APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Tujuh tahun menikah, kehamilan Riana Handoko seharusnya menjadi berkah. Namun, pemeriksaan medis justru mengungkap kenyataan pahit: kolom ayah bayinya kosong, sementara nama suaminya, Bimo Ganendra, tercatat sebagai ayah dari anak Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat yang dahulu mengusir Riana demi merebut kembali kehidupan yang dianggap telah dicuri. Di tengah rumor bahwa Bimo telah melakukan vasektomi demi dirinya, Riana kini harus menghadapi pengkhianatan besar ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong.

Dia pun tidak dapat menahan diri untuk menegur, "Kolom ayah anak ini seharusnya tertulis Bimo Ganendra. Apa kalian lupa mengisinya?"

Hampir seluruh kalangan di Obria tahu bahwa Kepala Keluarga Ganendra sangat mencintai istrinya, bahkan bersedia menjalani vasektomi demi Riana.

Petugas malah berkata dengan pasti, "Kolom ayah anak ini memang sudah kosong sejak awal pembuatan berkas."

"Sebaliknya, nama Bimo Ganendra yang Anda sebut justru tercantum di kolom ayah dari anak wanita lain. Namanya Silvia Handoko. Apa Anda mengenalnya?"

Kepala Riana seketika terasa meledak, tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Semua orang di lingkaran sosial tahu bahwa Riana pernah diadopsi oleh Keluarga Handoko.

Namun, pada hari ketika Keluarga Handoko menemukan putri kandung mereka yang sebenarnya, mereka mengusir Riana dengan alasan bahwa dia telah merebut kehidupan putri asli mereka selama bertahun-tahun.

Putri kandung itu tidak lain adalah Silvia.

Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong.

Dia tidak dapat menahan diri untuk menegur, "Kolom ayah anak ini seharusnya tertulis Bimo Ganendra. Apa kalian lupa mengisinya?"

Hampir seluruh kalangan di Obria tahu bahwa Kepala Keluarga Ganendra sangat mencintai istrinya, bahkan bersedia menjalani vasektomi demi Riana.

"Riana, melihatmu berkali-kali minum obat dan disuntik, hatiku serasa hancur. Kamu adalah hidupku. Kalau untuk memiliki anak, kita harus membuatmu menderita seperti ini, lebih baik aku menjalani vasektomi permanen!"

Untungnya Tuhan yang tersentuh oleh cinta mereka, akhirnya memberi keajaiban.

Hari ketika hasil tes menunjukkan bahwa Riana hamil, Bimo yang selama ini berkepribadian dingin dan tegas berlutut memeluk Riana sambil menangis sampai suaranya serak. Bahkan pendaftaran kehamilan pun dia urus sendiri.

Melihat betapa perhatiannya Bimo padanya, seharusnya tidak mungkin ada kesalahan.

Petugas yang melayaninya tampak masih baru. Dia menatap layar komputer cukup lama sebelum akhirnya memastikan.

"Kolom ayah anak ini memang sudah kosong sejak awal pembuatan berkas."

Sambil berkata seperti itu, ekspresinya berubah aneh, seolah menemukan sesuatu.

"Sebaliknya, nama Bimo Ganendra yang Anda sebut justru tercantum di kolom ayah dari anak wanita lain. Namanya Silvia Handoko. Apa Anda mengenalnya?"

Kepala Riana seketika terasa meledak, tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Semua orang di lingkaran sosial tahu bahwa Riana pernah diadopsi oleh Keluarga Handoko. Namun, pada hari ketika Keluarga Handoko menemukan putri kandung mereka yang sebenarnya, mereka mengusir Riana dengan alasan bahwa dia telah merebut kehidupan putri asli mereka selama bertahun-tahun.

Putri kandung itu tidak lain adalah Silvia.

Yang tidak pernah Riana bayangkan adalah ketika dirinya keluar dari ruang pemeriksaan dalam keadaan linglung sambil menggenggam hasil pemeriksaan kehamilan, dia justru melihat Bimo dan Silvia di koridor.

