
Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat
Bab 2
Aku bisa melihat matanya setengah terpejam, dan saat dia mendekat, aku bisa mencium bau alkohol dari tubuhnya.
Dia memanggilku sayang, apa dia salah orang makanya memelukku?
Aku baru mau bilang aku bukan tante, dia langsung menempel dan menindihku dengan tubuhnya yang kuat.
Tadi aku mau tidur, jadi memakai gaun tidur sutra. Sekarang begitu dia menindihku, tubuhku sudah hampir jatuh ke lantai, gaun tidur berantakan, kerah terbuka lebar, membuat Charlie melihat sampai terdiam.
Tetapi tubuh Om Charlie benaran kuat sekali, tangannya sudah mulai memegang pinggangku, terus menerus mengelus, dan dengan mabuk berbicara di samping telingaku.
"Sayang, tubuhmu lembek sekali, hanya saja sejak kapan kulitmu jadi sebagus ini?"
Saat berkata ini, dia mulai mencium wajahku, kedua tangannya sangatlah panas.
Pintu masih terbuka, aku bisa melihat ayah dan sahabat sedang mesraan.
Dan aku yang di sini juga dianggap Om Charlie sebagai istrinya.
Di saat kedua tangan Om Charlie yang panas masuk ke dalam bajuku, aku merasa seolah-olah ada api yang menyala dalam diriku.
Ini adalah ayah sahabatku, sekarang melakukan hal ini kepadaku...tidak ku sangka Om Charlie bisa sekekar itu, otot tubuhnya terasa sangat tegang.
Om Charlie yang seperti ini hampir memenuhi harapanku tentang pria.
Sebelumnya, saat aku melihat Om Charlie selalu memikirkan yang aneh-aneh, sekarang Om Charlie begitu langsung menempelku, tubuhku terasa semakin lemas, harapanku menjadi kenyataan, membuat tubuhku semakin bergetar.
Sangat cepat, gaunku seiring dengan nafasku yang cepat menjadi ketat, aku sudah siap meresponsnya.
Charlie menempel dekat denganku, lekukan tubuhnya menjadi semakin terlihat.
Pandanganku terus melihat Om Charlie, merasakan aroma tubuhnya, tangan mulai memegang otot kekarnya, membuatku tersesat sepenuhnya.
Pemikiran yang muncul di dalam hatiku membuatku menderita, sedikit panas dan gatal.
Aku sudah tidak tahan lagi, ingin Om Charlie memperlakukan aku dengan kasar lagi, aku ingin menciumnya.
Braaak!
Tepat pada saat ini, meja kartu di luar tiba-tiba runtuh.
Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan keras dari sahabatku.
"Aduh, sakit sakit... "
Fellicia mulai menangis.
"Om, aku berdarah di sini..."
Mendengar kata-kata itu, kepalaku yang sebelumnya sudah mulai linglung, langsung sedikit sadar kembali.
Sahabatku mengalami sesuatu, aku harus segera melihat keadaannya.
Tetapi di saat aku sadar, Om Charlie masih menindihku.
"Sayang, jangan pergi, hari ini aku harus bermain sepuasnya."
Om Charlie menjadi sangat gila karena alkohol, dia sudah tidak puas dengan menjelajahi, mulai menyobek bajuku.
Aku terkejut, sekarang aku memakai gaun tidur, kalau disobek dan dibuatnya ada bekas cupang, bagaimana aku untuk keluar?
Tetapi, saat disobek baju oleh Om Charlie, tubuhku tidak merasa kedinginan, melainkan semakin panas.
Adegan sekarang ini, sama dengan pemikiranku dulu. Menurutku, awalnya sedikit panik, tetapi sekarang benaran tidak mau bergerak, sangat nikmat dengan rasa sekarang.
Tetapi, sahabatku sepertinya sangat sakit.
Wajahku merah, merasa diriku sangat jahat. Om Charlie mabuk, menganggapku sebagai mantan istrinya yang sudah cerai, sahabat sedang terluka dan aku masih sedang sibuk menikmati.
Bagaimana kalau sahabat benaran terluka parah?
Anda Mungkin Juga Suka





