APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Tujuh tahun menikah, kehamilan Riana Handoko seharusnya menjadi berkah. Namun, pemeriksaan medis justru mengungkap kenyataan pahit: kolom ayah bayinya kosong, sementara nama suaminya, Bimo Ganendra, tercatat sebagai ayah dari anak Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat yang dahulu mengusir Riana demi merebut kembali kehidupan yang dianggap telah dicuri. Di tengah rumor bahwa Bimo telah melakukan vasektomi demi dirinya, Riana kini harus menghadapi pengkhianatan besar ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aroma parfum dari tubuh Silvia masih tercium samar di pelukan Bimo.

Riana tiba-tiba mendorong pria yang telah dia cintai selama bertahun-tahun itu dengan kuat, lalu berteriak dengan mata memerah, "Demi Silvia, kamu rela membiarkan anak kita dianggap anak haram? Kamu khawatir akan nama baiknya, lalu gimana denganku? Apa nama baikku nggak penting bagimu?"

Bimo terdiam lama. Jakunnya bergerak naik turun dan suaranya terdengar sangat serak.

"Waktu itu di pesta, kalau saja bukan karena Silvia datang memberitahuku, mungkin kamu sudah .... Jadi aku benar-benar nggak sanggup melihat Silvia dicemooh orang."

Tiga tahun lalu, di sebuah pesta, seseorang menaruh obat bius ke minuman Riana. Dia hampir diperkosa oleh sekelompok preman, kalau saja Silvia tidak segera memberi tahu Bimo, mungkin Riana sudah tidak sempat diselamatkan.

Setelah kejadian itu, Bimo memberi Keluarga Handoko belasan proyek besar, ditambah uang tunai seratus miliar sebagai tanda terima kasih.

Namun, bagi Bimo, semua itu masih belum cukup.

Selama tiga tahun, Bimo terus membantu Keluarga Handoko, mengurus berbagai urusan bisnis Keluarga Handoko, bahkan diam-diam membelikan Silvia beberapa perhiasan mahal. Setiap kali Silvia sakit, Bimo selalu menjadi orang pertama yang datang merawatnya.

Setiap kali Riana mencoba menghentikannya, Bimo hanya menjawab, "Silvia pernah menyelamatkanmu. Aku nggak bisa berpura-pura nggak peduli padanya."

Baru saat ini Riana menyadari dengan pilu, kebaikan yang terjadi tiga tahun lalu, mungkin harus dibayar oleh suaminya dengan seumur hidupnya.

Saat itu pula, untuk pertama kalinya, Riana menyadari bahwa hati yang dahulu berdebar hangat karena Bimo perlahan-lahan mulai mendingin, hingga akhirnya kehilangan seluruh kehangatannya.

Ternyata begini rasanya ketika cinta memudar.

Tiba-tiba, Silvia menjerit sambil memegangi perutnya dengan wajah kesakitan.

"Kak Bimo, perutku sakit sekali! Anak kita ... anak kita nggak apa-apa, 'kan?"

Riana bisa merasakan tangan yang memeluknya menegang sesaat.

Dia tersenyum getir dan berkata, "Pergilah. Jangan sampai menyesal."

Raut wajah Bimo penuh kerumitan. Namun, pada akhirnya, dia melepaskan Riana, lalu menggendong Silvia dan berlari menuju ruang pemeriksaan.

Riana menghapus air mata di pipinya dengan tenang, lalu berbalik dan melakukan tiga hal.

Pertama, dia membuat janji untuk menjalani operasi aborsi.

Kedua, dia menghubungi pengacara untuk menyiapkan surat cerai.

Ketiga, dia membeli tiket pesawat ke luar negeri untuk penerbangan dua minggu mendatang.

Bimo boleh saja rela membuat anak kandungnya dicap sebagai anak haram demi menjaga nama baik Silvia, tetapi Riana tidak bisa. Dia lebih memilih agar anak itu tidak pernah lahir ke dunia ini.

Adapun pernikahannya dengan Bimo, Riana tahu, tidak ada lagi alasan untuk dipertahankan.

