APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Tersisih

Anak Tersisih

Sarinah kabur dari rumah akibat perlakuan tidak adil orang tuanya. Nasibnya berubah total setelah kecelakaan mobil membawanya diadopsi dan berganti identitas menjadi Rully. Ia yang dahulu buta huruf kini berhasil bangkit menjadi dokter sukses. Masalah besar datang saat seorang pria meminangnya tanpa tahu bahwa Rully berasal dari keluarga miskin. Kini ia bimbang antara berterus terang atau tetap menyembunyikan rahasia masa lalunya demi mempertahankan cinta serta status sosialnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kamu jangan bersedih, Sayang. Kami tak akan mengantar kamu ke panti, tapi kami mau kamu jadi anak angkat kami," terang wanita yang kusapa tante itu.

Aku tercengang, tak yakin dengan apa yang baru saja kudengar. Benarkah mereka akan mengadopsiku?

"Kamu mau 'kan tinggal sama kami?" tanya pria yang kusapa om.

Aku yakin telingaku tak salah mendengar, oleh sebab itu tanpa menunggu lama aku langsung mengangguk setuju. Mereka terlihat senang, begitu juga dengan diriku. Biarlah aku dikata anak yang tak tahu diri karena meninggalkan orangtua kandung, daripada harus menjadi anak berbakti tetapi tersiksa lahir dan batin. Aku ingin memiliki kehidupanku sendiri, kesehatan mentalku jauh lebih penting dibanding berkhidmat yang salah kaprah.

"Umur kamu berapa sekarang?"

"Sepuluh tahun, Tante." Wanita itu mengernyit.

",Kamu seksrsng sudah jadi anak kami, jadi jangan panggil Om dan Tante lagi, tapi panggil kami dengan sebutan papa dan mama, ya?"

"Baik, Tan-, eh Mama." Mereka tersenyum puas.

"Nama kamu siapa?"

"Saya Sarinah."

"Sarinah, ya?" Orangtua angkatku saling memandang, lalu beralih krmbali memandangku.

"Kamu diganti namanya mau?"

"Mau," ucapku senang.

"Hmm ... kasih nama siapa, ya, Pa?"

Orangtua angkatku nampak berpikir, aku tak mau ikut memikirkannya. Nama apapun yang mereka beri, aku akan menerimanya dengan lapang hati.

"Kaku Alma saja bagiamana?"

"Rully?"

"Ya, gabungan dari nama kita berdua, Rusdi dan Selly."

Ibu angkatku tertawa geli, tapi ia menyetujui nama yang diusulkan oleh ayah angkatku.

"Kamu suka namanya, Sayang?" tanya mama padaku.

Aku mengangguk. Baru sebentar kenal dengan mereka, tetapi hidupku rasanya sudah bahagia.

Selama aku di rumah sakit, mama selalu berada menemani. Sementara papa, ia sibuk bolak-balik karena harus mengurus perusahaannya. Seumur hidupku, baru kali ini rasanya aku benar-benar merasa mempunyai kasih sayang dari orangtua. Baru kali ini juga aku merasa makan dengan hati yang tenang dan senang.

*****

Pov Ibu kandung

"Pak, si Inah nggak ada di rumah! Udah ibu cari ke sekeliling rumah, tapi gak ada juga."

"Apa? Pergi ke mana dia?"

"Ya, nggak tahu atuh, Pak."

"Kita harus cari dia, Bu!"

Aku mengangguk dan bergegas keluar rumah, bertanya pada tetangga juga melapor pada ketua kampung.

Tiga hari sudah aku dan Kang Enjang mengitari kampung, mencari keberadaan Sarinah yang kini entah di mana. Aku khawatir dia diculik dan ... ah, aku tak sanggup membayangkannya. Berkali-kali aku mendatangi ketua dusun dan mendesaknya agar seluruh warga mencari keberadaan putriku. Namun, ia menolak dengan alasan warga tidak akan mau sebab punya tanggungan tersendiri.

"Pak tolonglah, bujuk warga agar mau bergerak mencari keberadaan Sarinah. Saya taku dia diculik dan diapa-apain."

"Bu Titin, desa kita ini aman. Sudah berpuluh-puluh tahun kita hidup di sini belum ada satu kejadian pun anak yang diculik."

"Tapi Sarinah gak ada di rumah, Pak. Dia hilang!"

"Saya yakin Sarinah tidak diculik," ucap pak ketua dengan senyuman sinis.

"Kenapa Pak Ketua bisa ngomong begitu?"

