APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel 1001 hari tanpa mani

1001 hari tanpa mani

Terjebak dalam kegelapan pekat tidak serta-merta menjadi bukti atas dosa besar seseorang. Kisah fantasi misteri ini menantang kita memperluas sudut pandang saat menilai realitas. Sering kali, kebenaran justru terselimuti oleh bayang-bayang yang paling kita takuti. Dengan membuka mata lebih lebar, Anda akan menyadari keberagaman fenomena serta spektrum warna nyata di hadapan Anda, sekaligus menyingkap rahasia yang selama ini terkunci rapat.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Warna,tunggu gue" aku juga sangat membenci pria tidak tau diri ini

Dimas belari dengan tas ransel di bahu kirinya,sungguh luar biasa, bagaimana bisa manusia semirip ini dengan monyet purba

"kenapa? " ah, aku baru ingat kalau pak susilo meninggalkan bibit unggulnya sebelum liang lahat melahap sebagian jasadnya

aku benci tatapan dimas yang seolah olah aku daging panggang yang membuat nya sangat lapar

aku tau tatapan ini

"lo mau gak jadi pacar gue? " hahaha tatapan manusia yang tertelan nafsu dunia itu lagi

menjaga satu nafsu saja tidak bisa,sekarang manusia bodoh ini ingin menjaga raga manusia bernyawa? bukan kah itu komedi yang sangat geli

ah, lihat dahinya yang berkedut itu

"kenapa aku harus menerima seonggok sampah menjadi pelengkap raga yang bercorak dengan banyak warna dosa? " aku semakin membenci manusia yang satu ini, yang tidak mau berfikir dan hanya mau menerima hasil.

Aku dapat menjamin dengan pasti bahwa manusia berhati duri ini tidak berusaha menerjemahkan bahasa kataku

"ck,bisa kah kau mengatakan maksudmu yang sebenarnya tanpa harus mencampur nya dengan aksara? " benar benar sampah yang sangat busuk aromanya

aku sangat membenci manusia...

"aku menolakmu secara sadar,adimas swara" Guratan itu semakin berkedut masam

Aku pun akan berekspresi sama kala mendapat penolakkan tanpa alibi yang berusaha untuk di percaya logika seorang pria kaya

Lagi-lagi aku harus bersikap seolah tak bernyawa di kelas pecinta ilmu jiwa ini

Mata mata yang sama dosanya denganku ini, menatapku seolah-olah aku adalah dosa yang paling besar karmanya

ingin sekali ku teriakkan manusia manusia munafik sedang berdusta dengan alibi manusia bertaqwa telinga mereka hingga keluar banyak darah dari sana

mata sayu itu lagi, gadis cantik berwajah teduh di depanku itu selalu saja tersenyum saat dipuji beberapa orang.

apa ia tidak bosan dengan kemunafikan para manusia, pikirku.

"Warna mau ikut ke pengajian bareng kami gak? " Arghhh, anggap saja aku tidak ada di kelas ini

aku benci gadis cantik ini...

aku benci senyum nya...

aku benci caranya hidup...

"aku gak mau ikut ketempat dimana dosa semakin ditutupi dengan alibi pengampunan dari Tuhan "

ck,responnya membuat ku semakin dibenci seisi kelas kemunafikan ini.

"Astaghfirullah warnaaa,kamu gak boleh bilang gitu.disana kita bisa dapat banyak ilmu dan berusaha memperbaiki apa yang sudah hilang dari diri kita.Tuhan akan menunjukkan jalanNya kalau kita mau mengikuti semua yang telah ia arahkan."

wajah putih bersih itu terlihat merah padam.ntah ia sedang kesal atau malah ingin menangis

"Kalau gitu kamu aja yang pergi, jangan ajak-ajak aku.kan kamu udah di tunjukin arahnya sama Tuhan " Aku membuka buku filsafat ku dan mengabaikan keberadaan gadis yang kutau bernama Hanum itu

Sekilas ku lihat,wajah Hanum terlihat semakin memerah.gadis itu juga menggeleng geleng kan kepalanya saat melihatku

"Kamu udah dibutakan nafsu dunia na,sampai kamu lupa siapa yang memberi kesempurnaan hidup yang sedang kamu jalani saat ini.sampai kamu mengingkari semua kenikmatan yang Tuhan berikan selama ini" tanpa sadar aku menutup bukuku dan memukul meja hingga membuat seisi kelas riuh

Ah, Lagi-lagi aku menjadi tokoh antagonis yang sering mendapat sumpah kematian yang begitu tragis

Apa-apaan wajah Hanum yang terlihat kaget ini, membuat ku kesal saja

Tau apa dia tentang hidupku...