"Kak Bimo, bukannya hari ini juga hari pemeriksaan kehamilan Kak Riana? Alih-alih menemaninya, kamu malah menemaniku. Bukankah itu agak nggak pantas?"

Bimo memperhatikan tali sepatu Silvia yang terlepas, lalu berlutut untuk mengikatkannya dengan bentuk pita yang indah, gerakannya terampil, seolah sudah sering melakukannya.

"Lihat dirimu ini, kamu bahkan nggak sadar tali sepatumu lepas. Bagaimana aku bisa tenang? Soal Riana, aku sudah memintanya menunggu di rumah sebentar. Setelah menemanimu, aku akan menemaninya untuk pemeriksaan."

Sinar matahari menembus kaca jendela dan jatuh di perut Silvia yang sedikit membuncit, membuatnya tampak lembut dan anggun, dengan sorot wajah yang memancarkan sedikit kegembiraan.

"Kak Bimo memilih menemaniku dulu. Bolehkah aku menganggap bahwa Kak Bimo sebenarnya lebih memedulikanku? Ah! Sepertinya bayi kita sedang menendang. Kak Bimo, kamu merasakannya nggak?"

Wajah Bimo seketika menunjukkan kekhawatiran. Tanpa ragu, dia menggendong Silvia di depan umum. Namun, ketika berbalik, pandangannya bertemu dengan sosok Riana yang berdiri di sudut koridor.

Ekspresi Bimo seketika panik. Beberapa kali dia membuka mulut, tetapi tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Riana perlahan melangkah mendekatinya, lalu mengangkat tangan dan menamparnya!

Tamparan itu dia berikan dengan segenap tenaga. Separuh wajah Bimo langsung membengkak.

"Bimo, beri aku penjelasan."

Sebelum Bimo sempat bicara, Silvia sudah lebih dulu merentangkan kedua tangannya, berdiri di depan pria itu seperti induk yang melindungi anaknya, wajahnya dipenuhi kemarahan.

"Aku sedang mengandung anak Kak Bimo. Dia hanya menemaniku untuk pemeriksaan kehamilan, atas hak apa kamu menamparnya?"

Pada saat itu juga, air mata Riana tidak bisa lagi dibendung. Rasa sakit di dadanya begitu dalam hingga membuatnya nyaris tidak mampu berdiri tegak.

Melihat reaksi Riana, Bimo tanpa berpikir panjang mendorong Silvia ke samping dan memeluk istrinya erat-erat dengan penuh rasa sayang.

"Bukan begitu Riana, jangan nangis. Anak dalam kandungan Silvia bukan anakku. Aku hanya nggak tega melihatnya dicemooh karena hamil di luar nikah. Ayah dari anak itu sudah pergi dan karena kondisi tubuh Silvia yang lemah, dia nggak bisa menggugurkannya. Aku hanya ingin membantunya."

"Bagaimanapun juga, dia adikmu, 'kan?"

Tubuh Riana langsung menegang.

Riana masih ingat dengan jelas hari pertama Silvia kembali ke Keluarga Handoko.

Hari itu, Silvia terjatuh dari tangga, dia menangis sambil berkata kepada kedua orang tua mereka, "Aku nggak menyalahkan Kak Riana. Kakak pasti nggak sengaja, dia hanya takut kalian akan lebih menyayangiku."

Nyonya Handoko menampar Riana dengan keras. Dia memaki Riana dengan kata-kata kejam, lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan mengusirnya keluar dari Kediaman Keluarga Handoko.

"Kamu sudah merebut kehidupan Silvia, bahkan pakaian di tubuhmu pun miliknya. Kamu nggak pantas tinggal di sini. Pergi!"

Seandainya saat itu Bimo tidak kebetulan lewat dan menghentikan mobilnya, mungkin Riana sudah mati kedinginan malam itu.

"Dia bukan adikku!"