"Ya, karena selama saya hidup di sini, bahkan semenjak orangtua saya tinggal di sini tak ada yang namanya anak diculik. Kecuali ...."

"Kecuali?"

"Kecuali kalau Sarinah kabur." Perkataan pak ketua membuatku terhenyak.

Benarkah Sarinah kabur dari rumah? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku melupakan Sarinah begitu saja?

Dengan perasaan gamang aku undur diri dari rumah pak ketua. Lalu melangkah gontai menyusuri jalan setapak yang licin sebab tanah yang diguyur hujan.

"Gimana kata pak ketua, Bu?" tanya Kang Enjang yang entah sejak kapan berada di belakangku.

"Beliau gak mau memaksa warga, katanya Inah bukan diculik, tapi kabur." Kang Enjang berhenti seketika, menurunkan keranjang yang dipenuhi pisang dan nangka dari pundaknya.

"Kabur bagaimana?"

"Nggak tahu, Pak. Respon pak ketua sama tetangga yang kemarin ditanyai sedikit menyinggung. Wajah mereka juga sinis, keliatan banget gak sukanya."

"Sudahlah, Bu. Mungkin karena kita bukan warga asli ini, makanya mereka berat untuk membantu."

"Entahlah!"

Kang Enjang menaikan keranjang ke pundaknya, lalu kami kembali berjalan menuju rumah.

Saat sampai di rumah, kepalaku begitu sakit melihat halaman yang berserak. Begitu masuk ke dalam, sakitku kian bertambah. Baju yang menumpuk, kamar yang belum dibereskan, dapur yang berantakan. Ah, andai Inah ada, sudah pasti kondisi rumah tidak akan separah ini.

"Bu, kenapa gak ada makanan di meja?" teriak suamiku dari dapur.

"Astaghfirullah, ibu belum masak, Pak."

"Ibu ini bagaimana? Bukannya masak didahulukan, ini malah keliling gak jelas."

"Loh, ibu bukan keliling gak jelas. Tadi pagi 'kan ibu jaga dagangan di pasar waktu Bapak pergi antar Dino sekolah. Habis itu ibu bantuin Bapak jualan sampai Dzuhur."

"Ya, harusnya pulang dari pasar itu ibu langsung masak! Bukan malah nyari Sarinah."

"Ibu tadi cuma ke rumah pak ketua, Pak. Gak ada keliling kampung buat nanya-nanya lagi."

"Ibu jangan banyak alasan! Pokoknya bapak mau ibu siapin makan sekarang juga, udah jam dua tapi makanan belum tersedia. Jam berapa bapak mau makan siang," gerutu suamiku.

"Maaf, Pak. Ibu bakal masak sekarang juga." Aku bergegas ke keranjang bumbu dan mengambil beberapa bahan yang tersedia. Menyiangi,mencuci dan memasaknya dengan segera.

Aku sibuk berjibaku dengan bahan di dapur, sementara Kang Enjang asyik menonton TV dengan tangan memegang cerutu. Sepanjang memasak, serasa ada sesuatu yang terlupa, tetapi entah apa.

"Pak, ini sambalnya sudah siap," panggilku seraya menaruh masakan di meja.

Kang Enjang berjalan menuju makanan yang telah terhidang, lalu duduk dan memakan makanan yang telah kusediakan.

Cih!

"Ibu bisa masak gak, sih?"

"Ke- kenapa memangnya, Pak?"

"Coba sendiri!" Kang Enjang membanting sendok ke mangkuk berisi sambel terasi. Tentu saja hal itu menyebabkan isinya menyiprat ke mana-mana.

Dengan tangan bergemetar aku mengambil sendok lain dan mencicipi masakanku satu per satu. Benar apa kata suamiku, semua masakanku terasa manis.

Kang Enjang berdiri dan meninggalkan makan siang, wajahnya yang merah padam membuatku takut sekaligus sebal. Aku melirik jam, tersadar olehku Dino yang belum dijemput.

"Pak, tunggu!"

"Ada apa? Kamu mau nyuruh aku menghabiskan makananmu yang rasa kolak itu?" sarkasnya.

"Bukan, Pak. Ibu baru ingat kalau Dino belum dijemput."

"Ya udah, jemput aja sana!"

"Sekolah Dino 'kan jauh, Pak."

"Kakimu masih sehat, kan? Masa berjalan dua kilometer saja tak mampu!" Aku termangu mendengar ucapannya. Bagaimana bisa suamiku setega itu? Ah, semua ini gara-gara Sarinah! Coba aja kalau dia tak hilang, sudah pasti aku tak perlu berlelah-lelah mengerjakan semuanya.

