APKDock Logo
Sampul Novel ZORA Pupus Sebelum Mekar

ZORA Pupus Sebelum Mekar

8.7 / 10.0
Ryan memohon agar Nisa mau menyusui bayi perempuan mereka yang baru lahir. Namun, Nisa menolak keras karena sangat membenci anak itu, bahkan sejak dalam kandungan ia sempat berniat melenyapkannya. Meski Ryan terus membujuk demi kesehatan sang buah hati, kebencian Nisa tak tergoyahkan. Bagi Nisa, bayi bernama Zohrah itu tidak pernah diinginkan, walaupun Ryan meminta agar amarah istrinya tidak ditumpahkan pada putri kecil mereka.

ZORA Pupus Sebelum Mekar Bab 1

Bab.1 Pupus Sebelum

Mekar

“Bayi kita butuh ASI dari ibunya. Aku mohon.” Ryan menggendong bayi perempuan mereka

dalam buaian. Untuk ke sekian kali ia meminta.

Nisa masih terbaring di atas brankar. Ketika Ryan menaruh bayi itu di sampingnya, Nisa

memalingkan wajah ke dinding. Rasanya tidak sudi melihat bayi mungil itu.

Dia tidak pernah menginginkan bayi itu lahir. Bahkan jika bisa, dia ingin bayi itu tiada sejak dalam kandungan. Namun segala upaya yang dilakukan, tak ada yang berhasil. Janin itu malah tumbuh subur di rahimnya.

“Nis, kamu ibunya. Tolong, berikan dia ASI,” bujuk Ryan sembari mengelus pipi bayi perempuan yang cantik itu.

“Sekali aku bilang enggak. Itu berarti enggak,” tolak Nisa.

“Dia butuh kamu, ibunya.”

“Tapi aku enggak butuh dia. Aku enggak pernah ingin dia hadir di hidupku.”

“Kamu boleh membenciku, tapi tidak dengan Zohrah.”

Nisa menoleh. Sudut bibirnya terangkat. Bahkan nama bayinya saja, dia baru tahu detik itu. Delapan belas jam sudah bayi perempuan itu lahir di dunia. Hadir di tengah-tengah pernikahan yang tak pernah diinginkan sebelumnya.

“Kenapa? Kamu lupa siapa nama bayi kita?” Ryan bertanya setengah mengejek.

“Kapan kamu kasih tahu nama bayi ini sama aku?” Nisa bangun. Duduk di samping bayi

itu.

Ryan mengepalkan tangan. Sejak awal kelahiran bayi itu, dia sudah memberi tahu pada Nisa. Benar, mungkin rasa benci telah menutupi hati istrinya. Hingga mudah bagi wanita berparas cantik itu melupakan nama bayi mereka.

Zohrah Kirana nama yang diberikan Ryan untuk bayi perempuan itu. Cahaya dari Venus begitulah kira-kira artinya. Ryan ingin kelak bayi itu menjadi penerang, pembuka jalan untuk hubungannya dengan Nisa.

Memberi terang kala senja membayang. Memancarkan cahaya kala malam menjemput. Serta menjadi pelita ketika badan tertimbun tanah.

“Zohrah Kirana. Jangan lupa nama itu!” Ryan menatap lekat ke dalam manik mata Nisa.

“Zohrah. Planet Venus. Bintang kejora, kesukaan kamu.”

Mata itu berembun. Dengan gerakan cepat, tangan Nisa menghapusnya. Pandangannya

beralih pada sosok tubuh mungil di sampingnya. Mengelus lembut dan penuh perasaan setiap bagian tubuh bayinya.

Bohong, jika dia bilang tidak mencintai bayi itu. Bagaimana pun Zohrah terlahir dalam

keadaan suci. Meskipun kehadirannya karena kekhilafan antara dua insan yang tengah terbuai rayuan dosa.

“Kamu bisa kasih dia susu formula,” saran Nisa. Walau bajunya basah karena ASI yang terus keluar, dia tetap tidak ingin memberikan pada Zohrah. Setetes pun tidak.

“Tidak. Susu terbaik untuknya adalah ASI dari kamu, Nis.”

Nisa menggeleng cepat. Mereka sudah sepakat akan berpisah setelah Nisa melahirkan.

Lagi pula, pernikahan yang dijalani juga tidak atas dasar cinta. Jika sampai memberikan ASI, mungkin dia akan terikat selamanya dengan bayi itu. Dan dengan Ryan pastinya.

“Aku akan balik ke Jogjakarta dalam waktu dekat.” Nisa mengangkat tubuh mungil Zohrah. Menyerahkan lagi pada Ryan.

“Tunggu sampai masa nifas kamu selesai. Bertahanlah sebentar lagi. Demi Zohrah. Mau kan?”

“Enggak.” Nisa menolak. “Bilang saja sama anak kamu, ibunya sudah tiada.”

“Sebentar saja. Perbaiki hubungan kita. Perbaiki pernikahan kita.”

“Dari awal hubungan kita sudah salah. Apa yang harus diperbaiki?”

Sejak masuk fakultas yang sama dan bertemu secara tidak sengaja. Keduanya menjadi dekat. Mereka menasbihkan hubungan yang terjalin dengan nama persahabatan.

“Harusnya kita enggak pergi malam itu,” sesal Nisa. Pikirannya terbang pada kejadian ulang tahun Ryan sembilan bulan yang lalu. Mereka merayakan di Puncak bersama teman-teman satu geng.

“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi.”

