APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu

Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu

Selama lebih dari dua dekade, Talia Lewis selalu menjadi pusat perhatian dan dimanjakan oleh Tristan Howard. Talia sangat meyakini bahwa masa depan mereka akan diisi dengan pernikahan, kehadiran anak-anak, dan kebahagiaan abadi yang romantis. Namun, keyakinan itu runtuh seketika saat Tristan pulang membawa seorang gadis asing. Kenyataan pahit harus dihadapi Talia ketika pria yang dicintainya itu justru memperkenalkan gadis tersebut sebagai calon kakak iparnya.
Bab
Bagikan

Bab 5

Talia memutuskan sambungan telepon, lalu menenangkan diri sebelum membereskan kekacauan dalam kamarnya dalam diam.

“Visa Pak Gary sudah kedaluwarsa. Dia sudah terlalu tua untuk pergi bolak-balik. Jadi, dia suruh aku bantu mengurusnya.”

Tristan bertanya dengan bingung, “Bukannya putri Pak Gary tinggal di dalam negeri? Kenapa dia nggak suruh putrinya yang urus?”

Talia menjawab dengan kesal, “Gimana kalau kamu telepon dan tanyakan langsung sama putrinya?”

“Aku nggak sesenggang itu.”

“Kalau begitu, jangan banyak tanya.”

Talia menghabiskan waktu semalaman untuk membereskan kekacauan di kamarnya. Dia juga tidak berencana untuk bawa pergi semua pakaian dan sepatu yang telah dirusak Helena. Dia pun terlebih dahulu menaruhnya di ujung lemari.

Ada beberapa film negatif yang berhasil diselamatkan Talia. Hanya saja, semua film negatif itu telah terendam air. Kualitasnya pun menurun drastis dan tidak bisa digunakan lagi.

Di antara kosmetik-kosmetiknya, yang berbentuk cair sudah habis karena tumpah, sedangkan yang berbentuk bubuk sudah terendam air dan tidak bisa digunakan lagi.

[ Helena: Kejadian hari ini cuma sekadar peringatan. ]

Helena mengirim pesan WhatsApp kepadanya. Namun, pesan itu hanya bertahan dua menit sebelum dihapus. Dengan begini, dia bisa memastikan Talia membacanya, tetapi juga tidak meninggalkan bukti.

Namun, setelah insiden sebelumnya, Talia sudah berhati-hati. Begitu menerima pesan itu, dia sudah langsung mengambil cuplikan layar. Dia pun mencibir dan mengirim cuplikan gambar itu kepada Helena.

Kali ini, Helena tidak membalas apa-apa untuk waktu yang sangat lama.

Talia pun sangat ingin tertawa. Apa Helena mengira jebakannya akan berhasil berulang kali, sedangkan dirinya akan terus-menerus lengah? Jika begitu, Helena terlalu meremehkannya.

Sekitar 10 menit kemudian, Helena baru membalas.

[ Helena: Apa maksudmu? ]

[ Talia: Nggak apa-apa, cuma sebuah peringatan. ]

Seusai membalas pesan itu, Talia langsung menonaktifkan ponselnya tanpa berpikiran untuk menghapus pesannya. Dia juga tidak peduli apa yang akan terjadi setelah pesan itu terlihat oleh Tristan. Dimulai dari hari dia memutuskan untuk pergi, dia sudah tidak menaruh harapan apa pun terhadap Tristan.

Keesokan pagi saat sarapan, Sherly menyadari raut wajah Talia yang agak aneh. Dia pun bertanya dengan penuh perhatian, “Tally, kamu bergadang semalaman? Kenapa raut wajahmu kelihatan kurang baik?”

Talia mengiakannya, “Iya, aku nggak bisa tidur. Tapi, nggak apa-apa. Habis istirahat beberapa hari, aku akan baikan.”

Sherly berujar, “Iya, kamu harus banyak istirahat akhir-akhir ini. Di pernikahan Tristan nanti, kamu akan sibuk banget.”