Dengan badan yang lelah dan perasaan yang kecewa, aku terpaksa menjemput Dino sendiri.

"Eh, Bu Titin, tumben nih jam segini keluar. Mau ke mana?"

"Jemput Dino, Bu Siti."

"Oh, gak dijemput sama Kang Enjang?"

"Nggak, Bu. Kang Enjang lagi banyak kerjaan," dustaku.

Ya, sengaja aku berbohong kepada tetanggaku agar nama baik Kang Enjang terjaga. Namun, dilihat dari wajah Bu Siti, nampaknya dia tak memercayainya.

"Sudah dulu, ya, Bu. Saya harus menjemput Dino segera, khawatir kesorean," pamitku padanya.

"Hati-hati, ya, Bu. Jangan sampai anaknya hilang lagi."

Deg!

Dari nada bicara Bu Siti barusan sepertinya ia mengejekku. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa hampir semua tetanggaku tak menyukaiku?

To be continued

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Seorang Pengganti
7.9
Vonis medis yang mengerikan menghancurkan hidup Dira. Di masa kritis ini, ia harus berjuang sendirian tanpa dukungan dari suaminya, yang ternyata hanya menganggap dirinya sebagai sosok pengganti yang tak berharga. Didera penderitaan fisik dan batin, Dira kini dihadapkan pada keputusan besar dalam hidupnya. Apakah ketulusan cintanya mampu menyadarkan sang suami, atau ia ditakdirkan selamanya menjadi bayangan orang lain yang selalu dipandang sebelah mata?
Sampul Novel Dilema Hati
8.3
Kehidupan mandiri Leonard Mahendra yang berusia 38 tahun berubah drastis sejak kedatangan Evelyn. Putri sahabatnya itu menumpang hidup karena sang ayah berdinas di luar negeri. Kepribadian Evelyn yang periang memberi warna baru pada hari-hari Leonard. Lambat laun, kepedulian Leonard berkembang menjadi cinta terlarang. Evelyn pun bimbang karena memendam rasa pada teman ayahnya. Hubungan rahasia ini terancam hancur saat ayah Evelyn pulang dan mengetahui segalanya.
Sampul Novel DIONESA
8.9
Kepindahan ke sekolah baru membawa perubahan besar bagi Sasa, terutama saat ia dipasangkan sebangku dengan Dion, cowok dingin yang tertutup. Di tengah masa adaptasinya, Sasa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sang ayah telah memiliki kekasih baru. Kesedihan Sasa rupanya mampu menyentuh hati Dion yang semula apatis. Ia pun mulai membuka diri demi menghibur Sasa. Kebersamaan ini menyingkap rahasia masa lalu Dion, sekaligus menumbuhkan benih cinta yang manis di antara mereka.
Sampul Novel Mendadak Presdir
9.7
Melly Sabira harus bertahan di tengah siksaan finansial dari Alan, suaminya, serta perlakuan buruk dari sang ipar, Lian. Di balik penderitaan itu, Melly diam-diam merintis bisnis kecantikan hingga sukses besar di tingkat nasional. Ketegangan memuncak saat Lian berniat menjodohkan Alan dengan Siska, yang sebenarnya merupakan bawahan Melly. Merasa direndahkan, Siska nekat melakukan tindakan keji yang menewaskan orang-orang terdekat Melly. Kini, ia harus menghadapi duka mendalam.
Sampul Novel Nathan & Aubree
9.3
Sejak pertama kali bertemu, Aubree telah menyerahkan seluruh hatinya kepada Nathan. Sayangnya, Nathan masih tenggelam dalam kepedihan masa lalu dan rasa patah hati yang belum pulih. Walau kasih sayangnya tidak terbalas dan kerap menerima penolakan yang menyakitkan, Aubree tetap bertahan. Ia bertekad untuk terus berjuang mencairkan kebekuan hati pria itu. Akankah keteguhan Aubree berhasil merobohkan tembok pertahanan Nathan, atau ia akan selamanya tersisih dalam kisah yang rumit ini?
Sampul Novel Sepupu Tapi Nafsu
8.8
Kisah romansa modern ini menguak takdir tak terduga yang memaksa para tokoh menghadapi pilihan sulit. Di tengah dinamika hubungan kekeluargaan, batas-batas norma sosial mulai dipertanyakan. Setiap keputusan yang diambil membawa konsekuensi mendalam, menyingkap hasrat tersembunyi manusia di balik ikatan keluarga. Pembaca akan diajak menelusuri lika-liku asmara yang penuh tantangan serta menguji komitmen mereka dalam menghadapi konsekuensi hidup yang rumit.