Dua minggu kemudian, Riana akan meninggalkan tempat yang hanya memberinya luka dan tidak akan pernah kembali lagi.

Operasi aborsi dijadwalkan tiga hari kemudian.

Saat keluar dari ruang dokter dengan membawa lembar jadwal operasi, Riana berpapasan langsung dengan Silvia.

"Anak dalam kandungan Kakak cuma anak haram, memangnya pantas diperiksa segala?"

Tanpa kehadiran Bimo, wajah asli Silvia pun terlihat jelas.

"Kamu tahu nggak? Aku sengaja mengatur jadwal pemeriksaanku bersamaan denganmu. Tapi Kak Bimo selalu memilih menemaniku dulu, bahkan baru tenang setelah mengantarku pulang. Aku ingat, ada beberapa kali karena dia pulang terlalu larut, kamu harus menunda pemeriksaanmu, 'kan?

Riana mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

Pantas saja, setiap kali tiba jadwal pemeriksaan, Bimo selalu tiba-tiba sibuk di kantor dan rapatnya selalu berlangsung sampai larut malam.

Betapa kasihan dirinya saat itu. Karena merasa iba melihat Bimo yang bekerja keras, meski mual kehamilan sering membuatnya hampir memuntahkan cairan empedu, Riana tetap memaksakan diri ke dapur, hanya agar suaminya bisa menikmati semangkuk bubur kacang hangat begitu tiba di rumah.

Mengingat semua itu, Riana merasa mual. Perutnya pun mulai terasa nyeri.

Dia tidak punya tenaga untuk menanggapi provokasi Silvia, yang diinginkannya hanyalah segera pulang dan beristirahat di tempat tidur.

Namun, di detik berikutnya, sudut bibir Silvia terangkat membentuk senyum tipis, lalu dengan satu gerakan "tidak sengaja", tubuhnya terhuyung ke belakang.

"Silvia!"

Bimo hampir melompat untuk menangkapnya, dia memeluk Silvia sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai.

Silvia pun mulai terisak pelan.

"Semua ini salahku, Kak Riana jadi sangat marah. Dia benci aku, juga benci anak dalam kandunganku. Tapi aku nggak menyalahkannya, aku tahu Kakak pasti nggak sengaja, hiks, hiks, hiks ...."

Kata-kata itu sama persis seperti yang pernah dirinya dengar dulu.

Riana tidak tahan lagi dan berteriak, "Nggak seperti itu! Aku sama sekali nggak ...."

Namun, Bimo hanya menatap Silvia di pelukannya dengan wajah penuh penyesalan.

"Silvia, jangan salahkan Riana, ya? Aku akan minta maaf padamu kalau perlu."

Riana tertegun.

Dia tidak percaya, Bimo bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan dan langsung menjatuhkan vonis bersalah padanya.

"Nggak seperti itu! Aku nggak menyentuhnya sama sekali! Kalau kalian nggak percaya, kalian bisa lihat rekaman CCTV di koridor!"

Riana menunjuk ke arah kamera CCTV di sudut dinding.

Silvia yang tidak menyangka ada kamera di sana seketika pucat. Dia menggenggam lengan Bimo dengan kuat sambil menangis hingga tubuhnya bergetar hebat.

Bimo hanya menghela napas dan memijat pelipisnya, suaranya terdengar letih.

"Riana, aku tahu kamu sedang marah. Aku nggak memintamu meminta maaf pada Silvia, tapi tolong ... jangan membuatnya makin tertekan, ya?"

Saat itu, Riana seolah benar-benar mendengar suara hatinya retak berkeping-keping.

Pria yang dulu menggendongnya ke dalam mobil di malam yang dingin, dengan lembut menyelimutinya dengan jaket, dan bersumpah akan selalu memercayainya, akhirnya mengingkari janjinya.

Silvia menatapnya sambil tersenyum puas, kemudian berpura-pura terisak dan bersandar di dada Bimo.

"Kak Bimo, aku merasa nggak enak badan. Bisa tolong antar aku pulang dulu?"

