APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Dua Hati

Antara Dua Hati

Kecewa karena lamarannya ditolak Maida akibat perbedaan status sosial, Razi memilih menikahi Hana, gadis desa pilihan sang ibu. Konflik dimulai ketika Razi memboyong istrinya menetap di Jakarta. Maida yang rupanya memendam rasa kini terobsesi merebut Razi kembali. Keadaan kian rumit dengan campur tangan kakak angkat Maida yang memperkeruh suasana. Di tengah badai ujian dan gangguan ini, mampukah rumah tangga Razi dan Hana bertahan dari kehancuran?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tak ada resepsi mewah. Pernikahan yang terbilang mendadak ini hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja. Razi lebih sering terlihat diam, begitu juga dengan Hana. Meski tak banyak bicara, aura kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya. Gadis berparas jelita itu memang tak sering jumpa dengan Razi, karena sejak SMP lelaki itu tinggal di Jakarta. Hanya sesekali saja saat pulang kampung. Namun, ada perasaan tersembunyi yang sejak dulu dipendamnya.

Hawa gigil menyergap kulit. Udara pedesaan di Kota Resik itu memang dingin tatkala malam menyapa. Hana masih terjaga menunggui suaminya di larut malam yang semakin beranjak. Tak lama, terdengar suara daun pintu di tekan, lalu pintu kamar itu pun terbuka perlahan.

Razi sedikit terkejut tatkala melihat seorang gadis berada di kamarnya. Sejurus kemudian tersadar bahwa dirinya telah menikah.

“Belum tidur?” tanya Razi dengan sedikit gugup. Ini adalah pertama kali baginya sekamar dengan perempuan selain ibunya.

Hana tersenyum, kemudian menunduk. Perasaan malu dan canggung menyelimuti dirinya.

“Tidurlah, kamu pasti capek,” titah Razi yang diikuti hempasan tubuhnya ke kasur, lalu berbalik memunggungi Hana.

Ada sedikit perasaan kecewa dalam hati gadis itu. Namun, dia segera menepisnya. Dia berusaha memaklumi dan berpikir bahwa mungkin suaminya kelelahan. Hana merebahkan tubuhnya di samping Razi, tubuhnya menghadap punggung lelaki yang beberapa jam lalu telah sah menjadi suaminya. Meski dia berusaha untuk tidur, tetapi matanya seperti enggan untuk terpejam.

“Aa sudah tidur?” Hana membuka percakapan.

“Belum, ada apa?” jawab Razi. Dia segera mengubah posisi tidurnya menghadap Hana, dan kini wajah mereka saling berhadapan.

Hana sedikit gugup, lalu memalingkan wajahnya dengan berbaring menghadap langit-langit. Dia berusaha menyembunyikan debaran jantung di dadanya. Khawatir detaknya terdengar oleh lelaki di sampingnya.

“Gak jadi, nanti aja.”

Sebenarnya, ada banyak pertanyaan dalam diri Hana yang memaksa untuk ditanyakan. Tentang mengapa Razi bersedia menikah dengannya, juga tentang apakah perasaan yang dimiliki lelaki itu terhadapnya sama dengan perasaannya terhadap Razi. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu urung ditanyakan. Biarlah nanti akan menemukan jawabannya sendiri, pikirnya.

“A, bangun! Sudah subuh.” Hana mengguncang tubuh Razi.

Razi menggeliat lalu duduk. Dengan mata yang masih mengantuk, tiba-tiba lelaki itu memeluk wanita yang duduk di sebelahnya. Hana sedikit terkejut, tetapi hal tersebut membuatnya senang dan agak salah tingkah. Razi yang baru sadar akan apa yang dilakukannya, buru-buru melepaskan pelukan, dan beranjak berdiri.

“Wudu dulu,” ucapnya lalu ke luar dari kamar dengan setengah berlari.

●●●●

“Razi, pamanmu menawarkan Vila-nya. Barangkali ... kalian ingin bulan madu di sana,” ujar Bu Ratna saat mereka sarapan.

Sontak ucapan ibunya membuat Razi yang sedang minum tersedak. Dia terbatuk-batuk dibuatnya.

“Kamu gak apa-apa?” Bu Ratna sedikit khawatir.

“Enggak apa-apa, Bu” Razi kembali meminum sisa air di gelas. “Waktu cuti Razi kan hanya seminggu, Bu. Itu berarti tinggal satu hari lagi di sini. Oh ya, Razi ingin mengajak ibu dan Hana pindah ke Jakarta. Bagaimana, Bu?”

“Bagaimana dengan rumah ini? Kalau ibu pergi, siapa yang menjaga rumah ini?”

“Rumah ini biar Wa Haji yang menjaganya. Apa ibu gak mau tinggal bersama Razi?”

“Tentu saja ibu mau. Tapi ....”

“Tapi apa lagi, Bu?” Razi memasang wajah memelas.

“Baiklah, ibu akan pergi bersama kalian.”

Razi dan Hana tersenyum senang bahwa Sang Ibu bersedia tinggal bersama mereka.