Talia mengangkat kepalanya dan bertanya, “Mereka sudah tetapkan harinya?”

“Iya, di akhir pekan depan. Tristan nggak kasih tahu kamu? Dasar anak itu! Dulu, dia bersikeras mau kasih tahu kamu hal sekecil apa pun. Sekarang, dia malah nggak kasih tahu kamu soal hal sebesar ini. Entah apa yang dipikirkannya!”

Akhir pekan depan. Talia memeriksa kalender. Hari itu bertepatan dengan hari kepergiannya.

Pada saat ini, Tristan dan Helena baru keluar dari kamar.

Helena bersikap layaknya tidak ada yang terjadi dan menyapa Talia sambil tersenyum, “Tally, aku dan Tristan sudah diskusi. Kami mau kamu jadi fotografer utama di pernikahan kami. Kamu harus ambil fotoku yang cantik, ya!”

Talia langsung menolak, “Aku ada urusan hari itu. Aku nggak bisa hadir.”

Helena langsung berkata dengan tampang cemberut, “Kamu masih marah gara-gara hal kemarin? Jangan marah lagi, dong. Maaf .... Kalau kamu masih marah, a ... aku akan berlutut sama kamu ....”

Seusai berbicara, Helena pun hendak berlutut. Namun, Tristan segera menariknya. “Kamu nggak usah berlutut. Dia nggak layak untuk menerimanya.”

Melihat situasi ini, Sherly juga buru-buru menengahi. “Helena, kamu nggak usah begitu. Tally memang sangat menghargai film negatifnya, wajar saja dia marah. Tapi, kamu juga nggak perlu sampai berlutut.”

Helena menjawab dengan tampang sedih, “Aku memang nggak becus dalam melakukan apa saja. Aku benar-benar merasa bersalah pada Tally.”

Tristan menghiburnya, “Kamu cuma perlu lebih hati-hati ke depannya. Ayo makan dulu. Bukannya tadi kamu bilang sudah lapar?”

Helena menjulurkan lidahnya. “Bukannya itu gara-gara kamu? Kalau bukan karena kamu bersikeras mau ... aku mana mungkin selapar ini.”

“Iya, iya, semua salahku. Ayo duduk dan makan dulu.”

Tristan menarikkan kursi untuk Helena, menunggu sampai Helena duduk, lalu menaruh serbet ke kakinya. Setelah itu, dia baru duduk di samping Helena.

Tristan mengoleskan selai ke rotinya sambil berkata, “Talia, pernikahanku akan diadakan di akhir pekan depan. Nggak peduli apa pun urusanmu, kamu harus membatalkannya dan jadi fotografer di pernikahan kami. Anggap saja itu bentuk penghormatan atas hubungan kita sebagai saudara selama lebih dari 20 tahun ini.”

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Pembantu pergi membuka pintu dan terlihat seseorang yang asing berdiri di depan pintu.

“Maaf, kamu cari siapa ya?”

Orang yang datang adalah seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana. Dia menjawab sambil tersenyum, “Permisi, apa Bu Talia ada di rumah? Aku orang dari yayasan amal. Dia hubungi aku dan bilang mau sumbang pakaian untuk orang-orang miskin yang tinggal di daerah pegunungan. Kami sudah janjian mau ambil barangnya hari ini.”

Talia langsung berdiri. “Aku Talia. Baju-bajunya sudah kukemas. Harap tunggu sebentar, ya.”

Talia naik ke kamarnya, lalu membawa turun beberapa kantong besar berisi semua pakaiannya dan menyerahkannya kepada wanita paruh baya itu.

Wanita paruh baya itu merasa sangat berterima kasih. “Terima kasih atas kemurahan hati Bu Talia. Akhir-akhir ini, cuacanya sudah mulai dingin. Anak-anak yang tinggal di daerah pegunungan nggak punya cukup banyak baju untuk lewati musim dingin. Baju-baju ini benar-benar bisa membantu sangat banyak orang.”