Sebuah keraguan melintas di mata Bimo, tapi akhirnya dia berkata pada Riana, "Silvia masih ketakutan. Aku akan mengantarnya ke mobil dulu, lalu kembali menjemputmu. Tunggu di sini, ya."

Setelah itu, dia menggendong Silvia dan berjalan cepat ke arah pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun.

Seorang perawat yang kebetulan lewat menatap mereka dengan mata berbinar iri.

"Pria itu benar-benar baik pada istrinya! Ruang pemeriksaan ada di lantai enam belas, tapi dia bahkan nggak menunggu lift dan memilih berlari turun tangga. Kapan aku bisa punya suami seperti itu?"

"Suami baik nggak mudah ditemukan. Lihat saja wanita hamil di sana, wajahnya sudah sepucat itu, tapi suaminya nggak terlihat menemaninya. Kasihan sekali .... Eh, kamu kenapa? Cepat, panggil dokter! Ada wanita hamil pingsan di koridor!"

Sebelum kehilangan kesadaran, yang terakhir dilihat Riana adalah wajah panik sang perawat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dokter Cantik Mantan Istriku (Penyesalanku)
9.1
Pertemuan kembali dengan Uma setelah lima tahun berpisah memicu penyesalan besar dalam diriku. Mantan istriku kini telah sukses sebagai dokter kandungan sekaligus direktur di sebuah rumah sakit swasta. Menyaksikan keberhasilan dirinya dan melihat anak kami tumbuh membuatku didera rasa bersalah yang teramat dalam. Kini, aku dirundung kebimbangan besar, mempertanyakan apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki segalanya dan menyatukan kembali keluarga kami.
Sampul Novel Hingga Akhir Waktu
9.0
Seorang gadis menghadapi dilema rumit saat bertemu dua pria berwajah sama tetapi berkarakter sangat kontras. Situasi sulit ini menuntutnya memilih arah hatinya. Akankah ia bersandar pada ketulusan sejati yang murni, atau justru terpaksa berkompromi demi mempertahankan cinta yang telah diperjuangkannya? Ini merupakan sebuah kisah romansa modern tentang pengorbanan dan pilihan hidup penuh pilihan hidup yang penuh dilematis.
Sampul Novel Karma Dibalik Kematian Palsu Suamiku
8.9
Setelah melahirkan prematur akibat syok mendengar suami dan ibu mertuanya tewas jatuh ke jurang, kehidupan seorang wanita hancur total. Setahun kemudian, saat sekarat akibat keracunan herbisida, kebenaran pahit terungkap di depan matanya. Suami dan mertuanya yang dikira tewas ternyata masih hidup dan sengaja memalsukan kematian demi menyingkirkannya. Mereka kembali bersama Jane, anak tetangga yang kini menjadi istri baru, siap merebut uang ganti rugi lahan secara sah.
Sampul Novel Patah
9.8
Prisha Nayara, editor pemberontak di platform Papyrus, dipertemukan takdir dengan sang pemilik yang berhati dingin, Manggala Abipraya Sastradinata. Di balik sifat keras kepala Prisha dan sikap tidak acuh Manggala, keduanya memendam trauma masa lalu yang mendalam. Saat mulai saling menyembuhkan luka batin, rintangan dunia menguji hubungan mereka. Ini adalah kisah romansa unik tanpa kata tentang perjuangan belajar mencintai diri sendiri demi orang terkasih.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+
8.6
Demi memperbaiki taraf hidup neneknya, Nada, siswi SMA, rela mengambil pekerjaan tidak biasa untuk menyusui Daffa yang sedang lumpuh. Interaksi ini terus berjalan sampai fisik Daffa pulih total. Begitu tugasnya selesai dan Nada hendak melangkah pergi, Daffa justru menolak melepaskannya. Rupanya, pemuda itu telah terobsesi dan kecanduan pada sosok Nada. Akankah Nada berhasil meloloskan diri, atau justru terperangkap selamanya dalam jerat Daffa?
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?