
Aroma Godaan dan Perselingkuhan
Bab 3
Lucas tidak berkata apa-apa lagi. Gerakan lembut tangannya membuat sarafku kembali rileks.
Saat aku jatuh tertidur, suara Lucas terngiang di telingaku.
"Oke, pijatnya sudah selesai."
Aku segera bangun dan terduduk di sofa, membuka penutup mataku.
"Sudah selesai?"
Aku merasa seperti kurang puas, tidak menyangka semuanya akan berakhir secepat ini.
Aku mendongak tepat saat Lucas menyeka tangannya dengan tisu basah. Ada sedikit cairan putih di tangannya dan aku terlalu malu untuk terus melihat.
Wajah Lucas tenang, tidak ada reaksi apa-apa.
"Ya. Kondisinya akan membaik setelah pijat ini. Kalau ingin lanjut pijat lagi, silakan membuat janji lain waktu."
Dia lalu mengemasi barang-barang dan hendak pergi.
Aku buru-buru berdiri dan ingin mengantarnya sampai ke depan. Tapi aku mendapati Lucas menatapku dengan aneh.
Pakaianku masih belum diturunkan.
Pada saat itu, pintu rumah tiba-tiba terbuka dengan keras.
Aku tersentak kaget. Aku 'kan punya suami!
Kalau dia melihatku bersama laki-laki lain dengan dada terbuka, dia akan sangat marah.
Aku cepat-cepat merapikan baju dan Lucas berjalan menuju pintu.
Benar saja, begitu suamiku masuk dan melihat seorang pria asing di dalam, raut wajahnya berubah suram.
"Siapa kamu? Ada apa di rumahku?"
Suamiku pria yang keras. Aku takut mereka berdua akan bertengkar, jadi aku buru-buru maju untuk menjelaskan.
"Sayang, dia terapis laktasiku yang baru. Barusan selesai pijat."
"Terapis laktasi? Laki-laki?"
Bukannya membaik, justru awan kelabu semakin menutupi wajah suamiku. "Kenapa laki-laki jadi terapis menyusui? Pasti punya niat jahat!"
Setelah mengatakan itu, dia juga menatapku dengan curiga. "Kalian beneran cuma pijat? Nggak melakukan yang lain?"
"Beneran!"
Aku sedikit marah karena kecurigaan suamiku. "Lihat sendiri di CCTV kalau nggak percaya!"
Ruang tamu dipasangi CCTV untuk mengawasi anak kami.
Aku tidak menyangka, sebelum tujuan tersebut tercapai, CCTV itu akan digunakan untuk membuktikan hal seperti ini.
Melihat ekspresiku yang tidak bersalah, suamiku pun menyadari bahwa di antara aku dan terapis itu tidak terjadi apa-apa. Kemarahannya tampak sedikit mereda.
"Maaf, aku salah paham."
"Nggak apa-apa."
Lucas tetap terlihat dingin seperti biasa. Dia mengangguk dan segera pergi.
Sama sekali tidak berniat untuk berlama-lama.
Suamiku semakin lega melihat hal ini.
Dia cepat-cepat mendekat dan memelukku. "Sayang, jangan marah. Laki-laki mana yang nggak akan curiga dengan situasi tadi?"
Mata aku sedikit memerah. Meski aku mengerti, aku tetap merasa sedikit dalam lubuk hatiku.
Apalagi, aku jadi sangat emosional dan cengeng setelah melahirkan.
Wajah suamiku semakin cemas dan dia memohon maaf berkali-kali untuk membujukku.
Aku tidak benar-benar marah. Situasi tadi memang mudah menimbulkan curiga.
Akhirnya aku sengaja pergi melihat rekaman CCTV. "Ini! Lihat sendiri, nggak ada apa-apa."
"Dokter Lucas itu rekomendasi dari sahabatku. Walaupun masih sangat muda, dia sudah punya pengalaman belasan tahun."
Sejak dipijat Lucas, dadaku tidak bengkak lagi dan ASI dapat mengalir dengan lancar.
Meski suamiku mengaku percaya padaku, tapi tatapannya tidak bisa bohong.
Dia menyaksikan rekaman CCTV dari awal hingga akhir.
Barulah dia merasa lega.
Anda Mungkin Juga Suka