Tau apa dia tentang jalanku...

Tau apa dia tentang keimananku...

"Lo kalau gak mau pergi yaa tinggal bilang aja na, jangan malah nyakitin hati Hanum yang udah berniat baik sama lo" lanjutkan omongan sampah kalian, lanjutkan

"Iyaa,gak tau diri banget sih si warna"

"Gue dengar si warna emang kerja gak bener di club"

"Halahhh,warna itu udah mandi dosa jadi gak bakal bisa nerima siraman rohani kayak Hanum yang masih bersih"

Lagi-lagi salah ku, semuanya adalah salahku.mereka manusia-manusia bodoh yang mengaku taat tapi pemaksiat yang begitu laknat

Jika aku penjaga nereka,akan ku seret mereka hidup-hidup ke kobaran api jahanam. Ah, sayang sekali karna faktanya aku satu kaum dengan mereka.

"iyaa, aku kerja di club.setidaknya aku tau caranya mencari rezeki tapi tetap menjaga harga diriku.tidak seperti kalian yang menyerahkan tubuh kalian tanpa bayaran apapun dengan alasan cinta dan kasih sayang" Beberapa dari mereka hanya terdiam dan menatap ku dengan tajam

Ah, dia hana dan juga amelia mahasiswi yang terkenal dengan prestasi dalam organisasi dan juga ketua divisi keagamaan

Tidak ada gunanya menjadi langit jika tanah saja masih kau injak

"Aku memang manusia penuh dosa,dan aku tidak pernah berkata kalau aku putih bersih layaknya ahli surga. Jika kalian punya rasa malu pada Tuhan tundukan pandangan dan jaga kemaluan kalian"

Aku tau kalau aku keterlaluan, tapi bukankah menyombongi orang yang sombong adalah sedekah. Anggap saja aku bersedekah hari ini

"Cukup warna,kamu jangan menyakiti hati saudara mu sendiri sesungguhnya itu adalah perbuatan yang tercela.mereka hanya melaksanakan kewajiban mereka untuk mengajak kepada kebaikkan.jika kamu tidak mau ya tidak apa-apa aku gak akan maksa kamu lagi. Aku minta maaf kalau udah maksa kamu" aku hanya bisa menghela kan nafasku, untungnya manusia satu ini tidak sulit untuk mengerti

Ah, aku merasa semakin sesak di kelas ini.akan lebih baik kalau aku melarikan diri

"Tunggu warna" aku menatap Hanum yang mencekal lenganku dengan sinis

Mau apa lagi dia, pikirku

"kamu harus minta maaf dulu sama mereka yang udah kamu rusak nama baiknya" Tidak salah aku membenci gadis ini, sangat sangat tidak salah

"Aku gak mau,toh mereka menuduhku diluar batas jalanku" Kulihat Hanum menatap sekeliling dengan mata berair.aiss apa lagi salahku

"mereka hanya menegur kamu warna,mereka menasehati kamu supaya meninggalkan dosa itu.sadar lah warna sebelum Tuhan murka" Aku benci dia, sampai mati pun aku tetap akan membencinya

aku menepis tangan Hanum menyentil dahinya dengan keras

Kudengar pekikan hanum kesakitan dan seisi ruangan yang merasa khawatir.

