku dan ikut membungkuk.

“Silakan ikuti saya, Nyonya,” ucap pelayan itu, yang kemudian berjalan mendahului.

Liu hanya menurut, matanya tak berhenti melihat-lihat ke sekeliling. Ia tahu restoran itu mewah, tapi sepertinya kata mewah di internet dan di kamusnya sangatlah berbeda. Karena restoran itu terlihat seperti cuplikan kastil negeri dongeng.

“Mmm, maaf. Apakah restoran ini memang sepi?” tanya Liu pada sang pelayan.

“Tidak, Nyonya. Tuan Jung Jisung menyewanya.”

“Apa? Dia menyewa satu lantai ini hanya untuk bertemu denganku?” tanya Liu tak percaya.

Pelayan itu menghentikan langkahnya, lantas berbalik menghadap Liu.

“Tidak, Nyonya. Tuan Jung Jisung menyewa seluruh gedung,” entengnya, membuat Liu membelalakkan mata seketika.

Sang pelayan kemudian menunjuk sopan ke arah meja nomor satu, mempersilakan Liu untuk mendahuluinya. Terlihat seorang laki-laki yang duduk menunggu di sana, sangat menawan bahkan dari kejauhan.

“Silakan.” Pelayan itu mempersilakan.

“Hah? Oh iya, terimakasih.” Jawab Liu kikuk.

Otak Liu masih sibuk memikirkan maslaah sewa menyewa gedung yang memusingkannya. Ia pun berjalan pelan menuju laki-laki asing yang ternyata tengah memejamkan matanya sambil melipat tangan di depan dada.

“Ekhm.” Liu berdehem, seketika membuat sosok di depannya membuka mata. Mata mereka pun bertemu, membuat kontak mata selama beberapa detik sampai diputus oleh Liu.

“Dia tidak mempersilakanku duduk? Laki-laki macam apa ini?”

“Kamu telat sepuluh menit, Kim Liu,” ucap lelaki itu, dingin.

“Apa? Laki-laki macam apa kamu Jung Jisung?”

----

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Sang Paranormal
8.6
Intan, desainer sukses berusia 30 tahun, begitu fokus pada karier hingga mengabaikan asmara. Status lajangnya memicu gunjingan tetangga dan tekanan dari ibunya, Sukma. Terbebani situasi ini, Intan mencurahkan isi hatinya kepada sang sahabat, Luna. Menyadari sikap dingin Intan pada pria, Luna curiga ada pengaruh sihir di baliknya dan menyarankan pengobatan alternatif. Benarkah ada kekuatan gaib yang selama ini menghalangi jodoh Intan?
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Della terkejut saat matanya bisa melihat lagi dan mendapati dirinya telah menikah dengan Hurst Owen, adik dari kekasihnya. Kebenaran menyakitkan terungkap saat ia tahu Brady Owen, sang kekasih, sengaja meninggalkannya yang buta demi Betty Kirk. Brady berjanji akan kembali sebulan lagi dan menganggap pernikahan adiknya tidak sah. Namun, Hurst mulai jatuh cinta pada Della. Tanpa memberi tahu bahwa ia sudah sembuh, Della justru mengajak Hurst meresmikan pernikahan mereka agar sah seutuhnya.
Sampul Novel Kini Ku Hilang Selamanya
9.6
Merayakan tujuh tahun pernikahan dengan Lionel, sang bos mafia, sang istri awalnya berniat membagikan kabar kehamilannya. Namun, kemesraan mereka hancur saat ia mendengar obrolan rahasia Lionel dan anak buahnya dalam bahasa Iltan mengenai wanita lain bernama Sofia. Tanpa mereka sadari, sang istri memahami bahasa tersebut karena asal-usul neneknya. Menahan rasa sakit hati dan amarah di balik senyum palsunya, ia diam-diam mengambil keputusan besar. Melalui ponselnya, ia menerima tawaran proyek riset medis internasional, bersiap untuk pergi dan melenyapkan dirinya dari kehidupan sang suami dalam waktu tiga hari.
Sampul Novel Mbak, I Love You
8.8
Secara tak terduga, Halil menyatakan cinta kepada Innara, atasannya yang berumur dua tahun lebih tua. Walau langsung ditolak karena Innara merasa lebih cocok jadi kakaknya, putra Nadira dan Erhan ini tidak menyerah. Halil justru menegaskan niat serius untuk segera menikahi Innara, bahkan dengan percaya diri menggoda sang atasan tentang perbedaan fisik mereka. Kisah romansa modern ini menyoroti perjuangan gigih Halil demi meluluhkan hati bosnya yang dingin.
Sampul Novel Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6
9.1
Terbangun di tubuh permaisuri abad ke-17 yang diceraikan Pangeran Keenam karena wanita lain, seorang dokter genius masa kini tidak tenggelam dalam kesedihan. Ia memilih fokus merintis karier medis berbekal pengetahuan modern. Keahliannya yang luar biasa sukses memikat hati rakyat hingga sang Kaisar. Meski sempat menutup diri dari cinta, takdir menyeretnya ke dalam dilema emosional antara perasaan terlarang dan sebuah pengorbanan besar yang harus ia putuskan.
Sampul Novel Pernikahan Wasiat
8.9
Alayna Liora Setiawan, gadis 21 tahun yang biasa hidup bergelimang harta, kini menghadapi pilihan sulit. Surat wasiat mendiang ayahnya menuntut ia menikah dengan sang kakak angkat, Zariel Vian Karyan. Jika menolak pria berumur 28 tahun itu, Alayna harus merelakan seluruh warisannya. Karena enggan jatuh miskin dan kehilangan harta keluarga, ia pun terpaksa menyetujui pernikahan tanpa cinta tersebut demi mempertahankan haknya.