
Aroma Godaan dan Perselingkuhan
Bab 2
Meskipun sudah berpakaian, berbaring telentang di depan seorang pria asing membuatku sedikit gugup.
Kedua tanganku mencengkeram tepi sofa.
Lucas sepertinya dapat merasakan kegugupanku. Dia tertawa pelan dan berkata, "Santai saja. Tolong angkat bajunya ke atas."
Aku mengangguk, memberanikan diri, dan membuka bajuku ke atas dengan sedikit malu-malu.
Dibuka secukupnya saja untuk memperlihatkan payudaraku yang membusung.
Lucas mengangguk dan menatap payudaraku. Sekilas rasa takjub terpancar di matanya, seolah sedang menatap sebuah harta berharga.
Aku memang diberkati yang indah. Awalnya berukuran C dan menjadi sedikit lebih besar sejak aku melahirkan.
Lucas tidak menutupi tatapannya sama sekali. Aku merasa seperti spesimen percobaan yang sedang diamati dari segala sudut.
Aku tersipu malu dan sedikit bergeser tanpa sadar, sambil berbisik, "Dok, sudah bisa dimulai ...?"
Lucas terdiam sejenak seolah baru sadarkan diri, lalu tersenyum lembut padaku.
"Ya. Kamu sangat cantik."
Kalimat itu sangat tiba-tiba dan di luar batas sampai aku tertegun beberapa saat.
Sebelum pikiranku tersadar sepenuhnya, sensasi dingin merasuk ke dalam kulitku.
"Ah ...."
Tubuhku otomatis menghindar dari sentuhan itu.
Lucas tertawa, seperti merasa senang. "Kamu sangat sensitif."
Komentar ini membuatku semakin malu. Wajahku merona merah dan mataku mengembara, tidak tahu harus melihat ke mana.
Lucas melihat rasa maluku dan mengeluarkan penutup mata, sambil bertanya dengan serius.
"Mau pakai penutup mata? Mungkin kamu bisa lebih nyaman saat dipijat dengan mata tertutup."
Aku berpikir sejenak dan akhirnya setuju.
Aku tidak dapat membayangkan menatap wajah Lucas tepat di depanku selama dua hingga tiga jam ke depan.
Betapa memalukan.
Tangan Lucas bergerak, ingin membantuku memakai penutup mata itu. Aku pun buru-buru mengambilnya. "Biar saya pakai sendiri ...."
Lucas mengangguk dan tidak mendesak lebih jauh.
Setelah mengenakan penutup mata, seluruh dunia menjadi gelap dan pikiranku tidak lagi dikuasai rasa canggung. Tapi, indra di seluruh tubuhku jadi lebih fokus pada dadaku.
Harus kuakui, Lucas sangat terampil dalam memijat. Lembut dan tidak terlalu kuat, membuatku sangat nyaman.
Pijatan Lucas lambat laun semakin cepat. Telapak tangannya hangat setelah menggosok-gosok cukup lama.
Tubuhku semakin sensitif setelah melahirkan. Aku hampir tidak tahan menerima perlakuan seperti itu dari seorang pria.
Suhu badanku meningkat dan tubuhku juga mulai bereaksi.
Untungnya, aku sudah pakai penutup mata. Kalau tidak, pria itu akan mengetahui segalanya.
Seluruh proses berlangsung selama sekitar dua jam. Di tahap akhir, wajahku sudah merah membara.
Lucas tiba-tiba menekan dan meremas dengan lebih kuat. Aku tidak bisa menahan eranganku.
"Mmm ...."
Pikiranku yang semula linglung seketika tersadar dan jernih. Aku cepat-cepat menutup mulut dan merasakan telingaku memanas.
Aku tidak bisa melihat ekspresi Lucas, tapi sebuah suara pelan terdengar dari telingaku tak lama kemudian.
"Ada benjolan di sini, jadi harus lebih keras agar terurai."
Setelah jeda sebentar, dia melanjutkan, "Selain itu, nggak perlu menahan diri. Semua itu normal."
Rasa maluku memuncak sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya bumi terbelah dan menelanku sekarang juga.
Anda Mungkin Juga Suka