Riana berteriak histeris. Bimo segera memeluknya lebih erat, berusaha menenangkannya dengan suara rendah.

"Iya, iya, jangan sedih lagi, ya? Hatiku hancur melihatmu seperti ini."

Silvia sepertinya menyadari kertas hasil pemeriksaan di tangan Riana, lalu ikut menjelaskan dengan suara yang terdengar agak sombong.

"Benar, Kak. Kak Bimo memang hanya takut aku jadi bahan gosip. Aku nggak sekuat Kakak, aku benar-benar nggak sanggup menanggung semuanya. Karena itu, Kak Bimo bersedia jadi ayah dari anakku. Kamu tahu, Keluarga Ganendra hanya bisa memiliki satu cucu laki-laki. Karena itu, anakmu hanya bisa dianggap sebagai anak tanpa ayah dulu. Tapi nanti aku pasti akan bujuk Kak Bimo untuk mengangkatnya. Aku janji, meski anakmu hanya anak angkat, aku nggak akan menelanjanginya dan mengusirnya dari rumah. Kakak, tenang saja."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dokter Cantik Mantan Istriku (Penyesalanku)
9.1
Pertemuan kembali dengan Uma setelah lima tahun berpisah memicu penyesalan besar dalam diriku. Mantan istriku kini telah sukses sebagai dokter kandungan sekaligus direktur di sebuah rumah sakit swasta. Menyaksikan keberhasilan dirinya dan melihat anak kami tumbuh membuatku didera rasa bersalah yang teramat dalam. Kini, aku dirundung kebimbangan besar, mempertanyakan apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki segalanya dan menyatukan kembali keluarga kami.
Sampul Novel Hingga Akhir Waktu
9.0
Seorang gadis menghadapi dilema rumit saat bertemu dua pria berwajah sama tetapi berkarakter sangat kontras. Situasi sulit ini menuntutnya memilih arah hatinya. Akankah ia bersandar pada ketulusan sejati yang murni, atau justru terpaksa berkompromi demi mempertahankan cinta yang telah diperjuangkannya? Ini merupakan sebuah kisah romansa modern tentang pengorbanan dan pilihan hidup penuh pilihan hidup yang penuh dilematis.
Sampul Novel Karma Dibalik Kematian Palsu Suamiku
8.9
Setelah melahirkan prematur akibat syok mendengar suami dan ibu mertuanya tewas jatuh ke jurang, kehidupan seorang wanita hancur total. Setahun kemudian, saat sekarat akibat keracunan herbisida, kebenaran pahit terungkap di depan matanya. Suami dan mertuanya yang dikira tewas ternyata masih hidup dan sengaja memalsukan kematian demi menyingkirkannya. Mereka kembali bersama Jane, anak tetangga yang kini menjadi istri baru, siap merebut uang ganti rugi lahan secara sah.
Sampul Novel Patah
9.8
Prisha Nayara, editor pemberontak di platform Papyrus, dipertemukan takdir dengan sang pemilik yang berhati dingin, Manggala Abipraya Sastradinata. Di balik sifat keras kepala Prisha dan sikap tidak acuh Manggala, keduanya memendam trauma masa lalu yang mendalam. Saat mulai saling menyembuhkan luka batin, rintangan dunia menguji hubungan mereka. Ini adalah kisah romansa unik tanpa kata tentang perjuangan belajar mencintai diri sendiri demi orang terkasih.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+
8.6
Demi memperbaiki taraf hidup neneknya, Nada, siswi SMA, rela mengambil pekerjaan tidak biasa untuk menyusui Daffa yang sedang lumpuh. Interaksi ini terus berjalan sampai fisik Daffa pulih total. Begitu tugasnya selesai dan Nada hendak melangkah pergi, Daffa justru menolak melepaskannya. Rupanya, pemuda itu telah terobsesi dan kecanduan pada sosok Nada. Akankah Nada berhasil meloloskan diri, atau justru terperangkap selamanya dalam jerat Daffa?
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?