“Nggak masalah. Maaf harus merepotkan Ibu. Tolong segera antarkan pakaian-pakaian ini untuk mereka, ya.”

“Baik. Jangan khawatir ....”

“Tunggu.”

Tristan tiba-tiba berjalan keluar dengan bingung. Ketika melihat ada sekitar 7 kantongan besar berisi pakaian yang terletak di lantai, dia pun mengerutkan keningnya.

“Kamu mau sumbangkan semua pakaianmu?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dipaksa Open BO
8.7
Kehidupan Amira, gadis remaja berusia tujuh belas tahun, hancur seketika akibat kekejaman ayah tirinya. Demi mengejar materi, pria tersebut tega memaksa dan mengeksploitasi Amira menjadi pemuas nafsu. Terjebak dalam tekanan fisik serta mental yang begitu hebat, Amira harus berjuang keras di tengah situasi yang menyiksa ini. Mampukah ia melepaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Ikuti kisah perjuangan hidup Amira yang penuh rintangan dalam menghadapi nasib kelamnya.
Sampul Novel Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
9.6
Elyse terkejut saat melihat pria berkuasa di TV yang sangat mirip Adrian, suami kontrak satu tahunnya. Walau awalnya berniat cerai, kebersamaan mereka membuat Adrian ingin pernikahan ini menjadi nyata. Namun, segalanya berubah saat identitas asli Adrian sebagai taipan terbongkar. Konflik pun memuncak ketika rahasia tentang anak mereka terungkap, memicu perselisihan besar mengenai kejujuran serta masa depan cinta mereka.
Sampul Novel Gairah Liar Binor Kesepian
8.8
Sita, perempuan polos dari pelosok Cianjur, menjalani kehidupan yang sangat tertutup pascapernikahan hasil perjodohan. Minimnya interaksi sosial membuatnya buta akan dunia luar dan edukasi seksual. Hal ini memicu kekecewaan pada diri Danu, suaminya, akibat sikap Sita yang terlampau pasif dalam hubungan intim. Ketidaktahuan Sita mengenai gairah ranjang ini pun disinyalir menjadi penyebab utama pasangan suami istri tersebut tidak kunjung dikaruniai keturunan hingga kini.
Sampul Novel Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
9.7
Saat Riko Fosa dan keluarganya bersiap menghalangi Nisa di rumah sakit demi kelahiran anak Erni, Nisa justru memilih tidak hadir. Riko yang mengira istrinya hanya egois karena tidak mau menerima anak tersebut, berniat memaafkannya jika Nisa bersedia meminta maaf. Namun, Riko tidak menyadari bahwa Nisa telah mengambil keputusan besar. Dia mendaftarkan diri ke PBB untuk menjadi dokter lintas batas dan bersiap mencabut kewarganegaraannya, meninggalkan Riko selamanya tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Sampul Novel Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka
8.8
Stella hancur saat memergoki pengkhianatan Marc. Usai memberi tamparan keras, ia menghilang demi misi rahasia dan memalsukan kematiannya. Kepergian Stella membuat imperium bisnis Marc hancur total. Marc didera penyesalan mendalam hingga takdir mempertemukan mereka lagi di sebuah gala mewah. Saat Marc memohon pengampunan, Stella yang kini bersinar di sisi pria sukses lain hanya melempar senyum sinis dan menegaskan bahwa ia telah kehilangan haknya.
Sampul Novel Takdir Yang Tertunda
9.8
Move Herdianata, janda mandiri yang bekerja di perusahaan logistik, terjebak dalam konspirasi rumit. Setelah hubungan dengan kekasih virtualnya, Farhan, kandas, ia menjadi incaran skenario dingin dari CEO arogan bernama Ray Dianata. Demi melindungi Move dari ancaman besar, Ray berkolaborasi dengan Feronika Alfarest untuk mengusirnya. Namun, sebuah rahasia besar terkuak ketika identitas asli Farhan ternyata berhubungan erat dengan Ray. Mampukah Move bertahan di tengah skema berbahaya ini?