"Tenang saja,aku hanya membuat nya sadar akan fakta dan membuka jalan logika pada otaknya" Hanum yang begitu cantik dan dipuji kesholehah annya menangis sambil menatapku

"Al-Fitnatu Assyaddu minal qotl', jika kalian begitu mentaati Tuhan seharusnya kalian tidak melupakan kesakralan kalimat itu wahai orang-orang yang lalai" Sekali lagi aku memukul meja dengan keras sebelum melangkah keluar

ah, aku lupa..

aku mundur dua langkah dan menatap mereka dengan mata penuh amarah

Aku benci mereka...

Aku benci jalan mereka...

Dan aku lebih benci Hanum yang terlalu berlebihan dalam memahami ilmu yang ia dapatkan

"Jalanku memang berbeda tapi bukan berarti kalian lebih mulia"

itu kata-kata terakhirku sebelum meninggalkan kelas kemunafikan itu

Aku benci mereka...

Aku benci manusia...

didepan pintu kelas, kulihat pak satria sedang menyaksikan perdebatan kami bersama beberapa mahasiswa yang selalu ingin tau gosip yang tidak berguna.

Buang-buang waktu saja.

"Kalau tidak salah namanya Teratai Sewarna"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Jadi Saksi Perselingkuhan Suamiku sama Sahabatku
8.8
Perayaan ulang tahun pernikahan kelima Ivana dan Lionel berubah menjadi mimpi buruk yang terekam kamera. Lionel tega berselingkuh dengan Regina, sahabat Ivana, tepat di ranjang mereka. Pengkhianatan ini terasa kian menyakitkan karena putra kandung Ivana justru bersekongkol menjaga pintu agar ibunya tidak memergoki mereka. Di tengah kemesraan itu, Lionel mengungkapkan keengganannya menambah keturunan dengan Ivana, mengaku muak melihat bekas luka operasi di perut istrinya demi melahirkan anak mereka.
Sampul Novel Berakhirnya Janji Setia Empat Puluh Tahun
8.7
Sebuah rahasia kelam terungkap saat seorang istri membersihkan laptop suaminya dan menemukan ribuan video vulgar sang suami bersama sahabat baiknya sendiri. Selama empat puluh tahun, ia memercayai alasan suaminya yang mengaku sakit setelah ia melahirkan, hingga mereka hanya menjalani pernikahan platonis tanpa keintiman fisik. Setelah seumur hidup berkorban, bekerja keras, dan membesarkan anak-anak mereka, wanita ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa seluruh hidup dan janji setia suaminya hanyalah sebuah kebohongan besar yang terencana.
Sampul Novel Disusui Madu
8.7
Wafa harus tinggal di rumah Cindy karena keputusan suaminya, Dika. Alih-alih bertamu, ia justru diperlakukan layaknya pembantu. Situasi kian pelik saat ibu mertua membela Cindy, ditambah kepedihan mendalam Wafa karena kehilangan putra pertamanya, Delon. Kehamilan mendadak Cindy yang penuh teka-teki semakin memperkeruh suasana. Di tengah himpitan utang pengobatan dan dikhianati orang terdekat, sanggupkah Wafa bertahan atau justru memilih pergi?
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa
9.6
Sebuah rumah sakit misterius di kota terpencil yang sunyi terus merenggut nyawa para pasien dengan cara yang tak wajar. Kejanggalan mengerikan ini memicu tanda tanya besar mengenai misteri yang tersembunyi di dalam bangunan tersebut. Didorong rasa penasaran, Dokter Tio dan rekan-rekannya mulai melakukan penyelidikan mendalam. Apakah mereka mampu membongkar rahasia kelam di sana, atau justru mereka yang akan berakhir menjadi korban selanjutnya?
Sampul Novel Tabir Misteri di Sekolah
8.4
Setahun pascatragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang siswi di SMA Permadani Putih, kasus pemerkosaan serta pembunuhan kejam itu masih mandek tanpa titik terang. Di tengah kemerosotan disiplin sekolah dan sikap masa bodoh pihak berwenang yang sengaja bungkam, Gara tak tinggal diam. Demi menuntut keadilan bagi mendiang adiknya, ia bertekad membongkar misteri kelam ini. Sanggupkah Gara menguak konspirasi besar tersebut dan menyeret pelaku ke pengadilan?