Selesai sarapan, Razi bersantai di ruang keluarga. Sedang Hana mencuci piring di dapur. Setelah selesai, Hana menghampiri suami dan mertuanya sambil membawa nampan berisi teh.

“Oh ya, apa kalian tidak mau berjalan-jalan dulu sebelum meninggalkan kota ini? Pergi dan bersenang-senanglah! Kalian gak bisa bulan madu, jadi paling tidak kalian bisa bersenang-senang pergi ke tempat-tempat yang indah,” ujar Bu Ratna.

Hana menatap suaminya, berharap lelaki itu mau mengajaknya jalan-jalan. Razi yang sadar tengah diperhatikan membalas tatapan istrinya. Buru-buru Hana mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Iya, Bu, kami mau jalan-jalan,” ucap Razi tanpa mengalihkan pandangan dari istrinya.

Hana tak menyangka Razi menyetujui untuk jalan-jalan, dia menyembunyikan senyum dibalik wajahnya yang menunduk.

Saat Hana bersiap-siap di kamar, ponsel Razi berdering. Awalnya Hana membiarkannya, tapi berkali-kali benda pipih itu berbunyi kembali. Perempuan berjilbab biru itu mengambilnya. Di layar, tampak sebuah nama seorang wanita. Maida. Hana ragu, tapi kemudian dia memberanikan diri mengangkat telepon itu. Belum dia mengucapkan salam, wanita di ujung telepon memberondong dengan pertanyaan.

“Lama banget sih angkatnya? Kamu lagi apa? Kapan ke Jakarta? Emangnya gak kangen?”

Hana terdiam. Pikirannya berusaha mencerna keadaan.

“Haloo Raaz ... kok, diem aja, sih?”

“Ma-maf, A Razi lagi di luar,” sahut Hana dengan gugup. Perasaannya tak menentu.

“Oh, kalau sudah kembali tolong sampaikan untuk telepon balik, ya!” perintah wanita di seberang telepon.

“Iya. Mm, maaf ini dengan si ...." Belum selesai Hana bicara, wanita itu menutup teleponnya.

Hana meletakan kembali ponsel suaminya. Perempuan itu menarik napas berat. Rasa penasaran dan cemburu saling berebut menguasai hatinya.

“Udah siap belum?” tanya Razi di depan pintu kamar.

Hana mengangguk. “Sudah. Emm ... A, itu tadi ada yang telepon. Karena bunyi terus, jadi Hana angkat. Katanya ... suruh telepon balik.”

“Siapa?” Razi berjalan mendekat.

“Maida.”

Razi sedikit terkejut, tapi berusaha untuk bersikap biasa.

“Dia siapa?” tanya Hana dengan ragu.

“Teman,” jawab Razi singkat.

Razi mengambil ponsel miliknya dan berjalan ke halaman belakang. Hana yang melihat suaminya tengah menelepon merasa sedikit kecewa. Namun, dia berusaha menepis perasaannya. Perempuan itu pun keluar dari kamar dan lebih memilih menunggu di ruang tamu dari pada melihat suaminya bertelepon dengan perempuan lain.

●●●●

“Ada apa Mai?”

“Kok pertanyaannya gitu banget sih, Raz? Emang kamu gak kangen aku?” tanya Maida yang saat itu tengah berada di Spa untuk merawat kulitnya.

“Aku lagi sibuk, aku tutup teleponnya, ya!”

“Tunggu! Kamu susah banget dihubungi, sekalinya nyambung pengen tutup gitu aja, emangnya kamu gak kangen sama aku?” tanya Maida dengan suara manja.

“Aku masih banyak urusan,” jawab Razi dengan malas.

“Oke, oke. Jadi ... kapan kamu balik ke Jakarta?”

“Mungkin lusa. Udah ya, aku masih ada urusan.” Razi langsung menutup teleponnya.

●●●●

Sepasang pengantin baru itu telah sampai di kawasan wisata Gunung Galunggung. Razi yang terbiasa dengan udara ibu kota begitu senang bisa menghirup udara segar gunung yang memiliki ketinggian 2.168 mdpl itu.

Setelah puas menikmati pemandangan di kaki gunung yang memiliki banyak kolam pemandian air panas, Razi mengajak istrinya menuju kawah di atas.

Ratusan anak tangga menyambut keduanya sebelum sampai di kawah. Mereka pun mulai menaiki tangga yang berjumlah 620 itu. Baru setengah perjalanan, Hana sudah terengah. Dia meminta untuk istirahat terlebih dahulu. Razi memberikan air mineral kepada istrinya lalu duduk sejenak di tangga dengan lebar sekitar tiga meter itu.

“Lanjut?” tanya Razi. Hana mengangguk seraya tersenyum.

Razi menggenggam tangan Hana saat keduanya hendak melanjutkan menaiki anak tangga yang tersisa. Tak dipungkiri, hal tersebut membuat Hana begitu senang. Sejenak, dia bisa melupakan rasa kecewa dan cemburu yang sedari tadi disembunyikannya.

Mereka pun sampai di puncak Galunggung. Rasa lelah perjalanan terbayarkan dengan keindahan alam yang memanjakan mata.