Haruskah dia tidak menyesal setelah menyerahkan diri kepada Ryan? Bujuk rayu nan syahdu terlalu memabukkan pada malam dingin itu. Tunduk pada jebakan yang membuatnya tersungkur dalam limbah kenistaan. Ketika iman tak kuasa menahan gejolak yang membuncah,

akhirnya lepas sudah mahkota itu. Yang dijaga sepanjang waktu, untuk suaminya kelak.

“Kamu enggak nyesal membuat hubungan kita jadi begini? Dulu kita dekat, sangat dekat, Ryan. Tapi kamu hancurin persahabatan kita.”

“Berapa kali aku harus minta maaf?”

“Enggak perlu. Sudah cukup permintaan maaf kamu. Aku bosan.”

“Kamu membenciku?”

“Aku benci dengan keadaan kita. Tujuh bulan kita tinggal satu atap. Tapi kita bagai dua orang asing. Aku benci dengan kehamilan aku. Aku benci dengan bayi kita.”

Nisa meniupkan udara kering ke matanya yang berair. Berharap agar genangan itu tak turun membelah pipi. Namun percuma, air mata luruh sudah dan menganak sungai.

Ryan tak kalah menyesal. Selama ini dia menghindar karena merasa bersalah. Sengaja tak mengacuhkan Nisa, agar wanita itu membencinya. Berharap Nisa bisa kembali pada tunangannya yang sedang meraih pendidikan di Singapura.

“Maaf sudah membuat masa depan kamu hancur,” sesal Ryan. Dielus lembut puncak kepala Nisa.

“Kamu tahu masa depan aku apa?” Nisa menangkis tangan Ryan.

“Agung. Menikah dengan pria itu adalah impian kamu. Kalian akan punya anak-anak yang lucu. Yang terlahir karena memang diinginkan oleh kedua orang tua mereka.” Ryan mencium pipi Zohrah dalam gendongannya. “Maafkan Papa ya, Nak.”

“Ya benar! Tepat sekali. Masa depanku adalah Agung. Oleh sebab itu, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” Nisa menunjuk ke arah pintu, “pintu keluar di sana, Yan.”

♧♧♧

Lanjut Membaca

Daftar Isi ZORA Pupus Sebelum Mekar

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Hidup Halimah berubah mencekam saat ia tiba-tiba mampu melihat dimensi gaib mengerikan dan para calon tumbal yang terancam mati. Kemampuan misterius ini membawanya pada dilema batin yang gelap: apakah ia harus ikut memburu tumbal demi bertahan hidup? Di tengah teror yang terus mengintai, Halimah harus berjuang keras mengungkap rahasia kutukan kuno tersebut sekaligus menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Demi membiayai pengobatan sang adik, Aluna rela membanting tulang di Hotel Aurelia. Malang, nasib buruk menimpanya ketika ia dituduh menyebarkan video rahasia milik Davin Elvard Renata, seorang miliarder yang menginap di Presidential Suite. Walau sebenarnya dijebak oleh rekan kerjanya sendiri, Davin yang telanjur murka tidak mau tahu. Aluna pun dipaksa menjadi tawanan pribadinya. Kini, ia terjebak dalam pusaran konspirasi besar dan ancaman Davin yang mengerikan.
Sampul Novel Fatimah Perjuangan TKW Indonesia
8.7
Setamat SMA, Fatimah mengambil keputusan besar demi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagai anak tunggal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, ia memilih menjadi TKW di luar negeri agar tidak membebani orang tuanya. Didorong oleh tekad baja untuk mandiri secara finansial, gadis muda ini rela merantau jauh. Kisah perjuangan ini menyoroti pengorbanan luar biasa Fatimah dalam mengubah nasib dan memperjuangkan masa depannya sendiri.
Sampul Novel Gairah Citra dan Kenikmatan
8.1
Di sudut kota yang sepi, Seto dan Anissa memilih mengabaikan dinginnya malam demi memuaskan hasrat satu sama lain. Ketika semua orang masih tertidur lelap, pasangan suami istri ini sengaja terjaga lebih cepat demi menjalani ritual pagi yang membara. Sentuhan lembut dan intens dari Seto perlahan membangkitkan birahi sang istri. Keduanya pun hanyut dalam kemesraan yang intim, saling berbagi kepuasan dan kenikmatan fisik yang begitu mendalam.
Sampul Novel Pemuas Birahi Setengah Baya
9.5
Anisa terhanyut dalam pesona misterius dunia pria matang yang penuh gairah tak terduga. Di balik usia mereka, terdapat pengalaman dan maskulinitas liar yang membangkitkan sensasi mendalam bagi dirinya. Setiap sentuhan dan godaan penuh rahasia menuntun Anisa menemukan sisi lain dari nafsu yang membara. Terpikat oleh stamina serta daya tarik pria setengah baya, ia akhirnya menyerahkan diri sepenuhnya untuk menjadi pemuas birahi dalam hubungan yang begitu panas ini.
Sampul Novel Silent Wounds
9.1
Akibat trauma masa lalu, Nala Olivia kehilangan suaranya dan memilih hidup dalam kesunyian demi menyembunyikan luka. Namun, ketenangannya hancur saat Aska Faresta, pria yang menjadi sumber kepedihannya, tiba-tiba hadir kembali. Bukannya menjauh, Aska justru murka melihat kondisi bisu Nala, memicu tanda tanya akan kepeduliannya. Keadaan semakin kacau ketika Aska membawanya pulang dan nekat mengakui Nala sebagai istrinya di hadapan sang ibu. Kini, Nala harus mencari cara meluruskan kebohongan rumit ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan