APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU

BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU

Kehancuran rumah tangga kerap kali dipicu oleh sosok yang tak pernah dicurigai. Dalam kisah ini, orang yang dipercaya mengurus urusan domestik justru menjadi duri dalam pernikahan. Pengkhianatan menyakitkan pun terjadi di dalam rumah sendiri, melibatkan sang suami dan orang terdekat tersebut. Menghadapi kenyataan pahit ini, sebuah rencana disusun untuk memberikan pembalasan yang setara atas luka yang telah digoreskan.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Bu, hari ini Ibu libur kerja kan? Kalau Ibu libur, rencananya saya mau ke salon sebentar. Boleh kan, Bu?"

Yuni, Asisten Rumah Tangga sekaligus pengasuh Silla, anak perempuan semata wayang kami bertanya saat aku sedang konsentrasi mengupas kentang dan wortel yang rencananya akan dimasak bersama ayam yang sudah dipotong kecil-kecil untuk diolah menjadi sup ayam, kesukaan Silla dan Mas Arman, suamiku.

Di hari Sabtu dan Minggu seperti ini yang merupakan hari libur kerja, aku memang biasanya terjun sendiri ke dapur untuk menyiapkan makanan buat Silla dan Mas Arman yang sekali-kali kadang ingin juga mencicipi masakan istri dan ibunya ini.

Jadilah, pagi ini selepas salat subuh aku bergerak menuju dapur dan berkutat dengan alat dapur sementara Yuni kusuruh bersih-bersih rumah.

Namun, belum selesai ia membersihkan bagian dapur di mana aku sedang beraktivitas saat ini, Yuni sudah minta diizinkan keluar.

"Kamu mau ngapain ke salon? Potong rambut?" tanyaku sembari menoleh padanya.

Kulihat rambut ART-ku itu memang sudah panjang hingga melewati batas bahu. Mungkin itu membuatnya gerah saat melakukan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya dan membuatnya ingin segera memotong rambut.

Namun, di luar dugaan, gadis itu justru menggelengkan kepalanya.

"Bukan, Bu. Mau perawatan aja. Facial, creambath sama luluran. Mungkin agak lama makanya Yuni izin dulu," ucapnya sembari melempar pandangan ke samping seolah ingin menghindari kontak mata denganku.

Facial? Luluran? Ups, apa mungkin aku saja yang kurang suka pergi ke salon karena berpikir semua itu bisa dilakukan di rumah seperti yang selama ini kulakukan?

Ya. Aku memang lebih suka melakukan treatment sendiri di rumah. Setelah membeli produk kecantikan dan skin care yang diperlukan maka aku akan melakukan perawatan sendiri di kamar ketimbang jauh-jauh pergi ke salon. Lebih efisien soal waktu dan biayanya menurutku. Lumayan bisa menghemat uang juga karena tak perlu membayar jasa si mbak salon. Bukan hanya luluran, facial dan creambath pun semuanya dilakukan sendiri di waktu-waktu senggang, seperti hari libur begini.

Namun, mungkin diriku beda dengan Yuni yang sepertinya rela menguras uang gajinya demi bisa perawatan di salon.

Kulihat pakaian gadis berusia dua puluh dua tahun itu sudah rapi. Kaos ketat dipadu dengan rok pendek selutut membalut tubuhnya yang tinggi, langsing dan semampai, membuat penampilan ART-ku itu terlihat cantik dan seksi. Wajahnya yang lumayan manis juga dipoles make up tipis. Siap pergi.

"Izinin aja Ma. Yuni kan juga butuh refreshing. Capek di rumah terus jagain Silla dan beres-beres rumah. Sekali-kali mungkin pengen keluar," celetuk Mas Arman tiba-tiba dari balik sekat ruang tengah menuju dapur.

Senada dengan Yuni, penampilan Mas Arman pun terlihat rapi. Kaos brand ternama dipadu Jeans dari merek terkenal melekat di tubuhnya. Membuat penampilan lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu terlihat modis dan enerjik. Mas Arman memang tampan. Tak salah jika banyak wanita menyukainya meski sudah beristri.

Mendengar celetukan suamiku yang kelihatannya memaklumi keinginan Yuni, aku pun hanya mengangkat bahu dengan pasrah. Ya mungkin sekali-kali gadis itu juga perlu waktu untuk refreshing dari penatnya mengerjakan pekerjaan rumah.

Tak mengapa sekali-sekali kuizinkan gadis itu keluar asal tidak berlama-lama karena aku juga perlu istirahat siang nanti setelah lima hari capek berkutat dengan pekerjaan di kantor. Hari ini harusnya bisa istirahat setelah capek mengolah masakan di dapur, tetapi tak bisa karena Yuni hendak pergi.

"Ya sudah. Pergi aja, Yun. Tapi jangan lama-lama ya, kalau bisa jam 2 udah di rumah. Minta mbaknya jangan lama-lama ngelulurnya biar siang udah bisa pulang. Oke?" sahutku sembari memasukkan potongan kentang dan wortel ke dalam panci, siap untuk direbus bersama potongan daging ayam yang sudah lebih dulu direbus di atas kompor.

"Baik, Bu. Kalau gitu Yuni berangkat dulu ya, Bu. Permisi...." Yuni menyampirkan sling bag di pundaknya lalu berjalan keluar rumah dengan langkah pelan setelah melempar pandang sekilas pada Mas Arman. Entah apa maksudnya, tapi aku hanya menganggap itu ungkapan minta diri.

Sepeninggal Yuni, Mas Arman beranjak menuju kamar dan kembali lagi dengan penampilan rapi dan tubuh tercium bau wangi parfum yang khas, membuatku bertanya-tanya di dalam hati. Mas Arman mau kemana kok jadi ikut-ikutan mau pergi, bukannya memilih me time di rumah mengingat waktu kami berkumpul hanya bisa dilakukan pada saat hari libur kerja seperti ini?

Belum sempat bertanya, Mas Arman sudah duluan membuka mulutnya.

"Mas, juga mau keluar sebentar ya, Nis? Mau cari angin dulu di stadion. Silla juga lagi nonton teve. Jadi kamu bisa nerusin masak tanpa terganggu sama dia. Oke?" ucapnya dengan nada tenang seolah-olah tak tahu perasaanku yang mendadak bertanya-tanya sendiri kenapa saat Yuni baru saja pergi, Mas Arman juga minta izin keluar rumah? Ada apa ini?

Melihat Mas Arman meraih kunci mobil, aku hanya diam sembari menepis prasangka yang menyelusup dalam benak.

Ah, apa mungkin kepergian Mas Arman ada kaitannya dengan kepergian Yuni? Tapi tidak mungkin! Terlalu rendah dan tak dewasa rasanya jika menuduh Mas Arman berbuat yang tidak-tidak dengan pembantu itu. Terlalu paranoid rasanya.

"Ya, sudah. Pergi saja tapi jangan lama-lama ya, Mas. Soalnya aku mau istirahat siang, capek dan ngantuk. Jadi nanti gantian ya awasi Silla," ujarku yang disambut Mas Arman dengan anggukan kepala tanda setuju.

Usai mendapat persetujuan dariku, bergegas lelaki yang sudah mendampingi hidupku selama tujuh tahun itu melenggang menuju garasi dan mengeluarkan mobil sport kesayangannya menuju halaman rumah. Sesaat kemudian deru halus mesin mobil yang dikendarainya meninggalkan rumah menuju jalan raya di depan sana.

***

Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua siang, tetapi tanda-tanda Yuni atau pun Mas Arman kembali belum juga kelihatan.

Berkali-kali kuintip halaman dari gorden jendela yang kusibakkan, berharap mobil Mas Arman sudah kembali, tetapi nihil. Hingga lelah kepala ini berkali-kali mengintip ke luar, mobil suamiku belum juga kembali.

Kututup mulut yang sedari tadi menguap menahan kantuk. Hari libur begini selain berkutat di dapur, memasak untuk anak dan suami, siang hari biasanya kugunakan untuk tidur sekedar melepas penat dan letih setelah lima hari bekerja di luar rumah.

Namun, karena Yuni dan Mas Arman yang tadinya kuandalkan untuk bisa bergantian menjaga Silla yang baru saja bangun dari tidur siang, tak juga kembali dari luar, jadilah aku hanya bisa berbaring sembari menemani putri tunggalku itu menonton televisi.

Beberapa saat berlalu tanda-tanda Yuni ataupun Mas Arman pulang tak juga kelihatan. Penasaran kuambil ponsel dan menelpon suamiku. Tersambung tapi tak diangkat.

Akhirnya kukirim pesan wa menanyakan keberadaannya sekaligus meminta ia segera pulang ke rumah, tetapi pesan dariku tak dibaca. Wa nya pun terlihat terakhir aktif pada jam ia berangkat pagi tadi. Ah, kemana gerangan Mas Arman selama itu tidak online? Sudah hampir empat jam sejak ia pergi, ia tak menyentuh ponselnya. Hatiku kembali diganggu prasangka mendapati kenyataan itu.

Penasaran, kuhubungi pula nomor telepon Yuni. ART itu memang kufasilitasi sebuah telepon genggam agar saat aku di kantor, masih bisa berhubungan dengannya untuk menanyakan dan memantau keadaaan Silla, tetapi anehnya nomor telepon Yuni malah dalam keadaan mati. Wa nya pun terakhir aktif beberapa jam yang lalu. Berkali-kali dihubungi berkali-kali pula operator provider menyampaikan informasi bahwa nomor telepon yang dihubungi sedang tak bisa menerima panggilan.

Ah, ada apa sebenarnya ini? Kenapa nomor wa Mas Arman tidak aktif dan nomor telepon Yuni juga tidak bisa dihubungi? Ada apa dibalik semua ini? Tak urung seribu pertanyaan berkecamuk di benak ini.

***

"Assalamualaikum."

Suara salam dari luar menyadarkan aku yang sedang berbaring dengan seribu kecamuk di depan televisi.

Buru-buru aku melangkah menuju pintu dan membukanya dengan tak sabar. Di depan teras kulihat Yuni sedang berdiri menunggu pintu dibuka dengan rambut terlihat basah dan kedua tangannya mencengkram erat Sling bag yang melingkar di dadanya.

Gadis itu menatapku dengan pandangan datar seolah tak merasa bersalah meski sudah mangkir dua jam dari waktu semula yang kuberikan padanya. Benar-benar membuatku hilang kesabaran dibuatnya.

"Kok baru pulang, Yun? Kemana aja dari tadi?" tanyaku tak mampu menahan rasa jengkel dan emosi karena gadis itu terang-terangan melawan perintahku untuk segera pulang setelah selesai dari salon.

"Maaf, Bu. Tadi banyak yang antri di salon, jadi kelamaan," ucapnya sembari ngeloyor masuk tanpa menghiraukan kejengkelanku.

"Kalau sudah tahu rame, kenapa nggak pindah salon aja sih, Yun? Ditungguin sampai sepi kan lama jadinya. Lagipula kamu perawatan apa aja kok nggak ada bau lulur?" tanyaku sembari mengendus aroma tubuh Yuni yang tak mengeluarkan bau lulur melainkan aroma parfum biasa. Wangi tapi beda dengan bau harum lulur biasanya.

"Ng-tadi memang nggak luluran, Bu. Kan sudah Yuni bilang antri jadi batal luluran. Cuma facial sama creambath aja bisanya," ucap gadis itu lagi sembari menjauhkan tubuhnya dari jangkauan penciumanku.

Mendengar perkataanya kembali kuteliti raut wajah Yuni. Kelihatannya make up yang dipakai gadis itu seperti baru dipulaskan di wajahnya. Bedak dan lipstik yang digunakan kelihatan baru dipoles. Apa gadis ini memolesnya setelah facial? Ah, bisa jadi. Tapi tunggu dulu, dia bilang baru saja creambath, betulkah? Wangi yang menguar dari rambut gadis itu bukan seperti wangi krim atau pun masker rambut. Tapi wangi shampoo dan conditioner biasa. Lalu apa maksudnya dengan mengatakan dia habis ke salon? Hanya untuk mengelabuiku sematakah?

Tapi kalau tidak ke salon, kemana gadis itu selama lima jam kepergiannya?

Sedang aku menatap dengan pandangan tak percaya pada Yuni, pintu depan diketuk dari luar. Mas Arman membuka pintu sendiri dan masuk dengan wajah terlihat cerah dan segar seperti orang yang baru saja habis mandi.

Pikiran buruk pun serta merta tanpa mampu dicegah menyeruak ke dalam hati.

Ah, sebenarnya Mas Arman dan Yuni kemana sih? Pergi barengan, meskipun tidak satu kendaraan dan pulang pun berbarengan? Benarkah mereka tidak ada apa-apa di luar sana dan hanya kebetulan saja pergi dan pulang berbarengan?

Ya Tuhan, salahkan jika aku menaruh curiga pada suami dan pembantuku ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Dia, dan Bekas Pacarmu
8.3
Hubungan harmonis Maya dan Dito mendadak goyah setelah kehadiran Rian sebagai tetangga baru. Keakraban yang terjalin antara Maya dan Rian memicu kecurigaan besar pada diri Dito, hingga memicu pertengkaran hebat. Di tengah jeratan rasa bersalah dan benih cinta baru, Maya memilih menyudahi hubungannya dengan Dito demi bersatu dengan Rian. Sayangnya, keputusan ini berujung pada stigma negatif dari lingkungan sosial. Kini, mereka harus menanggung beban moral demi mempertahankan cinta penuh dilema ini.
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Demi kedamaian abadi, dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis dirantai erat, menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya. Sorak amarah terus mendesak agar nyawanya segera dilenyapkan. Namun, saat eksekusi mati tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah keputusasaan. Sosok penyelamat tiba-tiba muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah berada di depan mata.
Sampul Novel My BadBoy
8.6
Adzando Dalwes, murid berandalan rupawan yang mahir bertarung, selalu menutup diri dari cinta akibat trauma masa lalu. Baginya, semua perempuan tidak ada bedanya. Namun, keyakinan itu mulai goyah sejak kedatangan Vania Deltasya, murid baru berdarah campuran Amerika-Indonesia. Kehadiran Vania membawa warna baru yang mengubah dunia Adzando. Akankah si pembuat onar ini benar-benar terpikat, dan sanggupkah Vania menyambut rasa dari cowok yang terkenal tak tersentuh ini?
Sampul Novel Pesona Sebuah Ciuman
8.2
Karin menghadapi gejolak batin usai menyambut ciuman Wilson. Walau mestinya ia membenci lelaki tampan itu, kehangatan tersebut terus membayangi benaknya. Keadaan kian pelik lantaran Karin masih terikat pernikahan sah dengan Steven. Sanggupkah Karin dan Wilson menekan daya tarik terlarang yang kian membara? Simak pergulatan emosi Karin yang mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya dalam kisah romansa dewasa yang penuh dilema ini.
Sampul Novel SENI DI ATAS RANJANG
8.5
Kumpulan kisah romansa dewasa ini menyajikan rangkaian cerita penuh gairah dengan beragam konflik yang memikat. Melalui bab-bab yang unik dan panas, pembaca akan diperkenalkan pada deretan karakter dari berbagai profesi serta latar belakang kehidupan. Nikmati dinamika hubungan yang intens, provokatif, dan mendalam di setiap alurnya. Antologi variatif ini dirancang khusus untuk menghadirkan hiburan maksimal bagi pembaca dewasa yang mencari cerita cinta yang berani.
Sampul Novel Setiap Rahasiamu Akan Kubongkar
7.9
Selina memberi Dina pilihan sulit: menjadi istri kedua atau menjauhi Rafael selamanya. Alih-alih mundur, Dina justru kian gencar merebut posisi Selina. Ketika putri mereka, Alya, mulai mengendus perselingkuhan tersebut, Selina memutuskan untuk bertindak. Dibantu dua saudara Rafael, ia merancang strategi matang guna menghadapi teror emosional Dina. Kini, di tengah badai pengkhianatan, Selina dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atas nama cinta atau bangkit demi harga dirinya.