●●●●

Sehari berikutnya, mereka mulai berkemas untuk pindah ke Jakarta. Mereka akan menempati rumah yang dibeli Razi dengan cara mencicil ke temannya. Lelaki bertubuh tegap itu memang tidak ingin terlibat dengan pinjaman ke Bank, karena dia memiliki prinsip untuk sebisa mungkin menjauhi riba.

Mereka pun sampai di Jakarta. Rumah bergaya minimalis itu belum terlalu banyak memiliki perabotan, hanya ada beberapa furnitur sepeti kasur, sofa, lemari dan televisi. Karena dulunya Razi tinggal sendiri jadi dia tak terlalu memikirkan untuk melengkapi isi rumahnya dengan perabotan.

Ibu Razi kelelahan hingga sejak sore sudah istirahat di kamar. Saat Razi dan Hana bersantai sambil menonton televisi, terdengar suara ketukan di pintu. Hana segera beranjak untuk membukanya.

Pintu terbuka, tampak seorang wanita berambut sebahu, mengenakan blazer berwarna pastel berdiri dengan highhells berwarna hitam. Penampilan yang sangat cantik.

Kedua netra perempuan itu saling bertemu.

“Siapa, Hana?” tanya Razi sambil berjalan mendekat ke pintu.

Mata perempuan itu berbinar tatkala melihat Razi.

“Razi, kenapa lama banget perginya?” pekik Maida. Perempuan berparas cantik itu berlari ke arah Razi dan memeluknya.

Hana yang melihat itu begitu kaget dan tidak menyangka bahwa perempuan itu tiba-tiba saja memeluk suaminya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin kerap dikucilkan keluarganya bagai itik buruk rupa. Namun, takdir berbalik saat CEO Carlos justru memilih menikahinya, bukan sang saudari tiri yang sempurna, Paramita. Di balik cemoohan khalayak, Evelin membuktikan dirinya bukan gadis biasa dengan mengungkap rahasia besar bahwa ia adalah pakar keuangan, genius AI, sekaligus penyembuh ajaib. Saat para pembenci berlutut meminta maaf, Carlos pun menunjukkan pesona sejati Evelin yang memikat dunia.
Sampul Novel Bercinta dengan Playboy
9.1
Dikhianati oleh Alan sang tunangan membuat hati Risa hancur. Dikuasai rasa sakit, ia nekat menerima ajakan kencan satu malam dari Alva, rekan kerja sekaligus playboy terkenal, demi membalas dendam. Namun, rencana Risa menjadi rumit saat mengetahui Alva adalah sepupu Alan. Akankah balas dendam ini berhasil ketika Alan akhirnya menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya sendiri?
Sampul Novel Cukup Sekali Mengucap Selamat Tinggal
9.6
Pernikahan tanpa cinta membuat sang istri harus membesarkan putranya tanpa kasih sayang dari suaminya yang dingin. Pria itu bahkan enggan melihat anaknya sejak lahir. Namun, kepulangan wanita masa lalu sang suami mengubah segalanya. Saat pria itu mabuk dan memeluk sang anak, bocah itu justru memanggilnya paman karena tidak mengenalinya. Sadar posisi mereka, sang ibu memutuskan membawa putranya pergi dan berhenti mengganggu kehidupan suaminya.
Sampul Novel Gemintang
8.8
Hati Gemintang Farhana hancur setelah dicampakkan oleh Bachdim, cinta pertamanya. Demi memulihkan diri, ia beralih pekerjaan dan justru jatuh hati pada Amar Dwirangga, atasan sekaligus seniornya. Kehadiran Amar yang penuh perhatian perlahan memulihkan lukanya. Namun, takdir berkata lain saat restu semesta menghalangi hubungan indah mereka hingga harus berpisah. Kini, keduanya terjebak dalam kerinduan mendalam tanpa bisa bersama, menyisakan memori manis yang tidak berujung bahagia.
Sampul Novel Lolos Dari Neraka
9.6
Sebagai guru Bahasa Inggris, hidupku awalnya biasa saja. Namun, malam bimbingan belajar tambahan di rumah muridku mengubah segalanya. Aku terkejut menemukan putri kandungku sendiri sedang tidur bersama kakak dari muridku tersebut. Di malam yang sama, situasi tak terduga justru membawaku merasakan kebahagiaan bersama empat orang sekaligus. Kisah dalam novel modern Lolos Dari Neraka ini membawa pembaca masuk ke dalam pusaran takdir yang rumit dan penuh rahasia tak terduga.
Sampul Novel Mati Untuk Hidup
9.6
Saat mengembuskan napas terakhir akibat kanker stadium akhir di rumah sakit, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit dari keluarganya. Tepat di hari ujian universitas anaknya selesai, sang suami malah memeluk mantan kekasihnya di hotel dan berjanji akan menyingkirkannya. Di tempat lain, anaknya mabuk di bar sambil mengeluhkan sikap protektif ibunya, sementara sang mertua sibuk menjelek-jelekkannya kepada tetangga. Kini, tanpa ada lagi bantahan darinya, mereka semua akhirnya mendapatkan kebebasan yang mereka impikan.