
Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat
Bab 3
Aku mengusir pikiran-pikiran jahat itu dan mendorong Om Charlie.
"Fell, jangan bikin aku takut…"
Dari luar, terdengar suara ayah yang panik.
Saat Charlie mendengar kalimat itu dari ayahku, dia terdiam.
Charlie yang sebelumnya menindihku dan mulai bicara ngelantur karena mabuk, mengira aku adalah istrinya. Sekarang, dia malah menghentikan semua gerakannya dan di matanya terlihat sedikit rasa kecewa!
Lalu, tangannya memegang kakiku berkali-kali dan berdiri jalan keluar.
Aku melihat tatapan matanya, dan saat itu aku baru sadar, ternyata dia berpura-pura!
Hatiku langsung terasa berat.
Om Charlie tidak mabuk!
Dia hanya berpura-pura!
“Om Charlie, bukankah kamu mabuk?” Dia melirikku sekilas, menggosok matanya, “Udah sadar… Tapi, kamu bukan istriku, kamu kan si Stella ya? Maaf ya, Om tadi agak linglung, kukira kamu istriku.”
Alasannya terdengar jelas dibuat-buat. Setelah itu, dia buru-buru pergi.
Aku berdiri, cepat-cepat merapikan gaun pendekku.
Dalam kepalaku, ada rasa malu dan kesal yang aneh terhadap Om Charlie.
Dia sengaja bersikap seperti itu padak...begitu aku sampai di ruang tamu, barulah aku tahu, kaki sahabatku ternyata terluka cukup parah, ada sayatan besar dikakinya.
Aku menghela napas lega, lalu menunduk memeriksa gaun pendek yang kupakai, khawatir kalau ada sesuatu yang mencurigakan terlihat.
Saat pikiranku masih mengingat kejadian barusan, Om Charlie melirikku sejenak, lalu berkata, “Untungnya Fell nggak kenapa-kenapa. Eh, Nak, biar Om Adam bantu bersihin lukanya ya. Aku nggak ngerti hal beginian, tapi Om Adam pernah ikut pelatihan P3K.”
Om Charlie mendorong sahabatku ke arah ayahku untuk ditangani.
Setelah itu, dia kembali melihat ke arahku, “Stella, jangan khawatir lagi. Fell nggak parah, kita beresin barang-barang ini.”
Awalnya aku ingin menolak, tapi ayah sudah membawa Fell masuk ke kamar, sepertinya sudah pergi mengobati lukanya.
Akhirnya, dengan perasaan campur aduk, aku membantu Om Charlie membereskan semuanya.
Saat sedang membereskan, tubuhku pun otomatis membungkuk ke depan...
Gaun tidur sedikit ketat, bentuk bokongku menjadi terlihat samar.
Plak! Om Charlie datang ke sampingku, dia langsung menampar belakangku.
Gerakan ini, membuat tubuhku gemetar.
"Om, kamu..."
"Stella, kamu juga sengaja kan, kamu kira aku tidak tahu kejadian tadi? Sebenarnya kamu juga sangat menginginkannya kan? Walaupun aku berpura-pura, apakah kamu tidak menikmatinya?"
Charlie tersenyum lebar.
"Apa yang kamu bilang Om, tadi kamu menganggapku sebagai tante, jadi aku tidak menolak, tidak ku sangka kamu itu pura-pura..."
"Jangan pura-pura lagi Stella, aku menganggapmu sebagai tante, apakah kamu benaran tante? Kenapa begitu nurut? Atau kamu suka samaku? Lagi pula..."
Tatapan Charlie melihat bentuk lekukan di belakang punggungku.
"Kamu kira aku tidak mencium aroma ditubuhmu? Kamu sudah pengen, masih aja tidak mau mengaku!"
Charlie semakin mendekatiku.
Memukul bagian belakangku berkali-kali.
Tunggu sampai aku sudah gemetar jatuh ke lantai, aku mendengar suara aneh dari dalam kamar.
Dalam kamar, harusnya ayah sedang mengobati luka sahabat.
Tetapi sampai sekarang, kenapa sepertinya dia sedang melakukan hal yang tidak bisa dideskripsikan dengan sahabat?
Aku melihat suara sahabat dengan memohon.
"Jangan gini Om, ayahku dan Stella masih di luar...."
"Dengar nggak?"
Charlie mendekatiku dengan mata yang merah, "Ayahmu beraninya melakukan hal ini pada putriku, menurutmu, apakah aku perlu melakukannya terhadapmu juga?"
"Jangan Om, aku...aku belum pernah mengalami hal ini, aku takut, jangan..."
Charlie tidak mendengarkanku, dia menggeserkan barang yang ada di lantai, dan menempel ke belakang tubuhku.
"Tenang saja, aku sangat berpengalaman melakukan ini, tidak akan membuatmu terluka."
Dia dengan tangan yang gemetar membuka gaunku.
"Tapi aku takut aku bisa rusak Om, tidak..."
Aku masih menolak, tetapi dia membuka gaunku, membuatku merasakan sensasi panas yang sulit diungkapkan di dalam tubuh.
Kejadian tadi, membuatku ingin terjadi sesuatu dengan Charlie, sekarang menbuatku semakin tidak tahan lagi.
Aku dengan tidak sadar menggoyang pinggangku, malah semakin memancing Charlie.
"Dengarin, kaki buka lagi sedikit."
Anda Mungkin Juga Suka





